MENGGAGAS PARADIGMA BARU PEMUDA PERSIS

MENGGAGAS PARADIGMA BARU PEMUDA PERSIS

Oleh: Tiar Anwar Bachtiar

Pendahuluan

Belakangan ini, ada semacam kekesalan melihat kelambanan Persis dalam menyikapi berbagai perkembangan kontemporer. Padahal, dulu Persis sempat menjadi acuan dalam trend pemikiran keagamaan di Indonesia. Sekalipun secara gerakan masa kurang begitu diperhatikan, tapi karena kualitas intelektual yang memadai, suara Persis relatif diperhitungkan. Tulisan-tulisan ulama-ulama Persis dalam majalah Al-Muslimun dan Risalah sempat menjadi rujukan umat di seluruh penjuru tanah air. Apalagi ketika pada tahun 80-an pemerintah Suharto menerapkan kebijakan yang sangat represif terhadap pers dan pers-pers Islam, keberanian Al-Muslimun dan Risalah membuat kedua majalah ini menjadi salah satu pers yang sanggup bertahan dan menjadi media para tokoh Islam di seluruh Indonesia. Inilah salah satu hal penting yang membuat Persatuan Islam diperhitungkan, sekalipun kecara kuantitas sangat sedikit dibandingkan dengan ormas Islam sejenis.

Rupanya, setelah kran kebebasan pers di buka dan banyak ulama Persis yang concern pada pemikiran dan pengembangan media tidak lagi aktif atau meninggal dunia seperti Tajudin A. Musa di Bangil terasa sekali ada penurunan perhatian yang signifikan terhadap pers Persatuan Islam. Ini juga menunjukan bahwa ada perhatian yang menurun terhadap produk pemikiran Persatuan Islam. Realita ini bisa berarti dua hal: pertama, manajemen pers Persis itu tidak mampu lagi bersaing menghadapi pers-pers baru yang muncul dengan manajemen yang baik; kedua, pemikiran-pemikiran ulama dan intelektual Persis tidak lagi setajam pemikiran di masa lalu sehingga masyarakat seolah tidak mendapatkan sesuatu yang baru dari Persis.

Kita tidak akan membincangkan kemungkinan pertama. Itu masalah lain yang harus diselesaikan pada tingkat pengurus pusat Persatuan Islam bidang Publikasi. Dalam tulisan ini, kita akan mendiskusikan kemungkinan kedua, yaitu terjadinya stagnasi pemikiran di kalangan ulama dan intelektual Persis hingga tidak dapat lagi merespon perkembangan zaman yang semakin kompleks. Indikasinya memang tidak hanya terlihat pada penurunan minat masyarakat terhadap media made in Persis. Banyak indikasi lain. Misalnya, penerbitan buku-buku pemikiran keislaman dan forum-forum dialog kegamaan. Hampir jarang lahir buku-buku keislaman ditulis oleh ulama dan cendekiawan Persis. Dalam forum-forum diskusi keislaman serius (di luar pengajian-pengajian di jamaah), semakin jarang terdengar pendapat ulama dan cendekiawan Persis.

Situasi seperti ini semestinya segera direspon oleh kaum muda Persatuan Islam. Secara institusional yang paling bertanggung jawab atas masalah ini adalah Pemuda Persatuan Islam. Masalahnya, masa depan Persis sangat bergantung pada generasi mudanya. Persoalannya, kenapa yang mesti direspon masalah pemikiran? Bukannya masih banyak lahan lain yang juga harus dioptimalkan? Inilah yang akan kita diskusikan. Dalam analisis penulis, masalah inilah yang akan menjadi titik masuk paling strategis bagi pengembangan Pemuda Persis dan Persis di masa yang akan datang.

