ISLAMISASI DI AFRIKA

(Catatan Politik dan Kebudayaan)

Oleh :  Yudi Wahyudin

PENDAHULUAN

 

Muslim Afrika Sedang Sholat

Pada dasarnya, jika membicarakan faktor yang memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di Afrika itu terpusat pada dua hal; Pertama, karakter penduduk asli Afrika yang terbuka dan mudah tertarik dengan hal yang serba baru, sehingga ketika Islam masuk menawarkan konsep-konsepnya -seperti penghormatan terhadap orang tua, kejujuran dalam berdagang, akhlak mulia kepada sesama serta persamaan golongan- mereka segera menanggapinya dengan senang hati.

Kedua, kondisi alam Benua Afrika yang tidak dapat menyediakan semua kebutuhan hidup penduduk, sehingga hal ini ketika tercium oleh para pedagang, pelayar dan pelancong, mereka segera tertarik untuk menjajakan tawaran dagangan-nya. Selain berdagang dan membuat jalur baru, mereka juga menawarkan Islam. Inilah gambaran cuaca yang membantu penyebaran Islam di Afrika.

Perkembangan peradaban Islam mencapai wilayah Afrika Barat. Sebuah wilayah ternama sebagai pusat peradaban Islam muncul di sana, yaitu Timbuktu. Banyak pula manuskrip yang menjadi peninggalan kaum intelektual Muslim di sana. Di Timbuktu, terdapat hingga ratusan ribu manuskrip.

Manuskrip tersebut berisi tentang hukum Islam, filsafat, pengobatan, astronomi, dan matematika. Ada pula manuskrip Alquran yang berasal dari abad ke-13. Menurut sarjana Islam Jerman, Albrecht Hofneinz, manuskrip-manuskrip ini menjadi bukti bahwa Timbuktu telah menjadi pusat ilmu pengetahun ribuan tahun lalu.Di sisi lain, Timbuktu juga telah menjadi salah satu pusat perdagangan. Banyak pedagang yang datang dari berbagai negara yang melakukan perniagaan di sana. Timbuktu juga bersinar karena memiliki sebuah universitas yang menjadi pusat tradisi ilmiah.

Saat itu, banyak mahasiswa yang berdatangan untuk menimba ilmu di Timbuktu. Ada sekitar 25 ribu mahasiswa ditampung di universitas tersebut. Banyak manuskrip yang kini menjadi koleksi pribadi. Ada pula yang disimpan di perpustakaan pemerintah untuk kepentingan publik.Terkait keberadaan manuskrip di Irak, mulai abad ke-19, orang-orang Eropa mulai tertarik dengan berbagai manuskrip yang terdapat di sana. Mereka membawa manuskrip dalam jumlah cukup besar untuk dikirim ke Eropa. Tak hanya untuk koleksi publik, tetapi juga koleksi pribadi.

Claudius James Rich yang menjabat sebagai Residen Inggris di Baghdad pada 1808, melakukan perjalanan ekstensif di sebagian besar wilayah di Irak hingga penarikan dirinya pada 1821. Ia berhasil mengumpulkan 1.000 manuskrip dalam bahasa Arab, Persia, Turki, dan Suriah kemudian membawanya ke Inggris.Setelah kematiannya, naskah-naskah dari Irak tersebut kemudian dibeli oleh British Museum untuk menambah koleksi perpustakaannya, British Library.

Kegemilangan puncak yang dicapai oleh Afrika ini tidak terlepas dari peran penting Dinasti Umayah dalam penguatan dakwah Islam di Negeri Budak ini. Bagaimanakah proses itu berlangsung?

 

Catatan-catatan Politik

Pada waktu kekhalifahan Umayyah berdiri (tahun 661 M), umat Islam telah menguasai Damascus pusat wilayah terpenting kerajaan Bizantium, Palestina, Suriah, Persia, (635-640 M), Mesir (641 M), Siprus (649 M), Iskandariyah (652 M), Transoxiana, kawasan Asia Barat dan Afrika Utara, dua kawasan yang dulunya jatuh ke tangan Alexander the Great.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan perluasan wilayah yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dilanjutkan kembali, dimulai dengan menaklukan Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah timur, dengan menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan  sampai ke Kabul. Sedangkan angkatan lautnya telah mulai melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Sedangkan ekspansi ke timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.

Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-Walid bin Abdul-Malik. Masa pemerintahan al-Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordoba, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordoba. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.

Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan di Asia Tengah.

Setelah itu gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij  dan Syi’ah  juga dapat diredakan. Keberhasilan ini membuat orientasi pemerintahan Bani Umayyah mulai dapat diarahkan kepada pengamanan daerah-daerah kekuasaan di wilayah timur (meliputi kota-kota di sekitar Asia Tengah) dan wilayah Afrika bagian utara, bahkan membuka jalan untuk menaklukkan Spanyol (Al-Andalus). Selanjuytnya hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul-Aziz (717-720 M), dimana sewaktu diangkat sebagai khalifah, menyatakan akan memperbaiki dan meningkatkan negeri-negeri yang berada dalam wilayah Islam agar menjadi lebih baik daripada menambah perluasannya, dimana pembangunan dalam negeri menjadi prioritas utamanya, meringankan zakat, kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim Arab. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, namun berhasil menyadarkan golongan Syi’ah, serta memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya.

Pada masa Muawiyah ibn Abi Sofyan, diutuslah seorang yang bernama Uqbah ibn Nafi menjadi gubernur di Afrika pada 666 M dengan ibu kota di Fustat. Ia memimpin pasukan menghadapi tentara musuh yang mengacau di Fezzaan (sekarang daerah Libya Selatan) dan Wardan. Uqbahlah yang pertama kali menembus padang pasir Sahara, menembus wilayah-wilayah Sudan termasuk Ghana dan membuka jalan sampai ke kota Awdaghost bahkan Uqbah dapat menembus daerah-daerah sampai ke Kawar dan beberapa wilayah Negro antara 666-671 M. Namun, ia dipecat dari jabatan gubernur dan diganti dengan Abul muhajir.

Uqbah kembali ke Damaskus dan melakukan protes terhadap Muawiyah namun Muawiyah tidak meresponnya, kemudian Muawiyah memberikan alasan bahwa diberhentikannya Uqbah adalah atas kemauan Maslamah sebagai penguasa seluruh daerah Afrika. Oleh karena itu Muawiyah tidak berhak campur tangan. Muawiyah tidak dapat berbuat sesuatu untuk Uqbah karena ia memiiki perjanjian rahasia dengan Maslamah dan Abul muhajir. Muawiyah telah berjanji kepada Maslamah dan Abul muhaji jika mereka berdua berhasil menggulungkan Muhammad ibn Abi Bakar sebagai pengusa Mesir semasa Khalifah Ali dan dapat menganeksasi kembali Mesir sebagai wilayah kekuasaan Umayyah maka mereka akan diberi hadiah yang istimewa. Maslamah sudah diangkat menjadi penguasa Mesir kemudian kini giliran Abul muhajir yang diberi kekuasaan sebagai penguasa Ifriqiyah tanpa mengindahkan sama sekali jasa-jasa Uqbah. Kemudian Abul Muhajir menghancurkan masjid Qayrawan dan kota yang telah dibangun oleh Uqbah kemudian membangunnya kembali agar sejarah mencatat namanya sebagai pendiri kota dan masjid Qayrawan.

Setelah wafatnya Muawiyah, putranya yaitu Yazid menjadi khalifah. Uqbah membuka kembali gugatannya dan berhasil merebut hati Yazid. Yazid memihak Uqbah dan Abul Muhajir pun menjadi bawahannya, kemudian Uqbah menghancurkan kota dan msjid Qayrawan lalu membangunnya kembali.

Pada periode kedua masa Yazid I, Uqbah memperluas wilayah kekuasaannya sampai Maroko. Berarti seluruh Ifriqiyah dan daerah al-Maghrib al-Aqsa jatuh di tangannya dengan amat cepat dalam waktu yang sangat singkat, maka Uqbah dijuluki sebagai Alexander Muslim. Setelah berhasil dalam penakhlukkan terakhir, ketika dalam perjalanannya ke Qayrawan Uqbah gugur dalam pertempuran dengan kepala suku Berber, Kusaila di Tahuza (juga disebut Ahuza). Selain sebagai penakhluk, Uqbah hidup abadi dengan bangunan kota dan masjid Qayrawan. Sampai sekarang masjid bersudut lima tersebut (satu-satunya di dunia) yang ia bangun pada 681 M masih ada dengan nama masjid Sidi Uqbah dan masih utuh bentuk keasliannya.

