TITIP PESAN UNTUK DA’I DI BULAN SUCI

Oleh: Ust. Herry Nurdi (Pimpred CyberSabili.com)

Mobilisasi dakwah menemukan momentumnya di bulan Ramadhan. Berharap dai, tak hanya tampil sebagai hiburan. Tapi juga tampil membawa pesan substansial.

Sahabat,

Dalam bahasa Arab, ada satu terminologi yang disebut dengan al Qiwam. Artinya, sesuatu yang paling mendasar, sandaran utama atau pilar untuk sebuah bangunan besar. Misalnya, jika disebutkan al Qiwam ad Din, maka kurang lebih hal ini mengenai dasar-dasar, pilar utama kebenaran agama. Dan sepertinya, ini pula yang harus menjadi perhatian para dai yang mendapat tempat istimewa di bulan suci Ramadhan mendapat di tengah-tengah umat Islam.

Hampir seluruh media menampilkan ceramah. Televisi, radio, koran dan majalah. Talk show, tabligh akbar, mimbar-mimbar tarawih, sahur bersama atau sekadar pengisi waktu menjelang berbuka. Alangkah dahsyatnya jika kesempatan tersebut kita jadikan sebagai momentum untuk mobilisasi hal-hal yang mendasar tentang kebenaran Islam. Tidak hanyut dalam setting hiburan, tertawa tak tentu arah, dan akhirnya tidak memberikan bekas apapun pada umat Islam. Padahal, kesempatan sudah tersedia, tersebar luas on air seluruh nusantara, biaya satelit yang besar dan effort yang tidak ringan. Semestinya, tak boleh sia-sia.

Memilih tema-tema yang substansial, menjadi agenda yang sangat penting untuk disampaikan pada umat Islam. Secara sederhana, tugas seorang dai terangkum dalam ayat Allah, “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS al Baqarah: 151)

Dalam ayat di atas, Allah memberikan tugas kepada Rasulullah saw setidaknya lima perkara. Menyampaikan ayat-ayat-Nya, mensucikan umat-Nya, mengajarkan Kitab dan Hikmah, serta membukakan ilmu pengetahuan untuk umat Islam. Lima perkara itupula yang sepatutnya diwarisi oleh dai dan ustadz yang berdiri di depan umat.

Sahabat,

Tak ada yang lebih utama yang disampaikan oleh lisan dan ditelurkan oleh pikiran, kecuali membersihkan kembali Akidah dan meluruskan lagi Tauhid. Seorang ulama pernah mendefinisikan kandungan ayat-ayat Allah menjadi tiga komponen besar. Pertama, seluruh ayat Allah di dalam al Qur’an adalah penjelasan tentang diri-Nya, sifat-Nya, dan juga segala kebesaran-Nya. Kedua, tentang kabar dan berita, sejarah yang telah berlaku, sedang terjadi dan akan terwujud nanti. Berita tentang masa lalu, dan juga gambaran-gambaran masa depan. Tak hanya di dunia, tapi jauh melampaui kehidupan fana. Ketiga, tentang  seluruh perintah-Nya, baik yang bersifat larangan ataupun yang bernada seruan. Semua demi kebaikan kehidupan makhluk yang Dia ciptakan.

Ajakan Menuju Taubat

Tak ada yang lebih mulia yang dilakukan oleh para dai, melebihi ajakan bertaubat untuk umat. Mensucikan umat, harus menjadi agenda besar setiap dai dalam setiap kesempatan dan penyampaian. Para dai harus mampu melahirkan semangat taubat, dan juga peningkatan kualitas taubat di dalam diri umat. Para ulama membagi taubat ke dalam tiga kategori. Pertama, taubat untuk orang-orang awam. Sebuah proses taubat yang dimotivasi oleh ketakutan akan azab dan kekhawatiran pada ancaman-Nya. Kedua, taubat al khawwash. Taubat orang-orang khusus. Orang-orang yang melakukan taubat karena dorongan rasa malu pada Allah SWT atas rahmat yang demikian melimpah yang telah diterima hamba. Ketiga, taubat khawwash al khawwash. Taubat yang dilakukan oleh hamba-hamba istimewa. Sebuah proses taubat yang didorong oleh rasa cinta.

Mengajarkan Kitab & Hikmah

Para mufasir menerangkan, yang dimaksud al Kitab dalam surat al Baqarah: 151 adalah Al Qur’an, sedangkan al Hikmah diterjemahkan sebagai As Sunnah. Al Qur’an adalah kitab yang menerangkan segala sesuatu. Dan memang, manusia adalah makhluk yang diberi mandat untuk menerima dan mempelajari al Qur’an. Bukan ciptaan lain, bahkan gunung tak akan mampu. Jika saja al Qur’an ini diturunkan kepada gunung, maka akan tunduk terpecah belah. Mengajarkan kepada umat tentang sunnah-sunnah utama dari Rasulullah saw, juga jauh lebih mulia dari sekadar eksplorasi pemikiran. Dan semoga, dengan menyegarkan kembali ingatan umat pada al Qur’an serta as Sunnah membuat ibadah kita di bulan suci ini lebih berkah.

