Allah Maha Mu’min

Yudi Wahyudin

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23)

Dia-lah Allah, yang tidak ada tuhan selain-Nya, Maha Malik Maha Quds Al-Salam, Maha Mu’min, Maha Muhaimin, Al-‘Aziz Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Maha Suci Allah dari apa yang mereka (orang-orang kafir) serikatkan! (Al-Hasyr, 23).

Ketika menuliskan ini, saya jadi ingat waktu membereskan Bab I Paper tingkat Mu’allimin. Waktu itu, judul yang saya angkat adalah, “Akhlak Mukmin Terhadap Mushaf Al-Quran”. Pembimbing I-nya adalah kakanda Al-Ustadz Drs. Asep Rahmat –yang sekarang terbaring sakit akibat stroke berat (semoga Allah lekas menyembuhkannya dan menjadikan sakitnya sebagai kifarat seraya mencurahkan rahmat dan pahala atas kesabarannya, amin!), dan Pembimbing II-nya yaitu Al-Ustadz Imron Rosyadi, Lc. Dalam latar belakang, saya mengutip sebuah ‘hadits’, “Takhallaqû bi akhlâq Allâh” (Berakhlakqlah dengan akhlaq Allah) dari bukunya Dr. Quraisy Shihab, “Wawasan Al-Quran”. Dalam proses bimbingan itu, Ustaz Imron bertanya kepada saya, “Riwayat siapa hadits itu? Kok ana baru mendengarnya?”. Saya tidak bisa menjawab, karena memang dalam buku Quraisy Shihab, tidak dicantumkan riwayatnya.

Beberapa hari yang lalu, kemudian penulis telusuri matan al-hadits tersebut. Dalam Silsilah Al-Dha’ifah, karya Syaikh Al-Bani, disebutkan dalam hadits No. 2822, dengan status Lâ Ashla Lahu, artinya bahwa hadits ini tidak bersandar dalam sanad –bahkan tidak mursal sekalipun. Begitu pula dalam kitab Syarah Al-‘Aqidah Thahawiyyah, matan al-hadits yang sama statusnya, Lâ Ashla Lahu.

Namun terlepas dari keterangan itu, tulisan ini tidak hendak mengamalkan hadits yang tingkat kelemahannya akut seperti lâ ashla lahu, namun yang menarik dari ayat di atas salah satunya adalah penegasan dzatiyyah dan sifat Allah sebagai Al-Mu’min. Sebagai pengikut Rasul, kita pun disebut-sebut sebagai mu’min. Seperti juga Allah menyebut Diri-Nya sebagai Al-Syakur dan Al-Shabbûr, kita pun diwajibkan bersyukur dan bersabar. Namun ketika Allah mengidentidikasi Diri-Nya sebagai Al-Mutakabbir dan Akbar, justru kita diperintah oleh Islam untuk tidak merasa besar dan angkuh. Hatta dalam perang berkecamuk dengan kafir pun, kita disuruh untuk tawadhu, seperti kisah Ali yang mengurungkan niatnya menebas kepala kafir, gara-gara nafs al-ammârah dan menghindari ketakaburan.

Dalam berbagai tafsir Al-Tabari, Al-Mu’min bagi Allah dimaknai sebagai, “Allah pemberi rasa aman bagi ciptaan-Nya dari perbuatan dzalim (yang mustahil bagi Allah). Sedangkan Ibnu Katsir, mengutip pendapat Abu Zaid yang mengatakan bahwa Allah, “Membenarkan hambanya yang mukmin dalam keimanan mereka terhadap-Nya”. Sahabat Rasul, Ibnu Abbas, menafsirkan Al-Mu’min sebagai, “Kebalikan dari at-takhwif (pemberi takut)”. Dalam Tafsir Al-Zamakhsary, disebutkan bahwa Al-Mu’min adalah, “Menganugerahi rasa aman”. Sedangkan Al-Mawaridi, menafsirkan Al-Mu’min sebagai, “Pengajak terhadap iman”. Dalam tafsir lain juga disebutkan dengan makna yang hampir mirip di atas.

Al-Mu’min –sebagaimana disebutkan di atas, adalah salah satu identitas yang juga ditempelkan kepada seseorang yang mengimani Allah (mukmin-mukminin; mukminatun-mukminaatun). Dalam konteks ini, keimanan diartikan dalam beberapa tingkatan dan cabang, mulai dari menyingkirkan duri di jalanan hingga Lâ ilâha illa Allah. Cabang dan tingkatan itu juga dijelaskan oleh beberapa hadits dengan ciri-ciri tertentu. Seperti, “Malu itu bagian dari keimanan” (HR. Bukhari); :“Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya” (HR. Bukhari); “Tidak beriman seseorang, sehingga aku (Rasulullah) lebih dicintainya daripada ayah dan anak-anaknya” (HR. Bukhari); Rasul, “Apa kalian tahun apa itu iman?”, Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, beliau menjawab, “Bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, memberikan 1/5 (untuk fakir miskin) dari harta ghanimah” (HR. Bukhari); dan dalam riwayat Abu Hurairah, Rasul bersabda, “Telah dwajibkan bagi orang yang pergi di jalan Allah (berjihad) untuk tidak berperang kecuali karena Iman kepada Allah” (HR. Bukhari).

Jika kita bandingkan, ternyata penafsiran Al-Mukmin bagi Allah mendapatkan korelasi dengan ciri-ciri mukmin dalam beberapa hadits di atas. Mukmin bagi Allah yang berarti, “memberikan rasa aman dan perbuatan dzhalim” juga kuat hubungannya dengan “Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. Dua makna itu memiliki prinsip yang sama, yaitu memberikan sesuatu yang berharga dan oleh karena itu disebut Al-Mukmin. Al-Mukmin bagi Allah ditafsirkan sebagai, “Pembenar keimanan seorang mu’min” juga erat kaitannya dengan, tanda definisi yang dipertanyakan sahabat mengenai Iman yaitu, ““Bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah“. Jika seorang mukmin tidak menganiaya orang lain karena ia malu kepada Allah, maka ‘perbuatan dzalim’ merupakan sifat yang mustahil bagi Allah. Dan jika Allah Huwa Al-Mukmin ditafsirkan sebagai pengajak kepada keimanan, maka seorang muslim diwajibkan dalam mengajak kepada Islam (berdakwah) untuk memiliki dasar keimanan.

Kelihatannya, tanpa hadits yang lâ ashla lahu di atas, meneladani sifat Allah merupakan tugas mulia sekaligus berat. Kita harus bertaqwa dengan sesungguh-sungguhnya (haqqa tuqâtih), sebab itu adalah perbuatan mulia. Namun juga bertaqwalah sesuai kadar kemampuan (fattaqu Allah mâ istatha’tum), sebab meneladani sifat Allah itu pekerjaan berat. Wallahu ‘alam

Past. Bentar, 25 Mei 2009: 21.00 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s