Dari diskusi ini semoga akan lahir sebuah rekomendasi bagi Pemuda Persatuan Islam yang kurang lebih setahun ke depan akan mengadakan Muktamar. Rekomendasi ini sangat penting mengingat kian kemari, Pemuda Persis yang akan menjadi soko guru Persis sepuluh sampai duapuluh tahun ke depan kian ‘tidak menarik’. Banyak kader-kader muda potensial yang dimiliki Persis lari entah kemana. Padahal, di tempat lain mereka menjadi sangat penting dan menentukan. Seandainya Pemuda Persis sanggup mewadahi mereka dengan perencanaan organisasional yang baik, hampir bisa dipastikan Persis akan lebih berkembang di masa yang akan datang.

Stagnasi Pemikiran

Pertanyaan pertama yang mungkin akan diajukan oleh para pembaca adalah: “kenapa soal pemikiran?” dan “betulkah terjadi stagnasi?”. Pertanyaan ini akan mudah kita jawab bila kita menelusuri jejak sejarah pergerakan Persis beberapa puluh tahun ke belakang.

Pertengahan abad ke-20 lalu, nama Persatuan Islam cukup diperhitungkan dalam perkembangan dunia pemikiran Islam di Nusantara. Nama A. Hassan cukup dikenal luas, tidak hanya di kalangan awam, tapi juga di kalangan intelektual. Tak kurang dari Soekarno, selama dalam masa tahanan di Endeh tahun 1930-an gemar berkirim surat dengan A. Hassan, berdialog tentang masalah-masalah keagamaan (Lihat, Surat-surat dari Endeh). Tulisan-tulisan A. Hassan dalam majalah Pembela Islam dan terbitan lainnya diapresiasi oleh banyak ulama, baik tradisionalis ataupun modernis. Tentu bukan hanya karena gayanya yang keras, terus terang, dan terkadang menjatuhkan, tapi justru karena bobot intelektualisme yang patut diperhitungkan. Puluhan buku yang ditulis A. Hassan menunjukkan adanya konsistensi pemikiran dalam menyikapi berbagai problem kehidupan dan kemasyarakatan. Konsistensi itu dapat dilihat cukup mudah dalam kumpulan tanya jawabnya dalam berbagai majalah yang diberi titel Soal-Jawab sebanyak empat jilid.

Itu satu hal. Hal lain yang cukup mengesankan adalah bahwa pada awalnya Persis sebenarnya tidak lebih dari sebuah klub diskusi keagamaan. Klub diskusi ini begitu hidup dan menarik. Kaum intelektual dari berbagai organisasi dan kalangan tertarik untuuk ikut bergabung meramaikan klub diskusi itu. Sebut saja Hasbi Ash-Shiddiqy, Munawwar Chalil, dan Hamka dari Muhammadiyah, Muhammad Natsir dari JIB (Jong Islamitien Bond), Sabirin dari SI, dan beberapa tokoh lain. Dari klub inilah lahir pemikiran-pemikiran keagamaan yang pada masa itu relatif baru di tengah masyarakat. Koran dan majalah menjadi alternatif penyebaran ide-ide baru itu ke seantero Nusantara.

Dari kedua hal di atas, sebetulnya ada hal menarik mengapa ide-ide Persis kemudian mendapat perhatian luas dari masyarakat, bahkan dari seorang Presiden seperti Sukarno. Pertama, untuk masyarakat Indonesia waktu itu ide-ide yang diusung oleh Persis adalah ide-ide baru. Kedua, ide-ide yang diusung sesuai dengan apa yang tengah menjadi keresahan di tengah masyarakat (muqtadhâ al-hâl).

Mengenai kebaruan ide dapat dilacak dari akar pemikiran yang diperbincangkan dalam diskusi-diskusi Persis dan publikasi-publikasinya. Hampir dapat dipastikan bahwa yang banyak berpengaruh dalam pemikiran-pemikran Persis adalah ide-ide yang diusung oleh Muhammad Abduh, Jamaludin Al-Afghani, dan kemudian Rasyid Ridha dalam Majalah Al-Manâr. Saat itu, mengintroduksi pemikiran mereka berarti mengintroduksi sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, mudah saja pemikiran-pemikiran Persis mendapatkan perhatian luas di kalangan masyarakat.