Setelah meguasai Tahuza, Kusaila menguasai Qayrawan yang menyebabkan sebagian tentara Arab lari ke Mesir. Walaupun Kusailah telah masuk Islam tapi di mata orang-orang Arab, bangsa Berber jauh lebih rendah. Hal ini menyebabkan mereka bersatu dengan musuh utama Arab yaitu Bizantium yang ada di Sisillia dan orang Berber pun berhasil menghalau kaum muslim dari seluruh al-Maghrib dan Ifriqiyah.

Setelah Abd al-Malik ibn Marwan memegang tampuk kekuasaan kekhalifahan Umayyah, ia mengutus Zuhair ibn Qais al-Balawi, yaitu wakil setia Uqbah ibn Nafi sebagai penguasa Afrika Utara sebagai panglima baru menggantikan Uqbah. Ia berhasil mengalahkan dan membunuh Kusailah dan memukul mundur pasukan gabungan Berber dan Bizantium dari Qayrawan. Panglima kembali ke Barqah untuk mempertahankan kota itu dari serangan Bizantium . Akhirnya Zuhair gugur dalam serangan Bizantium.

Khalifah Abd al-Malik sangat cemas atas gugurnya Zuhair di Barqah, maka lebih terdorong untuk cepat memulihkan kembali keunggulan dan kewibawaan Arab di sana maka ia pun mengirim Hasan ibn Nu’man sebagai pengganti Zuhair. Sementara di Timur orang Arab disibukkan dengan perang saudara yang menyebabkan pemerintahan pusat kurang memperhatikan Afrika, di samping itu orang Berber yang telah menguasai wilayah Ifriqiyah, muncul Kusailah II, Kahina (pendeta wanita, yakni ahli nuzum). Kisah-kisah pada periode ini kurang jelas baik secara fakta dan urut-urutan kejadiannya belum dipastikan. Setelah musuh-musuh politik di Timur dapat dikikis, khalifah segera menoleh kembali ke Afrika. Selanjutnya, Musa ibn Nusair diangkat menjadi Gubernur Jenderal menggantikan Hasan (709 M). Sebagai catatan, pada akhir kekuasaan dua penguasa Afrika Utara itu, anak turunan dari Kahina banyak konversi Islam yang dalam sejarahnya disebut Mawali.

 

Catatan-catatan Kebudayaan

Arsitekturnidia Zuraya, bangunan ini merupakan simbol kemenangan bangsa Maroko atas kekuasaan Portugis. Maroko adalah negeri yang memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Afrika Utara. Yang tak kalah pentingnya, negeri berjuluk ‘Tanah Tuhan’ itu merupakan pintu gerbang masuknya Islam ke Spanyol, Eropa. Dari Maroko inilah Panglima tentara Muslim, Tariq bin Ziyad, berhasil menaklukan Andalusia (Spanyol) dan mengibarkan bendera Islam di daratan Eropa. Di wilayah negara benua hitam ini terdapat sebuah kota budaya yang dilindungi UNESCO (salah satu badan PBB yang menangani bidang sosial dan budaya). Kota yang dimaksud adalah Marrakech. Kota yang menjadi simbol Maroko ini memiliki bangunan-bangunan bersejarah yang merupakan peninggalan masa kejayaan Islam, seperti masjid, madrasah, dan istana. Di antara bangunan peninggalan kejayaan Islam yang menarik kunjungan para wisatawan adalah Istana El-Badi. Istana El-Badi dibangun pada akhir abad ke-16 Masehi oleh Sultan Ahmad al-Mansur, penguasa keenam dari Dinasti Saadi. Sultan al-Mansur sengaja membangun istana ini untuk merayakan kemenangan tentaranya atas pasukan Portugis dalam pertempuran yang dikenal sebagai pertempuran Ksar el-Kebir (Tiga Raja). Dengan kemenangan tersebut, Maroko yang pada masa itu merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Usmani (Ottoman) berhasil dilindungi dari penjajah Portugis.Sayangnya, ketika Sultan Moulay Ismail naik takhta pada 1696, hampir semua bangunan peninggalan Dinasti Saadi dihancurkan, termasuk di antaranya Istana El-Badi. Penguasa Dinasti Alawi ini kemudian mengambil beberapa ornamen penting dari bangunan Istana El-Badi untuk digunakan dalam pembangunan istana Kesultanan Alawi di Kota Meknes, Maroko. Selama beberapa tahun, istana ini menjadi simbol kejayaan Islam di tanah Afrika, khususnya Maroko. Dan saat ini, para wisatawan hanya bisa menyaksikan beberapa bagian saja dari bangunan Istana El-Badi yang masih utuh.Puncak peradabanSultan Ahmad al-Mansur yang memerintah tahun 1578-1603 dikenal sebagai sosok penting bagi Eropa dan Afrika pada akhir abad ke-16.

