INFEKSI PENYAKIT SEKSUAL RATUSAN TAHANAN GUATEMALA, TANGGUNG JAWAB AMERIKA

Presiden Guatemala, Álvaro Colom Caballeros

Guatemala, (5/10). Barack Obama secara pribadi meminta maaf “untuk semua orang yang terkena dampak” dalam penelitian pimpinan AS yang sengaja menginfeksi ratusan tahanan, tentara dan pasien mental di Guatemala dengan penyakit menular seksual pada tahun 40-an. (Aljazeera, 4/10) Hal ini akhirnya diakui langsung oleh Amerika sebagai kesalahan fatalnya.

Presiden Guatemala Alvaro Colom menyebut penelitian yang didanai Amerika tahun 1940-an yang menginfeksi ratusan warga Guatemala dengan penyakit yang menular melalui hubungan kelamin adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Ia mengatakan demikian hari Jumat, sehari setelah Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton meminta maaf kepadanya atas apa yang disebut Clinton eksperimen yang tercela dan tidak etis. (voanews 2/10).

“Apa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan pemerintah berhak untuk mengajukan keluhan hukum formal di atasnya,” kata Colom kepada Al-Jazeera.

Di tempat lain, Menlu Amerika, Hillary Clinton mengutarakan kemarahan terhadap apa yang pernah dilakukan negaranya pada manusia, “Meskipun peristiwa ini terjadi lebih dari 64 tahun yang lalu, kita marah bahwa penelitian tercela seperti itu bisa terjadi dengan kedok kesehatan masyarakat,” katanya dalam sebuah pernyataan bersama dengan Kathleen Sebeliu, Sekretaris Pelayanan Kesehatan Manusia. (Aljazeera 4/10).

Awalnya, penelitian ini diarahkan untuk mengetahui efektifitas komposisi kimia pada tubuh manusia. Bahkan Direktur Lembaga Penelitian Kesehatan Nasional Amerika Francis Collins mengatakan sasaran penelitian itu adalah untuk mengetes kemanjuran penisillin, yang pada waktu itu obat yang relatif baru untuk penyakit yang menular melalui hubungan kelamin. Namun penelitian ini berujung pada munculnya kelainan seksual ratusan tahanan di Guatemala.

Cara Penginfeksian

Awalnya, para peneliti menginfeksi pekerja seks komersial wanita dengan gonore atau sifilis, dan kemudian mereka dibiarkan untuk melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan tentara atau narapidana penjara.

Ketika beberapa orang ini menjadi terinfeksi, pendekatan penelitian merubah objeknya pada tentara, narapidana, dan pasien rumah sakit jiwa, sebagaimana ditunjukkan oleh dokumentasi latar belakang penelitian.

Sejauh fakta yang ditemukan, terdapat 1500 objek manusia yang mengalami penderitaan ini. “Studi terus dilakukan sampai 1948 dan catatan menunjukkan bahwa, meskipun terdapat harapan, tidak semua orang akan sembuh,” kata Reverby dalam sebuah pernyataan. (quy dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s