Terjemah Fath al-Bari

MUKADDIMAH FATH AL-BÂRI KARYA IBN HAJAR AL-ASQALANI

FAKTOR PENDORONG DAN NIAT BAIK

IMAM BUKHARI DALAM MENYUSUN KITAB JÂMI’ AL-SHAHÎH

Diterjemakan Oleh:

Lajnah Buhuts Al-Kutub Pesantren Persis 19 Bentar

Semoga Allah menganugerakan ilmu pada kita semua. Sesungguhnya, bahwa atsâr Nabi Saw tidak dibukukan di zaman sahabat dan para pembesar tabi’in dalam bentuk al-jawâmi’ (ensiklopedis) dan murattabah (sistematis) karena dua alasan, pertama, mereka para sahabat pada awalnya telah dilarang keras melakukannya –seperti diriwayatkan secara shahih dalam hadis Muslim, sebab takut akan terjadi pencampuradukkan sebagian teks hadis dengan Al-Quran. Kedua, karena kuat hafalan dan kecerdasan yang juga sering terdorong karena tidak terdapat tradisi tulis-menulis. Namun kemudian pembukuan atsâr dan penyusunan secara sistematis dalam bentuk bab (abwâb) terjadi pada akhir zaman tabi’in bersamaan dengan meluasnya para ulama ke berbagai wilayah, merebaknya bid’ah dari golongan khawârij, syi’ah râfidhah, serta qadariyyah-jabbâriyyah.

Maka orang yang terkenal generasi pertama yang mengumpulkan hadis-hadis ada Rabi’ bin Shabîh (160 H), Sa’id bin Abi ‘Arûbah (156 H), dan lain-lain. Mereka menyusun setiap bab berdasarkan batasan-batasan tertentu. Hingga kemudian muncul para muhaddits generasi ketiga yang hanya membukukan hadis-hadis tentang berbagai hukum. Imam Malik menyusun Al-Muwattha yang memasukkan hadis-hadis kuat dari para imam di Hijâj yang dilengkapi dengan perkataan sahabat, fatwa tabi’in, dan atba’ al-tâbi’in di dalamnya. Selain Imam Mâlik, yang tercatat sebagai penulis muwattha’ adalah Abû Muhammad Abdul Mâlik bin Abdul ’Azîz bin Juraiz di Mekkah, Abû ’Amr ’Abdurrahman bin ’Amr Al-Auzâ’îe di Syam, Abû Abdullah Sufyân bin Sa’id Al-Tsauri di Kufah, dan Abû Salamah Hammâd bin Salamah bin Dînar di Bashrah. Kemudian banyak juga para ahli di zaman ini yang menyalin kitab dengan metode mereka masing-masing sebelum para imam melihat pentingnya menyusun hadis Nabi Muhammad Saw secara khusus. Hal itu dipelopori oleh hampir dua ratus orang ahli. Diantaranya adalah ’Ubaidillah bin Mûsâ Al-‘Abasi Al-Kûfi dalam bentuk musnad, Musaddad bin Masrahad Al-Bashri dalam bentuk musnad, Asad bin Musa Al-Umawi dalam bentuk musnad, Nu’aim bin Hammâd Al-Khazâ’ie dalam bentuk musnad. Kemudian para imam hadis terhenti setelah itu secara metodis dalam menyusun atsâr mereka sehingga sedikit saja para imam hadis-hafidh yang melakukannya kecuali dalam bentuk masânid. Seperti Imam Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahuyah, Utsman bin Abi Syaibah, dan lain-lain di Neblu. Namun di antara mereka ada yang menyusun kitabnya baik berdasarkan bab dan juga berdasarkan musnad sahabat sekaligus, seperti Abu Bakar Abi Syaibah.

