TRADISI ILMU PARA SAHABAT (2) : SEBAGAI FONDASI DUNIA ILMIAH ISLAM

Oleh: Yudi Wahyudin

Bangkitnya peradaban Islam harus dimulai dengan pembangunan tradisi ilmu dalam masyarakat Islam. Rasulullah SAW memberikan teladan bagaimana beliau membangun satu generasi yang luar biasa kecintaannya terhadap ilmu. Menurut Prof Hamidullah, Piagam Madinah (watsîqah al-madînah) adalah Konstitusi Negara tertulis pertama di dunia.[1] Di Madinah, Rasul Saw juga menggalakkan tradisi baca tulis. Bahkan beliau membebaskan tawanan Badar yang mengajar kaum Muslim membaca dan menulis. Rasulullah Saw juga memerintahkan penulis wahyu, Zaid bin Tsabit, untuk belajar bahasa Ibrani. Maka, tidak heran, kader-kader Rasulullah Saw adalah orang-orang yang sangat tinggi semangat keilmuannya. Sebagaimana gerenasi sahabat, para ulama Islam juga berhasil memunculkan satu tradisi ilmu yang khas dalam Islam. Yakni, tradisi yang menyatukan antara ilmu dan amal. Para Imam Mazhab, misalnya, dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai kualitas ilmu dan amal yang tinggi. Imam Abu Hanifah lebih memilih dicambuk setiap hari ketimbang menerima jabatan hakim negara. Imam Syafii sanggup mengkhatamkan Al-Quran 60 kali dalam shalat di bulan Ramadhan. Imam Ahmad bin Hanbal sangat gigih mempertahankan pendapatnya tentang keqadiman Al-Quran, meskipun harus dipenjara oleh penguasa yang Muktazilah. Tradisi yang menyatukan ilmu, iman, amal, serta akhlak ini selama berabad-abad terus dipertahankan oleh kaum Muslim. Di pesantren-pesantren di Indonesia, santri yang melakukan tindak pencurian akan dikenakan sanksi yang berat. Untuk memurnikan niat dalam mencari ilmu, masih ada pesantren yang tidak mau memberikan ijazah formal kepada santrinya.

Lalu basis pendidikan Rasulullah itu dijalankan? Bagaimana pula Sahabat mentradisikan keilmuan ini sehingga menjadi basis pembangunan masyarakat itu sendiri?.

Kulluhum ‘Udul: Ruh Ilmiah Para Sahabat

Basis keajegan sebuah tradisi keilmuan adalah keadilan. Keadilan dalam memandang persoalan, menukil dan meriwayatkan, menafsirkan sebuah riwayat, menerima kritikan, serta –tentu saja yang paling penting adalah, keadilan dalam memberikan formulasi ijtihadiyyah bagi generasi berikutnya. Dalam potongan hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah menerangkan bahwa setelah generasi terbaiknya, maka akan muncul generasi-generasi, “…yang mereka sering bersaksi, namun kesaksiannya diragukan. Mereka sering berkhianat, hingga sukar untuk diberi amanah. Merekapun sering berjanji, namun tidak pernah mereka tepati. Dan nampaklah orang-orang gemuk di antara mereka”[2]. Dalam potongan sabda Rasulullah ini, dapat kita lihat bahwa generasi sahabat –sebagai prototipe generasi terbaik, memiliki ciri yang mukhâlafah (berbeda 180 derajat) dari generasi buruk yang datang setelah dua generasi terkemudian. Tipologi keadilan tentu saja merangkum beberapa unsur-unsurnya. Pertama, kejujuran dan oleh karenanya kesaksiannya dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, amanah dan oleh karenanya tugas-tugas (al-wadhâif) dapat diselesaikan dengan baik. Ketiga, komitmen dan oleh karenanya perencanaan diukur sedemikian rupa agar tepat-laksana serta tepat-sasaran sesuai janji dan perencanaan awal. Keempat, mengarahkan seluruh tujuan aktivitasnya untuk akhirat, dan oleh karena itu dan menghindarkan diri dari aktivitas yang bertujuan untuk mengenyangkan perut. Keempat unsur ini mewujud pada tanggung jawab dan keseimbangan ilmiah.

Tanggung Jawab Ilmiah

Tidak dapat diragukan, dunia ilmiah dewasa ini membutuhkan persaksian yang dapat dipertanggungjawabkan. Seorang ilmuwan senantiasa dituntut mengungkapkan seluruh ‘persaksian ilmiahnya’ untuk civitas akademiknya maupun khalayak umum. Jika tidak ada persaksian para ilmuan yang jujur, kita tidak akan pernah tahu bahwa Copernicus belajar dari astronom muslim dan merekalah sebenarnya yang pertama kali merinci sistem angkasa, jauh sebelum Copernicus melakukannya[3]. Jika tidak ada persaksian para ilmuan yang adil, “Maka orang akan berkata semaunya”, kata Imam Malik, ketika menjelaskan pentingnya Ilmu Sanad.[4] Jika tidak ada keadilan, orang akan dengan seenaknya mengutip pendapat seseorang dari buku tertentu di halaman sekian, padahal semuanya adalah dusta!

