INTIFADHAH, PENGALAMAN PERJUANGAN DENGAN DARAH DAN SENJATA

REPUBLIKA.CO.ID,GAZA–Hari Selasa (28/9),  usia Intifadhah al Aqsha genap 10 tahun. Intifadhah ini meletus karena dipicu oleh penodaan yang dilakukan penjahat Zionis Ariel Sharon terhadap area suci masjid al Aqsha bersama puluhan serdaru Zionis.

Aksi itu tidak membuat orang-orang Palestina tinggal diam. Mereka mengobarkan api di bawah kaki kaum Zionis di semua wilayah Palestina. Sharon dan yang menggantikan setelahnya tidak mampu memadamkan api yang berkobar ini meskipun mereka berjanji untuk melakukan itu.

Bersamaan dengan dimulainya intifadhah al Aqsha orang-orang Palestina kembali menghimpun logistik dan persenjataan militer lama yang sudah mereka kenal, yang mereka warisi dari intifadhah pertama. Mereka menggunakan ketapel, pisau, bom molotov dan batu, yang merupakan simbol dari intifadhah pertama.

Beberapa tahun setelah intifadhah berjalan, faksi-faksi perlawanan Palestina terutama Brigade al Qassam, sayap militer gerakan Hamas di Jalur Gaza, berhasil membuat senjata lebih modern. Dimulai dari mortir kemudian berkembang ke roket al Qassam dengan segala jenisnya, al Qassam 1, 2, dan 3.

Pengembangan senjata tidak behenti hanya di sisi. Pengembangan terus ditingkatkan bersamaan dengan bertambahnya nyala kobaran api intifadhah. Brigade al Qassam dan perlawanan Palestina mengembangkan kerjanya untuk membuat roket-roket yang lebih canggih lagi, namun belum bisa menjangkau sebagian kota-kota Palestina yang dirampas oleh entias penjajah Zionis.

Brigade al Qassam berhasil mengembangkan kinerja militernya dan berhasil membuar roket-roket buatan lokal. Seperti roket al Batar dan juga roket-roket Yasin, yang namanya diambil dari tokoh dan pemimpin intifadhah Palestina Syaikh Ahmad Yasin.

Al Qassam terus mengembangkan kemampuannya dan disusul oleh faksi-faksi perlawanan lainnya. Mereka memproduksi bom-bom dan bom ikat pinggang buatan lokal. Tidak berhenti di situ. Mereka juga mengembangkan strategi militer dengan menggali terowongan di bawah tanah untuk menculik para serdadu Zionis dan meledakan pos-pos dan posisi-posisi militer Zionis dari bawah mereka.

Hal ini yang membuat Zionis malarikan diri dari Jalur Gaza dan menghindari api neraka yang diciptakan perlawanan di Jalur Gaza, yaitu setelah 5 tahun usia intifadhah al Aqsha. Sampai hari ini, para kader gerakan Hamas dan rakyat Palestina masih ingat apa yang dikatakan Dr. Abdul Aziz Tantisi sebelum gugur syahid: berikan kami waktu 5 tahun dan kami akan membebaskan Jalur Gaza dengan izin Allah. Dan ini benar-benar terjadi.

Sementara itu di Tepi Barat yang diduduki penjajah Zionis, juga memiliki kekhasannya tersendiri dalam intifadhah al Aqsha. Para pemuda dan pemudinya mempersembahkan nyawa dan jasad suci mereka untuk memenangkan perlawanan. Mereka ibarat bom-bom waktu yang siap meledak dengan izin Allah untuk membunuh apa yang dibunuh penjajah Zionis yang menduduki negeri dan mendzalimi rakyanya.

Mungkin ada yang bertanya mengatakan Brigade al Qassam dan perlawanan Palestina lainnya di Tepi Barat tidak memproduksi rokel, bom dan yang lainnya. Jawabannya jelas, mulai dari anak kecil hingga orang tua tahu, bahwa otorias Abbas di Tepi Barat terus memburu para mujahid dan menjebloskan mereka ke dalam penjara. Tidak hanya itu, bahkan otoritas Abbas melakukan kejahatan dengan membunuh sebagian dari mereka.