Mempelajari dan Mengamalkan Ilmu

Memotivasi umat untuk belajar dan segera mengamalkan ilmu yang dipelajari harus pula menjadi agenda utama para dai. Ibnu Taimiyah mengatakan, ilmu yang bermanfaat adalah salah satu tiang dan fondasi dari sebuah hikmah. “Ilmu yang terpuji telah ditunjukkan oleh al Qur’an dan Hadits adalah ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah. Para nabi tidak mewariskan dirham atau dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil ilmu tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang berlimpah,” terang Ibnu Taimiyah.

Sahabat,

Ramadhan harus berarti percepatan dakwah dan akselerasi kebaikan. Tak boleh satu pun kesempatan disia-siakan, apalagi diaplikasikan dengan kesalahan. Meski demikian, setiap kita yang mengemban tugas dakwah harus pula menerapkan segala tatanan dan tuntunan dengan arif dan bijaksana. “Mudahkanlah, janganlah kalian persulit. Gembirakanlah, dan janganlah kalian membuat lari dan ketakutan,” demikian pesan Rasulullah saw. (HR Muslim)

Lebih dari segalanya, seorang dai harus mampu menjadi cermain bagi umatnya. Dan cermin tersebut bernama keteladanan. Menjadi teladan utama bagi umat adalah hal penting yang mampu mengubah melebihi kekuatan kata-kata.

Orang Mukmin yang beruntung adalah mereka yang menyeru kepada kebenaran dan melakukannya dengan penuh semangat dan kehati-hatian. Dai tak hanya berdakwah dengan lisan, tapi jauh lebih penting seorang dai memiliki kewajiban besar berdakwah dengan teladan. Karena dua perbuatan inilah yang dipuji oleh Allah sebagai derajat kebaikan. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushilat: 33)

Sahabat,

Di bulan ini, pintu-pintu surga menyeru pada kita untuk memasukinya. Dialog antara Rasulullah dengan sahabat Abu Bakar ra sungguh bisa menjadi motivasi yang luar biasa besar. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah menjelaskan bahwa surga memiliki delapan pintu untuk dimasuki. Siapa yang termasuk ahli shalat, maka pintu shalat akan memanggil dan menyambutnya. Barangsiapa termasuk ahli shadaqah, pintu shadaqah akan memanggil dan menyambutnya. Barangsiapa siapa termasuk ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Dan barangsiapa termasuk ahli shaum, maka dia akan dipanggil dari pintu shaum.

“Tidak masalah bagi seseorang dari pintu mana dia akan dipanggil. Tapi apakah ada orang yang akan dipanggil oleh semua pintu, wahai Rasulullah?” tanya Abu Bakar.

“Ya, dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka,” jawab Rasulullah.

Setiap dai dan penyeru kebaikan harus mampu memotivasi umatnya, bukan saja menuju satu pintu atau dipanggil oleh satu pintu. Para dai juga harus mampu menjadikan umatnya sebagai orang-orang yang termotivasi menjadi sosok yang dipanggil oleh banyak pintu di surga kelak.

Para dai tak boleh menyia-siakan kesempatan untuk mendorong umat menjadi para pemburu surga. Gunakan setiap detik di seluruh momentum yang ada untuk melahirkan hamba-hamba yang tak pernah letih mengejar ridha Ilahi. Pintu surga, sungguh sanggat luas. Lebar pintunya, terang Rasulullah, seperti jarak pengendara tercepat selama tiga hari. Sedangkan jarak satu pintu dengan pintu yang lain, seperti Makkah dan Bushra.

Sahabat,

Jangan hanya menjadi tontonan. Lupakan menghibur pendengar, penonton, pembaca atau audiens saat berceramah. Tugas para dai bukan untuk membuat mereka tertawa. Tugas para dai adalah menjadikan umat Islam sebagai manusia yang paripurna, insan kamil yang kelak dipuji Allah sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk dan beruntung.

Sungguh, shalat lebih baik daripada tidur, membaca lebih baik daripada melamun, berpikir dan berdzikir lebih baik daripada membiarkan pikiran melantur. Tak ada susah payah yang tak terganti berlipat ganda di bulan ini. Dan para dai, harus mampu menyajikan hikmah agar umat menjadi jauh lebih baik kondisinya.