Keadilan berkaitan erat dengan tanggung jawab penukilan. Para sahabat menuliskan apapun –seadanya, dari Nabi Muhammad Saw. Dalam sebuah riwayat, Ibnu Umar pernah ditegor oleh orang-orang karena perbuatan ini, “Apakah (pantas) engkau menulis segala sesuatu dari Nabi Saw., dalam keadaan marah dan ridha?”. Maka kemudian ia pun menghentikan kebiasaannnya itu dan mengadukannya kepada Rasulullah. Beliau mengisyaratkan telunjuknya pada mulutnya dan bersabda, “Tulislah, maka demi Dzat yang diriku berada pada genggaman-Nya, tidaklah keluar darinya (mulut Nabi) kecuali kebenaran”.[5]

Dalam tradisi Kristen, Perjanjian Lama memiliki tingkat misteriusitas tinggi dalam silisah periwayatannya. Bahkan Perjanjian Baru lebih misterius dari yang dibayangkan. Ia mengalami tulis ulang beberapa kali dalam berbagai versi dengan bahasa yang sama atau dalam beragam versi dalam bahasa yang lain. Dewasa ini, dalam versi Inggris, paling tidak ada tiga versi besar di tengah versi minoritas yang dipublikasikan untuk dijadikan pegangan iman kristiani, yaitu: 1) The Living Bible Paraphrased, terbitan Tynadale House Publishers, Inc., Wheaton 1971, 2) The Bible Revised Standard Version, terbitan american Bible Society, 3) Holy Bible King James Version, terbitan Collin World. Versi yang dimaksud bukan berbeda penerbit saja, namun mencirikan perbedaan redaksional dan beberapa revisi substansional. Dalam versi Indonesia, Injil versi Lembaga Al-Kitab Iindonesia (LAI) telah mengalami beberapa kali revisi redaksional.

Wajar jika Maurice Bucaille dalam Bible, Quran, dan Sains Modern (1979) mengatakan,  bahwa sangat mungkin apa yang dikisahkan oleh Perjanjian Lama tidak sesuai dengan yang fakta sejarah, akan tetapi hanya bualan tukang dongeng yang mengekspresikan keindahan dan imaginasi dengan kerangka rekonstruksi sejarah. Sedangkan David F. Hinson dalam buku The History of Israel (2001) yang dikutip oleh Sony Kusumasondjaja menyatakan bahwa dalam mempelajari sejarah Israel hendaknya selalu diingat bahwa kita berhadapan dengan legenda (al-isrâiliyyât) dan bukan sejarah. Cerita-cerita itu bukanlah laporan-laporan yang ditulis segera setalah peristiwa itu terjadi namun ditulis beberapa abad kemudian sebagai hasil ingatan seorang ayah yang bercerita kepada anak-anaknya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ini menandakan sebuah tradisi yang dimiliki mereka tidak dapat diperbandingkan dengan tradisi sahabat dalam meriwayatkan Al-Quran maupun Al-Sunnah. Ilmu Sanad, menurut Imam Malik, adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT dalam rangka menjaga syari’ah sesuai adanya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”[6] Abdullah bin Al-Mubarok mengatakan, “Ilmu Sanad itu adalah bagian dari agama. Kalau tidak ada ilmu sanad, maka orang akan berkata semaunya”.[7]

Tradisi ini terus berlanjut hingga muncul generasi berikutnya di era Thabi’in adan murid-muridnya. Generasi ini adalah para Ulama yang secara khusus membela agama Allah, menghilangkan perubahan-perubahan yang telah dilakukan orang-orang bodoh serta ta’wil-ta’wil orang yang berbuat kebathilan. Sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah, dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Ilmu ini akan dipegang –disetiap zaman, oleh orang-orang yang memiliki musuh. Mereka menghilangkan perubahan-perubahan yang dilakukan oleh para penipu, jiplakan orang-orang bathil, serta ta’wil-ta’wil orang bodoh”.[8]

