SURAT UNTUK GUBERNUR

MENGEVALUASI TUGAS DAKWAH

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan jabatan sebagai amanah, sehingga manusia diyakinkan akan adanya hari pembalasan. Shalawat serta salam terhadap Rasulullah Saw., yang telah menjadi qudwah dan uswah dalam setiap aspek kehidupan, terlebih dalam persoalan kepemimpinan dan tanggung jawab memikul risalah.

Perkenankan, kami dari PD. Pemuda Persis Kab. Garut, mengucapkan salam silaturahmi. Sillah li al-rahmi wa al-sillah fi al-rahmi wa al-sillah ila al-rahmi……

Bapak Ahmad yang Allah Cintai!

Kabupaten Garut adalah Kabupaten Santri, dipimpin oleh Gubernur yang melek dunia santri, serta dipimpin oleh Bupati yang berasal dari keluarga santri. Saat ini, izinkan kita berbicara atas sesama santri, sebab kami pun mayoritas berasal dari dunia pesantren, Pesantren Persatuan Islam. Uraian ini Insya Allah akan kami jelaskan di bawah ini

Dulu di pesantren diajarkan, bahwa keberhasilan dunia muslim adalah dengan melaksanakan seluruh ajaran-Nya, baik ajaran yang termaktub dalam Al-Quran maupun Al-Sunnah. Oleh sebab itu, kewajiban dan tugas dakwah sesungguhnya dipikul oleh seluruh elemen masyarakat -bukan hanya oleh ulama dan umara. Di Kabupaten tempat kami beraktivitas, kegiatan dakwah berjalan di tempat, dan tidak –mengutip ucapan Al-Ustadz H.E. Abdurrahman, melakukan thawwaf (berputar, membina, dan mengakar). Perspektif ‘berjalan di tempat’ ini tidak kami pandang dengan kemajuan fisik, tapi sejauh mana dakwah berjalan menuju al-ahdâf (tujuan, cita-cita, dan visi) yang telah digariskannya. Oleh sebab itu, pertambahan mesjid, lembaga pendidikan, dan perayaan hari-hari besar Islam yang diselenggarakan pemerintah setempat, tidak serta merta menjadi tolak ukur kemajuan. Kemajuan Islam, sesungguhnya kami pandang, dari makmur tidaknya sebuah mesjid, makmur tidaknya ukhuwwah Islamiyyah (tasânud, ta’âwun, tanâshur) antar anggota masyarakatnya, dan sejauh mana masyarakat tunduk dan patuh di hadapan dustûr dan watsîqah al-ilahiyyah (Al-Quran Al-Sunnah).

Saat ini, kita harus akui secara jujur, bahwa kemajuan itu belum nampak. Setiap subuh, kami tugaskan setiap anggota cabang untuk melihat kondisi sholat berjama’ah Isya dan shubuh di setiap mesjid di Kabupaten Garut, sebab menurut hadits riwayat Imam Ahmad (hadits No.19671), ciri orang munafiq tidak sanggup sholat Isya dan Shubuh berjama’ah.  Bahkan dalam Shahih Hibban (hadits ke 2134) dikatakan bahwa Ibnu Umar pernah berkata, “Jika ada manusia yang melewatkan sholat Isya dan Shubuh berjama’ah, kami akan berprasangka tidak baik terhadapnya”.

Hasil observasi kami selama satu bulan membuktikan, hanya 10% dari 113 Mesjid [dari 438 mesjid resmi] yang di observasi, yang memiliki jama’ah Isya lebih dari 2 baris (dan 40% -nya adalah mesjid tidak berbasis jama’ah dan banyak yang hanya lewat ikut sholat). Dan 3% dari 113 [dari 438 mesjid resmi] yang diobservasi, memiliki jama’ah shubuh lebih dari 1 baris.

Kita juga harus akui, bahwa arah pendidikan kita tidak mengarah pada hasil yang baik. Dulu, sejak kelas 1 s.d. 3 akhir, para ustadz dan guru mengajarkan nilai-nilai kejujuran. Namun nilai itu, seolah hancur dalam empat hari selama UN berlangsung. ‘Tim Ketidakjujuran Ini’ malah disebut-sebut sebagau tim sukses. Akhirnya, ujung dan out put pendidikan pun sama-sama memperlihatkan gejala al-nifâq.

Sebagai bahan pertimbangan, kami sampaikan Tafsir Al-Quran surat Al-Jum’ah. Bahwa ayat 5 (karakter Yahudi yang memikul tanggung jawab Taurat namun tidak mengamalkan isinya, bagaikan himar yang memikul asfhâr [lembaran-lembaran suhuf]), merupakan teguran keras dari Allah. Adapun ayat 11 (tentang para sahabat yang masih dalam masa pembinaan, meninggalkan khutbah jum’ah Nabi karena tergiur transaksi dan permainan di luar masjid) adalah teguran wajar. Sebab pada ayat ke 2 ditegaskan, bahwa mereka melakukan itu, sebab memiliki budaya ‘ummi [budaya tidak bisa baca-tulis, budaya barbar, dan budaya asketis gurun). Meski wajar, jika Nabi membiarkan para sahabatnya demikian, maka tak jauh berbeda dengan umat Nabi Musa yang hafal Taurat [isi dan maksud hukumnya], tapi enggan mengamalkannya.

