PENYAKIT AKUT INDONESIA: BELAJAR DARI PESAWAT HINGGA PEMILU

Kaget sekaligus miris mendengar kecelakaan pesawat Lion Air, jika sebelumnya pesawat Lion Air mendarat darurat di Bandara Hang Nadin Batam, kemarin (9/10) pesawat dari maskapai yang sama tergelincir di Bandara Soekarno Hatta. Walau tidak ada korban jiwa, setidaknya accident ini kembali menorehkan catatan buruk bagi penerbangan Indonesia.

Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum bisa menjabarkan hasil temuan penyebab tergelincirnya pesawat Lion Air MD 90 di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, pada 9 Maret 2009. “Namun memang kemarin sudah ditemukan salah satu roda pesawat patah,” ujar Juru Bicara KNKT, JA Barata (okezone, Rabu 11/03/2009).

Terlepas dari masalah di dalam maupun di luar teknis, kecelakaan pesawat di Indonesia semakin lama kejadiannya semakin sering. Kecelakaan pesawat kali ini dikatakan penyebabnya adalah hujan lebat dan berangin. “Jarak pandang saat itu hanya sekitar 1000 meter,” kata Kepala Humas Departemen Perhubungan, Bambang Ervan, saat dihubungi Tempo, Senin (9/3).

Tragedi serupa dalam tahun ini tercatat beberapa kali untuk maskapai yang berbeda, sejak Garuda Air, Adam Air, hingga Lion Air. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah melulu kesalahan teknis yang selalu bisa dimaklumi? Untuk kejadian Lion Air beberapa hari yang lalu ini, sang Pilot menangis tersedu-sedu mengakui di depan pengadilan bahwa tragedi ini berada di luar batas kemampuan nalar dan teknisnya.

Namun apa hubungannya dengan Pemilu? Tulisan ini tidak bertugas menganalisisnya dengan analogi mendalam, namun sekedar perbandingan ringan yang selalu membuat penulis tersenyum ringan dengan sedikit kepedihan.

Idenya adalah bahwa di Indonesia, siapapun selalu mengulangi kesalahan lebih dari dua kali. Dalam kasus penerbangan kesalahan yang dilakukan lebih dari dua kali bisa lihat dalam berbagai kasus. Pertama: sudah tahu bahwa membeli spare part impor murahan untuk pesawat –dengan asumsi, biaya penerbangan tidak boleh naik drastis dan agar keuntungan yang bisa diraup bisa stabil, selalu membahayakan, bukan saja prestise perusahaan penerbangan, bahkan yang lebih penting dan utama, keselamatan penumpangnya itu sendiri. Namun kesalahan ini terulang dan terulang lagi.

Contoh kedua, sudah tahu bahwa keteledoran petugas KNKT dalam melakukan seleksi dan check-up kesiapan pesawat yang ditugaskan di setiap maskapai selalu bisa di pass-away dengan uang pelicin (seperti kasus kebakaran kapal laut), lagi-lagi akan membahayakan prestise lembaga dan keselamatan penumpang.

Dalam kasus pemilu? Apalagi. Sudah tahu bahwa pala caleg dan partai yang mengumbar janji tidak pernah bisa membuktikan janjinya. Eh masih juga dipilih rakyat. Kemarin-kemarin ini, partai yang sempat dibenci oleh seluruh rakyat dalam NKRI, (seperti Golkar) sempat memanfaatkan penyakit lupa ini, dengan mengatakan bahwa, “Partai Golkar adalah pelopor perubahan, lebih cepat, lebih baik”. Lihat saja nanti, bahwa rakyat yang benci itu bisa lupa dengan umbar janji ini.

Para Anggota legislatif lebih parah penyakit lupanya. Sudah tahu bahwa anggota yang korup dan bejat moral, akan ketahuan tindak-tanduknya oleh KPU dan badan kehormatan anggota legislatif–di dunia, dan tentu saja oleh Allah SWT nanti di akhirat. Eh…masih saja banyak yang korupsi dan melakukan perilaku bejat di café-cafe dan hotel-hotel.

Apakah lupa tanda lanjut usia? Apakah rakyat NKRI sudah Lansia? Jika dibanding negara lain, kita masih 50 tahunan. Masih muda dan segar. Bahkan angka matang kita baru sepuluh tahun. Namun kenapa begitu pelupa. Dalam agama, secara personal para pelupa adalah para pendosa. Apakah secara sosial pun kita pendosa? Dosa apa yang kita lakukan sehingga kita menjadi pelupa?

Meninggalkan Al-Quran sebagai sumber hukum negara jelas dosa, bahkan Islam yang yang dijadikan oleh para Founding Father kita salah satu sumber ideologi Pancasila (dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa) sudah dinomorduakan dalam setiap pertimbangan kepemerintahan dan kebersosialan kita jelas adalah raja dosa. Saya kira, lupa adalah konsekwensi dari dosa itu. Astaghfirullah.

Advertisements

2 thoughts on “PENYAKIT AKUT INDONESIA: BELAJAR DARI PESAWAT HINGGA PEMILU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s