KALAM (TEOLOGI) DALAM ISLAM

KALAM (TEOLOGI) DALAM ISLAM DAN ALIRANNYA

 Oleh: Yudi Wahyudin

 

Pendahuluan

Kalam menemukan persamaan dengan theology dalam bahasa Inggris, namun tidak dapat disamakan dengan tauhid. Sebab tauhid diartikan sebagai sistem aqidah sedangkan kalam adalah ‘perdebatan filosofis (secara falsafi) mengenai pokok-pokok akidah’. Al-Aqîdah (yang berisi ajaran Tauhid) secara bahasa berarti ikatan kuat (ريط وثيق) sedangkan kalâm secara bahasa adalah perdebatan (الجدل). Secara istilah keduanya sangat berbeda. Jika aqidah dirtikan sebagai, “Iman kepada rukun-rukun iman: Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, dan taqdir baik atau buruk-Nya; keyakinan ini menuntut amalan untuk melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan keyakinan yang tidak terselipkan keraguan dan syak (dugaan-dugaan)”. (Lihat buku Muqarrir Al-Tauhid). Maka Kalâm adalah disiplin ilmu yang membahas pokok-pokok aqidah dengan bantuan akal yang bersumber dari sejarah kekacauan yang disebut fitnah al-kubra (bukan dari Al-Quran-Sunnah) dengan gaya retoris. (Lihat Atlas Budaya Islam, Ismail Al-Faruqi, hal 315). Perbedaan lain yang mencolok adalah: jika tauhid menuntut keyakinan dari cara pandang al-imân (keyakinan) dan al-ittifaq (kesepakatan), maka al-kalam menuntut keyakinan dari cara pandang al-syâk (ragu) dan al-iftiraq (perpecahan). (Lihat Al-hadits wa al-muhadditsûn, Muhammad Abu Zahwu, hal. 80-97).

Oleh karena perbedaan yang mendasar inilah, kita hendaknya melihat aliran kalam dan hasil-hasil pemikirannya bukan sebagai metodolodi studi Islam (cara mempelajari Islam) dan manifestasi tauhid (amalan Islami) generasi muslim, seperti diyakini oleh umumnya ilmuan-ilmuan Islam saat ini. Para ilmuan ini meyakini bahwa metodologi Islam terdiri dari beberapa alat, yaitu: fiqih, ilmu kalam, tashawwuf, dan filsafat Islam. (Lihat buku-buku MSI: Metodologi Studi Islam di berbagai perguruan tinggi Islam). Sedangkan Ilmu kalam –seperti diyakini ilmuan muslim dan barat, juga termasuk manifestasi umat Islam dalam rangka mengamalkan agamanya yang sederajat dengan: dakwah Islam, futûhât (penaklukan wilayah kafir), ilmu-ilmu metodologi, ilmu-ilmu Al-Quran, ilmu-ilmu hadits, hukum, kalam, tashawwuf (mistisme), filsafat hellenistik, ilmu sains, seni sastra, kaligrafi, ornamentasi, seni ruang, dan seni suara . (Lihat Atlas Budaya Islam, Ismail Raji Al-Faruqi, Mizan, 2000).

Kalam dan ilmu kalam harus dilihat sebagai perdebatan teologis yang muncul pertama kali akibat gejolak politik pemerintahan. Dalam berbagai istilah, mayoritas aliran yang dibahas dalam ilmu kalam masuk pada kategori al-farqu baina al-firqah (golongan-golongan sempalan).

 