Saat ini, di mana tingkat dan standar pendidikan kita meningkat, fasilitas dan sarana pendidikan membagus, teknologi dan informasi digunakan dalam media pembelajaran (sebuah gambaran yang seharusnya memberikan respon lebih baik jika dibandingkan dengan peradaban Ummi), maka dianggap tidak wajar [baca: kurang ajar] jika masyarakat kita masih doyan meninggalkan sholat jumat. Coba bapak observasi, kerahkan petugas wanita untuk menghitung dan melihat laki-laki yang tidak shalat jum’at di kala saudara muslim lainnya khusyu mendengar khutbah [dan sebagiannya lagi khusyu dalam mimpi dan tertidur pulas setelah melepas diri dari gemerlapnya dunia kerja].

Di Kabupaten Garut, lagi-lagi harus kami akui secara jujur, fenomena itu sudah menjadi fakta. Kami pernah mengerahkan santriwati (Ummahatul Ghad) untuk mengobservasi laki-laki yang meninggalkan jumat. Hasilnya? mencengangkan! Tukang becak, tukang delman, pedagang kaki lima, konsumen di pasar-pasar, konsumen di mall-mall (Asia, Yogyakarta Dept. Store, Garut Plaza, dan IBC) dipenuhi segudang aktivitas biasanya, seolah-olah kewajiban jum’at adalah kewajiban orang lain bukan dirinya. Subhanallah, ternyata masih banyak ‘keledai-keledai’ di tengah kota manusia beradab….!

Belum lagi persoalan fâkhisyah, jika Bapak Ahmad adalah Umar bin Khatab, rela kiranya melancong ke Kabupaten Garut dan melihat maraknya kehidupan malam di tempat kami; pelacur kakap di hotel-hotel Cipanas, pelacur teri di Bunderan Guntur, kerkhkop, klub malam fortune, si Gobing, hingga homo-homo/banci yang tidak punya rasa malu, berkeliaran setelah jam 10 malam.

Sebagai ormas pemuda keagamaan, PD. Pemuda Persis Garut merasa memiliki tanggung jawab melihat ‘kemajuan yang hanya di tempat’ dunia dakwah. Aktivis dakwah di parlemen dan aktivis dakwah di pesantren, masing-masing sibuk pada pekerjaannya. Yang satu ngurusin perda -yang mayoritas tidak terwujud dalam praktiknya, yang satu lagi ngurusin khutbah dari mimbar ke mimbar. Dosakah? Tentu saja tidak, namun seefektif apakah pola dakwah yang masing-masing seperti itu?

Jika tugas Ormas Islam yang merupakan representasi Ulama melakukan gerakan dakwah kultural-penyadaran, maka Umara Muslim seperti Bapak Gubernur memiliki power yang lebih kuat untuk bergerak secara struktural dan menekan!.

Bapak Gubernur yang memikul amanah!

Saya yakin, sebagai sama-sama orang religius (berasal dari dunia pesantren dan dari daerah santri), kita dapat memahami poin ini bersama-sama.

Demikian, tangggung jawab berwasiat ini kami sampaikan. Suatu hari, kita sama-sama akan dipanggil Allah dan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Serta seberat-berat dan selama-lamanya hisab, adalah hisab para pemimpin

PD. Pemuda Persis Garut

Ketua,

Yudi Wahyudin

NPA. 99.0078

One thought on “SURAT UNTUK GUBERNUR

  1. Kinin ULAMA berlomba menuju ke Istana,
    Masjid Surau-surau Tak bersuara, ditinggal…
    Hanya Kakek tua yang renta,..
    gemertak tulang terdengar melalui desah suara adzan
    yang ia lantunkan…
    dulu, ENGKAU membina kami, mengajar dan mengaji…
    kini, halal dan haram menjadi bias.. ..
    hak dan bathil menjadi abu-abu…
    syari’at yang ENGKAU ajari, kini kaku…
    bagaimana diatas sana, apakah Islam terasa nikmat,
    apakah Iman terasa manis..?? kalau ya,
    Ajaklan kami kesana…
    bukan, bukan ke Istana.. kami takut,
    takut seperti yang kini kami rasakan.
    kami rindu, rindu ilmumu yang dulu…
    Bapak, kami ingin nanti engkau,
    dinaungi di alam mahsyar sana…
    kelak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s