(BUKAN) ‘TREND’ RAMADHAN

Oleh: Yudi Wahyudin

Setiap Ramadhan datang, masyarakat menggambarkannya sebagai bulan malas, bulan enak tidur, serta bulan mengalah. Dengan latah orang mengatakan, “Inni shâ-imun” (aku sedang shaum). Dengan dalil yang sama masyarakat kita tak acuh dengan kemunkaran yang terjadi di sekeliling kita. Katanya, “Di bulan Ramadhan kita tidak boleh marah”. Padahal jika mau jujur, pagar sosial kita sudah mengendur, kepekaan terhadap apa yang kita sebut norma-norma sosial sudah mulai memudar, baik dalam Ramadhan atau tidak. Dulu wanoja (anak muda) Sunda masih merasa malu jika harus berpelukan di tempat umum, namun saat ini sudah tidak. Dulu masyarakat kita merasa iri jika harus buka-buka aurat di tempat terbuka, namun saat ini sudah tidak. “Tak sopan jika harus mengganggu privasi orang”, katanya. Kita sudah bingung membedakan antara sopan santun dan amar ma’ruf. Kita juga sudah tidak mampu membedakan antara marah dan nahyu al-munkar! Lebih parah lagi, aksi nahyu al-munkar dianggap sebagai upaya kekerasan. Kita sudah latah mengidentikkan kekerasan dengan yang bersifat fisik. Kemerosotan akhlaq, pembudidayaan trend sampah, hingga legalisasi kemaksiatan, tidak lagi dianggap sebagai sebuah KEKERASAN.

Lihat saja, betapa televisi kita dengan penuh ‘sabar’ mendidik anak-anak kita untuk tidak malu mengumbar aurat. Seingat saya di Garut, trend ABG perempuan yang memakai celana sangat pendek sembari naik motor matic, baru merebak satu tahunan ke belakang. Saat ini, “Tidak ‘gaul’ kalo naik motor matic tanpa celana pendek”, katanya. Akibat trend di atas, toko orang-orang muslim terpaksa menyediakan baju dengan model celana jeans pendek. “Kalau tidak disediakan, toko kita sepi pak”, katanya.

Lihat juga bagaimana kita dengan penuh ‘inovasi’ mendidik diri untuk wajib bingung menghadapi Ramadhan. Bingung, menu buka puasa hari ini apa? Bingung, sepatu baru tahun ini merek apa? Bingung, di mana harus beli baju baru tahun ini? Bingung, mudik tahun ini harus bawa apa ke kampung? Bingun, mudik tahun ini harus naik apa? Semua hal dipermasalahkan, kecuali Ibadah Ramadhan kita.

Akibat pola konsumtif di atas, lihat pula bagaimana ‘kreativitas’ pasar. ‘Pasar’ menghendaki kenaikan harga, oleh sebab itu satu buah cabai bisa naik sampai seribu rupiah. ‘Pasar’ juga mengehendaki agar bahan-bahan dasar naik juga harganya. Namun pintarnya, ‘Pasar’ sudah bisa menebak situasi ini dua bulan sebelumnya, hingga untuk bahan-bahan tertentu, ditimbun dulu. Sebab ‘Pasar’ selalu punya prinsip, dengan modal yang sedikit, harus meraih untung sebesar mungkin! Namun ada juga ‘pasar’ kecil kita yang masih memiliki ‘belas kasihan’. Ada ide lain, katanya. Yaitu dengan mengganti bahan-bahan pokoknya dengan bahan buatan. Dan yang penting, “rasanya tetap, harganya tidak perlu naik”. Lalu bagaimana efek sampingnya? “Itu mah, urusan nanti kang?”, jawabnya enteng.

Untuk trend ‘kredit’ kendaraan, bahan dasar idenya sama namun caranya yang berbeda. Dimurahkanlah DP-nya, agar setiap keluarga bisa mudik dengan motor baru ke kampungnya. Bukan sekedar murah, bahkan ada hadiah televisinya. Akhirnya masyarakat kita ramai-ramai berbudaya kredit, tanpa menghitung dari mana bayarnya. Walhasil, pasca Ramadhan, ada yang over kredit, namun ada juga yang mencuri mesin orisinalnya untuk digantikan dengan mesin cina sesaat sebelum dijemput dealer. “Yang penting, tidak rugi pak”, katanya santai. Lihat juga akibat ‘peraturan tak tertulis’ yang kita sebut trend, masyarakat di setiap Ramadhan berfikir bagaimana caranya menghasilkan uang, entah halal atau haram!.