Sementara mengenai kesesuaian dengan keresahan masyarakat disimbolkan dengan misi dakwah Persis (dan Muhammadiyah) yang ingin memberantas Takhayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC). Ketiga fenomena itu tersebar akut di tengah masyarakat yang sangat berpegang pada tradisi dalam pengamalan agama, bukan pada keilmuan agama yang rasional. Lembaga kekiaian dianggap sesuatu yang sakral sehingga tradisi bertanya dan berdiskusi dengan kalangan kiai dan pesantran hampir-hampir ditabukan. Sangat wajar bila kemudian yang lebih berkembang adalah adat dan tradisi yang memfasilitasi munculnya TBC. Bagi masyarakat rasional yang mulai mendapat pengaruh pendidikan Barat, kenyataan sikap keagamaan masyarakat seperti itu sungguh sangat menggelisahkan dan hampir-hampir tidak dapat ditolelir. Ketika muncul pemahaman keagamaan rasional yang diusung Persis dan turut disebarluaskan oleh Muhammadiyah, masyarakat rasional segera merespon dengan gembira.

Lebih dari itu, dapat dilihat dari publikasi-publikasi Persis bahwa masalah yang dibahas tidak terbatas tentang masalah peribadatan (ritual), tetapi juga masalah-masalah aktual seperti tentang politik kenegaraan yang tengah menjadi tema sentral perbincangan masyarakat di sebuah negara baru, Indonesia, masalah ekonomi, masalah pergaulan sosial dan sebagainya. Intinya, pemikiran-pemikiran Persis waktu itu sesuai dengan muqtadhâ al-hâl (tuntutan zamannya).

Kian kemari, kelihatan masalah-masalah yang diangkat oleh Persis hanya mengulang-ulang apa yang pernah disampaikan oleh para pendahulu Persis di masa lalu, padahal zaman telah berubah begitu jauh. Kebaruan pemikiran sudah tidak ada lagi, kebutuhan masyarakat tidak terjawab secara tepat. Masih mending kalau yang diulang-ulang secara substantif masih relevan. Pada kenyataannya lebih banyak yang useless untuk sebagian besar masyarakat karena problem yang dihadapi sudah berbeda. Inilah awal mula terjadinya stagnasi pemikiran. Disangkanya, fatwa-fatwa dan pemikiran-pemikiran yang pernah disampaikan pendahulu Persis dahulu dapat menyelesaikan permasalah umat hari ini. Ternyata tidak!

Usulan-Usulan Menuju Perubahan

Lantas apa yang harus dilakukan hari ini oleh generasi muda Persis? Inilah pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab dan didiskusikan daripada hanya meratapi nasib atau terlena dengan masa lalu. Dan jawaban atas pertanyaan ini menuntut kerja-kerja serius, tidak cukup hanya diperbincangkan. Berbincang dan berdiskusi tanpa terjun ke lapangan untuk memulai gerakan perubahan sama sekali tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Tapi ingat, terjun ke lapangan tanpa kajian dan diskusi juga akan menuai kesia-siaan! Hasil yang akan dicapai tidak akan maksimal.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya sama sekali tidak berani mengklaim memiliki jawaban yang final dan tuntas. Jawaban untuk pertanyaan itu harus disumbangkan oleh seluruh generasi muda Persis sesuai dengan bekal pengetahuan dan kemampuan masing-masing. Hanya saja, menurut hemat saya sejauh pengetahuan yang dimiliki, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh generasi muda Persis yang diwakili secara institusional oleh Pemuda Persis.

