METODOLOGI TAFSIR IBNU ‘ARABI*)

Oleh: Yudi Wahyudin

Seperti kebanyakan ulama sufi, Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi (w.1240 M) konon lebih mementingkan makna batin daripada makna zahir suatu perkataan atau ayat apabila menafsirkan Al-Quran. Bahkan tidak sedikit yang menuduh ia kafir, karena dianggap suka memutarbalikkan ayat-ayat Al-Quran demi mendukung ‘pandangan-pandangan aneh dan ajaran bid’ahnya’. Tuduhan semacam itu sebenarnya tidak berasas kuat, sebab Ibnu ‘Arabi justru mengecam dan menyalahkan mereka yang membatasi diri dan hanya sibuk mencari makna tersirat dan simbolis, ataupun mereka yang merasa cukup dan berpuas hati dengan maksud literal saja. Bab ini ingin mengulas kembali pandangan dan sikap Ibnu ‘Arabi terhadap kaidah tafsir allegoris (ta’wîl) dalam memahami Al-Quran.

Meskipun pada awalnya difahami sebagai dua kata-kata yang bermakna sama (mutarâdif), ta’wîl dan tafsîr mulai dibedakan sejalan dengan perkembangan ilmu-ilmu Al-Quran pada kurun awal Hijriah. Para ulama terkemudian (khalaf) menarik garis pemisah yang lebih mendasar lagi. Mereka mendefinisikan ta’wil sebagai kaidah-kaidah penafsiran allegoris berdasarkan nalar akal (bil al-dirâyah) yang bertujuan menyingkap sebanyak mungkin makna yang terkandung dalam teks serta memilih yang paling tepat namun tanpa membuat klaim kebenaran (tarjîh ahad muhtamalâti bi dzûni al-qat’i). adapun tafsir mereka fahami sebagai penjelasan yang semata-mata bersumber dari khabar benar sampai kepada kita melalui perawi-perawi adil dan jujur yang menyampaikannya dari para sahabat Nabi Saw. (bi al-riwâyah).

Oleh sebab itu, menurut definisi ini, tidak seorang pun dizinkan melakukan penafsiran terhadap Al-Quran kecuali Nabi Saw., dan para sahabatnya yang menyaksikan turunnya wahyu. Sebaliknya ta’wil, diizinkan dengan syarat berikut. Pertama, sepanjang ia tidak diklaim mewakili makna yang sebenarnya dimaksud oleh Allah SWT. Kedua, asalkan ia tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang senada ataupun dengan sunnah Nabi Saw. Oleh karena itu tidak mengherankan jika tafsîr, yang terdiri dari dan terbatas pada penghimpunan serta penilaian hadis-hadis mengenai suatu ayat –sehingga ia disebut tafsîr bi al-ma’tsûr dan kemudian diletakkan berlawanan dengan apa yang sering disebut sebagai ‘penafsiran subjektif’ (tafsîr bi al-ra’y) alias ta’wîl.

Dalam setiap tulisan Ibnu ‘Arabi, istilah ta’wil dan viriannya dimaknai sebagai penjelasan allegoris berdasarkan pertimbangan akal dan fikiran, di mana setiap ayat Al-Quran yang kelihatannya tidak ‘sesuai’ atau bertentangan sifat-sifat mukhâlafah li al-hawâdits, harus dijelaskan maknanya. Jika demikian, kata Ibnu ‘Arabi, akal manusia  menolak pendekatan dan metode semacam ini. Menurutnya, manusialah yang seharusnya dinilai bukan menilai. Manusia harus dibentuk oleh dan tunduk kepada Kitab Allah, bukan sebaliknya. Untuk itu, manusia hendaklah dengan sungguh-sungguh beriman dan beramal shaleh sesuai garis syari’ah. Ia juga harus senantiasa berdo’a memohon agar Allah membuka pintu hatinya serta mengisinya dengan cahaya ilmu dan pemahaman tentang makna yang terkandung dalam wahyu-Nya. Setelah itu, ia harus tetap menimbang pemahamannya dengan panduan syari’ah dan sunnah.