Ubah Jika Masih Takut Musibah!

Rasulullah Saw., mengajarkan

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ – رواه مسلم

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, namun jika (masih) tidak mampu maka dengan hatinya dan itu termasuk (diantara orang yang ) lemah iman”. (HR. Muslim).

Ramadhan tidak disyari’atkan untuk menciptakan pola hidup masyarakat seperti di atas. Ramadhan disyari’atkan untuk melahirkan generasi-generai bertaqwa. Wajar jika setelah melewati sepuluh kali Ramadhan, kita tidak pernah beranjak pada derajat taqwa, sebab kita selalu mengejar derajat terendah dari kemanusiaan, yaitu derajat ke-binatang-an. Bahkan sebagian dari kita memilih yang lebih rendah dari binatang!

لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ – الأعراف، 179

Mereka memiliki hati namun tidak digunakan untuk berfikir, memiliki mata tapi tidak digunakan untuk melihat, memiliki telinga namun tidak pernah digunakan untuk mendengar. Mereka itu bagaimana binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Merekalah orang-orang yang lalai. (QS. Al-‘Araf, 7:179)

Dengan sangat tepat Allah SWT menggambar sektsa kebinatangan kita. Betapa hal ini terulang kembali di setiap Ramadhan, namun kita tidak pernah beranjak dan melakukan perubahan. Kita tidak pernah mengompitmalkan apa yang telah Allah SWT anugerahkan.

Mulai dari pejabat hingga rahayat (rakyat) melihat, trend masyarakat di setiap Ramadhan semakin memburuk, namun mereka tidak pernah menggunakan penglihatannya untuk melakukan perubahan. Mulai pengusaha limousin hingga masyarakat miskin, berfikir jika keburukan-keburukan ini dibiarkan, semua manusia akan kena getahnya. Namun fikirannya kalah oleh syahwatnya. Sejak koruptor hingga pengendara motor pernah mendengar, bahwa satu-satunya jalan keluar adalah merubahnya ke arah yang lebih baik, dari yang paling mudah, sejak detik ini, dan dimulai dari diri sendiri. Namun pendengarannya tersumbat oleh kelezatan-kelezatan sesaat!

Rasulullah mengingatkan!

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رضي الله عنه قال:  سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ  إن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك أن يعمهم الله بعقاب منها

Hadits diterima dari Abu Bakar Al-Shidiq –semoga Allah SWT meridhainya, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya manusia apabila melihat kemunkaran namun (sengaja) tidak merubahnya, maka Allah SWT akan menyegerakan adzab pada seluruh orang” (HR. Tirmidzi).

Oleh sebab itu, BERUBAHLAH, SEBELUM KITA MENGANCAM SEGALANYA! Wa Allâhu ‘Alam bi Al-Shawwâb

Rujukan:

  1. Al-Quran Al-Karim
  2. Jâmi’ Al-Shohîh Li Al-Imâm Muslim (Maktab Al-Syâmilah Al-Ishdâr Al-Tsâlits fi Al-Qism Kutub Al-Mutûn)
  3. Sunan Al-Tirmidzi (Maktab Al-Syâmilah Al-Ishdâr Al-Tsâlits fi Al-Qism Kutub Al-Mutûn)
  4. Al-Amru bi Al-Ma’rûf wa al-Nahyu ‘an Al-Munkar li Ibn Abi Dunyâ (Maktab Al-Syâmilah Al-Ishdâr Al-Tsâlits fi Al-Qism Kutub Ibnu Abi Dunya)
  5. Wawancara dengan sebagian anggota masyarakat di Pengkolan Garut (14/08/2010)
  6. Observasi Media Massa (Tempo Interaktif, Republika Online, Detik)

2 thoughts on “(BUKAN) ‘TREND’ RAMADHAN

  1. Tulisannya sudah bagus. Namun ada beberapa tulisan yang kurang mengena. seperti kata pager, sempat membuat mata saya kelilipan. Mungkin maksudnyha “pagar.” bukan “pager” . Karena kata “pager” merupakan bahasa Sunda.
    Kemudian ada juga kata “Rubah”. Yang tepat adalah “Ubah”. Karena “Rubah” itu nama hewan. Memang ada kerancuan dalam memberikan imbuahn terhadap kata ubah. Jika diberi imbuhan “di”, banyak yang membacanya menjadi dirubah. Padahal yang benar adalah “diubah”, “mengubah” buka merubah.
    Demikian. he he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s