KHALIFAH ATAU SYARI’AT?

Yudi Wahyudin

Saat ini kita harus jujur, bahwa ternyata sistem yang selama ini kita sebut sebagai ‘the final of the establish order system’, demokrasi, ternyata cacat secara historis dan filosofis. Kecacatan itu dibuktikan dengan beberapa argumen. Pertama, demokrasi terlalu fleksibel dan hampir sebagai ideologi ‘tempat sampah’. Apapun bisa menjadi unsur pelengkap demokrasi, meski unsur lainnya itu bertentangan dengan ruh demokrasi. Sebagai contoh, di Indonesia pernah diterapkan sistem Demokrasi Terpimpin (dengan unsur Nasionalis, Komunis dan Agama), Demokrasi Pancasila (Demokrasi yang hanya adaptif terhadap ideologi yang pro lima sila), demokrasi liberal (yang membebaskan seluruh ideologi bertemu di dalamnya) serta demokrasi-demokrasi lainnya. Kedua, cacat historis demokrasi terlihat pada paradox rakyat dan elit. Secara filosofis, rakyatlah yang memimpin hingga kemudian –menurut Plato, akan melahirkan tirani massif. Dan pada sis ekstrim lain, ditemukan pula sebuah tahapan struktur masyarakat yang disebut diktatur ploretariat. Lucunya, kedua-duanya tidak pernah terjadi dalam dunia nyata. Dan yang terjadi tetap homo homini lupus, yang kuat yang memangsa. Pemerintahan Rakyat ala demokrasi tetap saja diatur oleh segelintir orang ‘pintar’ untuk mengelola masyarakat dan begitu pula Pemerintahan Rakyat ala komunis. Ketiga, kenyataan sejarah bahwa negara-negara demokrasi maju bisa maju dan memimpin bukan karena mereka menerapkan demokrasi tapi lebih karena menerapkan hegemoni ekonomi-imperialistik. Bahkan Huntington secara terbuka menyatakan bahwa dunia Barat dapat menguasai dunia bukan dengan kekuatan ide, nilai, keyakinan. Barat maju, sejahtera dan unggul lebih karena kemampuannya mengorganisasi kekacauan (imperialisme). Sebaliknya, pada tingkat makro, kapitalisme menuntut konsekwensi logis serta ikatan-ikatan hegemonik pada negara berkembang di dunia ketiga, sehingga negara-negara miskin ini menjadi lebih termiskinkan.

Sebagai agama sempurna (kâmilah) dan komprehensif (tammah), tentu saja Islam telah memberikan cara bagaimana kehidupan dunia itu harus diwujudkan. Dalam tataran ini, Islam bukan saja memberikan orientasi terhadap pentingnya perwujudan dunia ideal itu, bahkan sekaligus telah menampilkan fakta historis, bahwa peradaban ideal itu pernah terwujud dalam bentuknya yang kita kenal sebagai khilâfah. Pertanyaannya adalah bagaimana bentuk yang ditawarkan Islam untuk sebuah sistem kehidupan pada umummnya dan pemerintahan pada khususnya, dan apakah sistem itu –jika disebut khilafah yang merujuk pada konsep eksklusif, dapat menjamin terwujudnya sebuah masyarakat sejahtera? Lalu apakah syari’at menunjuk pada sistem khilafah sebagai satu-satunya sistem politik yang menjanjikan?

Terma-terma Khalifah dalam Al-Quran

Dalam literatur Islam, ada banyak tema yang digunakan untuk menjelaskan sistem pemerintahan Islam. Diantaranya adalah khilâfah yang dipimpin oleh seorang khalîfah. Dalam Al-Quran, Allah menyerahkan tugas untuk memakmurkan dan menyejahterakan dunia kepada khalîfah, yaitu manusia (QS. 2:30). Tugas-tugas itu dapat dilihat dari pertanyaan para malaikat pada ayat yang sama, “Apakah Engkah hendak menjadikan (khalifah) di dalam dunia itu oleh makhluk yang akan melakukan perusakan dan penumpahan darah secara sia-sia di dalamnya”. Penciptaan manusia adalah untuk jawaban atas ketidakmengertian malaikat akan tujuan penciptaan manusia. Maka nampaklah – Jika menggunakan kaidah mafhûm mukhâlafah dari keresahan malaikat, bahwa tugas khalifah itu adalah memaslahatkan dunia dan menjaga agar tidak ada jiwa yang tertumpah bukan pada tempatnya.

