KITAB DAN SUHUF PARA NABI ALLAH SERTA POSISINYA DALAM DAKWAH PRA KENABIAN MUHAMMAD

Oleh: Yudi Wahyudin

Kesempurnaan Al-Islam, ditandai oleh turunnya Al-Maidah, ayat 3, yang diturunkan ketika haji wada.[1] Dalam khutbahnya, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya syaitan telah putus asa (berharap banyak) dapat disembah di negerimu ini (baca: Mekkah)”.[2] Peristiwa ini menandakan bahwa proses penancapan dasar Tauhid oleh para nabi sejak risalah pertama oleh Nabi Nuh hingga Isa a.s, dan Nabi Muhammad telah sempurna.[3] Hal ini menandakan bahwa wahyu, atau penyampaian kehendak Allah kepada manusia, memiliki sejarah panjang, dan memiliki beragam bentuk. Wahyu, atau dalam bahasa Ismail Al-Faruqi disebut sebagai, data revelata dilestarikan melalui hafalan.[4] Bentuk-bentuk itu, dikenalkan dalam Al-Quran sendiri, dengan sebutan beragam: Zabur, Taurat, Injil, dan suhuf. Kitab Zabur disebut sebanyak 2  kali dalam bentuk zâbûr dan 2 kali dalam bentuk zubur. Taurat disebutkan secara bergandengan dengan Injil sebanyak 7, disandingkan dengan Al-Quran sebanyak 1 kali, disandingkan dengan injil dan hikmah sekaligus sebanyak 2 kali. Sedangkan Taurat yang disebutkan secara mandiri sebanyak 7. Sedangkan injil yang disebut secara mandiri sebanyak 3. Sedangkan suhuf disebutkan tiga kali, namun dalam surat Abasa , ayat 13,  suhuf disebutkan –sebagaimana menurut tafsir mu’tabar, merujuk pada Al-Quran.

Namun bagaimana isi dari data revelata itu? Sebab jika merujuk kepada Al-Quran, tidak ada gambaran detail mengenai isi dari kitab dan suhuf. Namun yang paling jelas dan meyakinkan adalah bahwa Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, merupakan pembenar (mushaddiq) terhadap kitab-kitab terdahulu dan mengimaninya merupakan sebuah kewajiban. Peran Al-Quran sebagai mushaddiq sekaligus penyempurna hukum-hukum sebelumnya sekaligus membatalkan sebagian hukum-hukum Taurat yang secara khusus di-taklif-kan kepada Bani Israil, menandakan bahwa dalam proses pewahyuan ada sebuah perubahan (change) dan kesinambungan (continuity). Kepentingan lain dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hukum yang tertuang dalam kitab dan suhuf para nabi terdahulu sehingga dengan segera dapat tergambar apa yang menjadi ushul al-dakwah para nabi itu. Namun harapan atas kesulitan-kesulitan di atas seolah muncul setelah kita mengetahui secara historis bahwa Nabi Ibrahim –salah satu nabi yang menerima suhuf, hidup pada zaman patriarkal -2000-1400 SM- ada kemungkinan bahwa beliau bisa menulis dan membaca serta memandang hormat teks pesan Ilahi seperti orang-orang sezamannya, Hammurabi, yaitu orang-orang senegri dengan Ibrahim. Kendati arkeolog belum menemukan bukti fisik keberadaanya, beralasanlah untuk mengharap keberadaan mereka.[5]

Harapan itu menjadi lebih terang terlebih setelah penemuan arkeolog yang mengejutkan banyak ahli filologi abad ini, yaitu ditemukannya naskah-naskah kitab suci yang memiliki rahasia kuno yang tersembunyi di padang Yudea selama kurang lebih 2000 tahun. Namun setelah empat dekade sejak penemuannya, banyak rahasia gulungan itu disembunyikan oleh kelompok kecil sarjana yang memegang hak eksklusif atas dokumen tersebut. Barulah pada September 1991, gulungan itu difoto secara diam-diam (dicuri) kemudian disebar melalui pos ke seluruh wilayah negeri itu. Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, beberapa naskah gulungan Qumran yang berbahasa Ibrani berbeda jauh dengan naskah Masoret –kitab perjanjian lama yang paling tua yang ditulis sekitar tahun 1005 M. Hal ini mengundang pertanyaan besar, apakah para Masoret yang terkenal teliti itu kurang teliti, ataukah teks Qumran menunjukkan sebagai versi Bible Ibrani lain yang berbeda dengan bible yang dipakai sekarang? Selain itu, naskah Qumran ini menunjukkan kepada kita fakta bahwa Yudaisme abad pertama memiliki persamaan dengan Kristen awal. Sementara itu tidak ada satu kitab pun dari Perjanjian Baru versi konsili Nicaea pada 325 M, yang tertulis dalam naskah Qumran.[6]

Selain merujuk pada data-data sejarah di atas, penulis akan mencoba melihat bagaimana pendapat berbagai macam mufassir mengenai ayat-ayat yang berkenaan dengan kitab dan suhuf terdahulu. Selain itu, penulis akan mencoba melihat riwayat dan hadits-hadits dengan bantuan program Al-Maktab Al-Syamilah versi.2.

Kitab dan Suhuf dalam Hadits dan Al-Quran

Dalam shahîh Ibnu Hibbân, Rasulullah ditanya tentang shuhuf yang diturunkan kepada suhuf Nabi Allah Musa a.s. Rasulullah s.a.w berkata, “Sebahagian daripada kandungan suhuf Nabi Musa a.s adalah: 1. Aku heran pada orang yang telah meyakinkan akan datangnya kematian (yakin dirinya akan mati dan ditanya tentang amalannya), tetapi mengapa mereka merasa bahagia dan gembira di dunia (tidak membuat persediaan).(2). Aku heran kepada orang yang yakin akan neraka, tapi mereka malah banyak tertawa, (3) Aku heran kepada orang yang telah meyakini akan adanya qadar (ketentuan) Allah, tetapi mengapa mereka marah-marah (bila sesuatu musibah menimpa dirinya). (4) Aku heran dengan orang yang melihat dunia dengan cara yang berlebihan dan bergaul dengan ahlinya, (5) Aku heran pada orang yang telah meyakini akan adanya hisab (hari pengiraan amal baik dan buruk), tetapi mengapa mereka tidak berbuat kebaikan?”.[7]

Dari satu-satunya hadits yang penulis temukan mengenai suhuf Musa di atas, dapat kita identifikasi hal-hal berikut:

Pertama, bahwa budaya masyarakat ketika Nabi Musa berdakwah penuh dengan hipokritas yang sudah memuncak. Di satu sisi masyarakat Yahudi ketika itu benar-benar meyakini akan datangnya kematian, namun di sisi lain, pengetahuannya hanya tinggal sebatas pengetahuan. Hal ini diperkuat oleh beberapa Ayat Al-Quran. (lihat, Al-Baqarah, 44; Al-Jumu’ah, 5). Hipokritas ini relevan dengan sikap mereka terhadap hari akhir yang dengan pengetahuan yang mereka miliki tentang tanda-tanda hari akhir, namun tidak memiliki konsekwensi moral dalam perilaku keseharian mereka. Kedua, pengetahuan-pengetahuan tentang akhirat, qadar, hisab, dan kesementaraan dunia merupakan materi yang sinergi dengan kandungan Al-Quran. Hal ini menjadi bukti bahwa suhuf Musa a.s. merupakan penjelas dari wahyu Allah.