Latar Belakang Aliran Kalam

Ketika Sahabat Utsman bin Utsman menjabat Amir Al-Mukmin (Khulafa Al-Rasyidah), setengah dari masa jabatannya, yaitu 6 tahun, beliau gunakan untuk memperkokoh pemerintahan Islam, hingga ummat Islam berada dalam kemakmuran, kebahagiaan, dan keamanan. Bahkan pada zaman beliaulah, Al-Quran ditulis berdasarkan riwayat yang mutawatir (paling terpercaya) dalam sebuah Mushaf Utsmani (mushaf yang dikumpulkan pada zaman Utsman) yang masih kita baca hingga hari ini. Namun kemudian, munafiq dari golongan Yahudi dan golongan zindiq dari Parsi dan Kuffah (lihat buku Fitnah Al-Kubra) menghembuskan fitnah terhadap Utsman karena telah nepotisme, yaitu mengangkat banyak kerabatnya menjadi gubernur. Mereka mempermainkan perasaan orang mukmin untuk melawan Utsman bin Affan dan bermaksud mengadakan tipu muslihat terhadap umat Islam. Terjadilah kudeta yang melibatkan orang-orang ‘bersemangat tapi bodoh’ (yang kemudian kita kenal dengan Khawarij) hingga terjadilah pembunuhan Utsman bin Affan di rumahnya. Dari saat itulah, bangunan Islam diserang, ukhuwwah Islam terpecah-pecah (sebagaimana yang telah diramalkan oleh Rasulullah dalam hadits shahihnya seperti diriwayatkan dalam Shahih Bukhari). Namun Umat Islam masih memiliki seorang sahabat yang pantas menjadi Khalifah, yaitu Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi karena persoalan yang begitu berat dalam tampuk kepemimpinannya, hingga barisan umat Islam masih rentan akibat isu-isu yang belum terselesaikan. Salah satunya adalah wilayah Syam, yang dipimpin oleh Gubernur Muawiyyah bin Abi Shafwan, yang menolak berbai’at kepada Ali bin Thalib, karena menuntut pengusutan pembunuh Utsman bin Affan yang masih belum selesai di tangan pemerintahan Ali bin Abi Thalib.[1] Terjadilah perang pemberontakan oleh pihak Mu’awiyyah –karena menurutnya mengusut pembunuh Utsman bin Affan tidak boleh ditangguhkan, di medan Shiffin yang melibatkan banyak para sahabat. Konflik yang tidak begitu dahsyat ini berujung pada Tahkim, yaitu perdamaian yang diridhai dan disepakati oleh seluruh sahabat, termasuk Mu’awiyyah, Amr bin ‘Ash, Ali bin Abi Thalib, dan Musa Al-Asy’ari. Namun orang-orang yang pertama kali mendapat hasutan oleh Munafiq Yahudi dan Zindiq Parsi dari golongan yang kita kenal sebagai Khawarij sekarang, tetap menolak Tahkim. Sehingga sepulang Tahkim, mereka tetap bertengkar di waktu para sahabat sudah saling mencintai satu sama lain.

Munafiq dan Zindiq ini berpecah tempat, hingga sebagian mengaku berada di pihak Mu’awiyyah tapi tidak mengakui Tahkim, dengan Abdullah bin Wahb Al-Rasibi dan diikuti oleh Abdurrahman bin Muljam. Sedangkan sebagian Zindiq Kufah mengaku berada di belakang Ali bin Abi Thalib –yang kita kenal sekarang dengan sebutan Syi’ah. Mereka menganggap Tahkim sebagai salah satu pilar aqidah mereka. Sedangkan jumhur (mayoritas) muslimin, termasuk para sahabat dan tabi’in mereka tidak mengotori tangan dengan masuk pada barisan Khawarij atau Syi’ah. Dan sebagian kecil lainnya, ada yang membangkang Tahkim namun tidak terjerumus pada polarisasi fitnah. (Lihat Al-hadîts wa al-muhadditsûn, hal. 82).

Dari peristiwa politis inilah, muncul aliran-aliran kalam. Mereka memperbincangankan bagaimana aqidah orang yang menganggap tahkim sebagai aqidah, membangkang terhadap tahkim, bagaimana nasib orang muslim yang membunuh saudaranya gara-gara alasan politis, apakah mereka kafir ataukah justru mereka syuhada? Bagaimana hukuman terhadap para pembunuh itu, apakah ia berdosa karena telah melakukan upaya ini dengan kehendaknya (qadari)? Ataukah justru ia melakukan semua itu berdasarkan taqdir Allah (jabari)? Dan lain sebagainya, sebagai pemicu aliran-aliran ini hingga beberapa aliran (sperti syi’ah) mampu bertahan sampai hari ini.

 

Aliran-Aliran Kalam Populer

  • Khawarij

Khawarij adalah golongan yang mengaku berada di belakang Ali bin Thalib, namun menolak untuk menerima tahkim, dan menganggap bahwa Ali bertanggung jawab terhadap fitnah besar yang terjadi di kemudian hari. Namun anehnya, jika mereka menolak Ali karena tahkim, kenapa mereka mengaku berada di balik Mu’awiyyah? Bukankah Mu’awiyyah juga menerima tahkim sebagai penyelesaian konflik pengusutan pembunuh Utsman?

