YANG KAMPANYE, YANG NARSIS

Bahasan tentang narsisme tidak lepas dari mitologi Yunani kuno. Alkisah ada seorang dewa bernama Narcissus. Parasnya tampan. Saking rupawannya, banyak dewi-dewi kena panah asmaranya. Termasuk Dewi Echo. Suatu hari, Narcissus kehausan. Dia sampai di sebuah kolam yang airnya sangat jernih. Di tepi kolam itu, dia kemudian berjongkok dan ingin meminum airnya. Saat berjongkok, dia pun melihat bayangan dirinya di permukaan kolam itu. Langsung saja, saat melihat bayangan dirinya yang tampan, Narcissus jatuh cinta pada bayangan itu. Namun, bayangan itu tidak memberinya respons sama sekali. Konon akhirnya Narcissus kemudian mati di tepi kolam tersebut.

Inilah kisah mitologi kuno yang pada 1898 oleh seorang psikolog dari Inggris bernama Havelock Ellis dijadikan sebagai simbol untuk orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri. Sejak itulah dikenal istilah narsistik yang menggambarkan manusia yang hanya berfokus pada dirinya sendiri serta menikmati pujaan dari orang lain kepadanya.

Saat ini, karakter tokoh mitos Dewa Narcissus, nampak bertebaran di setiap ujung leaflet, brosure, spanduk, dan baligho kampanye para Caleg kita. Lihat saja misalnya, “PKS: Jujur, Professional, dan Bersih”, “Golkar:, Lebih Cepat dan Lebih Baik”, “PBB, Bermanfat Bagi Rakyat”, “PPP: Amanah dan Terpercaya”. “PAN: Bekerja bukan Berjanji”, dan lain sebagainya. Moto semacam ini sesungguhnya bukan berangkat dari sebuah realitas politik, namun berangkat dari mitologi, harapan, optimisme, bahkan sringkali berawal dari keangkuhan dan manipulasi. Tujuannya satu, yaitu agar pemilih tertarik dan memilih caleg tertentu. Realitasnya, para caleg tetap saja tidak seperti motto mereka. Realitasnya, para caleg sering berhenti “ideal” pasca duduk di kursi panas kekuasaan.

Namun rakyat kita masih saja terkesima dengan narcisme aktor politik, sebab memang rasanya kita masih hidup di zaman mitos, yang segala rupa diukur bukan dengan kesadaran ilmu. Al-Quran, mengingatkan bahwa ilmu akan menyingkapkan kegelapan (mitology) menuju cahaya (pencerahan). Dan sebuah keniscayaan, bahwa dalam dunia mitos, orang seringkali percaya pada sosok-sosok (orang besar) semacam avatar atau messianis, bukan pada ilmu –yang setiap orang, bukan hanya Sang Avatar, bisa dan memiliki potensi merubah keadaan di sekelilingnya. Dunia Ideologi –yang seperti Kuntowijoyo percayai, memang sudah pergi, namun kita tidak beranjak pada ilmu, tapi bahkan kita terpelanting ke belakang, ke dunia mitos. Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s