Sedangkan dalam surat Al-Najm, 53. Allah SWT berfirman, “Apakah tidak pernah diberitakan apa yang ada dalam suhuf Musa dan Ibrahim yang telah ditunaikan?”. Dan surat Al-‘Alâ, 19., “Suhuf Ibrahim dan Musa”. Dalam Tafsir Jalalain, ‘suhuf Musa’ diartikan sebagai lembaran-lembaran Taurat atau lembaran-lembaran yang berisi ajaran para nabi sebelumnya. Sedangkan dalam tafsir Al-Thabari, suhuf Musa berisi tentang ancaman Allah di akhirat. Sedangkan suhuf Ibrahim, adalah risalah yang telah disampaikan oleh Ibrahim dan telah tertunaikan.[8] Sedangkan Ibnu ‘Âsyûr mengatakan bahwa suhuf musa itu adalah Taurat. Sebagaimana juga suhuf Musa, inti dari suhuf Ibrahim adalah apa yang ada dalam surat Al-‘Ala.[9] Sedangkan dalam Ibnu Katsir, beliau mengetengahkan sebuah hadits dari Ibnu Hatim tentang pernyataan Rasulullah tentang kenapa Nabi Ibrahim disebut orang ‘yang telah menunaikan’? Rasul menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim selalu berdakwah setiap pagi dan sore, “Bertasbihlah kepada Allah di waktu sore hari dan shubuh” (QS. Al-Rum, 17).[10] Dalam footnote Al-Quran terjemah Depag, disebutkan bahwa yang dimaksud bertasbih adalah, ‘Shalat’.[11] Dalam Aisar Al-Tafasir, ditambahkan bahwa suhuf Ibrahim itu terdiri dari 10 buah.[12] Sedangkan dalam tafsir Al-Zamakhsyary, disebutkan bahwa suhuf Nabi Ibrahim terdiri dari 30 buah suhuf, sepuluh pokok tentang pertaubatan, sepuluh pokok tentang ciri-ciri mukmin, dan sepuluh pokok lainnya tentang konsekwensi keimanan.[13]

Mengenai surat Al-‘Alâ terdapat berbagai macam pendapat, diantaranya Tafsir Al-Tabari mengutip berbagai macam ta’wil mengenai ayat terakhir surat Al-‘Alâ. Pendapat Ikrimah bahwa ‘suhuf Musa dan Ibrahim’ adalah maksudnya ayat-ayat yang ada dalam surat ini. Sedangkan Abu Al-‘Aliyah mengenai ‘suhuf Musa dan Ibrahim’ mengatakan bahwa kisah mengenai kandungan surat Al’Alâ terdapat dalam suhuf-suhuf terdahulu. Sedangkan Qatadah mengatakan bahwa yang ada dalam suhuf Musa dan Ibrahim hanya ayat, “Dan sungguh bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal”. Dan setelah mengungkap beragam pendapat di atas, Imam Al-Thabari mengatakan bahwa, “Pendapat yang paling tepat adalah, bahwa ayat 14-17 lah yang benar-benar ada dalam suhuf Musa dan Ibrahim. Sebab ayat sebelumnya ditujukan kepada Nabi Muhammad”.[14]

Sedangkan mengenai istilah kitab, hadits panjang dari Abu Hurairah bercerita tentang ucapan Rasulullah mengenai keistimewaan hari jum’at, “Hari jum’at adalah sebaik-baiknya hari di mana matahari diterbitkan, yaitu karena pada hari itu Adam diciptakan, kemudian di keluarkan dari surga, pada hari itu juga ia bertaubat, dan hari itu juga ia meninggal. Hari jum’at adalah ditetapkannya hari kiamat” Kemudian Ka’ab membuka Taurat kemudian membenarkan ucapan Rasulullah karena bersesuaian dengan Taurat.[15] Hadits dari Ibnu Umar menjelaskan tentang ucapan Nabi terhadap dua orang Yahudi yang berzinah, dengan merujuk pada Taurat nabi bertanya, “Apakah kalian mengetahui bahwa pezina mendapatkan rajam dalam Taurat?”. Mereka menjawab, “Tidak baginda, kami hanya menemukan dalam taurat mengenai hukum jilid”, Rasul bersabda, “Kalian telah berbohong, sesungguhnya dalam taurat ada hukum rajam”, mereka menjawab, “Engkau benar-benar jujur wahai Rasul, dalam Taurat terdapat ayat tentang rajam”. Kemudian para pezina itu mendapat hukum rajam.[16] Dalam Sahih Bukhari, riwayat Amr bin Ash menerangkan bahwa dalam Taurat sudah dijelaskan sifat-sifat Nabi Akhir Zaman.[17] Dalam Sahih Bukhari, riwayat dari Abu Hurairah menjelaskan bahwa, Taurat itu berbahasa Ibrani.[18]

Sedangkan injil, diceritakan ada namus atau tanda-tanda –seperti juga dalam Taurat, tentang kenabian Muhammad SAW.[19] Salah satu surat dalam Al-Quran yang tidak diturunkan dalam Zabur, Taurat, dan Injil adalah surat Al-Fâtihah.[20] Secara etomologi, Ibnu Hajar mendefinisikan zabur sebagai kitab. Bahkan Rasulullah menyebut zabur sebagai bacaan dalam riwayat Al-Kusymihanni. Disebut zabur karena ia mazbûr atau maktûb atau tertulis. Dan berarti zabur juga karena berupa kumpulan tulisan tertentu. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zabur adalah taurat itu sendiri. Qatadah berkata, bahwa zabur terdiri dari 150 surat keseluruhannya berisi wejangan dan sanjungan terhadap Allah SWT. Di dalamnya tidak ada halal, haram, kewajiban (faraid) ataupun hudûd (hukum publik). Akan tetapi, untuk kebutuhan hal tersebut merujuk kepada taurât. Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dan lain-lainnya. Imam Nawawi berkata, “Orang sholeh di zaman Daud mengkhatamkan zabur empat kali di waktu malam, dan empat kali di waktu siang”.[21]

Suhuf dan Kitab dalam Penemuan Sejarah dan Arkeologi

Perjalanan panjang kitab Taurat berawal dari wafatnya Nabi Sulaiman tahun 992 SM. Kerajaan beliau selanjutnya terpecah menjadi dua, di utara dinamakan Kerajaan Israel dengan ibukota Samaria, dan di selatan dinamakan Kerajaan Yehuda dengan ibukota Yerusalem. Yerusalem dipercaya sebagai tempat penyimpanan naskah asli Taurat sehingga warga Israel sering beribadah di Yerusalem (Kamal, Asal-usul Kitab Suci:16). Dalam perjalanan selanjutnya, bangsa Israil kembali menyembah berhala, sedangkan bangsa Yehuda mulai melanggar banyak hukum taurat sehingga Allah menghancurkan mereka melalui raja Babylonia dan Nebukanedzar. Setelah semuanya tidak ada yang tertinggal bahkan bahasa Ibraninya sendiri, Nabi Uzair a.s pernah mencoba menulis ulang kitab Taurat Musa dalam bahasa Aram yang kemudian disebut Naskah Septuaginta. Sayangnya kedua naskah tersebut raib pada abad 2 SM.[22]

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa kitab Taurat nabi Musa as sudah lenyap sejak abad ke-3 SM. Begitu pula salinan Nabi Uzair dan naskah Septuaginta. Namun sekitar tahun 70-an, muncullah injil penggenap yang disebut Injil Perjanjian Baru dalam tradisi Aquila (130 M), Theodotion (abad ke-2 M) dan Symmakus (abad ke-3 M) yang dilakukan oleh revisionis Septuaginta ortodoks seperti Origenes (232-254), Uskup Mesir Hesikhius, dan Tua-tua Lukian di Anthonia (311).[23]

Oleh karena itu, satu-satunya bukti arkeologis mengenai lembaran-lembaran kitab kuno adalah apa yang ditemukan di Qumran, Yudea. Naskah tersebut dikenal sebagai naskah ‘Gulungan Laut Mati’ atau The Dead Sea Schroll. Sedangkan suhuf Musa, penulis mendapatkan salinan terjemahnya dari blog Aby Yusuf’s Site. Namun karena sumbernya tidak disebutkan, penulis tidak akan cantumkan di sini. Sedangkan seluruh kitab yang terangkum dalam Perjanjian Baru merupakan hasil kesepakatan konsili Neceae pada 325 M, maka orisinalitasnya perlu dipertanyakan. Kitab baru ini berisikan karangan Matius, Markus, Lukas, dan Yohannes, 13 surat yang ditulis Paulus, 3 surat Yohannes, 1 surat Yakobus, 1 surat Yudas, 2 surat Petrus, 1 surat Lukas kepada orang Ibrani, dan Wahyu kepada Yohannes. Semua surat yang ditulis Paulus, Yakobus, Yohannes, Yudas, Petrus, dan lain-lain jelas bukan firman Tuhan dan biasanya dalam beberapa versi, tulisan yang terakhir ini tidak berwarna merah seperti tulisan empat kitab lainnya. A.  Tricot, seperti dikutip Bucaille, menerangkan  bahwa Injil Matius, Markus dan Lukas telah disusun setelah 70 M. Kecuali Markus, ketiga Injil tersebut sebenarnya tidak ditulis sebelum tahun itu dan tidak diriwayatkan dalam bentuk tertulis. Oleh karenanya, lagi-lagi orisinalitasnya sangat rendah dan membuka kemungkinan pemalsuan-pemalsuan karena ditulis hampir 50 tahun setelah Yesus diangkat oleh Allah. Bagaimana dengan Markus? Seperti disebutkan di atas, ia sebenarnya bukan sahabat (rasul dalam tradisi Kristen), tapi adalah anak sahabat Yesus, yaitu Zebedeus. Artinya, Kitab Markus sebagai kitab tertua yang ditulis pada tahun sebelum 70, ternyata tidak ditulis oleh murid Yesus sendiri. Hal ini mengakibatkan sebuah kenyataan bahwa, baik Matius, Lukas atau Yahya  tidak  tahu bagian  mana yang merupakan Injil Markus dan mana yang bersumber dari Zebedeus. Dengan begitu, menurut R.P. Kannengiesser, “Orang akan mendapatkan suatu ide yang kongkrit tentang kebebasan para pengarang dalam membentuk susunan literer hikayat-hikayat Bibel sampai permulaan abad ke-2”.[24]

