RELEVANKAH TRINITAS DIPERTAHANKAN?

RELEVANKAH TRINITAS DIPERTAHANKAN?

Yudi Wahyudin

 

Diantara persoalan pelik yang belum bisa dipecahkan dalam teologi Kristen adalah persoalan trinitas. Secara historis, masyarakat tahu bahwa konsep ketuhanan Kristen ditentukan oleh konsili –bukan berdasarkan ketetapan teks dalam Injil. Selain itu, dewasa ini masyarakat Kristen sudah beranjak pada pertanyaan sulit tentang agama mereka, “Apakah trinitas itu sekedar kiasan (sylogisme) atau sebuah hakikat?” Jika sekedar kiasan, untuk tujuan apakah teologi Kristen menetapkannya sebagai aqidah? Bukankah sebuah kesia-siaan menunjukkan tuhan dengan jenis (jauhar) yang berbagi? Apakah masih layak untuk menegaskan aqidah yang prinsipil dengan sebuah sylogisme? Sebaliknya jika benar-benar sebuah hakikat, apakah layak jika tuhan disandingkan dengan sifat-sifat lemah yang dimiliki Isa ‘Alaih al-salâm, yaitu keluar dari rahim perempuan, makan dan lapar, memiliki paman ’Imran, dan lain sebagainya? Sebuah argumen yang mengundang tawa banyak orang jika nanti ada yang berkelakar, “Tuhan butuh daging dan tulang untuk mewujud”, “Tuhan butuh makan dan minum untuk hidup”, atau “Imran adalah paman Tuhan!”. Sebab jika tidak diikuti keyakinan derivatif ini, jelaslah bahwa trinitas adalah sylogisme kesia-siaan.


 

Akal Tidak Terima Trinitas

Jika ditinjau dari aspek rasionalitas sebuah essensi, apakah ketiga unsur yang memiliki essensi yang sama itu berkurang satu sama lain dalam trinitas? Jika demikian, maka ada satu atau dua essensi tuhan yang tidak menjadi tuhan ketika essensinya berkurang. Jika jawabannya tidak, mungkinkah essensi Tuhan yang “tidak ada yang menyerupai” berkumpul dalam waktu yang sama dengan essensi tuhan lain yang sama-sama memiliki essensi, mungkinkah bisa dikompromikan dengan teks “Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku” (Yesaya, 46:9)? Singkatnya, jika dua dari ketiganya tidak sempurna maka tidak mungkin semuanya tuhan. Namun jika ketiganya sempurna, itu merupakan hal yang mustahil sebab ia sudah sempurna dan tidak membutuhkan yang lainnya.

Pertanyaan buah simalakama ini sama dengan menjawab pertanyaan seputar validitas Bible. Jika orang kristen sepenuhnya menyatakan Bible sebagai kitab yang validitasnya terpercaya tentu mereka harus meyakini juga keterangan dalam Al-Kitab yang menyatakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. (Kitab Yohanes 17:3). Siapakah yang berkata? Yohaneskah? Jika ya, maka “Engkau” yang dimaksud di sini adalah Dzat yang mengutus Yesus Kristus, dan oleh tersebab itu, Yesus bukanlah manusia sebab hanya, “Engkau, satu-satunya Allah yang benar”. Jika yang berkata adalah Tuhan, maka Tuhan mengatakan diri-Nya sebagai sesuatu yang tidak benar, sebab Ia menegaskan bahwa, “Engkah, satu-satunya Allah yang benar”. Demikian juga jika yang meriwayatkan ini adalah Yesus.