Keseimbangan Ilmiah

Keadilan berkaitan dengan keseimbangan karena salah satu makna ‘Âdil secara bahasa adalah keseimbangan.[9] Tradisi keilmuan yang telah sahabat torehkan, diisyaratkan oleh Nabi sebagai penjaga keseimbangan sekaligus model tradisi bagi umatnya. Rasulullah Saw., bersabda, “…Bintang adalah amanah bagi langit. Apabila bintang telah menghilang, maka langitpun akan menghilang. Aku adalah amanah bagi para sahabatku; jika aku menghilang, maka akan datang pada mereka apa yang telah dijanjikan (fitnah). Para sahabatku adalah amanah bagi ummatku; apabila para sahabatku pergi, maka akan datang pada mereka apa yang telah dijanjikan (keterbelakangan dan kehancuran)”.[10]

Imam Al-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan amanah di sini adalah penjaga keseimbangan, “Selama ada bintang, maka selama itu pula langit akan berdiri kokoh. Dan jika bintang hancur, maka hancur dan terbelahlah langit”.[11] Nabi tidak sedang mengatakan bahwa dirinya serta para sahabatnya, memiliki kehebatan untuk membangun atau menghancurkan generasi-generasi berikutnya. Dalam hadits ini Rasulullah mengisyaratkan bahwa model pembangunan masyarakat, kapanpun dan di mana pun, harus selalu berada pada minhâj al-nubuwwah sebagai satu-satunya manhaj terbaik dan sesuai dengan sunnatullah yang menyeimbangkan antara iman, ilmu, dan amal.

Minhâj al-istisyrâqiyyah (orientalis) telah mencerabut keimanan dalam ranah keilmuan. Orientalis memandang iman sebagai pengetahuan mistis dan ilmu (science) sebagai pengetahuan metodis (empiris dan rasional). Lebih jauh, mereka memandang keimanan yang mistis dan intuistis ini tidak dapat disandingkan dan selamanya akan berada di bawah pengetahuan falsafi dan ilmu. Sedangkan Manhaj Al-Nubuwwah menegaskan, iman dan ilmu sama-sama metodis dalam menggapai ma’rifatullah. Hal ini tergambar dalam wasiat Mu’adz bin Jabal kepada Yazid bin ‘Umairah, “Sesungguhnya ilmu dan iman adalah menempati tempat yang sama. Barang siapa yang mencari keduanya, ia akan mendapati keduanya”.[12]

Lebih dari itu, Manhaj Al-Nubuwwah memandang bahwa ilmu harus mampu diejawantahkan dalam bentuk amal (tathbîqiyyun). Allah SWT meneguhkan bahwa untuk meyakini ketauhidan, manusia membutuhkan kehadiran ilmu,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka dengan ilmulah kalian akan mengetahui, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah..” (QS. Muhammad, 47:19)

Ibnu Asyur menafsirkan lafadz ayat ini sebagai sebuah ungkapan untuk memerintahkan pencarian ilmu sekaligus beramal sesuai dengan apa yang diketahui. Ungkapan ini, katanya, digunakan dalam pencarian ilmu yang terus-menerus sebagaimana Nabi Muhammad Saw., mengajarkannya secara simultan dan kontinyu kepada para sahabatnya.[13] Imam Al-Zamakhsary dan Abu Hasan sepakat, bahwa perintah ini khitabnya kepada Nabi Muhammad Saw., dan hal itu berarti, “Selamanya, engkau Muhammad, beramal di atas ilmu dan perintahkanlah ummatmu beramal setelah berilmu”.[14]

Maka nampaklah pada kita generasi terbaik yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal. Seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarah, ia Panglima Penakluk Syam, Damaskus, dan Rum.[15] Ia adalah orang yang penuh amanah, bahkan “Âmin Hadza Al-Ummah”, kata Rasulullah.[16] Ia pun orang yang dipercaya untuk mengajarkan Sunnah serta Islam kepada orang-orang Yaman, “Wahai Rasulullah, utuslah kepada kami seseorang untuk mengajarkan Sunnah dan Islam!” Maka Rasulullah memegang tangan Abu Ubaidah seraya berkata, “Inilah orang yang dipercaya ummat ini (untuk melakukannya).[17] Sedangkan Abu Thalhah adalah sahabat Nabi yang dimaksud dalam Surat Al-Ahzab, 33:23, tentang “Orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah”.[18] Menurut Riwayat Imam Thabrani, Qubaidhah –semoga Allah meridhai mereka, pernah berkata bahwa dia tidak pernah melihat orang yang pernah menginfakkan harta yang sangat banyak tanpa harus diminta terlebih dahulu, melebihi apa yang pernah dilakukan Thalhah bin ‘Ubaidillah, hingga Rasulullah memberinya gelar ‘Sang Dermawan’.[19]

