AL-USTADZ ENTANG YANG SAYA KENAL

Oleh: Yudi Wahyudin

Waktu it, tepat pukul 01.30, selular phone penulis berdering. Seperti biasanya, penulis selalu menduga jika pada waktu-waktu seperti itu, informasi yang datang harus penting. Dan benar apa yang diduga, sebuah kabar menggegarkan, Al-Ustad Entang Muchtar pulang ke Rahmatullah. Penulis bergegas ke pondok pesantren Persis Bentar sebab menurut informasi, beliau akan dimandikan dan disholati di tempat beliau mengabdi tanpa pamrih itu. Ikhwan berkumpul dan menunggu ambulance yang membawa jenazah almarhum seraya mempersiapkan segala sesuatu untuk pengurusan jenazah. Sesaat setelah ambulance datang, isak tangis dan pekikan innnalillahi bertambah keras dan deras. Tak terasa, penulis menitikkan air mata yang tidak sanggup dibendung. Seorang guru, seorang inspirator itu benar-benar telah berpulang keharibaan-Nya.

Ucapan pertama kali yang penulis dapatkan dari anak Almarhum, Barikli Mubaroka, adalah, “Kang, mohon maaf apabila ayah banyak khilaf terhadap akang”. Bukan kepada penulis saja ia ungkapkan itu, kepada semua orang yang hadir saat itu, ia ungkapkan kata-kata yang sama. Penulis menjawab, “Rik, saya belum sempat meminta maaf kepada beliau, karena saya belum bisa sesuai harapan beliau”.

Al-Ustaz yang Saya Kenal

Beliau adalah sosok Ustad yang kami senangi. Meski ia sering tegas dalam mengajar, tidak jarang ia selingi dengan canda dan humor. Penulis masih teringat ketika tidak masuk pelajaran beliau (karena bolos da baong), penulis mendapat hukuman untuk berdiri di luar kelas. Namun begitu, karena merasa bersalah, penulis tetap berdiri menatap beliau selama 20 menit. Akhirnya beliau kembali memasukkan penulis ke dalam kelas seraya memberikan nasihat, “Omat ulah sakali-kali deui. Hargaan batur, ngarah batur ngahargaan ente!”. Namun ia sering bercanda dengan penulis. Hatta di rumah sakit dan dalam keadaan pengawasan alat-alat medis sekalipun.
Dalam organisasi, beliau terkenal dengan gagasan dan ketegasannya. Di Pemuda Persis, pada masa jihadnya digulirkan manhaj kaderisasi Pemuda Persis yang setadinya sekedar ma’ruf. Sampai saat ini, manhaj ini kita kenal dengan Tafiq (Tajwid Fityanil Quran) I, I, II hingga Tadribul Murabbi. Pada era kang Jeje Jaenudin, Pemuda Persis meneruskan estafeta kaderisasi tersebut.
Al-Ustadz sejauh yang saya kenal, selalu memberikan ruh dalam setiap apa yang ia ajarkan. Berbagai persoalan kontemporer selalu ia sikapi dalam setiap tatap muka dengan para santrinya. Ia memberikan bentuk bagaimana sebuah gerakan Islam saat itu berjuang dan mengaitkannya dengan fakta-fakta historis. Ia pernah memberikan ceramah tentang Pancasila dan mengajukan kritik atasnya, padahal kami baru berusia kelas dua mu’allimin. Penulis masih teringat ketika ia menukil dalil, “Kumpulan al-haq yang tidak dikelola dengan benar akan terkalahkan dengan kumpulah bathil yang terkelola”. Ia juga sering memberikan ceramah di kelas tentang perlunya penegakkan syari’at Islam.
Peristiwa yang selalu teringat dalam benak penulis adalah ketika penulis dengan Kang Tiar, mengusulkan kepada beliau untuk menuliskan sebuah buku saku tentang tauhid. Dalam waktu singkat, buku itu diterbitkan oleh penulis dan Kang Tiar dengan judul, “Memaknai Syahadatain” dengan naungan penerbit sebuah Yayasan Muna ‘aliya. Setelah itu, kami pun mengumpulkan karangan beliau yang tersebar di Bina Da’wah dalam bahasa sunda. Namun karena berbagai kendala, kumpulan itu belum diterbitkan.
Pada waktu sakit setelah divonis ginjal, beliau pernah berazam untuk menulis tentang persoalan akidah -suatu tema yang tidak pernah luput dari gagasannya. Ia pun menulis dalam keadaan sakit (rekaman tulisan ini belum diterbitkan dan masih tersimpan dalam file komputer beliau di rumahnya). Hebatnya, ia tidak pernah menolak untuk berceramah walau dalam keadaan sakit dan harus dicuci darah setelahnya. Kami pun dari Persis Garut, sering mengingatkan untuk selalu membatasi waktu ceramahnya, tapi beliau menjawab, “Ana teu apal iraha maot, mudah-mudahan ceramah ana jadi pahala nu terus ngalir”.
Ketika dokter RSHS Bandung mevonis ada syaraf otak yang pecah, beliau bergumam seolah-olah mengajar di dalam kelas, berkhutbah, dan memberikan ceramah. Subhanallah. Akhirnya, Setelah bertahun-tahun Allah membersihkan seluruh  dosanya, pada pukul kira-kira 01.00 WIB, Al-Ustaz -sang penceramah tauhid, meninggalkan dunia dalam mengucap LAA ILAAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR.
Penulis melihat jenazahnya yang dimandikan, tidak terlihat sedikitpun rona wajah penyesalan, bahkan beliau masih “hidup” walau dalam kematian, begitulah para syahid menjalani hidupnya di dunia. Para pelayat dari alumni dan kawan sejawat berkumpul memberikan doa kepada beliau, kami pun mengantarkannya hingga liang lahat seraya memanjatkan doa dan istighfar untuknya.
Bagi penulis ia bukan sekedar inspirasi dan seorang guru, ia adalah ayah yang tercinta

Al-Ustaz sang Bapakku

Bapak tak ajari aku mengais uang;

Belajar, belajar, belajar dan belajar

mengaji dan mengaji

tuntut ilmu tiada tepi

“Dengan ilmu, dunia di tanganmu”, pesannya

“Dengan ilmu, dunia mencarimu”, pesannya

“Dengan ilmu, dunia membutuhkanmu”, pesannya

“Dengan ilmu, dunia mengelilingimu”, pesannya

“Dengan ilmu, selangkah menuju surgamu”, pesannya

Bapak tak ajari aku mengenal luang

Waktu, waktu, waktu, dan waktu

Berdzikir dan bershalawat

Fardhu dan nawafil

“Bangunlah di sebagian malam”, pesannya

“Ambil air wudlu”, pesannya

“Shalatlah sebelas rakaat”, pesannya

“Kala orang mendengkur pulas”, pesannya

One thought on “AL-USTADZ ENTANG YANG SAYA KENAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s