ITALIA IKUT-IKUTAN LARANG CADAR

foto: republika.co.id

(8/10). Italia tampaknya ingin mengikuti langkah Prancis yang secara resmi telah mensahkan UU larangan pemakaian cadar, burka, atau naqib di depan umum. Sekelompok anggota parlemen yang berasal dari partai berkuasa, Liga Utara, pimpinan Perdana Menteri Berlusconi, mengusulkan RUU yang melarang pemakaian cadar di Italia. RUU dikemukakan di tengah kekhawatiran munculnya terorisme di Italia. Dalam aturan yang lama itu, sebenarnya sudah dimuat sanksi denda yang berat dan penjara sampai dua tahun bagi warga Italia yang menutup wajahnya sehingga menyulitkan identifikasi oleh polisi. Namun aturan itu dikecualikan bagi pemakaian cadar bagi Muslimah atas dasar kebebasan beragama. Namun, Liga Utara ingin menghapus pengecualiaan itu sehingga aturan tersebut berlaku juga bagi populasi Muslim di Italia yang kini jumlahnya diperkirakan telah mencapai 1,2 juta jiwa. Bila usulan amandemen UU ini dikabulkan maka Italia akan menjadi negara kedua di Eropa yang melarang pemakaian cadar. (republika.co.id)

Bahkan dalam usulannya, NLP (North League Party) mencantumkan hukuman penjara setahun dan denda antara 150-300 Euro bagi yang memakai cadar, serta denda 30 ribu Euro bagi siapa pun yang memaksa wanita mengenakan cadar.

Lebih gilanya, situs berita Ahlul Bayt News Agency (20/9) mengabarkan, anggota parlemen dari NLP, Carolina Lussana, mengatakan bahwa RUU Larangan Cadar itu merupakan “langkah maju” karena cadar tidak hanya menciptakan masalah ketertiban umum, tetapi juga merupakan “pelanggaran terhadap martabat perempuan”.

Kritikan atas Larangan Cadar

Suara kritikan dari berbagai lembaga nyaris tidak terdengar. Hanya ada beberapa yang berteriak dan mengatakan bahwa larangan ini tidak rasional dan melanggar HAM. Lembaga pengawas HAM mengkritik larangan ini, khususnya yang dilakukan oleh pemerintah Belgia pada bulan April lalu.

“Mereka melanggar hak-hak mereka yang memilih untuk mengenakan jilbab,” katanya (muslimdaily.net). Dua puluh dari 589 kota di Belgia telah melarang pemakaian jilbab penuh atau cadar di publik. Pelarangan secara lokal serupa juga ada di beberapa daerah di Italia dan Belanda.

Di Prancis sendiri, kritikan tidak muncul dari manapun. Ini menandakan bahwa kebebasan beragama –seperti yang digembar-gemborkan sekedar ilusi bagi penduduk non Islam di negeri yang mayoritas Islam. Bulan lalu saja, Senat Prancis setuju untuk melarang warganya mengenakan cadar, kemarin. Larangan ini berlaku untuk seluruh atribut yang menutup wajah, termasuk burqa, pakaian muslimah yang menutup seluruh bagian tubuh, kecuali mata.

Keputusan ini diambil dengan suara 246 banding 1. Sementara 100 anggota yang abstain kebanyakan merupakan politisi sayap kiri. Putusan ini akan berlaku beberapa bulan mendatang. Pelanggar dikenai denda setara Rp 1,7 juta, plus pendidikan kewarganegaraan. Orang yang memaksa orang lain mengenakan cadar dihukum lebih berat, sekitar Rp 170 juta plus satu tahun penjara.

Dengan penduduk Muslim 3,5 juta orang, Prancis adalah negara pertama di Eropa yang melarang penggunaan pakaian muslimah itu. Larangan ini sudah diprediksi bakal merembet ke Jerman, Inggris dan Spanyol, yang mayoritas warganya juga mendukung larangan cadar lewat survei Pew Global Attitudes Project. Survei yang sama menyebutkan dua dari tiga warga Amerika Serikat menentang larangan cadar. (tempointeraktif.com)

 

 

Mentri Persamaan Hak Italia, Carfagna, Seorang Mantan Model

 

Di Italia, Mara Carfagna, menteri—mantan model—itu mengatakan bahwa ia akan berbicara dengan “Menteri Dalam Negeri dan Pendidikan untuk melarang pemakaian burqa dan cadar di semua sekolah; mengingat sekolah sebagai pusat utama bagi integrasi dan liberalisasi, ini bisa menjadi indikator penting.”

Carfaqna melanjutkan bahwa “kita harus menjelaskan kepada para wanita yang datang ke negara kita bahwa kita memberi mereka persamaan hak dan martabat dengan laki-laki, dan di sini tidak ada ruang untuk budaya, tradisi, atau agama yang dirancang untuk membatasi wanita dalam keadaan subordinasi (ketergantungan) dan inferioritas (rasa rehdah diri).”

Ia menambahkan: “Kami siap menyambut mereka yang datang ke Italia untuk integrasi dan bersedia mematuhi peraturan, undang-undang, dan konstitusi kami. Akan tetapi tidak ada ruang untuk budaya yang mengingkari hak-hak perempuan, dan ingin mengembalikan mereka tingkat sangat rendah dalam kehidupan.” What happen aya naon deui?

(Quy, dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s