ANTARA MUSYDA V DAN DUKA

Waktu itu kira-kira pukul 09.30 lebih, Musyda V Pemuda Persis Masa Garut Jihad 2009-2012  baru selesai mengesahkan Tata Tertib Persidangan. Kang Asep Deni Abdul Majid (Bendahara Pemuda Masa Jihad 2006-2009), dengan tergesa-gesa menghampiri pimpinan sidang seraya membawa berita duka, “Ust. Shidiq, meninggal!”. Musyawirin sebenarnya masih belum yakin, sebab pada bebera hari sebelumnya tersebar isu bohong tentang meninggalnya Al-Ustadz. Namun setelah dikonfirmasi ke berbagai pihak –termasuk mengkonfirmasi ke pihak keluarga Al-Marhum, Musyawirin mengucap Innâ Lillâhi Wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.

Namun kemudian karena kondisi sedang Musyawarah, Musyawirin menyepakati untuk berbagi tugas. Sebagian mengkondisikan ta’jiyyah dan yang lainnya meneruskan persidangan. Pada sessi selanjutnya –Laporan Pertanggungjawaban, Al-Ustadz Iwan membuka laporan dalam suasana duka. “Tepat pada Musyawarah Daerah IV, tanggal 26 Mei 2006, kita ditinggalkan tokoh besar Al-Ustaz Abdul Fatah. Dan pada hari ini (31 Nopember 2009), kita ditinggalkan kembali oleh tokoh besar, Al-Ustadz Shidiq Amin. Perstiwa ini bukan kebetulan. Hal ini menyiratkan bahwa kaderisasi merupakan hal mutlak, tidak bisa ditawar-tawar”, tegas beliau.

Pada keesokan harinya, Musyawarah dilanjutkan pada sessi Komisi Pembahasan Tatib Pemilihan, Garis Besar Program Kerja, dan Rekomendasi. Pada sessi pembahasan Tatib Pemilihan, yang banyak disoroti musyawirin adalah syarat khusus calon ketua, yaitu ayat yang berbunyi, “Pernah Mengikuti Tafiq II”. Ada sebagian yang berpendapat bahwa ayat ini akan mengebiri kader lain, yang layak memimpin tapi belum pernah mengikuti proses Tafiq II. Tapi sebagian berpendapat, bahwa saatnya kita harus menghargai sistem kaderisasi yang sudah berjalan. Peserta-peserta yang sudah mengikuti Tafiq ini, paling tidak secara komitmen telah menunjukan imamah-imarah terhadap sistem dengan segala kesibukan aktivitas hariannya. Ada juga yang mengambil jalan tengah, yaitu jangan dulu Tafiq II tapi Tafiq I. Sebab meski hal tersebut ideal, namun kader yang sudah mengikuti Tafiq II masih minim, jadi calon yang akan diajukan tidak sesuai dengan semangat “Setiap Peserta berhak Memilih dan Dipilih”. Setelah berdiskusi panjang tanpa menemui kesepakatan, akhirnya suara diambil dengan jalan voting. Setelah melalui vote, suara menetapkan bahwa calon yang layak diajukan adalah mereka yang sudah mengikuti Tafiq II.

Tak lama kemudian, Panitia Pemilihan pun disiapkan oleh Pimpinan Sidang berdasarkan tata tertib pemilihan ketua. Maka kemudian, musyawirin dipersilahkan mengajukan calon masing-masing, dengan urutan bakal calon: Yudi Wahyudin, Dadang Muslim, Yusuf Tajiri, Ruston Al-Rasyid, dan Dede Hudaya. Berdasarkan tata tertib pemilihan, ketiga bakal calon yang memiliki suara terbesar, disahkan menjadi calon yang berhak dipilih. Akhirnya, hanya Yudi Wahyudin, Dadang Muslim, dan Yusuf Tajiri. Namun karena, Yusuf Tajiri mengundurkan dari pencalonan, maka pemilihan hanya dilakukan pada Yudi Wahyudin dan Dadang Muslim. Akhirnya, pada pukul 12.45 WIB, Musyawarah memilih Yudi Wahyudin sebagai Ketua Pemuda Persis Masa Jihad 2009-2012.

Setelah dilantik oleh PW. Pemuda Persis Jawa Barat, panitia, ketua terpilih dan Tasykil Demisioner langsung meluncur ke Pesantren Persis Benda, Tasikmalaya untuk menghaturkan Ta’jiyyah kepada keluarga. Di Pesantren Persis Benda, kami diterima langsung oleh pihak keluarga, yang menceritakan kronologis meninggalnya Allahu Yarham Al-Ustadz Shidiq Aminullah. Semoga Musyda V ini merupakan wujud dari kaderisasi yang diharapkan, semoga para pelanjut Risalah tetap melahirkan ribuan pelanjut yang tangguh!. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s