MENUNGGU DETIK-DETIK KEHANCURAN ISRAEL

Oleh: Yudi Wahyudin
“Memulai perang selalu mudah. Pengecut sekalipun (baca: israel), dapat memulai perang, namun hanya bisa diakhiri atas seizin Pemenangnya (baca: Allah)” (quy, 2003).
Seolah baru kemarin, Israel diizinkan membuat rumah oleh dunia, saat ini, kita saksikan izin itu berevolusi menjadi imperialisme bangsa diaspora. Pesawat pengebom F16, terbang di atas Gaza, bom-bom dijatuhkan dari udara, dan hilanglah ratusan nyawa –termasuk di dalamnya anak kecìl yang bukan saja tidak berdosa, namun juga generasi para penghafal quran. Tragedi 27 Desember 2007 itu mengingatkan kita peristiwa pembantaian ini, dan kita hanya bisa diam.
229 orang dihabisi, sembilan hari setelah habisnya masa gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
Perjanjian demi perjanjian digelar hakikatnya untuk mengizinkan bangsa ‘bebal’ itu menyusun rencana pembangunan kompleks Yahudi. Bahkan tambahan seribu rumah di bulan Oktober 2010 kemarin jelas illegal dalam kacamata hukum dunia. Namun lagi-lagi, kita hanya terdiam.
Setelah Bush lengser dan saat ini ia sedang sibuk menuliskan pembenaran atas apa yang ia lakukan di timur tengah, dunia sempat mengira, Amerika di tangan keturunan etnik Afro, Obama, akan menorehkan harapan-harapan baru bagi Palestina. Kenyataannya, Amerika melalui Joe Bidens memberikan lampu hijau pada Israel untuk meneruskan penjajahan itu. Dan bisa ditebak, kita hanya terdiam.
Bukan saja penjajahan, penghinaan-penghinaan dilakukan oleh militer Israel, IDF, persis seperti yang dilakukan anteknya, AS, di penjara Abu Ghuraib, Irak. Tahanan wanita dilecehkan tentara pria, dan begitu pula sebaliknya. Oh, kita pun hanya terdiam.
Tak ada bedanya, mau sayap berhaluan ‘moderat’ seperti Ariel Sharon, haluan ‘kanan’ seperti Netanyahu, apalagi haluan ‘kiri’ seperti David Ben-Gurion, mereka sama-sama yakin kebenaran zionisme, kemahakuasaan Dajjal Al-Masih yang akan mereka sambut tepat di atas puing-puing kerajaan Sulaiman, di bawah Aqsha.
Mereka lakukan penjajahan karena yakin kelak mereka akan kalah, seperti Iblis menampilkan totalitasnya untuk menggoda manusia karena yakin mereka akan bersemayam di neraka. Mereka yakin, sebab kitab dan nabi Allah pun diyakini kebenarannya. Mereka dibimbing sejuta nabi, layaknya iblis yang waktu itu berada dalam lingkungan malaikat.
Jika Israel semakin angkuh, ‘hadzaa ma wa’adzanallahu warasuluh, wa shadaqallahu warasuluh’
“Andai ruh masih ada di tubuh, aku akan membelamu hingga titik darah penghabisan”, ungkap Waraqah pada Nabi Muhammad saat ia ungkapkan isyarat nubuwwat. Ungkapan ini tepat agar kita –ummat muslim dunia–jangan hanya terdiam, meski sekedar doa dan asa yang tidak perlu tenaga dan biaya. (Quy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s