Oleh karena itu peninggalan sejarah yang masih membuka peluang untuk digali isi kebenarannya adalah naskah Qumran. Sayang sampai saat ini masih tidak bisa dikonsumsi oleh publik. Namun menurut Ataur Rahim, penulis Misteri Yesus dalam Sejarah, mengatakan bahwa dokumen-dokumen yang masih memiliki tingkat keaslian lebih baik dari Perjanjian Baru adalah Injil Barnabas dan Injil Hermas. Injil Barnabas ditulis langsung oleh sahabat Yesus. Sebuah keberuntungan, bahwa sebelum konsili Nicaea pada 325 M, Injil Barnabas sempat menjadi injil induk (canonical) dan dengan begini dapat menggambarkan bagaimana tradisi kristen awal. Barnabas yang seorang Yahudi adalah sahabat Yesus yang sepeninggal beliau, mempertahankan ajaran murni Yesus dari setiap bid’ah, terutama upaya-upaya yang dilakukan oleh Paulus dari Tarsus.

Fungsi Kitab dan Suhuf dalam Ushul Dakwah Para Nabi

Dari uraian di atas kita dapat menganalisa bagaimana posisi kitab dan suhuf sebagai Ushul Al-Dakwah para nabi Allah pra Nabi Muhammad SAW. Dalam literatur pelajaran agama Islam untuk tingkat SD, SMP, dan SMA, selalu ditekankan bahwa Kitab yang wajib diimani ada 4, yaitu: Taurat, Zabur, Injil, dan Quran. Tentu saja ini merupakan poin penting dalam pengajaran Islam. Bahkan ke depan perlu juga dibicarakan mengenai penyimpagan-penyimpangan yang dilakukan oleh Yahudi dan Nashrani, khususnya berkaitan dengan kitab Taurat dan Injil.

Namun sedikit sekali diantara kita yang mengetahui bahwa kitab yang berisi tentang syari’at hanya ada tiga, yaitu Taurat, Injil dan Quran[25]. Adapun zabur, seperti dikutip oleh Qatadah ia berkata, bahwa zabur terdiri dari 150 surat keseluruhannya berisi wejangan dan sanjungan terhadap Allah SWT. Di dalamnya tidak ada halal, haram, kewajiban (faraid) ataupun hudûd (hukum publik). Akan tetapi, untuk kebutuhan hal tersebut merujuk kepada taurât. Sedangkan Injil berisi tentang pelurusan-pelurusan yang dilakukan oleh Ahl Al-Kitab mengenai proses penciptaan alam semesta, keesaan Allah, dan tanda-tanda (namus) tentang kenabian Muhammad.

Tidak banyak riwayat mengenai kitab dan suhuf nabi pasca Musa dan sebelum Isa a.s., kecuali keterangan mengenai zabur. Oleh karena itu kita dapat mengatakan bahwa kitab dan suhuf yang dijadikan ushul dakwah oleh Nabi Musa dan nabi setelahnya adalah Taurat. Bahkan satu-satunya keterangan yang kita dapatkan dari naskah masoret dikatakan bahwa Nabi Uzair pernah menulis ulang Taurat yang sudah disimpangsiurkan oleh Yahudi.

Lalu bagaimana dengan suhuf Ibrahim? Tentu saja, karena suhuf Ibrahim diwahyukan sebelum Taurat, maka satu-satunya keterangan adalah apa yang ada dalam surat Al-‘Alâ, yaitu tentang tazkiyyah al-nufs, dzikir dan shalat, serta peringatan tentang kesementaraan dunia dan kekekalan akhirat. Hal ini dapat kita lihat dari kesimpulan Imam Al-Thabari dalam tafsirnya mengenai surat Al-‘Alâ seperti disinggung sebelumnya. Keterangan lain yang penulis dapatkan adalah dalam Aisar Al-Tafasir, ditambahkan bahwa suhuf Ibrahim itu terdiri dari 10 buah. Sedangkan dalam tafsir Al-Zamakhsyary, disebutkan bahwa suhuf Nabi Ibrahim terdiri dari 30 buah suhuf, sepuluh pokok tentang pertaubatan, sepuluh pokok tentang ciri-ciri mukmin, dan sepuluh pokok lainnya tentang konsekwensi keimanan.

Kesimpulan

Ushul dakwah –dalam pengertian materi-materi yang didakwahkan, dapat kita simpulkan dalam Taurat, Zabur, Injil dan Suhuf adalah sebagai berikut:

  1. Semua kitab dan suhuf berisi ajaran Tauhid, pengesaan Allah, dan peniadaan makhluk yang serupa, kemustahilan Allah untuk beranak dan diperanakkan.
  2. Kitab yang berisi syari’at adalah suhuf ibrahim (yang tanpa nama), Taurat, Injil, dan Al-Quran. Syari’at yang termaktub dalam suhuf Ibrahim, belum mengatur tata masyarakat dan memberikan tahap awal ajaran Tauhid yang diperlukan oleh tata masyarakat. Sedangkan Taurat, selain berisikan tentang ajaran Tauhid, berisi juga tentang hukum rajam, mencuri, makanan yang halal dan haram, tentang proses penciptaan alam (kesaksian Al-Quran dan Injil Barnaba), dan pengkhianatan Yahudi terhadap kematian para nabi sebelum Isa (kesaksian Al-quran dan Injil sheperd of Hermas). Suhuf Musa, dalam sebuah riwayat tidak disebutkan jumlah ashfar-nya. Sedangkan shuhuf Ibrahim seperti dalam tafsir Al-Zamakhsyary, disebutkan terdiri dari 30 buah suhuf, sepuluh pokok tentang pertaubatan, sepuluh pokok tentang ciri-ciri mukmin, dan sepuluh pokok lainnya tentang konsekwensi keimanan.
  3. Kitab Zabur terdiri dari 150 surat keseluruhannya berisi wejangan dan sanjungan terhadap Allah SWT. Suhuf Musa yang tidak disebutkan ashfar-nya itu merupakan penjelas dari Taurat.
  4. Kitab Injil berisi pelurusan-pelurusan Taurat yang telah disimpangsiurkan oleh Yahudi. Selain itu, Injil juga berbicara tentang penguatan hukum-hukum syari’at yang ada dalam Taurat. Namun Injil tidak memuat syari’at baru, selain syari’at yang telah ditetapkan Allah dalam Taurat. Sebagai mana taurat, Injil ditulis dalam bahasa Ibrani.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Thabary, Tafsir Al-Thabary, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani.

Aisar Al-Tafâsir, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani.

Al-Bayanun, Madkhol ilâ ilm al-dakwah.

Al-Faruqi, et.al, 2000. Atlas Budaya Islam: Menjelajah Khasanah Peradaban Gemilang, Mizan: Bandung,

Al-Quran Al-Karim, Terjemah Depag, hal. 643.

Al-Zamakhsyary, Tafsir Al-Zamakhsary, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani

Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani

Ibnu ’Âsyûr, Tafsir Li Ibn Asyur, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani.

Ibnu Hajar Al-‘Asyqolani, Fathul Bâri, Bab Firman Allah, “Dan Kami berikan Daud Zabur”, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani.

Ibnu Hibban, Sahîh Ibn Hibban, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani

Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran Al-‘Adhim, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani

Imam Malik, Muwattha, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani

Bucaille, Maurice, Dr., 1991. Bibble, Quran, dan Sains Modern, Pustaka Pelajar, Jakarta.