Terma khalîfah pun dapat kita temukan pada QS. 38:26, Allah berfirman, “Wahai Daud, kami menjadikanmu sebagai khalifah di muka bumi. Maka tegakkanlah hukum dengan al-haq di antara manusia, dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti hawa nafsu, maka niscaya (hawa nafsu itu) akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Dan sesungguhnya orang-orang menyesatkan (manusia) dari jalan Allah, bagi mereka siksa yang keras disebabkan mereka lupa hari kiamat”.

Namun ada juga term kha-la-fa ini digunakan untuk para pewaris amanah yang berlaku semena-mena. Seperti dalam QS. 7:169, “Maka datanglah sesudah mereka khalfun (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun”. dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah Perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, Yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, Padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka Apakah kamu sekalian tidak mengerti?. Dan disebutkan juga dalam QS. 19:59 “Maka datanglah sesudah mereka, khalfun (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan”.

Terma-terma Al-Khalifah dalam Hadits

Imam Al-Bukhari pernah meriwayatkan sebuah hadits pada Bab Al-Ma’shûm Man ‘Ashama Allâhu (Orang Terjaga adalah yang Allah jaga) dari Abu Sa’id Al-Khudriyyi, bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda, “Tidak diangkat seorang khalifah kecuali ia memiliki dua golongan. Pertama, khalifah yang memiliki golongan baik dan mendorongnya melakukan kebaikan. Kedua, khalifah yang memiliki golongan buruk dan mendorongnya berbuat keburukan. Dan orang yang terjaga itu adalah yang telah Allah jaga”. (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain Imam Bukhari meriwayatkan hadits pada Bab Al-Istikhlaf (Pergantian Pemimpin) dari Abu Bakar al-Shidiq, sesungguhnya ia berkata kepada utusan Buzakhah[1], “Kalian selamanya akan mengekori unta (taqlîd) sehingga Allah SWT mengutus seorang khalifah (penanggung amanah) Nabi-Nya, yaitu al-muhâjirin (serta membawa) perintah yang kalian menjadikannya alasan dengannya (untuk berjuang)”. (HR. Bukhari).

Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits pada Bab Manusia Pengikut Quraisy dan Kilafah dari Quraisy dari Jabir bin Samrah, ia berkata, “Aku bersama ayahku masuk memenui Rasulullah Saw., maka aku mendengarnya bersabda, ‘Sesunnguhnya urusan (umat) ini tidak akan selesai, hingga telah melewati dua belas masa khalifah’. Kemudian ia membisikkan sesuatu kepadaku. Aku pun menceritakannya pada ayahku apa yang beliau bisikkan bahwa, ‘Seluruhnya dari keturunan Quraisy”. (HR. Muslim).

Dalam Bab Menjelang Hari Kiamat, Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah sebuah hadits dari Rasulullah, “Akan ada di akhir zaman ummatku seorang khalifah yang akan membagikan harta (pada ummatnya) dengan menciduk tanpa menghitungnya”. Ia pun bertanya pada Abi Nadhrah dan Abi Al-‘Ala, “Apakah kalian melihat Umar bin Abdul ‘Aziz melakukannya?”. Keduanya menjawab, “Tidak”. (HR. Muslim).

Abu Daud meriwayatkan sebuah hadits hasan dari Khudzaifah Ibn Al-Yaman dalam hadits panjang, “Jika pada suatu hari (di masa para da’i mengajak ke pintu jahannam) tidak ada khalifah, maka larilah kalian (ke tempat jauh) hingga kalian meninggal meski kalian meninggal dalam keadaan mengemis”. (HR. Abu Daud).