Ketika Imam Bukhari melihat situasi penyusunan semacam ini, terbakarlah semangatnya. Ia mendapatkan –berdasarkan kategori ‘kumpulan hadis-hadis’ (jam al-jawâmi’), ada sebagian yang termasuk hadis shahih, hasan, dan bahkan kebanyakannya adalah dha’ief. Beliau melihat bahwa metode ini justru jangan diperbanyak. Kemudian beliau tergerak hatinya untuk menyusun hadis shahih yang tidak ragukan lagi. Tekadnya ini menguat setelah gurunya, seorang Amir Al-Mukmin dalam bidang hadis dan fikih, Ishaq bin Ibrahim Al-Handholi yang dikenal dengan sebutan Ibnu Rahuyah, dalam sebuah khabar dari Abu ’Abbâs Ahmad bin ’Umar Al-Lu’lu dari Hâfidh Abu Hujjâj Al-Mazi, dari Yusûf bin Ya’kûb dari Abû Al-Yamân Al-Kindi dari Abû Manshûr Al-Qazâz dari Hâfidh Abû Bakar Al-Khâtib dari Muhammad bin Ahmad bin Ya’kub dari Muhammad bin Ahmad bin Ya’kub dari Muhammad bin Nu’aim, aku mendengar Khalaf bin Muhammad Al-Bukhâri dari Nu’aim berkata, aku mendengar Ibrâhim bin Ma’qal Al-Nashfi berkata, Imam Al-Bukhâri berkata, “Kami bersama Ishaq bin Rahûyah, ia berkata, ‘Seandainya kalian mengumpulkan kitab ringkas yang berisi sunnah shahih Rasulullah Saw’, Ucapan tersebut begitu membekas dalam hatiku, kemudian aku pun mulai menyusunnya”.

Saya (Al-‘Asqalâni) meriwayatkan dengan sanad yang kuat dari Muhammad bin Sulaiman bin Fâris, ia berkata, aku mendengar Imam Bukhari berkata, “Aku melihat Nabi Muhammad Saw (dalam mimpiku, penerj), dan seolah-olah aku berdiri di hadapannya. Sedangkan tanganku membawa kipas yang meniupkan angin pada Rasulullah. Kemudian aku bertanya kepada ahli ta’bir mimpi, ia pun berkata kepadaku, ‘Engkau sedang menyingkirkan kebohongan dari Rasulullah’. Maka mimpi itu membawaku untuk mengeluarkan hadis-hadis shahih saja.” Hâfidh Abu Dzar Al-Harawi berkata, aku mendengar Abû Al-Haitsami Muhammad bin Maki Al-Kasymîhani berkata, aku mendengar Muhammad bin Yusûf Al-Farbarî berkata, Imam Bukhari berkata, “Tidaklah aku tuliskan sebuah hadis dalam kitab Shahih ini, kecuali aku mandi dan shalat dua rakaat sebelumnya”. Riwayat dari Ismâ-îli dari Bukhari, ia berkata, “Tidaklah aku keluarkan dalam kitab ini kecuali yang shahih. Namun banyak juga hadis shahih yang tidak aku masukkan di sini”. Ismâ-îli berpendapat kalaulah ia mengeluarkan semua hadis shahih dalam kitab ini, ia akan mengumpulkan hadis jama’ah sahabat Rasul dalam satu bab, sambil menyebutkan sanad masing-masing hadis yang shahih. Tentulah kitabnya akan menjadi kitab yang sangat tebal. Abû Ahmad bin ‘Adi berkata, ia mendengar kabar dari Al-Hasan bin Al-Husain Al-Bazâr yang berkata, aku mendengar Ibrâhim bin Ma’qal Al-Nasafi berkata, aku mendengar Imam Bukhari berkata, “Tidaklah aku masukkan dalam kitabku ini kecuali yang shahih dan aku meninggalkan juga banyak hadis shahih sehingga tidak terlalu panjang”.

Al-Farbarî berkata juga, aku mendengar Muhammad bin Abi Hatîm Al-Bukhâri Al-Wirâq berkata, aku melihat Muhammad bin Ismail Al-Bukhâri dalam tidur. Ia berjalan di belakang Nabi Muhammad Saw., dan mengikuti langkahnya. Setiap kali nabi melangkahkan kakinya, Imam Bukhari mengikuti langkahnya itu setapak demi setapak”. Al-Hâfidh Abu Ahmad bin ‘Adi pernah mendengar dari Al-Farbari, ia berkata, aku mendengar Najm bin Fudhail, ia adalah seorang ahli ilmu. Ia juga berkata pernah mengalami mimpi seperti mimpi di atas.

Abû Ja’far Mahmûd bin ’Amr Al-‘Aqalî berkata, ketika Imam Bukhâri menyusun Kitab Shahihnya, ia menyodorkannya kepada Ahmad bin Hambali, Yahya bin Ma’ien, ‘Ali bin Al-Madanî dan yang lainnya. Mereka menganggap baik dan menjadi saksi atas keshahihannya kecuali dalam empat hadits. Al-’Aqalî berkata, “Ini adalah ucapan shahih dari Bukhari langsung”.

Bersambung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s