Rahim, Muhammad Ataur .1994. Misteri Yesus dalam Sejarah, Pustaka Da’i: Jakarta

http://www.wikipedia.org,  Perjanjian Lama: 1


[1] Tafsir Ibn Âsyûr, Al-Maidah ayat 3, hal. 107.

[2] Ibid. Kelihatanya Al-Thabari mengambil hadits bil makna dari Musnad Ahmad, dengan redaksi yang sedikit berbeda, pada juz 35, hal. 4, hadits No. 16517.

[3] Al-Bayanun, Madkhol ilâ ilm al-dakwah, hal. 54.

[4] Al-Faruqi, et.al, Atlas Budaya Islam: Menjelajah Khasanah Peradaban Gemilang, Mizan: Bandung, 2000, hal. 131.

[5] Bright, The History of Israel, dalam Al-Faruqi, ibid.

[6] Sheller, et.al., Rahasia Bible (Al-Kitab) yang Terakhir, dalam Muhammad Ataur Rahim, Misteri Yesus dalam Sejarah, Pustaka Da’i: Jakarta,  1994, hal. VII-XX.

[7] Ibnu Hibban, Sahîh Ibn Hibban, Bab Tentang Ta’at dan Balasannya, Juz 2, hal. 213, No. 5726.

[8] Thabari, Tafsir Surat Al-Najm, 36. hal. 527.

[9] Ibnu ’Âsyûr, Tafsir Surat Al-Najm, 36.

[10] Ibnu Katsir, Tafsir Surat Al-Najm, 36.

[11] Al-Quran Al-Karim, Terjemah Depag, hal. 643.

[12] Aisar Al-Tafâsir, Tafsir Surat Al-Najm, 36.

[13] Al-Zamakhsyary, Tafsir Surat Al-Najm, 36.

[14] Thabari, Tafsir Surat Al-‘Ala, ayat 19.

[15] Imam Malik, Muwattha, Bab Riwayat Mengenai Kiamat, Juz 1, hal. 327. Hadits No. 222.

[16] Imam Malik, Muwattha, Bab Riwayat Mengenai Hukum Rajam, Juz 5, hal. 175. Hadits No. 1288. Shahih Al-Bukhari, Bab Tafsir Ayat ‘Ya’rifuna Kama Ya’rifuna Abna-akum’, Juz 11, Hal. 465, Hadits No. 3363.

[17] Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, hadits No. 1981.

[18] Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, hadits No.4125.

[19] Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, hadits No.3141

[20] Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, hadits No.905

[21] Ibnu Hajar Al-‘Asyqolani, Fathul Bâri, Bab Firman Allah, “Dan Kami berikan Daud Zabur”, Juz 13, Hal. 214, Hadist No. 3164.

[22] Ridenour, Dapatkah Al-Kitab Dipercaya?: 85

[23] http://www.wikipedia.org,  Perjanjian Lama: 1

[24] Kannengiesser dalam Bucaille, Bibble, Quran, dan Sains Modern: hal. 120.

[25] Lihat hadits riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda, “KaumTaurat diberi Taurat, kemudia mereka mengamalkannya. Kaum Injil diberi injil, kemudian mereka mengamalkannya. Dan kalian diberi Al-Quran, kemudian kalian mengamalkannya. Shahih Bukhari, Bab Firman Allah, “Datangkanlah Taurat dan kemudian bacalah”. Juz 23, hal. 63, Hadits. No. 6979..

9 thoughts on “KITAB DAN SUHUF PARA NABI ALLAH SERTA POSISINYA DALAM DAKWAH PRA KENABIAN MUHAMMAD

  1. Bukti Ilmiah Injil
    Apakah Arkeologi Menguatkan
    atau Menentang Injil?

    Pengantar
    Ratusan penemuan arkeologis dari abad pertama telah digali. Apakah arkeologi meneguhkan atau melemahkan Injil bila detil-detil dalam Injil diperiksa?. Dasar pikirannya adalah jika detil-detil kurang penting dari Injil terbukti akurat dari waktu ke waktu, ini akan meningkatkan keyakinan kita dalam material lain dalam
    Injil yang tidak dapat langsung diperiksa. Berikut contoh beberapa kasus bagaimana Injil dapat bertahan menghadapi serangan para kritikus.

    Keakuratan Lukas sebagai Seorang Sejarawan
    Lukas, adalah tabib dan sejarawan yang menulis Injil Lukas dan Kitab Kisah Para Rasul. Apakah Lukas adalah sejarawan yang dapat dipercaya bahwa ia menuliskan segala sesuatunya dengan benar? Ketika para arkeologis memeriksa detil-detil dari apa yang ia tuliskan, apakah mereka menyimpulkan bahwa Lukas teliti atau ceroboh?
    Para sarjana melihat Lukas sangat akurat sebagai seorang sejarawan. Ia terpelajar. Ia pandai berbicara. Bahasa Yunani Lukas mendekati kualitas yang unggul. Ia menulis sebagai seorang pria berpendidikan, dan penemuan-penemuan arkeologis menunjukkan lagi dan lagi bahwa Lukas akurat dalam apa yang ia tuliskan.
    Misalnya, dalam Lukas 3:1, ia mencatat Lisanias sebagai raja wilayah Abilene sekitar tahun 27 M. Selama bertahun-tahun para sarjana menunjuk ini sebagai bukti bahwa Lukas tidak mengerti apa yang ia bicarakan, karena Lisanias bukan seorang raja melainkan pemerintah Chalcis setengah abad sebelumnya. Jika Lukas tidak dapat memberikan fakta dasar yang benar, maka tulisannya tidak dapat dipercaya.
    Tetapi selanjutnya, sebuah prasasti yang berasal dari waktu ketika Tiberius, dari tahun 14 sampai 37 M, ditemukan. Prasasti itu menyebutkan Lisanias sebagai raja di Abilene, dekat Damaskus, persis seperti yang dituliskan Lukas.
    Contoh lain adalah Kisah Para Rasul 17:6, pada pemakaian kata ‘politarchs’ yang diterjemahkan sebagai `pembesar-pembesar kota`. Selama waktu yang lama, orang-orang berpikir bahwa Lukas keliru, karena tidak ditemukan bukti adanya istilah ‘politarchs’ di dokumen-dokumen Roma kuno.
    Tetapi kemudian sebuah tulisan yang tertoreh di sebuah lengkungan abad pertama, diawali dengan: ‘Pada waktu ketika politarchs’. Anda dapat pergi ke British Museum dan melihatnya sendiri. Para arkeologis juga telah menemukan lebih dari 35 tulisan prasasti yang menyebutkan kata ‘politarchs’. Beberapa dari tulisan ini ada di
    Tesalonika dari periode yang sama yang dirujuk oleh Lukas. Sekali lagi para kritikus salah dan Lukas yang benar.
    Dalam Lukas 18:35 Yesus sedang berjalan ke Yerikho ketika Ia menyembuhkan seorang buta bernama Bartimeus, sementara Markus 10:46 berkata bahwa ia keluar dari Yerikho. Tidakkah ini merupakan kontradiksi yang tajam yang menimbulkan keraguan terhadap dapat dipercayanya Perjanjian Baru?
    Tidak sama sekali. Itu muncul sebagai kontradiksi hanya karena Anda berpikir dalam istilah yang kontemporer, di mana kota-kota dibangun dan tetap begitu adanya. Namun tidaklah demikian kasusnya di masa lampau.
    Yerikho setidaknya berada di 4 lokasi berbeda 1/4 mil jauhnya pada masa-masa kuno. Kota itu dihancurkan dan dibangun kembali dekat persediaan air lain atau sebuah jalan baru atau lebih dekat ke sebuah gunung atau apa saja. Intinya adalah, Anda dapat keluar dari lokasi yang satu, di mana Yerikho ada dan menuju ke lokasi lain, di mana Yerikho juga ada.
    Jadi baik Lukas maupun Markus dapat sama-sama benar. Yesus bisa saja keluar dari satu area di Yerikho dan masuk area Yerikho yang lain.
    Seseorang arkeologis terkemuka dengan hati-hati memeriksa rujukan-rujukan Lukas pada 32 negara, 54 kota,dan 9 pulau, dan ia tidak menemukan satu kesalahan pun.
    Jika Lukas begitu akurat dan cermat dalam melaporkan sejarah, maka ia tentu secara akurat juga melaporkan hal-hal yang jauh lebih penting, tidak hanya baginya namun bagi orang-orang lain juga. Sebagai contoh tentang kebangkitan Yesus, bukti yang paling berpengaruh dalam ketuhanan-Nya, yang oleh Lukas ditegaskan dengan kuat oleh: ‘banyak tanda … membuktikan …’ (Kisah Para Rasul 1:3).

