AMERIKA TELAH MEMENANGKAN DEMOKRASI?

 

Demokrasi: Kebajikan Virtual

Bagi Amerika, Demokrasi sama dengan kebajikan. Oleh sebab itu, ia memaksa negara-negara lainnya untuk ikut berdemokrasi. “Namun kenapa Amerika gagal untuk memenangkan demokrasi di negara-negara muslim”, tanya Robert Greiner. Tulisan feature yang diterbitkan Aljazeera ini mempertanyakan berbagai macam kebijakan ‘pemaksaan’ Demokratisasi ala Amerika di berbagai negara muslim.

 

An Open Giant Prison, Gaza Blokade

Berbagai rahasia di balik perang Irak dan Afganistan, serta terakhir, mengenai memoir Bush tentang poin pemboman toko buku di Syuriah yang diduga sebagai  fasilitas reaktor dan senjata nuklir, adalah bukti nyata bahwa apa yang sedang dikejar Amerika bukan demokratisasi. Namun lebih menggambarkan –apa yang pernah Huntington katakan– sebagai imperialisme baru.

Tuduhan terhadap Irak dengan senjata massalnya serta penyelesaian konflik Israel-Palestina yang tidak berujung , dianggap oleh para ahli sebagai a drunken policy (kebijakan seorang pemabuk) bermata sebelah.

Ungkapan miris yang berbunyi “Gaza, penjara raksasa terbesar” tentu bukan ditulis oleh Husni Mubarak, Hamas Khaled Mishaal, Fatah Mahmoud Abbas. Namun sejatinya adalah ungkapan jujur dari rekanan Amerika, David Cameron, seorang menteri muda dan karismatik dari Inggris.

Amerika sama-sama menggelorakan ungkapan St. Agustin “Oh Lord, make me a champion of democracy” dengan praktik yang sedikit berbeda, yaitu ambivalency serta machiavelis. Hal ini sama-sama dirasakan, bukan oleh negara muslim, namun oleh penduduk dari berbagai negara Eropa.

Seperti kebanyakan kebajikan, kepatuhan terhadap prinsip-prinsip demokratis mungkin akan konsisten hanya jika digabungkan dengan visi yang jelas tentang kepentingan pribadi yang tercerahkan. Untuk Amerika, hubungan antara demokrasi dan kepentingan pribadi cukup jelas terjadi dalam negaranya sendiri.

Bukti-bukti yang sangat jelas ini telah melahirkan anggapan bahwa sebenarnya Amerika telah memenangkan demokrasi virtual, sebuah demokrasi yang tebal dan penuh prinsip secara teoritis, namun gagap dan penuh altruisme secara praktis.

Akhirnya, keadilan demokrasi hanya dapat dirasakan oleh negaranya sendiri dan menjadi sangat virtual utopistik bagi negara-negara muslim. Lihat saja bagaimana perlakuan demokrasi Amerika di Irak dengan segudang kesalahan perang, lihat pula bagaimana hak-hak muslim di Chechnya yang menjauh dari mimpi indah, muslim di Palestina yang terpenjara di belakang blokade Gaza? Jika benar bahwa Demokrasi adalah mengembalikan hak-hak hidup manusia, kapankah negara-negara terjajah itu dapat hidup seperti sedia kala seperti sebelum Virtualisasi Demokrasi itu dihembuskan? (Quy dari berbagai sumber)

 

One thought on “AMERIKA TELAH MEMENANGKAN DEMOKRASI?

  1. Pingback: HEADLINE NEWS « PEMUDA PERSIS GARUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s