Lisan dan pikiran para dai, harus mampu mendekatkan umat selangkah lagi lebih dekat pada Allah dan ajaran Islam yang lurus dan benar. Para dai harus dengan sangat keras berusaha untuk menjaga niat, demi kebaikan dan ridha Allah semata. Bukan demi popularitas, tuntutan ratting atau strategi hiburan yang hari ini begitu berkuasa menentukan. Karena, tentu kita tidak ingin tercatat sebagai orang dengan kata-kata yang sia-sia.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS an Nisa: 114)

Lidah tak bertulang, begitu mudah mengucapkan segala. Tanpa kesadaran yang kuat, lisan bisa jadi membawa kita pada akhir yang penuh penyesalan. Bahkan seorang dai, harus mampu mengendalikan lisan sendiri.

Sahabat,

Kearifan Seorang Dai. Kehatian-hatian adalah buah kecil dari kearifan seorang dai yang matang dan hanya memiliki keinginan mendewasakan umat. Seorang dai tak pernah membentuk pengikut. Seorang dai tak perlu sanjung puji. Seorang dai hanya bertujuan mengantarkan umat pada pemahaman yang lebih baik dan benar tentang kemuliaan Islam.

Kearifan adalah kunci yang mengantarkan seorang dai mampu mengantarkan pemahaman yang lurus dan penuh berkah. Pesan-pesan dakwah tak pernah akan sampai sasaran kecuali jika seorang dai dilengkapi tiga komponen dasar: ilmu, kearifan dan sifat sabar. Dan dakwah akan rusak, jika dai juga dihinggapi tiga perkara: bodoh, ceroboh dan gegabah.

Sikap arif dan sabar, adalah dua sikap yang pernah disebutkan Rasulullah sebagai sifat yang sangat dicintai oleh Allah. Suatu hari, beliau pernah berkata pada seorang sahabat bernama Asyaj, “Sesungguhnya di dalam jiwamu ada dua perkara yang disenangi Allah, yaitu sikap al Anat wa al Hilm.” (HR Abu Dawud)

Al Anat berarti penuh kesabaran, tidak tergesa-gesa, sehingga mampu melihat kemashlahatan. Sedangkan al Hilm adalah sifat arif, yang memiliki komponen kecerdasan akal dan kehati-hatian agar tidak menimbulkan akibat yang menyimpan potensi kemudharatan.

Sahabat,

Senantiasa Meluruskan Niat. Awal dari semua, pangkal dari segala adalah niat mulia yang harus senantiasa terjaga dalam diri seorang dai. “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat dan apa yang didapatkan oleh setiap orang itu tergantung pada niatnya…,”demikian sabda Rasulullah. (HR Abu Dawud-An Nasa’i)

Mengikrarkan niat lurus, insya Allah adalah sesuatu yang selalu dilakukan seorang dai. Tapi menjaga niat tetap lurus di tengah jalan dan selama proses, tentu bukan hal mudah. Sebab, syetan tak akan pernah diam. Dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang, panah-panah godaan selalu dilesatkan.

Sungguh rugi bagi para dai yang melakukan amalan-amalan akhirat, tapi di tengah jalan niat menjadi tergelincir untuk tujuan dunia. Riya’ dan keinginan pada kesenangan dunia, seringkali menyelisip dengan halus pada hati seorang dai. Tak terasa, begitu halusnya, seolah-olah wujud sebagai niat baik yang bertujuan mulia.

Muhammad bin Abdul Wahhab, yang sering disebut sebagai peletak dasar gerakan “Wahabi” membagi amalan dunia yang menyelisip pada amalan akhirat dalam empat kriteria. Pertama, seorang hamba yang melakukan amal-amal shalih tetapi tidak dengan tujuan balasan di akhirat. Dia menginginkan agar Allah menjaga dan menambah harta, keluarga dan kenikmatan yang dirasakannya. Mereka tidak mementingkan balasan surga dan dijauhkan dari neraka, mereka hanya berharap balasan dunia. Maka Allah mengabulkan permintaannya. Kedua, seorang hamba yang berbuat dengan riya’ pada seluruh amal shalihnya. Perbuatan ini, jauh lebih bahaya dari perbuatan yang pertama. Ketiga, seorang hamba yang melakukan amal shalih demi imbalan dunia. Seperti berhijrah demi dunia, berjihad demi ghanimah atau belajar untuk meraih ijazah. Keempat, seorang hamba yang ikhlas berbuat demi Allah dan kemuliaan Islam, tapi yang bersangkutan melakukan satu perbuatan kafir yang membuatnya keluar dari Islam.

Pada akhirnya, hanya kepada Allah semua hamba berserah diri, memohon ampun dan berharap kebaikan atas semua yang telah dilakukan. Mari semua memohon kepada Allah, agar senantiasa mencurahkan rahmat, memberikan tambahan ilmu dan pemahaman, melimpahkan taufiq dan hidayah, memberikan balasan yang terbaik dan menyelamatkan kita dari kehinaan dunia.

(Sumber : http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2347:titip-pesan-untuk-dai-di-bulan-suci&catid=88:herry-nurdi&Itemid=288)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s