    Bukti bahwa Yohanes Dapat Dipercaya
    Bagaimana dengan Yohanes, yang Injilnya kadangkala dianggap mencurigakan karena ia berbicara tentang lokasi-lokasi yang tidak dapat dibuktikan benar?
    Ada beberapa penemuan yang telah menunjukkan bahwa Yohanes sangat akurat. Sebagai contoh Yohanes 5:1-15 mencatat bagaimana Yesus menyembuhkan seorang cacat di kolam Betesda. Yohanes memberikan informasi detil bahwa kolam itu memiliki 5 serambi. Selama waktu yang lama orang-orang mengutip ini sebagai suatu contoh ketidakakuratan Yohanes, karena belum ditemukan satu tempat pun yang seperti itu.
    Namun baru-baru ini kolom Betesda telah digali. Kolam ini terdapat sekitar 40 kaki di bawah tanah. Kolam ini memiliki 5 serambi, tepat seperti yang dijelaskan oleh Yohanes. Dan ada juga penemuan-penemuan lain, seperti: kolam Siloam (Yohanes 9:7), sumur Yakub (Yohanes 4:12), bahkan identitas Pilatus sendiri, semuanya memberikan bukti ketepatan historis bagi Injil Yohanes.
    Jadi ini membantah tuduhan bahwa ‘Injil Yohanes ditulis begitu lama setelah kehidupan Yesus sehingga itu tidak mungkin akurat’.

    Sensus
    Lukas 2:2 mencatat bahwa sensus yang membawa Yusuf dan Maria ke Betlehem dilangsungkan ketika Kirenius menjadi wali negeri di Siria dan selama pemerintahan Herodes Agung. Ini menimbulkan masalah yang signifikan karena Herodes meninggal tahun 4 SM, dan Kirenius mulai memerintah tahun 6 M. Bagaimana Anda menangani ketidaksesuaian ini?
    Seorang arkeologis terkemuka bernama Jerry Vardaman telah menemukan sebuah koin dengan nama Kirenius di atasnya. Ini menunjuk Kirenius sebagai prokonsul Siria dan Kilikia dari tahun 11 SM sampai dengan setelah kematian Herodes. Dengan demikian maka ada 2 nama Kirenius: satu yang memerintah hingga 4 SM, dan satu lagi yang memerintah setelah 6 M. Suatu hal yang biasa bila banyak orang memiliki nama Roma yang sama. Sensus ini pasti berlangsung selama pemerintahan Kirenius yang lebih awal.

    Keberadaan Nazaret
    Matius 2: 23 mencatat sebuah kota Nazaret, tempat Yesus menghabiskan masa kecil-Nya.Kota Nazaret tidak pernah disebutkan oleh Rasul Paulus, atau oleh Talmud (yang mendaftar 63 kota Galilea lainnya), atau oleh Josephus (yang mendaftar 45 desa dan kota Galilea lainnya, termasuk Japha, yang berlokasi tepat 1 mil jauhnya dari Nazaret saat ini). Tidak ada sejarawan atau ahli geografi kuno yang menyebutkan Nazaret
    sebelum permulaan abad keempat. Nama itu pertama kali muncul dalam literatur Yahudi dalam puisi yang ditulis sekitar abad ke 7 M. Adakah penemuan arkeologis bahwa Nazaret ada selama abad pertama?
    Dr. James Strange dari University of South Florida mencatat bahwa ketika Yerusalem runtuh tahun 70M, para imam tidak lagi dibutuhkan dalam Bait Suci karena bait itu telah dihancurkan, jadi mereka diutus ke berbagai lokasi lainnya, bahkan sampai ke Galilea. Para arkeologis telah menemukan sebuah daftar dalam bahasa Aram yang menjelaskan ke-24 keluarga para imam yang dipindahkan, yang salah satu dari mereka dipindahkan ke Nazaret. Ini menunjukkan bahwa Nazaret benar-benar ada pada saat itu.

    Sebuah Buku Sumber yang Luar Biasa Akurat
    Peneguhan arkeologi yang berulang-ulang atas keakuratan Perjanjian Baru memberikan penguatan penting bahwa Perjanjian Baru dapat dipercaya. Ini sangat kontras dengan fakta bahwa arkeologi telah menghancurkan Mormonisme.
    John Ankerberg dan John Weldon menyimpulkan Mormonisme dalam sebuah buku, ‘Tidak ada kota-kota dalam Book of Mormon yang pernah ada. Tidak ada orang-orang, tempat, bangsa, atau nama dalam Book of Mormon pernah ditemukan. Tidak ada artifak-artifak Book of Mormon, tidak ada kitab-kitab Book of Mormon, tidak ada tulisan-tulisan prasasti Book of Mormon’.
    Seorang arkeologis terkemuka Australia, Clifford Wilson menulis, “Mereka yang mengetahui fakta-faktanya kini mengakui bahwa Perjanjian Baru harus diterima sebagai buku sumber yang luar biasa.”

    Sumber :
    Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, Penerbit Gospel Press, PO BOX 238, Batam Center, 29432. Fax 021-7470-9281Children of Light – Serving with LOVE through FAITH Apapun juga yang kamu perbuat,
    perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia Kol 3:23 Karena bagiku hidup adalah Kristus & mati adalah keuntungan Fil 1:21

    Para arkeologis telah menemukan bukti-bukti yang membuat orang yang skeptis menjadi percaya.
    Pada musim panas 1993, suatu tim arkeologis bekerja keras menggali puing-puing kota Tell Dan, di kaki gunung Hermon, di utara Galilea. Bukti-bukti menunjukkan bahwa situs ini adalah tanah Dan yang disebut di Perjanjian Lama (Hakim-Hakim 20:1).
    Gila Cook, pensurvei tim, dengan cermat memetakan halaman luas berubin batu dan dinding-dinding di luar tempat yang tadinya gerbang utama kota. Kemudian, ketika cahaya matahari sore menerobos dinding yang baru saja dibuka, Cook melihat ada sesuatu yang aneh. Pada ujung salah satu batu basal dinding yang terbuka itu, ada huruf-huruf yang terpahat di situ.
    Cook memanggil pemimpin tim, Avraham Biran dari Hebrew Union College di Yerusalem. Ketika arkeologis kawakan itu berlutut memeriksa batu tersebut, matanya membelalak. “Ya Tuhan!” Biran berseru. “Kita telah menemukan prasasti!”
    Pada prasasti ini terdapat 13 baris tulisan dalam bahasa Aram, tetapi tak ada yang utuh. Beberapa baris hanya mengandung tiga huruf dan yang terpanjang adalah 14 huruf. Huruf-huruf yang masih utuh dapat dibaca jelas. Dua baris mengandung frasa “Raja Israel” dan “Rumah Daud”.
    Rujukan pada Daud merupakan suatu ledakan sejarah. Belum pernah sebelumnya nama raja pejuang Israel kuno – tokoh sentral dalam Perjanjian Lama yang menurut Perjanjian Baru adalah leluhur Yesus – diidentifikasi dalam catatan di luar Alkitab. Dari barang-barang tembikar yang ditemukan di sekitarnya Dr. Biran menyatakan bahwa prasasti itu dibangun pada dua dekade pertama abad kesembilan SM, kira-kira seabad setelah kematian Raja Daud.
    Tampaknya prasasti ini memperingati kemenangan raja Damaskus, mungkin Hazael, atas dua musuhnya: Raja Israel dan Yehuda. Pada tahun 1994 ditemukan lagi dua keping tulisan yang merujuk pada Yoram, anak Ahab, penguasa Israel, dan Ahazia yang memerintah “Rumah Daud” atau Yehuda. Nama-nama ini sesuai dengan yang disebut dalam II Raja-raja pasal 8 dan 9. Dr. Hershel Shanks dari Biblical Archaeological Review menyatakan, “Prasasti ini menghidupkan teks di Alkitab secara dramatis. Ini menambah keyakinan kita akan kebenaran kisah di Alkitab.”
    Penemuan ini memperkuat sejumlah fakta. Pertama, penggunaan istilah “Rumah Daud” menunjukkan bahwa Israel memang pernah diperintah oleh Dinasti Daud. Kedua, kerajaaan Israel dan Yehuda (yaitu kerajaan Israel yang terpecah setelah kematian Salomo) memang merupakan dua kerajaan terpisah sebagaimana dikisahkan dalam Alkitab.
    Para orang yang skeptis telah lama berargumentasi bahwa Daud hanya tokoh legenda. Sekarang, akhirnya, ada suatu prasasti yang bukan ditulis oleh orang Ibrani tetapi oleh musuh bangsa Israel seabad lebih sedikit setelah masa kehidupan Daud.
    Penggalian prasasti atau benda-benda kuno dapat membenarkan atau menyangkal kisah di Alkitab. Namun dengan cara luar biasa arkeologi modern telah mengukuhkan inti sejarah Perjanjian Lama dan Baru, mendukung bagian-bagian kunci kisah-kisah di Alkitab yang penting.