Intifadhah dan politik
Adapun pada level politik, para pengamat berpendapat bahwa rakyat Palestina telah banyak mendapatkan manfaat dari pengalaman intifadhah al Aqsha di semua tingkatan. Mereka sepakat bahwa pengalaman terlibat dalam spekulasi perundingan adalah sia-sia dan tidak akan memberikan manfaat apa-apa, tidak akan membuat penjajah Zionis mundur dari membuat rencana yahudisasi seluruh tanah Palestina dan menguasainya, tidak akan membuatnya mundur dari semua itu.

Sebaliknya perunding Palestina sampai saat ini masih mengemis-ngemis perundingan dan bersikeras untuk melakukan perundingan, meskipun kedapa mata kepalanya melihat kejahatan yang dilakukan penjajah Zionis belum berhenti sama sekali sejak 10 tahun bahkan lebih, di samping aksi yahudisasi, pembangunan permukiman dan perampasan tanah terus dilakukan Zionis secara intensif dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara itu pihak lain, yang mewakili perlawanan, yang dipimpin oleh gerakan Hamas, masih tetap meneriakkan suara bahwa tidak ada solusi dengan penjajah kecuali melalui laras senjata dan perlawanan. Mereka menilai bahwa perundingan yang terjadi dengan penjajah Zionis tidak lain hanya membuang-buang dan mengulur waktu di tengah berlanjutnya pembangunan permukiman Zionis dan kejahatan perang yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

Para pengamat berpendapat bahwa rakyat Palestina dengan 10 tahun pengalaman intifadhah al Aqsha, telah semakin sadar dari sebelumnya. Mereka tahu bagaimana harus membela hak-haknya. Para pengamat mencatat perlawanan memiliki perkembangan dalam hal kinerja dan teknik dalam beberapa tahun terakhir ketika mereka mengatahui di mana dan bagaimana menyerang (musuh).

Pertempuran jenis baru

Dalam perkembanga yang luar biasa rakyat Palestina menjalankan pertempuran baru jenis lain yang tidak biasa dilakukan sebelumnya. Di mana bertambahnya kesadaran orang-orang itelek, para pakar hukum dan pembela rakyat Palestina, telah mendorong mereka untuk mengumpulkan dokumen dan bukti-bukti yang menunjukkan keterlibatan penjajah Zionis dalam melakukan kejahatan perang terhadap rakyat Palestina dan mengajukannya ke pengadilan internasional.

Meskipun orang-orang Palestina belum percaya dengan pengadilan internasional ini dan sejauh mana keberpihakan sebagiannya kepada penjajah Zionis, namun mereka masih tetap punya harapan bahwa pada suatu hari nanti bisa melihat para pemimpin penjajah Zionis mendekam di balik jeruji besi untuk mendapatkan balasan atas kejahatan yang mereka perbuat terhadap rakyat yang terisolasi sepanjang puluhan tahun dan waktu yang lama.

Dan Intifadhah al Aqsha adalah pengalaman perjuangan Palestina dengan darah dan senjata, yang masih layak untuk dikaji dan juga layak untuk dicoba oleh bangsa-bangsa dan negara-negara Arab, agar mereka bisa mengambil pelajaran dari rakyat Palestina yang terus melanjutkan perjuangan dan perlawanannya tanpa lelah dan jenuh sampai serdadu terakhir Zionis hengkang dari tanah Palestina.

Red: Krisman Purwoko
Sumber: info palestina

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/09/29/137292-intifadhah-pengalaman-perjuangan-dengan-darah-dan-senjata

2 thoughts on “INTIFADHAH, PENGALAMAN PERJUANGAN DENGAN DARAH DAN SENJATA

  1. Pingback: HEADLINE NEWS « PEMUDA PERSIS GARUT

  2. Pingback: Page not found « PEMUDA PERSIS GARUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s