SUMPAH PEMUDANYA PARA SAHABAT

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya orang-orang yang bersumpah setia  kepadamu, pada hakikatnya mereka sedang bersumpah setia  kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janji, niscaya akibatnya akan menimpa dirinya sendiri. Dan barang siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar

(QS. Al-Fath, 48:10)

 

Menurut Ibnu Asyur Al-Tunisi dalam tafsirnya Al-Tahrir wa Al-Tanwir, penggunaan bentuk mudhore (yang berarti akan dan sedang) dalam lafadz يُبَايِعُونَ         menandakan bahwa Allah SWT berkehendak agar seluruh umat manusia selalu mengingat persitiwa ini. Dan penggunaan lafadz فَإِنَّمَا bermakna membatasi fi’il (kata kerja) kepada maf’ûl-nya (objeknya), dengan kata lain jangan kalian bersumpah selain kepada Allah sebab tujuan sumpah itu sendiri adalah untuk mendatangkan pertolongan untuk membela agama Allah. (Asyur, 512).

Ayat di atas turun berkenaan hari Hudaibiyyah. Dalam kesempatan itu, para sahabat bersumpah setia. Jumlah sahabat yang bersumpah setia dalam kesempatan ini berjumlah 1400 orang berdasarkan mayoritas riwayat. Sumpah setia ini dinamai Bai’at Ridhwân dan penyebabnya adalah gara-gara orang Kafir Quraisy menahan laju perjalanan rombongan yang hendak melakukan Haji Ifadhah yang dipimpin Ustman bin Affan. Pada waktu ini, bangsa Arab benar benar bersiaga terhadap kekuatan militer Islam yang sedang berkembang. Dalam kapasitasnya sebagai kepala negara Madinah Al-Munawwaroh, Rasulullah menandatangani Shulh Al-Hudaibiyyah dengan negara Kafir Al-Harb Quraisy.

Sumpah setia ini melampau batas-batas primordialisme, nasionalisme, serta segudang isme lainnya. Sumpah yang keluar dari kebiasaan sumpah orang-orang Arab waktu itu (out of the box) bukan saja menawarkan sumpah yang melampaui batas-batas wilayah, namun mampu menembus waktu dan dimensi.

Jika sumpah ini dilanggar, maka akibat pelanggarannya sama sekali tidak akan berpengaruh pada Kemahamuliaan Allah, sebaliknya Allah menegaskan, “niscaya akibatnya akan menimpa dirinya sendiri.” Sedangkan jika sumpah itu dijalankan dengan istiqomah, maka “maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”

Sumpah ini bukan sumpah lips-shout (teriakan bibir), namun sebuah azam dan tekad kuat, hasil pendidikan beliau pada tahun-tahun sebelumnya dan juga sebagai hasil menjalani berbagai macam peristiwa bersama Nabi.

Di mesjid, mereka diajarkan untuk tetap merasa dekat dengan Allah SWT, disiplin dalam menjalankan ibadah, diikat dalam muakhot (persaudaraan) atas dasar memiliki keimanan yang sama, dipupuk dengan kejujuran dan tanggung jawab serta peka terhadap hak-hak muslim lainnya.

Di luar mesjid, mereka berdakwah dan berjihad. Pertama, dakwah kepada dirinya sendiri, sebab Allah dan Rasul-Nya mewanti-wanti agar ucapan dan perbuatan harus senantiasa sejalan. Kedua, berdakwah kepada istri dan anak-anak, sebab Islam perintahkan untuk selalu menjaga diri dan keluarga dari ancaman neraka (QS. Al-Tahrim, 6). Ketiga, berdakwah kepada masyarakat luas, mengajarkan Islam kepada yang tidak hadir di majelis sebab Rasul mengajarkan, “Agar yang hadir, kembali menyampaikan (ajaran ini) kepada yang tidak hadir” (Al-Hadits).

Mereka berada pada garda terdepan di setiap peperangan, membela Islam dari ancaman serangan militer pihak musuh. Mereka ‘berguru’ pada timbunan hikmah kemenangan di Perang Badar, mereka mentadaburi pada gumpalan ibrah kekalahan di Perang Uhud. Mereka diajarkan kemenangan perang tanpa harus berperang dalam persitiwa Bani Musthaliq, dan diperlihatkan pula sebuah sikap pemimpin yang membumi ‘ala Rasulullah ketika sama-sama merasa lelah, lapar, dan dahaga di tengah penggalian parit (khandaq) pada perang Al-Ahzâb.

Sejatinya, masyarakat sumpah setia tidak bisa dilakukan oleh masyarakat sampah. Sebuah masyarakat yang sekedar kenal terhadap nilai-nilai ilahiyyah yang terkandung dalam deretan bahasa Wahyu. Dan sesisanya, tidak mengenal dan merasa asing di hadapan keagungan nilai-nilai ini.

Masyarakat sumpah setia tidak bisa diwujudkan ketika ribuan sumpah diteriakkan oleh orang-orang berpengaruh dan dikenal sebagai pelanggar janji-janji. Pelanggaran janji-janji ini memberi pelajaran pada masyarakat luas hingga merekapun berteriak, “Aku bersumpah untuk melanggar sumpahku!”.

Masyarakat sumpah setia tidak bisa dihadirkan, tatkala jutaan amanah diabaikan dan jutaan kewajiban ditelantarkan. Sebab kelalaian ini mengajarkan berfikir dan bertindak hanya untuk kepentingan perut pada masyarakatnya, tanpa harus berlelah diri memikirkan hak-hak orang lain.

One thought on “SUMPAH PEMUDANYA PARA SAHABAT

  1. Pingback: HEADLINE NEWS « PEMUDA PERSIS GARUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s