Di Nawa, Sudan bagian utara ditemukan sebuah masjid tua yang diperkirakan menjadi masjid pertama yang dibangun di benua Afrika. Penemuan ini juga membuat perubahan sejarah baru tentang kapan masuknya Islam ke benua ini. “Beberapa bulan lalu seorang pengajar dari Khourtum pergi ke Nawa untuk menghadiri sebuah pesta perkawinan. Disana, dia mendengar ada sebuah masjid tua di kawasan itu, dia lantar mengambil gambar masjid itu dan menulis tentang penemuannya di beberapa media massa” ungkap Dr. Hassan Al-Shaiqi, profesor Studi Islam Universitas Internasional Afrika di Khourtum pada Jum’at (14/11).

“Saya kemudian mengontak guru tersebut dan pergi ke Nawa untuk melihat secara dekat,” lanjutnya. Ketika berkunjung ke lokasi, Al-Shaiqi, yang ahli dan pakar mengenai sejarah kehidupan para sahabat dan tabiin Nabi di benua Afrika, melihat ada tulisan arab diatas sebuah batu berbunyi “Semoga Allah memberikan rahmat kepada Yazid ibn Abu Abi Habib”.

Ibnu Abi Habib, adalah tabiin asal suku Nubia dan seorang ulama yang hidup di Mesir pada Abad ke-2 Hijriyah. Tokoh ini menjadi objek penelitian Al Shaiqi selama hampir 10 tahun. “Saya kebetulan tengah mempersiapkan tesis master mengenai kehidupan para sahabat Nagi dari bangsa Afrika termasuk salah satunya adalah Yazid. Dia asli suku Nubian dari wilayah Utara Sudan,” ungkapnya kepada Islamonline. Ibn Abi Habib sendiri adalah anak laki-laki dari seorang tahanan dari Dongola yang dipenjarakan di Mesir. Abi Habib besar di Al Fostat ( Cairo Lama) sebagai seorang budah, tapi belakang dia dibebaskan sebagai budak karena kepandaian dalam studi Islam, khususnya dibidang hadist. “Sebagian besar hidupnya dihabiskan sebagai mufti Khalifah Umar ibn Abd Al-Aziz ,”ungkap Al-Shaiqi melanjutkan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pengumpulan teks-teks hadist dan Yazid berperan besar dalam mengumpulkan sekitar 500 hadist Nabi. Salah satu murid dari Abi Habib adalah Bukhori dan Muslim yang telah mengumpulkan hadist-hadist shohih dalam buku Kitab Sahih Bukhori dan Muslim yang menjadi pegangan bagi kaum muslimin di dunia hingga saat ini.

Dilihat dari bentuk masjidnya, masjid Nawa itu mirip dengan masjid yang Abdullah ibn Abi Sarh di Old Dongala. Ibn Abi Sarh adalah seorang pemimpin muslim yang menaklukan Nubia (wilayah utara dan tengah serta sebagian dari wilayah Selatan Mesir). Menurut Al-Shaiqi, tokoh inilah yang gigih menguasai Nubians dan berhasil menyepakati sebuah kesepakatan. Kesepakatan itu dikenal dengan sebutan Kesepakatan Baqt yang salah satu isinya adalah dibolehkannya pendirian masjid di IBukota Nubian yang dikhususnya bagi para pendapat muslim khususnya dari Mesir. Sementara itu, Professor Hassan Makki dari IUA mengatakan penemuan masjid ini akan membuka sebuah pemahaman baru bagaimana Islam masuk ke daerah Nubia di Sudan. Sebab, persepsi umum dikalangan para sejarawan, Islam masuk ke Nubia pada abad ke-14 Masehi setelah jatuhnya Kerajaan Dongola. Penemuan masjid ini akan memberikan informasi yang baru kapan sesungguhnya Islam datang. “Penemuan ini berarti, Islam telah memiliki akar di Nubia sejak abad ke-2 Hijriah” tukasnya.