Pokok Aqidah. Mengenai Al-Khilafah, khawarij meyakini bahwa Khilafah mutlak harus berdasarkan ikhtiar-kebebasan, bukan keputusan Iman atau pelimpahan wewenang. Mereka juga meyakini, bahwa tampuk kepemimpinan tidak harus dari orang Quraisy –sebagaimana mereka dari Arab Badui layak pula menjadi pemimpin. Mereka juga meyakini, orang yang berbuat dosa adalah fasiq dan orang yang telah fasiq merupakan kafir, oleh sebab kafir maka orang yang telah berbuat dosa menjadi halal darahnya. Mereka menganggap Abu Bakar dan Umar sebagai orang mukmin dan masuk surga, sedangkan Utsman (berdosa karena telah menugaskan kerabatnya menjadi Gubernur) dan Ali (berdosa karena telah menerima tahkim) adalah fasiq yang akan masuk neraka. Dengan demikian karena pemahaman mereka yang sangat dangkal terhadap hadits Nabi sehingga membuat keputusan-keputusan fiqih mereka bertentangan dengan syari’at dan semangatnya. Diantara mereka ada yang meyakini bahwa tayammum ketika tidak safar (muqim) diperbolehkan meski banyak air, sholat hanya wajib satu rakaat di waktu sore dan siang, dan haji disunnahkan di setiap bulan. Mereka juga menghalalkan membunuh anak-anak dan perempuan dalam perang, mereka anggap halal menikahi cucu perempuan dan laki-laki mereka. (Al-hadits wa  al-muhadditsun, hal. 87)

Siapa Mereka? Mereka adalah Arab Badui yang jauh dari cahaya Al-Quran-Sunnah sehingga mereka dengan mudah terbujuk rayuan Munafiq Yahudi. Allah berfirman,

الْأَعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا وَأَجْدَرُ أَلَّا يَعْلَمُوا حُدُودَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Orang-orang Arab Badwi itu[656], lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al-Taubah, 97)

[656]. Orang-orang Badwi ialah orang-orang Arab yang berdiam di padang pasir yang hidupnya selalu berpindah-pindah.

 

Tidak ada diantara mereka orang yang termasuk sahabat Rasulullah[2] yang ternaungi oleh cahaya kenabian yang shahih. Sehingga wajar apabila mereka menghalalkan pembunuhan terhadap Jumhur Muslim, memerangi Bani Umayyah

 

  • Syi’ah

Pokok Aqidah.

Al-Raj’ah (reinkarnasi).  Mereka meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib tidak mati, bahkan hidup bersembunyi, dia pun akan kembali memenuhi bumi dengan keadilan. Tidak hanya pada Ali, mereka pun menganggap imam-imam mereka, seperti Syi’ah Kaisaniyyah yang menganggap imam mereka tidak meninggal.

Al-Nubuwwah (Kenabian). Sebagian golongan syi’ah menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai nabi, bahkan berani menganggap bahwa Jibril a.s telah keliru menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw., sebab seharusnya mereka menurunkan ayat itu kepada Ali bin Abi Thalib.

Al-Ulûhiyyah (ketuhanan). Sebagian mereka menganggap Ali memiliki unsur ketuhanan. Diantara mereka adalah golongan Abdullah bin Saba.[3]

Al-Taqiyyah (strategi munafiq). Mereka menampakkan keimanan serta menyembunyikan keyakinan terhadap imam-imam mereka yang masih ‘tersembunyi’ dan menunggu reinkarnasi al-mahdi al-munthadhar (Imam Mahdi yang Ditunggu-tunggu), atau strategi ini diterapkan sehingga mereka memiliki pengikut yang banyak seperti pada kenyataannya di Iran.

