RAMADHAN DI BULAN AGUSTUS

oleh: Yudi Wahyudin

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 M bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 H[1]. Namun sesuai doktrin sejarah di bangku-bangku sekolah dasar, kita lebih mengenal ‘TUJUH BELAS AGUSTUS TAHUN EMPAT LIMA’.

Suasana heroik  pembacaan teks proklamasi menyerupai setting dan latar Al-Yaum Al-Furqân (Hari Pembeda) pada perang Badar yang sama-sama terjadi di bulan Ramadhan. Suara gemuruh takbir membahana dan memekik hingga merobek jagat atmosfer. Sesaat, Indonesia berfikir, hâdzâ al-yaum al-fath (inilah hari kemenangan itu!). Kemenangan yang telah Allah SWT janjikan, kemenangan melawan kesewenang-wenangan, kemenangan melawan penindasan, serta kemenangan melawan ketidakberdayaan. Layak dan pantaslah jika preambule Undang-undang Dasar kita menyebut-nyebut “Rahmat Allah SWT” sebagai faktor di atas segala faktor kemenangan itu!

Namun fikiran Indonesia yang sesaat itu, mulai melupakan jasa dan pengorbanan santri surau dan ulama musholla di pelbagai daerah kecil dan terpencil. Indonesia mulai berfikir ‘akulah indonesia’. Tak perlu lagi heroisme santri, tak perlu lagi petuah lama para ulama oleh sebab ‘aku sudah bisa mengatur segalanya’. “Ada pelbagai pilihan, demokrasi liberal atau demokrasi terpimpin? Sebab, ‘ideologi Islam’ sudah terlalu sempit untuk kita pakaikan”, kata ‘Indonesia’. Kelihatannya ‘Indonesia’ lupa beristighfar setelah meraih kemenangan demi kemengangan.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا –النصر، 3

(Setelah engkau meraih pertolongan Allah), bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, serta meminta ampunlah kepada-Nya. Sebab sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat” (Al-Nashr, 110: 3)

Kita layak beristighfar, sebab dua tahun berturut-turut setelah Proklamasi, dilakukan kembali peringatan kemerdekaan di Yogyakarta pada 17 Agustus 1946 (19 Ramadhan 1365 H) dan 17 Agutsus 1947 (29 Ramadhan 1366 H) untuk MENEGASKAN kehebatan Bendera Pusaka dengan lima orang pengibarnya sebagai simbol Pancasila, sekaligus MENEGASIKAN Kemahahebatan Allah SWT.

Kita layak bertasbih (menyucikan Allah SWT), sebab kita bagaikan Bangsa Israil yang menyembah patung anak sapi sesaat setelah terbebas dari penjajahan Fir’aun. Monumen-monumen perjuangan kita bangun dengan penanaman kepala kerbau, menempelnya dengan patung dewa Lingga dan Yoni[2], serta suguhan-suguhan mistik untuk nyi roro kidul. Bukan hanya monumen, ‘indonesia’ juga melakukan hal yang sama untuk membangun  jembatan atau gedung pencakar langit.

Kita layak bertaubat. Sebab setelah kita mengucap merdeka, kita tidak pernah merasa benar-benar merdeka. Baik secara lahiriah, maupun secara bathiniyyah.

Saat Ini, secara lahiriah kita dijajah kapitalisme. Pasca globalisasi, pembentuk utama wajah kebudayaan bangsa-bangsa berpindah ke tangan penguasa globalisasi, yaitu Amerika. Saat ini ‘kerajaan’ mereka lebih besar dibandingkan dengan kerajaan Inggris Raya. Jalan sepanjang Gedung Putih sampai Departemen keuangan AS dikuasai oleh Bank Dunia dan IMF. Hutang digunakan sebagai alat agar kebijakan IMF dan Bank Dunia diterapkan di banyak negara dunia ketiga. Kondisi saat ini adalah negara-negara termiskin sudah berada dalam lingkaran setan kemiskinan, termasuk juga Indonesia. Kita tidak bisa keluar, bahkan penghapusan hutang pun tidak mampu menyelamatkan mereka dari perangkap kemiskinan.

Globalisasi ini mengantarkan kesenjangan kemiskinan berkepanjangan. Hingga ironis jika Indonesia –sebuah negara berpenduduk 2,5 juta orang, yang hanya memiliki tingkat pendapatan nasional sebesar + 2,2 milyar USD dikalahkan oleh kekayaan perusahaan penanaman modal seperti Goldman Sachs yang memiliki keuntungan 2,2 milyar USD per tahun dengan rekan bisnis sebanyak 161 perusahaan. “Itulah dunia yang kita diami saat ini!”, tutur Dr. Susan George, penulis buku A Fate Worse than Debt. Meski Bank Dunia mengatakan bahwa tujuannya adalah membantu masyarakat miskin dengan mempromosikan pembangunan global, namun sistem sederhananya adalah, “SOSIALISME UNTUK SI KAYA DAN KAPITALISME UNTUK SI MISKIN”. Kaum kaya menjadi luar biasa kaya dari hutang, buruh murah dan menghindari pajak, sementara si miskin makin miskin karena pekerjaan dan layanan publik dicabut untuk membayar bunga pinjaman pemerintah kepada Bank Dunia[3].