Merenungkan Term Khalîfah

Dari ayat QS. 2:30, QS. 38.26, QS. 7:169, QS. 19:59, dapat ditarik sebuah istinbâth bahwa khalifah lebih merupakan tugas, amanah, serta tanggung jawab pemeliharaan, pengawasan, dan pemakmuran dunia agar sesuai dengan dan tidak melenceng dari jalan yang diinginkan Allah SWT dibanding sebuah penyebutan khas Islam mengenai bentuk pemerintahan. Namun kemudian, harus dibedakan antara khalifah yang sudah menjadi hak prerogratif Allah untuk memilihnya, yaitu para nabi dan rasul, dengan khalifah yang merupakan hasil ijtihadiyyah umat Islam.

Bahkan dalam surat QS. 7:169 dan QS. 19:59 disebutkan bahwa akan adapula khalfun atau khalifah yang memperturutkan hawa nafsu, melalaikan shalat, dan melanggar hukum-hukum Allah. Dalam empat ayat tersebut sementara dapat ditegaskan bahwa kemakmuran itu pasti terwujud bukan dengan ada atau tidak adanya khalifah, namun sejauh mana khalifah itu menjalankan syari’at Allah atau justru menjauhi serta memperturutkan hawa nafsunya.

Sedangkan dalam hadits Riwayat Imam Bukhari kita dapat menarik sebuah ketegasan bahwa di lingkungan khalifah akan selalu ada dua golongan; yang satu memberikan dorongan pada kebaikan dan yang lainnya mendorong pada keburukan. Sehingga keselamatan khalifah itu sendiri dilihat dari sejauh mana ia menggantungkan penjagaan dirinya hanya kepada Allah dalam mengemban amanah. Pada hadits berikutnya, Imam Bukhari meriwayatkan hadits lain yang lebih tegas mengatakan bahwa khalifah pengganti Nabi saja lah yang akan menghilangkan seluruh taqlid pada hawa nafsu.

Dari dalil-dalil ini, kita dapat mengambil benang merah bahwa sistem pemerintahan ‘ala Islam adalah pemerintahan yang mewarisi kenabian (warâtsat al-anbiyâ). Pewarisan ini berkaitan dengan maqâshid syar’i dibentuknya sistem pemerintahan, yaitu mendorong, menciptakan, mengkondisikan, serta mewujudkan masyarakat untuk beriman kepada Allah SWT. Adapun terciptanya tanggung jawab dan hak masyarakat berkaitan dengan huqûq al-‘ibâd li al-‘ibâd (hak-hak antara manusia) dijalankan dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dengan tegas dalam  QS. 38:26, yaitu tugas Khalifah sebagai penegak hukum Allah.

Dapat kita lihat bahwa hukum Allah SWT (syari’ah) ditempatkan pada posisi penting. Sebab hukum itulah yang mengatur norma hingga budaya masyarakat berdasarkan nilai dan perangkat yang ada dalam syari’ah. QS. 38:26 juga mengisyaratkan bahwa pada kenyataannya, akan beberapa golongan manusia yang menganggap bahwa syari’ah ini tidak layak untuk ditegakkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hawa nafsu golongan tersebut. Oleh sebab itu, tugas Khalifah –selain dilarang untuk mengikuti hawa nafsu mereka, adalah juga memiliki tanggung jawab untuk membuktikan bahwa perwujudan syari’ah berbanding lurus dengan terciptanya kemaslahatan bagi kehidupan manusia itu sendiri. Sebab Pembuat Syari’at, Allah SWT, lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya ketimbang makhluknya. Hal itu ditegaskan dalam beberapa ayat, seperti QS. 2:216, QS. 2:232, QS. 3:66, QS. 16:74, dan QS. 24:19. Dalam beberapa ayat itu, Allah SWT dengan sedemikian tegas menyatakan bahwa, “Allah itu lebih mengetahui, sedangkan kalian tidak tahu!”.

