AL-QURAN MENURUT AHLI QURAN

Setelah kita membahas sifat Al-Quran menurut Rasulullah, sekarang kita lanjutkan pada ungkapan ahli Quran –yaitu para sahabat, tabi’in, dan para ulama terdahulu mengenai Al-Quran. Kita akan mengungkapkan bebagai macam ungkapan mereka tentang aspek-aspek Al-Quran, baik karakteristik dan sifat-sifatnya. Kita juga akan menggambarkan bagaimana mereka hidup dengan hakikat, kelembutan, dan cahaya Al-Quran, bagaimana mereka mendapatkan pengaruh yang luar biasa dari Al-Quran serta mampu memahami tujuan dan urgensi Al-Quran.

Sebelum masuk pada ungkapan para tabi’in, kita mulai dengan mengungkapkan ucapan para sahabat radiyallâhu ‘ahum sebab mereka adalah generasi Al-Quran yang istimewa, generasi yang paling banyak bergaul dan hidup dengan Al-Quran, mengetahui pokok-pokok Al-Quran, dan memiliki kepekaan terhadap karakteristik dan sifat-sifatnya.

  • Imam Tirmidzi meriwayatkan dari harits bin Abdullah Al-Hamadani –yaitu Al-‘Awar, dia berkata, “Aku melewati mesjid, ketika orang-orang sedang mendalami hadits. Kemudian aku masuk dan bertanya, ‘Apakah kalian mengamalkannya?’. Mereka menjawab, ‘Ya’. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Saw., bersabda, “Ingatlah, akan tejadi fitnah pada suatu hari’. Aku bertanya, ‘Apa jalan keluarnya wahai Rasulullah?’. Rasulullah menjawab, ‘Kitab Allah, di dalamnya ada berita mengenai orang sebelum dan sesudahmu. Di dalamnya ada hukum untuk perkara yang ada di sekitarmu. Al-Quran adalah rincian tanpa gurauan. Siapa orang yang meninggalkannya dengan sia-sia, Allah pasti membinasakan mereka. Barangsiapa yang mencari petunjuk dari selainnya, Allah akan menyesatkannya. Al-Quran adalah tali Allah yang kuat, dia adalah al-dzikr al-hakîm (peringatan yang bijaksana), dia adalah al-shirât al-mustaqîm (jalan yang lurus), dia tidak akan sanggup dirubah oleh hawa nafsu, dia juga tidak akan tercampur oleh ucapan manusia. Para ulama tidak akan merasa kenyang (karena memperdalamnya, penerj), dia juga tidak diciptakan dari banyaknya penolakan. Keajaiban Quran tidak akan mengurang, apabila jin mendengarnya, mereka tidak akn henti-hentinya memperdengarkannya, Allah befirman, ‘Sesungguhnya kami mendengar Al-Quran yang luar biasa, dia membimbing kepada jalan petunjuk. Kami akan iman kepada-Nya, dan kami pun tidak akan berserikat dengan sesuatu pun kepada Allah’. (QS. Al-Jin, 1-2). Siapa orang berkata dengannya pasti benar, dan barang siapa yang beramal dengannya pasti akan diberi pahala, siapa yang menghukumi dengannya akan adil, siapa yang menyeru padanya akan diberi hidayah kepada jalan yang lurus”.

Para ulama melemahkan hadits ini sebab di dalamnya ada rawi yang majhûl,[1] sedangkan Hârits Al-A’war adalah dhaif. Imam Tirmizi berkata, “Kami tidak mengenal hadits ini kecuali hanya dari jalan ini (Hârits Al-A’war), sanadnya majhûl dan banyak celaan mengenai Hârits Al-A’war”