Upaya-upaya makar yang dilakukan golongan ini terhitung banyak, jika dibanding dengan aliran lainnya. Dalam Fath Al-Bari, dalam pembahasan Kitab Al-‘Ilmu, hal. 182, diterangkan riwayat tentang penolakan Ali bin Abi Thalib tentang isu washiat kenabian dan keimaman beliau dari Nabi Muhammad Saw., yang dihembuskan oleh pengikut Syi’ah yang bernama Abu Zuhaifah. Makar lainnya yang dilakukan golongan syi’ah adalah mendustakan hadits dari para sahabat: Aisyah, Abu Hurairah, Umar bin Khatab, Abu Bakar, Abdullah bin Mas’ud, Amr bin ‘Ash, Mu’awiyah, dll. Serta membuat hadits-hadits palsu yang disandarkan kepada Ahlu Bait: Ali bin Abi Thalib, Husain bin Ali, Hasan bin Ali, Fatimah Al-Zahra, Zaid bin Ali, Ja’far bin Husain bin Ali, dll. Serta membuat hadits-hadits palsu yang sanadnya melalui para imam mereka dan tidak sampai (munqathi’) kepada Nabi Muhammad Saw. (lihat Al-Hadits wa al-muhadditsun, hal. 89-98).

 

  • Al-Qadariyyah

Diantara aliran kalam yang berkembang di luar jazirah Arab adalah Qadariyyah. Aqidah aliran ini meyakini bahwa mereka pertama, memiliki hurriyyah (kebebasan bertindak) dan oleh sebab itu ia bertanggung jawab atas tindakannya. Didirikan oleh Ma’bad bin Khalid Al-Juhani pada tahun 79 H. Kemudian pada kepemimpinan berikutnya, muncullah Ghaylan bin Marwan Al-Dimsyiqi. Kedua, aliran ini meyakini kemutlakan pengetahuan manusia dibanding dengan kemutlakan taqdir Allah. Ketiga, aliran ini meyakini bahwa tangan, mata, telinga Allah hanya bersifat kiasan.

  • Jabariyyah

Aliran lain yang juga berkembang di luar Jazirah, adalah Jabariyyah. Aliran ini adalah lawan dari aliran qadariyyah. Inti keyakinan mereka adalah bahwa manusia berada dalam Al-Jabbâr (paksaan taqdir) tidak memiliki huriyyah (kebebasan bertindak). Aliran ini didirikan oleh Jahm bin Shafwan pada 127 H di Tirmidzi. Aliran ini juga dikenal sebagai Jahmiyyah. Dari keyakinan pokok di atas, mereka memiliki beberapa pokok aqidah. Pertama, segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah, termasuk keimanan dan kekafirannya. Kedua, berbeda dengan qadariyyah yang menganggap sifat-sifat Allah sebagai kiasan, aliran Jabbariyyah menganggap bahwa sifat-sifat Allah itu benar nyata. Jika Allah memiliki tangan, maka Allah benar-benar memiliki tangan hanya tangan yang tidak ada yang semisalnya. Ketiga, oleh karena tindakan manusia diatur oleh Tuhan, maka hanya dosa besarlah yang dianggap dosa dan tetap akan diampuni. Sedangkan dosa kecil akan diampuni secara otomatis meski tanpa melakukan taubat sebelumnya.

 

  • Al-Shifatiyyah

Aliran ini didirikan oleh Abdullah bin Sa’id Al-Kullabi dari daerah jazirah. Aliran ini muncul seolah menengahi kontradiksi dua aliran di atas: qadariyyah dan jabbariyyah. Al-Shifatiyyah meyakini, bahwa sifat Allah yang digunakan dengan selain bahasa arab adalah bathil. Sedangkan keyakinan bahwa Allah memiliki tangan seperti tangan manusia adalah haram. Mereka juga menyangkal pendapat qadariyyah yang menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan bertindak seperti difahami aliran qadariyyah.

 

  • Al-Mu’tazilah

Aliran ini memiliki pengaruh yang cukup luas karena pernah menjadi penasihat pemerintahan Islam dan sangat dekat dengan mereka khususnya pada era Khalifah Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Mereka menyandarkan diri kepada Wahil bin Atha (131 H) dan terpecah kepada dua mazhab besar: 1) Mazhab Bashrah dan 2) Mazhab Baghdad.

Pokok pemikiran mereka adalah rasionalisme, yaitu bahwa akal adalah mutlak kebenarannya dan bahwa akal tidak mungkin bertentangan dengan wahyu. Oleh sebab itu, wahyu diharuskan tunduk pada tafsiran-tafsiran akal beserta alat metodologinya, yaitu logika. Puncak pemikiran Mu’tazilah yang paling terkenal adalah perdebatan mengenai Al-Quran, apakah ia makhluk Allah atau kalam Allah. Tentu saja, Mu’tazilah berada pada posisi keyakinan bahwa Al-Quran adalah makhluk Allah. Keyakinan ini menjadi keyakinan pemerintahan di Jaman Khalifah Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Watsiq. Bahkan pada era Al-Ma’mun, Ahmad bin Hambali dipenjara, disiksa, dan di arak ke tengah masyarakat karena menentang doktrin ini.