Karena ia menolak pendekatan akliah ‘ala Muktazilah dan ahli falsafah dalam memahami dan menguraikan ayat-ayat mutasyâbihât, maka beliau tidak boleh digolongkan ke dalam ahli ta’wil, sebagaimana diklaim oleh Corbin dan Abu Zayd.

Sebagaimana kita ketahui banyak ayat Al-Quran yang menisbahkan bagian-bagian tertentu kepada Allah –seperti tangan, mata, jemari, bersemayam, berbicara kepada Musa, dan lain sebagainya. Jika kita memahami ayat ini seadanya (harfiyyah) kita akan terperangkap pada tasybîh dan tajsîm. Oleh sebab itu, banyak orang yang keluar dari pendekatan ini dan memilih pendekatan allegoris. Ibnu ‘Arabi sendiri mengecam pemahaman literal murni seraya menolak ta’wil yang membelokkan makna ayat paradoksial ke arah yang sehaluan dengan prinsip-prinsip logika.

Perbedaan pendapat dalam masalah ini bertolak dari sebuah ayat dalam Al-Quran (3:7),

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan kitab tersebut kepadamu. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang pasti-jelas (muhkamât), yang merupakan Induk Kitab tersebut, sementara ayat-ayat lain samar maknanya (mutsyâbihât). Mereka yang di dalam hatinya ada kecenderungan menyimpang, akan mengikuti yang samar-samar darinya, sengaja mencari fitnah dan mencari-cari maksud ta’wîl-nya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wîl maknanya kecuali Allah [;] dan orang-orang yang mendalam ilmunya; mereka berkata, ‘kami percaya sepenuhnya; semuanya datang dari Tuhan kami. Dan tidaklah mengambil pelajaran kecuali ulu al-albab (QS. Ali Imran, 3:7)

Mengenai ayat ini ulama dibagi kepada dua pendapat besar. Ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa membaca ayat di atas (وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ) harus dengan waqaf (berhenti) sampai di (إِلَّا اللَّهُ), sehingga huruf wau (و) setelahnya berkedudukan sebagai wau al-ibtida (penanda kalimat baru). Oleh sebab itu, mazhab ini menafsirkannya sebagai, “…padahal tidak ada yang mengetahui ta’wîl maknanya kecuali Allah. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya; mereka berkata…”. Adapun ulama mazhab Syafi’I berpendapat bahwa huruf wau dalam ayat jumlah di atas bukan sebagai wau al-ibtida, sehingga tafsirannya adalah, “…padahal tidak ada yang mengetahui ta’wîl maknanya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya; mereka berkata…”.

Sebagaimana fuqaha mazhab Syafi’I, Ibnu ‘Arabi memilih bacaan yang kedua, meski dengan alasan berbeda serta dengan menggarisbawahi ujung ayat tersebut yaitu, “…kami beriman sepenuhnya; semuanya datang dari Tuhan kami”. Menurut Ibnu ‘Arabi, yang berkata demikian adalah orang-orang yang telah dianugerahi iman dan ilmu mengenai rahasia-rahasia serta maksud yang terkandung dalam lafadz-lafadz Kalamullah.

Ulama lain yang memandang perlu adanya ta’wil adalah Imam Al-Ghazali. Ia berpendapat, “..apa saja khabar yang dipandang mustahil oleh akal mestilah ditakwilkan, karena wahyu tidak mungkin mengandung khabar pasti (qat’i) yang bertentangan dengan akal”. Dalam hal ini Ibnu ‘Arabi tidak sependapat dengan Al-Ghazali. Menurutnya, ta’wil bukanlah cara penyelesaian yang tepat. Karena dengan melakukannya, seseorang akan cenderung meninggalkan lafadzh zahir serta mengutamakan kemampuan akalnya daripada imannya dalam menuntut kebenaran.