 

Bible pun Bantah Trinitas

Lalu bagaimana orang-orang Kristen manafsirkan teks-teks berikut ini dengan kacamata trinitas, “Hukum yang terutama ialah, ‘Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa” (Markus, 12:29), “Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku” (Yesaya, 46:9), “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya” (Matius, 20:23), “Hanya Satu yang baik, yaitu Allah” (Matius, 19:16), “(Yesus berteriak)….Allah-Ku, Allah-Ku, mengapaka Engkau meninggal Aku” (Matius, 27:46), “Ya Bapa, dalam tangan-Mu Kuserahkan Nyawa-Ku” (Lukas, 23:46), “Hormat dan kemuliaan yang kekal sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa” (Timotius, 1:17), “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang kemudian. Tidak ada Allah selain daripada-Ku” (Yesaya, 44:6).

 

Penggunaan Allah, Bapa, dan Anak dalam Bible

Ternyata dalam Bible, penggunaan Allah, Bapak, dan Anak digunakan dalam gaya metafore. Dari sinilah kemudian para teolog Kristen menggunakan hermeneutik untuk ‘menentukan makna yang dimaksud pembacanya’ –bukan pengarangnya.

Dalam beberapa teks Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru disebutkan “Allah”, “Bapa”, dan “Anak Allah” yang kesemuanya dikaitkan dengan sosok-sosok umum (mujmal) dan bukan tertuju kepada Yesus Kristus saja. Perhatikan teks berikut, “Ia (Yesus) adalah anak Yusuf, anak Eli (Tuhan)” (Lukas, 3:23), “Anak Set, anak Adam, anak Allah” (Lukas, 3:28), “Israel adalah anak-Ku, anak-Ku yang sulung” (Keluaran, 4:22), “Aku telah mendengar Daud, hamba-Ku:Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus. Dia pun yang berseru kepada-Ku, ‘Bapaku Engkau, Allahku dan Gunung Batu keselamatanku” (Mazmur, 89:27), “Sebab Aku telah menjadi Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku” (Yeremia, 31:9), “Aku akan menjadi Bapanya dan ia (Sulaeman) akan menjadi anak-Ku” (Kitab 2, Samuel 7:14), “Celakalah anak-anak pemberontak (Israel). Demikianlah firman Tuhan, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan daripada-Ku (Yesus)” (Yesaya, 1:2).

 

‘Harapan Terakhir’

Orang-orang Kristen berharap, bahwa satu-satunya teks yang mendukung trinitas –meski menunjukkan dualitas, adalah teks Yohanes, 10:23, “Aku dan Bapa adalah satu”. Namun lagi-lagi, harapan ini harus segera disingkirkan. Masih dalam Yohanes, sebuah teks yang menjadi contoh interpretasi teks Bible dengan teks Bible lainnya, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, didalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka uga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes, 17:21). Pembaca awam pun dapat menangkap bahwa yang dimaksud satu di sini bukanlah melebur menjadi satu seperti yang diyakini umumnya oleh orang Kristen. Tapi yang dimaksud satu di sini adalah satu iman dan tujuan (visi) hidup Kristiani. Sebab jika yang dimaksud satu, “sama seperti Engkau, ya Bapa, didalam Aku dan Aku di dalam Engkau”, tentulah yang akan menjadi Tuhan dalam Kristen bukan hanya Yesus, tapi lebih banyak dari seorang Yesus.

 

Penutup

Fakhr Al-Rozie berkata, “Iman Kristen adalah iman yang tidak jelas konsepnya. Saya tidak melihat keyakinan manapun di dunia yang lebih parah dan irrasional selain Kristen” (Rozie, Tafsir Al-Kabir, 11:16).

Jika saat ini Barat meninggalkan Kristen, itu merupakan sebuah kewajaran, sebab barat yang rasional tidak mampu mengerti dan memahami penjelasan trinitas. Oleh sebab itu, sekularisme barat beralih pada pandangan yang lebih bebas untuk memahami Bible ‘lebih baik’ dari teks Bible itu sendiri. Inilah faktor penyebab hermeneutik digunakan untuk menafsir Bible. Disamping Kristen tidak memiliki tradisi tafsir, mereka pun hampir putus asa untuk memahami kitab sucinya. Jelaslah, bahwa trinitas sulit untuk dipertahankan. Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s