    Sodom dan Gomora
    Perjanjian Lama mengisahkan penghancuran kota Sodom dan Gomora (Kejadian 19:1-29). Kejadian 14:3 menunjukkan lokasi kota-kota itu di lembah Sidim yang dikenal sebagai Laut Asin (nama lain Laut Mati). Para arkeologis meneliti daerah Laut Mati untuk mencari sisa-sisa Sodom dan Gomora. Pada sisi timur, terdapat beberapa lembah sungai yang mengalir menuju Laut Mati. Di situ ditemukan puing-puing kota kuno, salah satunya adalah Bab edh-Drha. Pada tahun 1924, arkeologis Dr. William Albright menemukan kota itu dilindungi benteng yang kuat. Pada penggalian lebih lanjut pada tahun 1965, 1967 dan 1973 ditemukan dinding setebal 45 cm yang melingkungi kota. Di luar kota ditemukan kuburan dengan ribuan kerangka. Penemuan ini menunjukkan kota itu banyak penghuninya pada awal Zaman Perunggu, yaitu semasa kehidupan Abraham.
    Yang menarik, di situ ditemukan bukti-bukti bahwa kebakaran besar telah memusnahkan bangunan di kota itu. Dr. Bryant Wood menunjukkan bahwa api berasal dari atap yang kemudian runtuh membakar seluruh isi bangunan. Ini sesuai dengan kisah di Alkitab bahwa kota itu dihancurkan oleh hujan belerang dan api yang turun dari langit (Kejadian 19:24). Wood menyatakan bahwa “Bab edh-Dhra adalah kota Sodom.”
    Ada lima kota yang disebut di Kejadian 14:1 yaitu Sodom, Gomora, Adma, Zeboim dan Zoar. Puing-puing kota itu ditemukan disekitar Laut Mati, yaitu Bab edh-Dhra, Numeira, es-Safi, Feifa dan Khanazir. Penelitian pada kota-kota itu menunjukkan bahwa kota-kota tersebut telah ditinggalkan penghuninya pada waktu bersamaan, kira-kira pada 2450 – 2350 SM. Arkeologis percaya bahwa Bab edh-Dhra adalah Sodom, Numeira adalah Gomora dan es-Safi adalah Zoar.
    Numeira, yang diduga adalah Gomora, juga diliputi oleh abu seperti yang ditemukan di Bab edh-Drha. Di beberapa tempat ditemukan lapisan abu setebal hingga dua meter. Dari kelima kota itu empat kota dimusnahkan dan satu kota yaitu Zoar terhindar dari malapetaka itu. Lot dan keluarganya mengungsi ke kota itu.
    Diduga kehancuran Sodom dan Gomora diakibatkan oleh terjadinya gempa bumi yang kuat. Kota-kota itu memang terletak pada daerah gempa (pada patahan Great Rift Valley). Juga terdapat banyak bukti bahwa di daerah itu terpendam materi bahan minyak, semacam aspal, yang disebut bitumen. Materi ini kaya akan belerang. Ahli geologi Frederick Clapp berpendapat bahwa tekanan yang diakibatkan gempa bumi menyebabkan materi itu tersembur keluar dan terbakar oleh percikan api.

    Zaman para leluhur
    Kitab Kejadian merunut leluhur Israel hingga ke Abraham, seorang pengembara yang percaya pada satu Tuhan, yang dijanjikan Tuhan sebagai “bapak dari banyak bangsa” dan keturunannya akan mewarisi tanah Kanaan. Janji Tuhan dan identitas etnis Israel diteruskan generasi ke generasi – dari Abraham hingga Isak dan Yakub. Yakub dan anak-anaknya – yang menurunkan ke 12 suku bangsa Israel – telah dipaksa oleh suatu masa kelaparan untuk pindah dari Kanaan ke Mesir.
    Arkeologi modern belum menemukan bukti yang mengukuhkan kisah di Alkitab ini. Namun seorang pakar seperti Barry Beitzel, profesor Perjanjian Lama dan bahasa Semit pada Trinity Evangelical Divinity School di Deerfield, Illinois, tidak heran. Kisah itu hanya merupakan “cerita keluarga” dari seorang pengembara yang tidak terkenal dan keturunannya, kata Beitzel, bukan suatu sejarah geopolitis sejenis yang dicatat dalam kitab sejarah para raja.
    Kenneth Kitchen, seorang ahli sejarah Mesir dan oriental yang sekarang telah pensiun dari University of Liverpool di Inggeris, berpendapat bahwa arkeologi dan Alkitab “cocok secara mengagumkan” dalam menjelaskan konteks sejarah dari cerita-cerita para leluhur bangsa Israel. Sebagai contoh, dalam Kejadian 37:28 Yusuf, salah seorang anak Yakub, dijual sebagai budak dengan harga 20 syikal perak. Ini, kata Kitchen, memang harga seorang budak yang berlaku di daerah itu pada abad ke-19 hingga ke-17 SM, seperti yang tertera pada dokumen-dokumen yang ditemukan di daerah yang sekarang dikenal sebagai Syria dan Irak.
    Dokumen lain menunjukkan bahwa harga budak naik pada abad-abad berikutnya. Andaikan kisah Yusuf dikhayalkan oleh seorang penulis Ibrani pada abad ke-6, sebagaimana diusulkan oleh beberapa orang skeptis, mengapa harga budak bisa cocok dengan yang berlaku untuk masa yang dikisahkan itu. “Lebih beralasan menganggap bahwa data di Alkitab mencerminkan kenyataan,” kata Kitchen.

    Yesus
    Dalam empat dasawarasa terakhir ini, penemuan-penemuan spektakuler telah memberikan data yang mendukung latar belakang sejarah Injil. Misalnya, pada tahun 1968, sisa rangka orang yang disalibkan ditemukan di sebuah gua kuburan di Yerusalem utara. Ini penemuan yang penting dan menentukan: Sekalipun orang-orang Roma diketahui telah menyalib ribuan orang yang didakwa penghianat, pemberontak dan perampok, sisa kurban penyaliban belum pernah ditemukan sebelumnya.
    Tulang-tulang itu – yang disimpan dalam peti mati terbuat dari batu – tampak milik seorang yang berumur duapuluhan. Terdapat bukti bahwa kedua pergelangan tangannya telah dilubangi dengan paku. Kedua lututnya dilipat dan direbahkan ke samping dan sebuah paku besi (masih terdapat di tulang tumit salah satu kaki) di tusukkan menembus kedua tumit. Tulang keringnya patah, mungkin sesuai yang dikatakan di Injil Yohanes (19:32): “Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;”
    Telah lama disebutkan bahwa algojo Roma biasanya melemparkan mayat orang-orang yang disalib ke suatu kuburan massal atau membiarkannya tergantung di kayu salib hingga dimakan oleh binatang pemakan bangkai. Namun dengan ditemukannya sisa orang disalib sezaman dengan Yesus dalam suatu kuburan keluarga, ini jelas bahwa orang-orang Roma kadang-kadang membolehkan penguburan, sesuai dengan yang dikisahkan di Alkitab tentang penguburan Yesus.