Ketika Ibnu ‘Arabi mengkritik penafsiran allegoris berdasarkan akal, yang ia maksudkan adalah logika yang digunakan para mutakallimun dan ahli falsafah yang teguh berpendirian dalam menafsirkan nash-nash wahyu sesuai dengan kriteria dan pembuktian rasional. Jadi menurut Ibnu Arabi, kita boleh sekali-kali meragukan ketepatan (accuracy) perkataan ataupun susunan huruf, kalimat dan ayat yang ada dengan beranggapan keliru atau salah letak. Apatah lagi mengatakan bahwa ‘maksud Tuhan sebenarnya’ tersimpan dan tersembunyi di balik lafaz itu dan harus dicari dengan perangkat akal kita. Itu sebabnya mengapa ia senantiasa menekankan pentingnya iman, amal sholeh, taqwa sebagai prasyarat utama memperolah ilmu dan mengetahu rahasia makna kandungan Al-Quran.

Perlu dicatat bahwa bagi Ibnu ‘Arabi, konteks Al-Quran adalah ilmu Allah yang meliputi segala hal dan tidak ada sesuatu pun yang luput darinya. Dalam kerangka ini, Al-Quran dipandang sebagai Kalamullah sehingga konteks sejarah menjadi tidak penting, meski asbâb al-nuzûl tetap diakui dan diperlukan. Walhasil, Al-Quran bukan saja dikaji, dibaca, disimak, dipelajari, dipahami, dan diamalkan secara aktif, tapi juga secara aktif mengajar, memperingatkan, memengaruhi, menggugah, dan membentuk diri kita.  Konsekwensi kedua adalah, bahwa setiap pemahaman yang didukung oleh lafadzh zahir adalah sah.

Menurut Ibnu ‘Arabi, Allah yang menurunkan Al-Quran, mengatahui seluruh aspek maknanya. Dia juga mengetahui bahwa hamba-hamba-Nya berbeda-beda taraf kemampuan dalam mehamani firman-Nya dan dapat menangkap sebatas yang mereka mampu. Maka dari itu, jika seseorang menangkap makna dari suatu ayat –dapat dikatakan, itulah makna yang dimaksud Allah dalam ayat tersebut bagi pihak itu. Singkatnya, setiap orang yang menafsirkan Al-Quran dan tidak keluar dari kisaran lafadzh (lam yakhruj ‘ammâ yahtamiluhu al-lafdzh) adalah dibenarkan. Akan tetapi perlu diingat bahwa barangsiapa membuat penafsiran menurut pandangan pribadinya semata (hawâhu), maka kafirlah ia (faqad kafara).

Anda harus membedakan, lanjut Ibnu ‘Arabi, antara memahami bicara (kalâm) dan memahami Sang Pembicara (Al-Mutakallim). Pemahaman kedualah yang harus anda upayakan, yang hanya bisa diperoleh hati yang padanya Al-Quran itu turun. Mereka yang berusaha memahami Sang Pembicara akan memahami bicara-Nya, sedangkan mereka yang terpaku pada lafadzh perkataannya saja belum tentu dapat menangkap maksud-Nya denga tepat. Maka seorang hamba yang mata hatinya dibimbing oleh petunjuk dari Allah akan mendapatkan pemahaman baru dari setiap pembacaan –pemahaman yang lebih baik bobotnya ketimbang hasil bacaan sebelumnya. Sebab Allah telah mengabulkan do’anya, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu” (QS. 20:114).

Dari uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa Ibnu Arabi sebenarnya tidak anti ta’wil dalam pengertian tafsir. Beliau mengecam dan menolak (1) ta’wil atau penafsiran menurut hukum akal atau pertimbangan rasion semata, (2) ta’wil menurut pendapat pribadi seseorang yang tidak cukup ilmunya serta, (3) ta’wil yang tidak didukung oleh kisaran makna lafadzh.

 *) Rangkuman Bab Buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran Karya Dr. Syamsudin Arif

2 thoughts on “METODOLOGI TAFSIR IBNU ‘ARABI*)

  1. Saya haus akan ilmu Allah jaditolong saudaraku jangan berhenti memuat tulisan yang berkaitan dengan guru kita syeh al abar ibnu arabi, yang mana banyak yang urang faham tentang beliau, saya sendiri baru memahami islam sedikit demi sedikit berkat Allah swt arena membaca buku dari syeh alakbar yang saya sdh patok bahwa beliaulah guruku, perantaraan buku beliaulah Allah berikan pemahaman padaku sehingga aku dapat paham sedikit demi sedikit syukran ya Allah,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s