Menegakkan Khalifah atau Syari’ah?

Jika kita meneladani Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib radiyallâhu ‘anhum, nampaklah bahwa mereka sejatinya adalah para ulama. Mereka radiyallâhu ‘anhum, dikenal penghafal Al-Quran dan mengetahui asbâb al-nuzûl nya, penyampai hadits, pengamal syari’at, sekaligus menjadi bentuk percontohan dari wujud Al-Islam. Dalam keseluruhannya, mereka disebut Ulama Pewarits Nabi seperti disebut dalam sebuah hadits, “Dan ulama itu adalah para pewarits Nabi” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Dalam kesejatiannya, merekalah ulama-ulama yang takut kepada Allah (yakhsyallâh), seperti disebutkan dalam Al-Quran, “Hanya ulama lah yang merasa takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya” (QS.35:28).

Mereka menjadi khalifah-khalifah ideal sebab dalam menjalankan perannya sebagai kepala pemerintahan (Al-Umarâ) berbekal keteladan dan warisan kenabian. Pemerintahan Khulafâ Al-Rasyidah menjadi ideal, bukan karena mereka menjabat sebagai khalifah, namun karena kekhilafahan yang mereka jalankan sesuai dengan maksud dan tujuan sistem pemerintahan menurut Allah, yaitu mendorong, menciptakan, mengkondisikan, serta mewujudkan masyarakat untuk beriman kepada Allah SWT. Sebab pada kenyataannya, ada juga khalifah-khalifah yang berubah menjadi penguasa tiran, menumbuhkembangkan kemaksiatan dan kesesatan, bergelimang dalam kemewahan di saat masyarakatnnya dirundung kemiskinan dan kebodohan. Bahwa khalifah-khalifah sesat ini tidak memperhatikan haq syari’ah sehingga dengan secara bertahap dan pasti, kehancuran akn dituai. Allah SWT berfirman,

Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu khulafâ-a (pengganti-pengganti yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (QS. Al-A’raf, 7:74). Kerusakan pertama yang ditempuh oleh khalifah dzalim ini adalah penolakan terhadap syari’at yang Allah turunkan, “Berkatalah orang-orang yang sombong, ‘Sesungguhnya kami terhadap apa yang kalian imani (yaitu hukum Allah) menolaknya” (QS. Al-‘Araf, 7:76).

Dari uraian ini jelaslah, bahwa perintah utama bagi khalifah adalah tegaknya syari’at, dalam seluruh domain kehidupan. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. Al-Jatsiyyah, 45:18). “…Demikianlah hukum Allah itu untuk dijadikan aturan di antara kalian, sedangkan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” (QS. Al-Mumtahanah, 60:10).

Dalam ayat ini Allah menegaskan kembali bahwa berjalan sesuai syari’at adalah fitrah kemanusiaan dan tahapan dari rangkaian keselamatan manusia, di dunia maupun akhirat. Oleh sebab itu, visi besar ini jangan dikacaukan oleh hawa nafsu berupa pandangan-pandangan dangkal dengan mengkambinghitamkan lokalitas dan konteks di mana syari’at itu hendak ditegakkan. Hukum Allah berfungsi untuk mengatur manusia, bukan sebaliknya manusia yang mengotak-atik hukum untuk disesuaikan dengan kebutuhan hawa nafsunya. Di akhir ayat ke 10, Surat Al-Mumtahanah, Allah menutupnya dengan tantangan keyakinan (aqidah). Seolah-olah ayat tersebut menantang manusia, “Jika kalian yakin, bahwa Allah Maha Mengetahui seluk beluk kebutuhan dan persoalan manusia serta Maha Bijaksana menurunkan beragam aturan  untuk memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan persoalan kemanusiaa, lalu kenapa kalian masih memperturutkan hawa nafsu kalian?”.

