Sarjana Banyak Menganggur Ketimbang SD?

 

Sarjana oh Sarjana...

Masih ingatkah iklan sebuah produk dengan ungkapan sinis terhadap sarjana-sarjana kita, “Hei Sarjana tukang ojek!” atau film teranyar Dedy Mizwar dalam ‘Alangkah Lucunya Negeri ini’ yang mengisahkan ‘pengembaraan’ sang sarjana untuk memilih antara mencipta dan bekerja?

Hari ini vivanews.com memberitakan data statistik tentang angka pengangguran di negeri kita Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Agustus 2010. Terdapat sekitar 11,92 persen penganggur berlatar belakang sarjana dan hanya 3,81 persen saja para penganggur yang berlatar belakang SD.

Angka statistik itu tentu saja adalah angka, vivanews.com menafsirkannya sebagai ‘kemunduran’ bangsa kita.

Tentu saja dalam satu aspek, angka-angka itu menunjukkan fakta bahwa sarjana kita banyak yang tidak bekerja. bahkan dikuatkan oleh pernyataan Sekretaris Kementerian PPN/Bappenas Syahrial Loetan yang mengatakan bahwa tingkat pengangguran terdidik lebih besar dikarenakan akibat lapangan kerja yang diciptakan sektor padat tenaga kerja sangat sedikit.

Namun apakah benar bahwa sarjana-sarjana dilahirkan untuk menjadi para pekerja? Bukankah sektor pekerja sudah cukup dengan diselenggarakannya lembaga-lembaga pendidikan setingkat D1, D2, atau D3?

Bekerja disebuah perusahaan atau pabrik seringkali menjadi kebanggaan orang tua kita untuk para anaknya yang sudah lulus Sarjana. Namun sejatinya, seorang sarjana dididik dan dilahirkan bukan untuk bekerja, tepatnya mereka harus mencipta untuk kemajuan bangsanya. Karena toh kurikulum kesarjanaan 70% mengarah pada aspek pengembangan kreasi, bukan menjadi ‘babu’ di perusahaan-perusahaan asing yang bertengger di negara kita.

Betul, bahwa mereka banyak yang menganggur, tapi apakah ada parameter negara kita yang melihat bahwa para sarjana kita banyak yang mencipta? Kelihatannya badan-badan resmi negara kita belum memberikan perhatian yang cukup jelas tentang aspek kreasi ini.

Sebagai contoh, tujuan pendidikan nasional kita mencantumkan aspek kemandirian sebagai bagian penting dari ruh dan jiwa bangsa. Namun lagi-lagi, kemandirian itu tidak terejawantahkan dalam kurikulum tiap satuan pendidikan. Sangat jelas, kita melihat Ujian Nasional –sebagai satu-satunya parameter kelulusan di negara kita– tidak mencerminkan sama sekali evaluasi kemandirian siswa didik.

Jadi, kita tidak perlu risau para sarjana kita banyak yang tidak bekerja. Justru kita harus menyingsingkan lengan dan merasa harus bertindak segera, jika para sarjana kita berhenti menciptakan sesuatu untuk kebaikan semua orang.

Oleh: Quy

Sumber: vivanews.com

One thought on “Sarjana Banyak Menganggur Ketimbang SD?

  1. Pingback: HEADLINE NEWS « PEMUDA PERSIS GARUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s