    Ketika sedang membangun sebuah taman tiga kilometer di selatan Bukit Kuil (Temple Mount) pada tahun 1990, para pekerja menemukan ruang kuburan yang tersembunyi, yang didalamnya terdapat 12 peti mati batu yang berasal dari abad pertama. Salah satunya, yang berdekorasi paling indah, menyimpan tulang orang yang berumur enampuluhan. Disitu tertulis “Yehosef bar Qayafa” – “Yusuf, anak Kayafas.” Para ahli percaya bahwa itu jenasah Kayafas, seorang Imam Besar di Yerusalem, yang menurut Injil terlibat dalam penangkapan Yesus, menginterogasi-Nya dan menyerahkan-Nya pada Pontius Pilatus untuk disalibkan (Matius 26:57).]
    Beberapa dasawarsa sebelumnya, pada saat penggalian di reruntuhan Caeserea Maritima, tempat kedudukan pemerintah Romawi di Yudea, sebuah balok batu yang memperlihatkan tulisan yang telah rusak ditemukan. Menurut para pakar, tulisan yang lengkap boleh jadi “Pontius Pilatus, gubernur Yudea, telah mempersembahkan pada rakyat Kaesarea, sebuah kuil sebagai penghormatan pada Tiberius.”

    Prasasti yang mencantumkan nama Pontius Pilatus (pada baris kedua: Pontvs Pilatvs).
    Penemuan ini benar-benar penting – ini satu-satunya prasasti yang menyebut nama Pilatus, dan mengukuhkan bahwa orang yang disebutkan di Injil sebagai gubernur Roma di Yudea itu memang ada dan memiliki kekuasaan seperti yang dituliskan oleh para penulis Injil.
    Catatan arkeologi memang tidak banyak menyebut sejarah Alkitab. Namun para arkeologis yakin bahwa lebih banyak bukti masih terkubur di bawah gurun pasir Timur Tengah – menunggu sampai ditemukan.

    Contoh Dari Geograpi
    Sebagaimana Alkitab tidak dengan sengaja bermaksud memberi pelajaran bagi pembacanya dalam hal prinsip dan data ilmiah, setiap subyek yang mendiskusikan tentang penciptaan Allah adalah tepat dan benar. Salah satu contoh yang dimaksud, kita melihat kepada Ayub 26:7, dimana kita membaca suatu penjelasan modern bahwa bumi berputar pada kekosongan [dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “menggantungkan” diterjemahkan dengan “spin” yang berarti berputar]. Ayat ini ditulis sekitar 3000 tahun SM. Penjelasan ini sangat berbeda dengan perkiraan yang dipercayai dan dipikirkan dari dunia pada waktu itu. Mendukung Ayub 26:7, Yesaya 40:22 menunjukkan bahwa Allah bertahta di atas “bulatan bumi.” Yesaya 40 mencocokkan penjelasan dalam Ayub 26 dan mendukung ketepatan dari pernyataan tersebut, inilah yang kita harapkan dari Alkitab. Bagaimanapun juga, siapa yang lebih mengetahui selain daripada Sang Pencipta tentang bagaimana alam semesta ini dirancang dan dijadikan?

    Contoh dari Arkeologi
    Salinan-salinan yang paling tua dan masih ada dari sajak-sajak dan esay Yunani yang terkenal berasal dari 800 sampai 1000 tahun lebih baru daripada manuskrip asli. Akan tetapi tak seorang pun sarjana yang menerima suatu pendapat bahwa karya klasik Yunani ini tidak cocok dengan yang asli dan harus dibuang. Berbeda dengan itu, salinan paling tua dari beberapa kitab Perjanjian Lama hanya 200 tahun lebih baru dari aslinya. Dan salinan tertua dari beberapa kitab Perjanjian Baru hanya tertanggal 50 sampai 80 tahun kemudian dari tulisan aslinya. Berdasarkan informasi tersebut, Alkitab harus lebih dipercaya daripada literatur Yunani tersebut, yang begitu dipuja saat ini.
    Penemuan-penemuan terkini telah membuktikan keutuhan sejarah Alkitab, menyebabkan banyak arkelog, yang tidak menghormati Alkitab, berbalik dari prasangka terhadap Alkitab menjadi secara ilmiah menghormatinya. Sebagai contoh, dalam Kejadian 15:20 ada orang Het disebut di situ. Selama berabad-abad, banyak orang menertawakan Alkitab karena pengelompokkan orang-orang. Namun beberapa dekade lalu, reruntuhan dari sebuah kota yang terletak di negara Turki, di sebelah utara Israel sekarang, telah ditemukan yang dibuktikan sebagai reruntuhan kota orang Het.

    Penemuan Arkheologi menunjukkan ketepatan Alkitab
    Penemuan Arkheologi menunjukkan ketepatan Alkitab Ber-tahun2 banyak kritik ditujukan terhadap Alkitab sehubungan dengan masalah ketepatan sejarahnya. Kritik-kritik tersebut biasanya didasarkan atas kurangnya bukti dari sumber-sumber luar untuk mengkonfirmasi catatan Alkitab. Karena Alkitab adalah sebuah buku religius, para ahli sudah terlebih dahulu berpandangan bahwa isinya memihak dan karenanya tidak dapat dipercaya kecuali bila kita memiliki bukti pendukung dari sumber-sumber di luar Alkitab itu sendiri. Dengan perkataan lain, Alkitab dianggap bersalah sampai dapat dibuktikan kebenarannya, dan kurangnya bukti dari luar membuat Alkitab diragukan. Standar ini jauh berbeda dari standar yang diberlakukan terhadap dokumen kuno lainnya, sekalipun banyak, bahkan mungkin sebagian besar, memiliki unsur religius. Dokumen-dokumen tersebut dianggap akurat, kecuali ada bukti yang menunjukkan kebalikannya. Kendatipun tidak mungkin membuktikan setiap peristiwa yang terjadi di Alkitab, berbagai penemuan arkeologi sejak pertengahan tahun 1800-an telah menunjukkan ketepatan dan masuk akalnya kisah-kisah Alkitab. Berikut ini adalah beberapa contohnya: # Penemuan arsip Ebla di Siria Utara tahun 1970-an menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Alkitab mengenai kehidupan para bapa leluhur Israel yang pertama masuk akal. Dokumen-dokumen yang ditulis di tablet-tablet tanah liat yang berasal dari masa sekitar 2300 sM menunjukkan bahwa nama-nama pribadi dan tempat yang tercantum dalam kisah para bapa leluhur tersebut sungguh-sungguh nyata. Nama “Kanaan” digunakan di Ebla, sebuah nama yang sebelumnya dianggap oleh para pengkritik tidak digunakan pada masa itu dan digunakan secara tidak tepat di pasal-pasal pertama Alkitab. Kata “tehom” (“samudera raya”) di Kejadian 1:2 yang sebelumnya dianggap berasal dari periode yang lebih kemudian dan membuat para pengkritik mengatakan bahwa kisah penciptaan ditulis jauh di kemudian hari, ternyata merupakan salah satu kata yang dipakai di Ebla, 800 tahun sebelum Musa. Kebiasaan kuno yang terungkap dalam kisah-kisah para bapa leluhur juga ditemukan dalam tablet-tablet tanah liat dari Nuzi dan Mari.

    Orang-orang Hitit pernah dianggap sebagai legenda Alkitab belaka, sampai ditemukannya ibukota dan catatan-catatan mengenai mereka di Bogazkoy, Turki. Banyak orang menganggap ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai kekayaan Salomo terlalu dilebih-lebihkan. Catatan-catatan masa kuno yang ditemukan menunjukkan bahwa kekayaan pada masa kuno terpusat pada raja dan kekayaan Salomo sepenuhnya masuk akal. Pernah juga dinyatakan bahwa tidak ada raja Siria yang bernama Sargon yang tercatat di Yesaya 20:1, karena nama tersebut tidak pernah dikenal di catatan sejarah manapun. Namun kemudian, istana Sargon ditemukan di Khorsabad, Irak. Kejadian yang disinggung dalam Yesaya 20, penaklukan Asdod, dicatat pada dinding-dinding istananya. Tambahan pula, fragmen-fragmen yang ditulis untuk memperingati kemenangan tersebut juga ditemukan di Asdod sendiri. # Raja lainnya yang juga diragukan keberadaanya adalah Belsyazar, Raja Babel, yang disebut namanya di Daniel 5. Raja Babel terakhir yang dicatat sejarah adalah Nabonidus. Tablet-tablet yang ditemukan memperlihatkan bahwa Belsyazar adalah putra Nabonidus yang berkuasa bersama di Babel. Jadi, Belsyazar memang dapat memberikan tawaran kepada Daniel untuk menjadi “orang nomor tiga paling berkuasa di Babel” (Daniel 5:16) jika dapat membaca tulisan tangan yang ada di dinding, sebuah posisi yang paling tinggi yang bisa dicapai. Di sini kita melihat sifat ‘pandangan mata’ dari catatan Alkitab, sebagaimana telah berulangkali diperlihatkan oleh penemuan-penemuan arkeologi.