Pertama, generasi muda Persis (baca: Pemuda Persis) harus terlebih dahulu mengkaji situasi dan memprediksi tantangan dan masalah apa yang tengah dihadapi umat ke depan. Tahap ini membutuhkan ketelitian, keseriusan, dan perangkat metodologi untuk menemukan realitas yang se-objektif-objektif-nya. Jangan ragu untuk meminta pendapat para analis sosial. Atau lakukan pembacaan ini oleh kader-kader muda Persis. Saya percaya banyak analis sosial handal yang dimiliki oleh Persis. Mereka terdidik dalam tradisi penelitian sosial di perguruan-perguruan tinggi terkemuka dari dalam dan luar negeri. Pembacaan jangan dilakukan secara asal-asalan, lebih banyak berisi klaim daripada fakta-fakta.

Kedua, siapkan format perkaderan yang memungkinkan kader di masa kini dan masa mendatang dapat menjawab berbagai problem umat. Perkaderan harus diasaskan pada idealisme-ideologis, namun perangkat disiapkan agar kader dapat menjawab masalah-masalah umat berbekal idelisme tersebut. Hasil-hasil pembacaan pada poin pertama di atas harus dijadikan rujukan untuk merancang pola perkaderan yang diharapkan. Prinsip-prinsip ashâlah dan tajdîd perlu diperhatikan dalam masalah ini. Ada hal-hal yang secara substantif tidak dapat diubah-ubah sebagai idelisme-ideologis dan ada hal-hal yang berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat. Unsur-unsur yang berubah ini secara berkala harus terus dievaluasi untuk diubah-suaikan dengan zaman.

Ketiga, memperhitungkan kekuatan internal generasi muda Persis (baca: Pemuda Persis) sebelum merumuskan pola gerakan yang tepat. Sekalipun ada idealisme yang diusung, namun gerakan tetap harus memperhatikan analisis SWOT (Strength-Weakness; Oportunity-Threath). Seiring dengan rencana dan aksi perkaderan, pola gerakan aktual-kekinian harus mempertimbangkan hasil analisis SWOT kekinian agar gerakan efektif dan terarah. Banyak gerakan, mungkin juga kita, yang memaksakan membuat pola gerakan yang tidak mungkin dilakukan saat ini. Keinginan dan cita-citanya boleh besar, namun kekuatan dan tenaga untuk itu tidak dipertimbangkan. Mestinya cita-cita dibiarkan bergantung untuk dikejar oleh gerakan perkaderan, sementara apa yang dilakukan sekarang harus diasaskan pada peta internal dan eksternal yang tengah dihadapi sekarang. Barangkali inilah yang disebut gerakan “visioner”.

Keempat, bila merujuk pada warisan sejarah Persis, rasanya masih sangat tepat bila hari ini generasi muda Persis masih harus mengdepankan gerakan intelektual. Oleh sebab itu, perkaderan dan pola gerakan yang dirumuskan harus menyertakan pertimbangan bahwa Persis harus kembali menjadi garda depan gerakan intelektual di Indonesia. Tentu ini bukan berarti harus mengenyampingkan kemungkinan bergerak para aras yang saya sebut “aras amal usaha” seperti ikut mengentaskan kemiskinan dan sebagainya. Dalam skala kecil, aras amal usaha dapat saja dilakukan. Hanya saja, kekuatan generasi muda Persis secara umum ke arah sana kelihatannya belum memungkinkan. Akan lebih bijak, bila yang dilakukan generasi muda Persis adalah menjadi garda depan oemikira persoalan-persoalan aktual umat yang nantinya dapat dijadikan bahan untuk merumuskan suatu gerakan pada “aras amal usaha”.

Saya kira, keempat hal di atas, bila dalam jangka lima tahun ke depan, dilakukan secara konsisten akan terjadi perubahan signifikan dalam tubuh generasi muda Persis, atau mungkin di dalam tubuh Persis sendiri. Mada depan Persis tidak akan sesuram yang kita rasakan hari ini. Insya Allah bila kita memiliki kesungguhan Allah akan menyertai kita. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s