Begitu pula Zubair bin Al-Awwam, ia seorang konglomerat dermawan, panglima perang, hingga Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya bagi setiap nabi memilihi para pelindung (hawariy), dan pelindungku adalah Jubair bin Al-Awwam”[20] Tak kalah pentingnya Sahabat Abdurrahman bin ‘Auf, adalah sahabat Rasulullah yang mempraktikan jiwa kewirausahaannya ketika pertama kali datang ke Yatsrib. Ia menolak pemberian cuma-cuma dari Sa’ad bin Rabi dan meminta untuk ditunjukkan di mana orang-orang Madinah melakukan perdagang. Ia pernah mengimami shalat Shubuh Rasulullah di waktu safar –sebuah keutamaan yang luar biasa[21], ia termasuk salah seorang prajurit Badar, dan salah seorang sahabat yang dianggap fakih hingga layak menjadi anggota Ahl Al-Hilli wa Al-‘Aqdi. Ia termasuk sahabat yang menguasai ilmu hukum, ekonomi, dan politik.[22]

Epilog (2)

Rasulullah dan para sahabatnya sebagai generasi pertama yang disinyalir oleh haditsnya sebagai Khair al-Qorni (generasi terbaik) patut menjadi perhatian. Tradisi keilmuan, sejatinya adalah perpaduan harmonis antara iman, ilmu, dan amal. Sehingga tak terhingga jumlah para sahabat yang menampilkan perpaduan harmonis ini seagai tradisi keilmuan di atas Manhaj Al-Nubuwwah, sebuah Manhaj yang hanya ada dalam Islam. Manhaj ini –selain sebagai model utama, ia adalah amanah yang harus tetap digelorakan disetiap zaman agar terhindar dari ketertinggalan dan keterbelakangan. Wallahu ‘alam


[1] Lihat, Muhammad Hamidullah, The Prophet: Establishing a State and His Succession, Pakistan Hijra Council, 1988.

[2] HR. Muttafaq ‘alahi

[3] Jim Al-Khalili, Prof., The Power of Doubt, Episode III, (Film Dokumenter BBC|Four).

[4] Imam Malik dalam Abdurrahman Al-Suhaim, Haul al-hadîts al-maudhû’: ta’rifuhu, nasy-atuhu, wa al-asbab allati adat ila dzhuhûriha, Maktab Al-Misykat Al-‘Ilmiyyah. Hal: 5.

[5] HR. Abu Daud, Hakim, dan Ibnu Abi Syaibah

[6] QS. Al-Hijr, 15:9

[7] Abdullah bin Al-Mubarok dalam Abdurrahman Al-Suhaim, Haul al-hadîts al-maudhû’: ta’rifuhu, nasy-atuhu, wa al-asbab allati adat ila dzhuhûriha, Maktab Al-Misykat Al-‘Ilmiyyah. Hal: 5.

[8] HR. Thabrani dalam Musnad Al-Syamiyyin

[9] Muhammad bin Makram  bin Mandzhur, Lisan Al’Arab, Dar Shadir, Bairut, Juz 11, hal. 430.

[10] HR. Muslim, bab adanya Nabi adalah amanah bagi sahabatnya, dan para sahabatnya menjadi amanah bagi ummat, Juz. 12, hal. 352, Hadits Nomor. 4596 (Maktab Al-Syamilah Versi.3).

[11] Imam Al-Nawawi, Syarh Al-Nawawi li Al-Muslim, bayan hadits Nomor. 4596. Hal. 307.

[12] HR. Tirmidzi, bab keutamaan Abdullah bin Salam, Juz 12, hal. 283.

[13] Lihat Ibnu ‘Âsyur, Al-Tahrir wa Al-Tanwir, Juz 13, Hal. 416 (Maktab Al-Syamilah)

[14] Lihat Imam Al-Zamakhsyari, Al-Kassyâf, Tafsir Surah Muhammad, Juz. 6, Hal. 328(Maktab Al-Syamilah Versi 3) dan Juga Imam Al-Khozin, Lubab Al-Ta’wil Fi Ma’ani Al-Tanzil, Tafsir Surah Muhammad, Juz. 5, Hal. 424 (Maktab Al-Syamilah Versi 3).

[15] Sa’id Hawwa, Al-Asas Fi Al-Sunnah wa Fiqhiha, Dar Al-salam, 1995, jilid 4, Hal. 1731.

[16] Muttafaq ‘Alaihi

[17] Shahih Muslim, bab keutamaan Abu Ubaidah, Hadits Nomor. 4443 Juz 12, Hal. 155. (Maktab Al-Syamilah Versi. 3).

[18] HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah

[19] Sa’id Hawwa, Ibid. hal. 1738

[20] Muttafaq ‘Alaihi

[21] S’aid Hawwa, Ibid., 1750

[22] S’aid Hawwa, Ibid., 1751

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s