Ada cerita menarik tentang kesejahteraan orang Afrika di zaman Bani Umayah. Sebuah kemakmuran yang tak pernah digapai pada zaman sebelumnya. Saat Umar II (Umar bin Abdul Azizi) terbaring sakit menjelang kematiannya, para menteri kerajaan sempat meminta agar isteri Amirul Mukminin untuk mengganti pakaian sang khalifah. Dengan rendah hati puteri Khalifah Abdul Malik berkata, ‘’Cuma itu saja pakaian yang dimiliki khalifah.’’ Hal itu begitu kontras dengan keadaan rakyatnya yang sejahtera dan kaya raya.

Khalifah pilihan itu memilih hidup bersahaja. Menjelang akhir hayatnya khalifah ditanya, ‘’Wahai Amirul Mukminin, apa yang akan engkau wasiatkan buat anakanakmu?’’ Khalifah balik bertanya, Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa.’’ Umar melanjutkan, ‘’Jika anak-anakku orang shaleh, Allah-lah yang mengurusnya.’’ Lalu khalifah segera memanggil buah hatinya, ‘’Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan. Pertama, menjadikan kalian semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka. Kedua, kalian miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam surga. Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga. Umar berhasil menyejahterakan rakyat di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah. Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkat, ‘’Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai seorangpun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan.’’ Pada masa beliau pula, pernah diutus 10 orang ahli fikih ke Afrika Utara untuk mengajar anak-anak Barbar ajaran-ajaran Islam.

Pada waktu itu Damascus menjadi ibukota dunia Islam yang kekuasaannya meliputi bagian-bagian penting benua Asia, Afrika dan Eropah. Di timur dari Asia Tengah dan Transoxiana sampai ke perbatasan Cina, anak benua India; di Barat dari Afrika Utara, Spanyol hingga ke Perancis selatan. Bukan hanya itu, institusi-institusi sosial dan hukum di dunia Islam yang baru berdiri itu pun berlaku. Perlu dicatat pula bahwa Muslim memasuki kawasan yang telah lama dikuasai oleh Kristen dengan tanpa perlawanan yang berarti. Menurut William R Cook pada tahun 711 – 713 M kerajaan Kristen di kawasan Laut Tengah jatuh ke tangan Muslim dengan tanpa pertempuran, meskipun pada abad ke-7 kawasan itu cukup makmur. Bahkan selama kurang lebih 300 tahun hampir keseluruhan kawasan itu dapat menjadi Muslim.

Para periode ini, prioritas pendidikan diarahkan pada ilmu-ilmu naqliyah: Al-quran, Hadits, Fikih, serta ilmu-ilmu bantunya yang merupakan rumpun ilmu bahasa. Sehingga dengan demikian dapat difahami pada masa-masa selanjutnya didapatkan penulis-penulis spesialis dari wilayah Afrika yang terklasifikasi pada penulis surat, harta, penulis riwayat, penulis tentara, penulis polisi, penulis hakim. Aspek tulis menulis ini menjadi lebih diprioritaskan pada masa Abdul Malik Marwan hingga terbentuklah sistem komunikasi yang baik antar wilayah.

Sebagaimana di tempat lainnya, basis ilmu perabadan Islam ini diperkuat oleh pendirian mesjid, seperti Masjid Nawa di Dongala, Masjid Zaitunah di  Tunisia. Bahkan Amr bin Ash sebagai pelopor pendiri Madrasah Fistat di Mesir diteruskan kemudian pada masa Umayah oleh Yazid bin Abu Habib Al-Nuby dan Abdillah bin Ja’far  bin Rabi’ah. Diantara ilmu yang berkembang di masa Umayah, khususnya di wilayah Afrika adalah ilmu hadits dan ilmu kalam.

Rujukan

  1. Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, terj. Adang affandi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994)
  2. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid I (Jakarta: UI-Press, 2002)
  3. Siti Maryam et.al, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern (Yogyakarta: LESFI, 2004)
  4. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirosah Islamiah II (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006)
  5. Ahmad Tompson dan Muhammdad ‘Atta Ur Rahim, Islam Andalusia Sejarah Kebangkitan dan Keruntuhan (Jakarta: Penerbit Gaya Media Pratama, 2004).
  6. Republika, 10 Juli 2009
  7. Saepul Anwar, Pendidikan Islam di Masa Dinasti Umayah, (Artikel Pdf)
  8. Hamid Fahmy Zarkasy, Membangun Perabadan Islam dengan Ilmu Pengetahuan, (Artikel Pdf)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s