Nampak kepada kita bahwa ini sebenarnya adalah ungkapan Amir Al-Mumin Ali bin Abi Thalib r.a., oleh sebab itu kami menyajikannya di sini sebagai sahabat dan keluarga Rasulullah…Kami tahu bahwa beliau mengetahui aspek-aspek karakteristik dan sifat Al-Quran, memiliki dilâlah al-shâdiqah[2] dan ungkapan beliau ini sangat layak untuk dikaji secara mendalam. (Jâmi’ Al-Ushûl karya Ibnu Al-Atsîr, jilid 8, hal 461-462). Imam Al-Muhaddits Ibnu Katsir berkata dalam karyanya Fadhâl Al-Quran, “Hadits di atas terkenal dari sanad Hârits Al-A’war, dan para ulama banyak memperbincangkannya. Akan tetapi sebagian ulama membohongkannya dari aspek pikiran dan aqidahnya…..singkatnya, hadits ini sebenarnya merupakan ucapan Amir Al-Muminin ’Ali bin Abi Thâlib r.a. Sungguh telah meragukan sebagian ulama tentang marfu’-nya[3] hadits ini. Pendapat itu adalah pendapat yang hasan dan sahih…”. (Fadhâil Al-Quran, Jilid 5).

  • Abdullah bin ’Abbâs r.a., berkata, “Allah mengumpulkan dalam Al-Quran pengetahuan tentang orang-orang terdahulu dan orang-orang masa kini. Pengetahuan tentang apa yang sudah terjadi dan akan terjadi. Didalamnya terkumpul ilmu tentang Al-Khaliq (Pencipta) yang Maha Agung, perintah-perintah-Nya dan pengetahuan tentang mahluknya”. (Jâmi’ Al-Ushûl, 8:464-465).
  • Âmir bin Wâtsilah meriwayatkan, sesungguhnya Nâfi’ bin Abd Al-Hârits bertemu dengan Umar di malam hari –dan Umar mengangkatnya sebagai pemimpin Kota Mekkah. Nafi’ berkata, “Siapakah yang engkau pekerjakan untuk memimpin Kota Mekkah ini?”. Umar menjawab, “Ibnu Abza…(yaitu Nâfi’ bin Abd Al-Hârits, penerj)”. Nafi’ kembali bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?”. Umar menjawab, “Dia adalah hamba sahaya dari para hamba sahaya kami”. Nafi’ kembali bertanya, “Apakah engkau mengangkat hamba sahaya sebagai pemimpin?”. Umar menjawab, “Dia itu (Nâfi’ bin Abd Al-Hârits, penerj) adalah Qari Al-Quran, dan ia pun mengetahui tentang berbagai kewajiban agama”. Kemudian Umar menambahkan, “Sesungguhnya Nabi Saw., bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan mengangkat sebagian kaum dengan Kitabullah (karena mengamalkannya, penerj) dan merendahkannya sebagian kaum dengan Kitabullah (karena meninggalkannya, penerj). (Jâmi’ Al-Ushûl, 8: 507)
  • Abu Al-Aswasd Al-Dualî berkata, Abu Musa Al-‘Asy’ari diutus kepada para ahli Quran di Bashrah. Kemudian datanglah 300 laki-laki yang telah membaca Al-Quran. Beliau berkata, “Kalian adalah orang-orang pilihan dan qurra di Bashrah, bacalah oleh kalian Al-Quran! Janganlah kalian terlena oleh waktu sehingga hati kalian menjadi keras sebagaimana orang-orang sebelum kalian yang hatinya mengeras. (Jâmi’ Al-Ushûl, 2:452).
  1. Aisyah r.a. berkata: Abu Bakar sering menangis ketika membaca Quran dalam shalat dan waktu lainnya”. Ia juga berkata, “Al-Quran itu lebih mulia dari ungkapan manusia yang dapat memabukkan akal”. (Jâmi’ Al-Ushûl, 2: 466-467).
  • Asma binti Abu Bakar r.a. berkata, “Tidak ada dari para sahabat yang gila dan pingsan gara-gara membaca Al-Quran, mereka sekedar menangis, merinding, hatinya terenyuh”. (Jâmi’ Al-Ushûl, 2:467).
  • Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwattha ucapan Muhammad bin Sîrîn rahimahullâh, “Sesungguhnya pada suatu hari Umar bin Khatab membaca Al-Quran bersama satu kaum. Kemudian beliau pergi untuk buang air kecil, dan kembali lagi dalam keadaan membaca Al-Quran. Berkatalah seorang laki-laki, ‘Wahai Amîr Al-Mukminîn, apakah engkau membaca Al-Quran, sedangkan engkau tidak memiliki wudhu?’. Umar menjawab, ‘Siapa yang memberikan fatwa semacam itu? Apakah Musailamah Al-Kadzab?”. (Jâmi’ Al-Ushûl, 2:469).
  • Berkata Khudaifah Al-Yaman r.a., “Wahai Ahlu Al-Qurra, istiqamahlah di jalan Allah, sebab kalian telah berlomba dalam perlombaan yang jauh. Jika kalian melirik kanan-kiri (tidak istiqomah, penerj), kalian telah sangat sesat”.
  • Ibnu Abbâs r.a. berkata, “Para qurra di majelis dan musyawirinnya Umar bin Khattab, terdiri dari kakek-kakek dan remaja”. (Al-Tibyan fi âdab hamala al-quran li al-nawawi, 11)
  • Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Wahai pemegang Al-Quran (Pemikul Ilmu), amalkanlah…sebab orang alim adalah orang yang mengamalkan ilmunya, dan ilmunya sesuai dengan amalnya. Sungguh akan datang beberapa kaum yang memikul ilmu tapi tidak mampu mengangkat derajat mereka disebabkan oleh amalnya tidak sesuai dengan ilmunya, apa yang nampak tidak sesuai dengan apa yang tersembunyi. Mereka duduk dalam majelis yang satu sama lain saling mengagungkan diri (riya), sehingga ada seorang laki-laki yang marah karena kedudukannya ditempati orang lain, dan karena itu ia meninggalka majelisnya. Amal mereka dalam majelis itu tidak sampai kepada Allah…”. (Al-Tibyân li Al-Nawawi, 17).
  • Umar bin Khatab r.a. berkata kepada para penghafal Al-Quran, “Wahai Ahl Al-Qurra, angkatlah kepalamu (percaya diri, penerj), karena sungguh telah jelas benar jalan Allah ini, berlomba-lombalah dalam kebaikan, dan janganlah kalian angkuh terhadap manusia” (Al-Tibyan, 28).
  • Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Para pembawa Al-Quran dituntut untuk selalu terjaga pada malamnya ketika orang lain tertidur, hemat di waktu siangnya ketika orang lain boros, bersedih ketika orang lain bersukaria, menangis ketika orang lain tebahak-bahak, diam ketika orang lain gaduh, khusyu ketika orang lain lalai”. (Al-Tibyan, 28).
  • Hasan bin Ali r.a., berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian melihat Al-Quran sebagai surat dari Allah, mereka mentadaburinya di malam hari dan mengamalkannya di siang hari”. (Al-Tibyan, 28).
  • Orang-orang dari Yaman datang kepada Abu Bakar Al-Shiddiq, mereka mulai membaca Al-Quran dan kemudian menangis, lalu Abu Bakar berkata, “Beginilah kami…”. (Al-Tibyan, 48).

Ila al-istimrâr….

*) Hasil kajian Lafîf min Al-Asâtidzah Pesantren Persatuan Islam 19 Garut, dari buku Mafâtih li al-ta’âmul ma’a Al-Quran, oleh Dr. Sholâh Abd Al-Fatâh Al-Khalidi (Dar Al-Qolam, Damaskus).


[1] Dalam ilmu hadits, yang disebut majhûl adalah hadits yang di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang tidak dikenal identitasnya.

[2] Dilâlah bisa diartikan isyarat isyarat atau makna. Dilâlah Al-Shâdiqah berarti memiliki pemaknaan yang baik.

[3] Marfu’ adalah hadits yang sahih, atau benar-benar ucapan Rasulullah Saw.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s