Globalisasi ekonomi memberikan banyak pengaruh pada perubahan-perubahan kebudayaan. Budaya tradisional jual-beli bergeser pada budaya jual-kredit dengan beban bunga yang membengkak. Masyarakat miskin dipaksa untuk menghutang dan harus menyediakan bayarannya berupa uang pokok sekaligus bunganya. Pemiskinan sistemik ini, tentu saja mengakibatkan pola budaya masyarakat menjadi tidak jelas. Di satu waktu, ia harus iri dan curiga pada si kaya karena telah merogoh sistem kehidupan awalnya, namun di sisi lain ia pun harus menyikut kawan semiskinnya untuk bisa selamat dalam lingkaran setan kemiskinan ini. Tentu saja, globalisasi ekonomi wajib menggunakan media massa agar berpenampilan menarik dan cantik. Oleh sebab itu, lahirlah globalisasi-globalisasi lainnya yang pada gilirannya melahirkan pergeseran nilai budaya.

Secara bathiniyyah ‘Indonesia’ belum menegaskan bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Kemusyrikan semakin menggejala, apalagi jika musim pemilu. Calon wakil rakyat berbondong-bondong ke tempat pesugihan untuk meminta berkah dari embah. Paranormal semakin laku. Mulai dari paranormal konvensional, hingga yang sudah memakai teknologi short message service (SMS). Akibatnya, ‘indonesia’ semakin doyan bermain judi dan tebak-tebakan. Mulai dari memperjudikan skor akhir sepakbola, kuis super deal, hingga nasib akhir Ustadz Abu Bakar Ba’syir, apakah beliau akan bebas, dipenjara seumur hidup, atau meninggal dalam eksekusi hukum mati? Bahkan perilaku klenik dan mistik para pemimpin Indonesia pernah dimuat secara panjang lebar di New York Times. Seth Mydans, menuliskannya dengan tajuk, Jakarta’s Rulers even Need of Ghostly Guidance. Dalam ulasannya diceritakan bagaimana proyek-proyek besar untuk rakyat dihitung berdasarkan hitungan klenik, bukan hitungan ilmiah[4]. Bukan saja itu, waktu, nomor rurang pendirian dan tanggal pendaklarasian partai harus serba 9, sebab harus sesuai dengan tanggal lahir, yaitu tanggal 9 dan bulan ke-9, kemudian dirumuskan oleh 9 orang dan didirikan oleh 99 orang, diberakhi oleh do’a 9 kiayi, dan memiliki nomor hot line pengaduan 999.[5]

Secara bathiniyyah, kita phobi terhadap keindahan syari’at. Kita dengan latah mengucap bahwa syari’at ekwivalen dengan hukum terror. Kita dengan dungu menganlisis bahwa penegak syari’at adalah dalang teroris. Kita dengan enteng mengatakan bahwa penegakkan syari’at adalah terorisme. Dengan tidak sadar, ‘indonesia’ –yang pernah diberkahi kemenangan oleh Pemilik Syari’at, tengah menciptakan ‘snouck hugronje-snouck hugronje’ baru. Mengulang teori lama – yaitu splitsingstheorie, dengan sangat percaya diri. Yang pertama, Islam yang bersifat keagamaan, dan kedua, Islam yang bersifat politik. Teori ini menyarankan ‘indonesia’ untuk menghormati yang pertama karena menyangkut aspek individual dan tidak boleh mentolelir yang kedua karena bersifat politis dan public oriented. Visi besar dari teori ini adalah mencerabut ‘elite’ Islam Indonesia dari ajaran Islam, sehingga kelahiran dan tumbuhnya nasionalisme –seperti yang diramalkan oleh Snouck sendiri, akan dipandu melalui kerjasama dengan pihak barat-liberal, bukannya diarahkan oleh gerakan Pan-Islamisme yang dianggap berbahaya secara politik[6].

Di level grass root, kita disibukkan –setiap kali menjelang Agustusan, dengan pesta rakyat. Malamnya, menggelar panggung selama satu minggu penuh, ditemani beberapa botol minuman keras dan wanita-wanita komersial. Siangnya diisi dengan perlombaan-perlombaan yang beragam, yang bisa diikuti oleh setiap usia dan gender. Bersorak mengiringi arakan-arakan pawai dan dengan berteriak, “MERDEKA-MERDEKA!”.

Garut, 3 Ramadhan 1431 H


[1] Soekarno keliru dengan mengatakan bahwa 17 Agustus 1945 M bertepatan dengan 17 Ramadhan 1364 H

[2] Menurut kepercayaan sebagai masyarakat kita, bersatunya Lingga dan Yoni akan menimbulkan kemakmuran di tempat tersebut. (lihat Sejarah Singkat Monumen Yogya, hal. 1) sumber: http://blog.re.or.id/sejarah-singkat-monumen-yogya-kembali).

[3] Film Dokumenter, “Indonesian Globalization Part 2”.

[4] Lihat New York Times, Edisi 20 Agustus 2001

[5] Lihat Gatra, Nomor 47 Edisi Oktober 2004.

[6] Lihat Yudi Latif, “Intelegensia Muslim Indonesia…”, hal. 83-84

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s