“SURGA DUNIA” ITU DIHANTAM TSUNAMI

 

foto: surgingwaters.com

“Surga Dunia” itu dihantam tsunami. Mentawai, sebuah pulau berlimpah kekayaan alam yang banyak, selain dalam bidang perkebunan, pertanian dan perikanan. Daerah ini memiliki potensi untuk menjadi daerah kawasan wisata. Bahkan salah satu resort yang termasuk favorit wisata mancanegara HTs (aka-Hollow Trees or Lances), terletak di pulau ini. Resort kelas dunia yang terkenal dengan pasir putih dan laut jernih serta ombak bergulung sebagai sorga kalangan pencinta olahraga surving berada di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

 

Salah satu dari tiga resort besar yang sempat ‘dilego’ berdasarkan data dari Dinas Parawisata yaitu, Macaroni Resort, tepat di mana gelombang tsunami menghantam. Tempat peristirahatan ini memiliki luas sekitar 6 hektare dengan sertifikat yang dimiliki Afrizal. Lahan tersebut disewakan ke penanam modal asing, PT Internusa Bahagia selama 30 tahun, terhitung sejak 2004. Bahkan resort ini sempat menjadi sorotan media massa, karena perusahaan ini dikelola seorang berkewarganegaraan Australia, Mark James Loughran. Perusahaan ini memiliki Izin Tetap Usaha Pariwisata yang dikeluarkan Bupati Mentawai tahun 2007 lalu. Di situs http://www.privateislandonline.com, resort ini–yang disebut Pulau Macaroni–dijual seharga US$ 4 juta.

Setiap resort besar itu menawarkan dua macam layanan, the heavenly luxurious (kemewahan surgawi) dan local culture (kekayaan busaya lokal). Seperti HTs Surf Resort, mereka menyediakan beragam fasilitas untuk memuaskan dahaga hawa nafsu para pelancong. Diantaranya, villa, restoran, bar, gift shop, wi-fi, boat,  lokasi mancing, area permainan (dart, tv kabel, kasino, dll), hingga layanan eksotis dan erotis.

foto: mentawai.comSelain kemewahan ini, resort-resort di Mentawai juga menghadirkan penampilan-penampilan kebudayaan lokal. Berupa tarian, upacara adat, dan lain sebagainya.

Pulau gempa

Sejumlah catatan sejarah dan kajian geologis menunjukkan, gugusan Kepulauan Mentawai–termasuk Pulau Pagai–merupakan “pulau gempa”. Lima tahun terakhir, tiga gempa dahsyat mengguncang gugusan kepulauan itu. Gempa juga mengangkat daratan antara 1 dan 1,5 meter dari titik puncak 3 meter. Setidaknya satu potensi prediktif, telah terjadi beberapa hari yang lalu dan telah menaikkan daratan beberapa meter lagi.

Di kawasan Pagai Selatan, fenomena daratan terangkat. Garis pantai maju hingga 500 dipenuhi hamparan karang mati seperti di Pulau Sibarubaru. Warga di beberapa pulau kesulitan melaut atau merapatkan sampan karena karang menyembul ke permukaan, seperti di Desa Bulasat, Pagai Selatan. Tepat seperti diperkirakan para hali, di tengah sejarah dan perkiraan gempa dahsyat berikutnya itulah eksotisme Pagai berada.

Kebudayaan Lokal atau Pembodohan Masyarakat Lokal

Masih banyak generasi muda Pagai yang mengalami fase berhari-hari mendayung sampan dari dusunnya menuju Sikakap untuk keperluan sekolah atau ekonomi. Sejauh ini Sikakap merupakan tujuan utama mobilitas penduduk di pulau-pulau sekitar Pagai. Di sanalah pusat ekonomi dan pendidikan warga. Umumnya, anak-anak pulau merantau ke Sikakap untuk melanjutkan sekolah di atas kelas III. Mereka ”dipaksa menjadi dewasa” karena harus berpisah dengan orangtua pada usia belia. Mereka indekos, menumpang, atau tinggal di asrama untuk menuntut ilmu. Mereka harus memasak sendiri.

Seperti yang dilihat Kompas saat berkunjung ke salah satu SD swasta di Sikakap, sejumlah siswa kelas V memanfaatkan ruangan bekas kepala sekolah sebagai penginapan mereka. Selama bertahun-tahun, anak-anak yang masih belia itu hidup mandiri jauh dari orangtua dan memecahkan persoalan sendiri.

Seperti diungkapkan Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Sikakap Joni Faldi (32) dan Pastor Kepala Gereja Katolik Paroki Sikakap Matheus Tatebburuks, siswa harus jauh dari orangtua dan memasak sendiri bukan akibat dililit kemiskinan. Namun infrastruktur yang terbatas, bahkan parah, menyebabkan jumlah sekolah terbatas. Mereka harus berjuang keras demi ilmu.

Sebagian besar penduduk asli Pagai mengandalkan hasil alam, seperti nilam, kakao, cengkeh, kopra, dan lobster. Awal Juni lalu harga minyak nilam mencapai Rp 800.000 per kilogram, lobster sekitar Rp 200.000 per kg.

Puluhan pengepul nilam dan lobster menampung hasil warga sebelum menjualnya ke Padang. Para pendatang menguasai sektor ekonomi sekaligus menentukan harga. Penduduk lokal nyaris tak berdaya. Sebenarnya, banyak potensi hasil alam Pagai, seperti budidaya ikan hias, ikan laut, dan pariwisata serta peluang bisnis pendukungnya. Namun, peluang itu tidak bisa dimanfaatkan penduduk lokal yang akses ekonominya sangat terbatas.

Sementara setiap tahun ribuan turis asing menikmati kekayaan alam dan budaya Mentawai. Resor-resor mewah di pulau-pulau kecil dikelola warga negara asing dengan mempekerjakan sedikit tenaga lokal. Kejuaraan selancar ombak digelar rutin, menghadirkan atlet profesional kelas dunia. Lagi-lagi penduduk lokal tidak bisa berbuat apa-apa. Turis datang dan pergi seiring dengan musim. Warga lokal seperti menetap di atas ”peti harta karun”.

Di tengah eksotisme yang ditawarkan pragmatisme, ada tayangan-tayangan memilukan, membiarkan masyarakat lokal berkubang dalam keterbelakangan (tidak berpakaian, jauh dari nilai-nilai agama, dsb) dengan alasan ‘pelestarian budaya’? How cruel isn’t it?

(Quy dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s