    BUKTI INTERNAL
    Melengkapi bukti-bukti eksternal, ada bukti-bukti internal yang memberi kita alasan yang baik untuk percaya kepada Alkitab. Dengan kata lain, ada bukti di dalam Alkitab yang menunjukkan Alkitab layak dipercaya dan diandalkan sebagai sumber informasi.
    Kesaksian Alkitab
    Alkitab menyatakan bahwa ia berasal dari Allah. Contohnya, dalam 2 Samuel 23:2 Daud, yang menulis banyak mazmur, mengatakan bahwa apa yang ia tulis berasal dari Allah. Yeremia menyatakan hal yang sama (Yeremia 1:4), sama seperti Rasul Paulus (1 Tesalonika 2:13). Petrus berkata bahwa tulisan-tulisan Paulus adalah “kitab suci” (2 Petrus 3:16). Yesus sendiri membuat banyak pernyataan tentang sifat Alkitab yang dapat dipercaya (Lukas 16:17, 24:44; Yohanes 17:17). Sebagai contoh, Yesus secara rutin mengingatkan bahwa semua cerita Perjanjian Lama dapat dipercaya (Lukas 11:51, 17:26-33).

    Kesatuan Alkitab
    Alkitab ditulis selama periode lebih dari 1500 tahun, dari zaman Musa (sebelum 1400 SM) sampai kepada masa Rasul Yohanes (kurang lebih tahun 100). Jumlah semua penulisnya paling sedikit empat puluh orang. Akan tetapi, walaupun semua orang yang berbeda ini menulis Alkitab pada masa yang berbeda, pesan yang mereka tulis selalu sama, tanpa ada pertentangan sedikitpun. Alasannya adalah Allah yang mengarangnya, yang menggunakan manusia untuk menuliskan apa yang Ia ingin katakan. Manusia yang menulis Alkitab hidup dan mati pada masa yang berbeda, tetapi Allah yang sama yang hidup selamanya memerintahkan kepada tiap-tiap orang ini untuk menulis. Karena alasan itu, kita dapat membandingkan bagian-bagian yang berbeda dari Alkitab dan menemukan bahwa bagian-bagian tersebut saling sependapat, saling mendukung, dan saling menjelaskan satu sama lain (1 Korintus 2:13). Kita dapat membaca bagian manapun dari Alkitab dan mengetahui bahwa bagian itu dapat dipercaya secara tetap.

    Isi Alkitab
    Bukti internal yang paling mengagumkan dari Alkitab adalah pokok yang Alkitab bicarakan. Isi dari Alkitab, hal-hal yang dibicarakannya, adalah hal-hal yang Alkitab dapat katakan jika hal itu ditulis oleh Allah. Sebagai contoh, Alkitab menyatakan bahwa Yesus menyatakan bahwa diriNya sebagai Allah (Yohanes 10:30); Alkitab menyatakan bahwa rasul-rasul Yesus menegaskan bahwa Yesus adalah Allah (Yohanes 20:28); Alkitab menyatakan bahwa Bapa mendeklarasikan bahwa Ia adalah Allah (Ibrani 1:8). Kesimpulan dari kesaksian ini adalah entah pesan Alkitab dianggap sebagai tidak waras dan sebagai tipuan yang jahat, atau pesan-pesan tersebut benar dan Alkitab hanya satu-satunya buku dalam jenisnya.
    Bukti penting lainnya adalah bahwa hanya Alkitab yang berbicara mengenai dosa (1 Yohanes 3:14). Tak seorang pun yang memiliki keberanian untuk menulis dengan tepat penilaian terhadap umat manusia seperti yang dijelaskan dalam Alkitab. Alkitab menghadirkan gambaran yang mengerikan. Alkitab menuduh kita, dan kita tidak suka membacanya. Hal ini menjelaskan mengapa kita begitu sukar untuk percaya bahwa Alkitab itu benar. Masalahnya bukan pada bukti-bukti tersebut tetapi pada hati kita. Siapa yang ingin mengetahui bahwa dirinya sengsara, curang, pendosa? Siapa yang senang pada waktu dikatakan bahwa ia berhadapan dengan neraka, dimana ia akan menderita di bawah murka Allah yang kekal? Siapakah yang dapat menerima suatu pengertian bahwa sama sekali tidak ada yang baik dalam dirinya dan bahwa ia memberontak kepada Allah yang telah menjadikannya?
    Hanya Allah yang dapat jujur terhadap kita karena Ia tahu kebenaran. Hanya Allah yang jujur kepada kita pada saat Ia menyatakan kasihNya. Kasih yang nyata tidak dinyatakan melalui kata-kata orang yang mencoba membuat kita merasa baik oleh bujukan yang sia-sia, tetapi membiarkan kita dalam situasi kita karena tidak ada harapan yang nyata yang ditawarkan. Kasih yang nyata dinyatakan melalui kebenaran karena hanya inilah satu-satunya yang dapat menolong kita. Kejujuran Alkitab untuk menggambarkan umat manusia tidaklah menarik. Akan tetapi Alkitab mengandung kata-kata dari Sahabat yang sesungguhnya. Allah tahu kita sedang berjalan di tepi jurang dan segera jatuh ke neraka. Ia dengan tepat mengatakan kepada kita apa yang seharusnya kita ketahui untuk menghindar dari bahaya ini. Walaupun Alkitab tidak terdapat dalam daftar sepuluh buku terkenal dunia, tetapi hanya Alkitab yang dapat membuat dan menyimpan janji seperti “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan (Matius 11:28-30).”

    Pesan Alkitab
    Ada satu pendapat akhir yang harus kita hadapi saat kita mempertimbangkan apakah Alkitab dapat dipercaya. Sebagian besar orang percaya bahwa Allah itu ada. Tetapi apabila Allah adalah Allah yang sesungguhnya, maka Ia berbicara dengan otoritas mutlak dan kita harus tunduk kepada FirmanNya. Dengan kata lain, bagaimana pendapat kita tentang Firman Allah, dan bagaimana kita bereaksi atasnya, merefleksikan apa pendapat kita tentang Allah itu sendiri. Kita tidak dapat memisahkan Allah dengan Alkitab. Kita tidak harus percaya kepada Alkitab, namun kita harus menghadapi akibatnya. Bila ada orang yang tidak percaya kepada Allah yang Alkitab katakan, mereka akan bertindak seperti layaknya orang yang tidak percaya kepada Allah, karena buah pahit dari hidup mereka yang egois akan segera dituai, seperti yang Alkitab katakan. Inilah bukti yang paling menakutkan. Selain itu pula, mereka harus berhadapan dengan kemarahan Allah yang mengejar mereka sampai ke kubur dan akan memaksa mereka untuk tunduk kepada FirmanNya pada hari penghakiman, seperti yang dinubuatkan Alkitab.
    Adalah baik untuk bertanya apakah kita dapat mempercayai Alkitab. Alkitab dapat memeriksa diri kita dan membersihkan kita. Yakobus 1:6 menyatakan bahwa kita tidak boleh segan untuk meminta kepada Allah supaya diberi kemampuan untuk percaya kepada FirmanNya dan memohon hikmat yang dibutuhkan untuk memperoleh banyak hal dari Alkitab. Akan tetapi, pelajaran Alkitab adalah penyelidikan yang kudus.
    Hanya bila kita mendekati Alkitab dengan menghambakan diri dan dengan pikiran yang terbuka untuk menerima kebenaran, maka kita akan menemukan jawaban yang kita perlukan.

    • kalau emang alkitab bener kan aneh kalau dlm 10buku terkenal aja gk msuk.. sumpah smpe mati gua gk prnh prcya sm alkitab. dia blg gk ada pertentgan ddlmnya? msak dlm kitab yg 1 dgn yg lain beda. kitab dgn ngra ini dan itu beda versi..

    • Di kitab Injil tidak terdapat ayat-ayat TRINITAS, sedangkan Quran terdapat ayat TRINITAS adalah Surat Al Maidah ayat 73 sampai 75 sebagai berikut :

      73. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

      74. Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

      75. Al masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).

      Juga ayat dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 116 sebagai berikut :

      116. Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

  2. Pingback: Islam Religion » KITAB DAN SUHUF PARA NABI ALLAH SERTA POSISINYA DALAM DAKWAH PRA KENABIAN MUHAMMAD

  3. Pingback: Kitab dan Suhuf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s