 

 


[1] Namun jika melihat riwayat muslim yang banyak terpengaruh oleh hasutan Orientalisme dalam Fitnah Al-Kubra ini, seperti Ismail Raji dan Lamya Roji Al-Faruqi, mereka mengatakan bahwa penolakan Mu’awiyyah untuk berbai’at kepada Ali bin Abi Thalib, lebih dikarenakan Mu’awiyyah tidak setuju karena sukunya, yaitu Bani Umayyah tidak memegang tampuk kepemimpinan, tapi justru dipegang oleh Bani Hasyim, yaitu Ali bin Abi Thalib. Oleh sebab itu, menurut dua ilmuwan ini, “Mu’awiyyah bersama Amr bin ’Ash (Gubernur Mesir, yang juga perawi banyak hadits shahih dari Nabi) melakukan upaya kudeta terhadap Ali dalam perang Siffin, yang berujung pada Tahkim –yang tidak lain merupakan tipu daya mereka berdua untuk menjatuhkan Ali bin Abi Thalib. Setelah mengumpulkan tenaganya, Mu’awiyyah mengumpulkan kembali kekuatannya. Kemudian dalam melawan pasukan Abdullah bin Wahb Al-Rasibi, yang diketahui salah satu sayap kekuatan Mu’awiyah, Ali bin Abi Thalib meninggal dunia ketika sedang shalat oleh ‘Abdurrahman bin Muljam pada tahun 40 H. Dengan meninggalnya Ali, Mu’awiyyah menyatakan diri sebagai Khalifah yang sah pada tahun itu juga”. Masya Allah wa Subhanallah! (Lihat riwayat ini dalam buku mereka, Atlas Budaya Islam, hal. 317).

[2] Definisi sahabat dalam Ilmu Mustholah Al-Hadits adalah, mereka yang beriman kepada Allah, hidup bersama Rasulullah dan melakukan proses ta’ammul wa al-ada (proses penerimaan dan penyampaian hadits) serta meninggal dalam keadaan muslim.

[3] Abdullah bin Saba dianggap oleh kalangan Orientalis sebagai tokoh fiktif dan imaginatif dan dikatakan sebagai akal-akalan ahli hadits, padahal Abdullah bin Saba adalah nyata. Bahkan banyak riwayat dari Abdullah bin Saba yang digunakan oleh Orientalis untuk menghasut Islam. (lihat buku Fitnah Al-Kubra).

7 thoughts on “KALAM (TEOLOGI) DALAM ISLAM

  1. asik juga baca tulisan di blog ini. saya sudah lama tidak berkunjung ke blog anda. banyak perkembanganya. salam ukhuwah dari saya di Pekanbaru

  2. luasnya permasalahan dalam Islam, membuat Islam sulit untuk dicari cacat dan salahnya…
    Ana Muslimun Qobla Kulli Syaiin…

  3. mohon bantuannya utk. tugas kuliah pak..
    – perbedaan ilmu kalam dan ilmu tauhid bgaimna.?
    – dan latar belakang munculnya teologi islam ?
    trima kasih🙂

    • Perbedaannya terletak pada 1) Sumber, 2) Metode, 3) dan Tujuan.
      Ilmu Kalam
      a. Sumbernya sama dengan diskursus filsafat, yaitu “pengetahuan manusia.”
      b. Metodenya berawal dari kosmologi manusia dan pendalaman konsep bahasa dalam wahyu
      c. Tujuannya adalah untuk membantah diskursus beberapa falsafi Islam yang menurut ilmu kalam telah banyak menyimpang

      Ilmu Tauhid
      a. Sumbernya adalah wahyu
      b. Metodenya berawal dari metafisik (Allah sebagai sumber nilai) dan pendalaman nilai ushul (mendasar) yang dibutuhkan manusia
      c. Tujuannya adalah untuk mengesakan Allah

      Asal-usul Teologi berarti asal-usul Ilmu kalam, berarti kaitannya dengan tujuan ilmu kalam, yaitu karena adanya kebutuhan perangkat ilmu tertentu untuk membantah kesimpangsiuran filsafat Islam yang kental dengan nilai-nilai paganisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s