Oleh sebab itu wajar –setelah rangkaian penjelasan dan tantangan ini, Allah menegaskan dalam QS. Al-Mâidah, 5: 44, 45, 47, bahwa orang yang enggan menjalankan hukum Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana ini dengan sebutan Al-Kafirin, Al-Dzalimin, dan Al-Fasiqin. Disebut Al-Kâfirin, karena ia dengan tegas menolak hukum Allah sebagai hukum yang mustahil mendatangkan kemaslahatan. Disebut Al-Dzâlimîn, karena ia dengan tegas menyatakan bahwa hukum Allah –walau mungkin mendatangkan kemaslahatan, namun mustahil untuk ditegakkan di alam nyata kontemporer yang pluralistik ini. Disebut Al-Fâsiqin, karena  meski mereka yakin bahwa hukum Allah dapat mendatangkan kemaslahatan serta sangat mungkin untuk diwujudkan, namun ia tetap enggan menjadikannya sebagai hukum yang mengikat serta mengatur kehidupannya.

Penutup

Agenda penegakkan syari’at –dalam seluruh aspek, merupakan agenda prioritas umat Islam hari ini. Tentu saja, menegakkan syari’at tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara, bahkan dunia. Sehingga –dalam proses panjangnya ini, umat Islam harus tetap waspada dan tetap berbaris pada agenda yang sama. Sebab pencitraan secara negatif terhadap upaya penegakkan syari’at kelihatannya lebih getol dilakukan ketimbang penegakkan syari’at itu sendiri. Saat ini, media memandang bahwa penegakkan syari’at ekwivalen dengan radikalisme serta teror. Masyarakat kita hampir-hampir diyakinan, bahwa syari’at dari Allah SWT Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana, disamakan dengan alat pemusnah massif yang akan menghancurkan perdamaian manusia?! Subhânallâh!

Daftar Pustaka

  1. ‘Âsyûr, Ibnu., Al-Tahrîr wa Al-Tanwîr Tafsîr li Al-Quran Al-Karîm, Maktab Al-Syâmilah Al-Ishdâr Al-Tsâlits li Al-Qism Kutub Al-Mutûn
  2. Abu Dawud, Imam., Sunan Abi Daud, Maktab Al-Syâmilah Al-Ishdâr Al-Tsâlits li Al-Qism Kutub Al-Mutûn
  3. Al-‘Asqalâniy, Ibnu Hajar., Fathu Al-Bâri, Maktab Al-Syâmilah Al-Ishdâr Al-Tsâlits li Al-Qism Kutub Al-Mutûn
  4. Al-Quran Al-Karim
  5. Bukhari, Imam., Jâmi’ AlShahih li Al-Bukhari, Maktab Al-Syâmilah Al-Ishdâr Al-Tsâlits li Al-Qism Kutub Al-Mutûn
  6. Muslim, Imam., Sahîh Muslim, Maktab Al-Syâmilah Al-Ishdâr Al-Tsâlits li Al-Qism Kutub Al-Mutûn
[1] Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Buzakhah seperti disebutkan dalam riwayat Abd Al-Rahman Al-Mahdiy termasuk Bani Asad yang dinasabkan kepada Asad bin Khuzaimah bin Mudrikah, mereka adalah saudara Kinanah bin Khuzaimah nenek moyang Quraisy. Namun adapula yang menasabkan kepada bani Ghatafan, yaitu kabilah besar Ghatafan. Adapula yang menasabkannya kepada Thayyi, seperti disebutkan oleh Ibnu Bathal, mereka adalah kabilah yang murtad sepeninggal Rasulullah Saw., dan mereka mengikuti Tulaihah bin Khuwailid Al-Asadi dan memproklamirkan kenabiannya sepeninggal Rasulullah Saw. Kemudian mereka diperangi oleh Khalid bin Walid setelah ia berhasil menumpas Musailamah di Yamamah. Ketika mereka dikalahkan, mereka mengutus seseorang untuk menemui Abu Bakar, kemudian terjadilah kisah yang disebutkan dalam hadits di atas. (Fath Al-Bari, Juz 20: 265).

One thought on “KHALIFAH ATAU SYARI’AT?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s