Sunah dan Bidah Seputar Muharam

Oleh: Yudi Wahyudin

(Bagian ke satu dari dua tulisan)

Dalam kitab Ma Shohha Wa Maa Lam Yashih Fil Muharram Wa ‘Aasyuura, Abi Anas Majid Islam merinci hadis-hadis yang berkembang di tengah umat mengenai Muharam dan Asyura. Beliau mengkategorikannya pada dua bagian besar, yaitu hadis-hadis shahih dan dha’if mengenainya.

Mengetahui hal ini sangat penting, karena alasan untuk mengetahui hak-hak bulan dalam Islam yang harus kita amalkan. Selain itu tulisan ini ingin menjadi pembanding terhadap beragam tulisan yang disebar di internet, dibaca oleh umum, bahkan diyakini sebagai sebuah ajaran, namun tidak berlandaskan nash (dalil) yang shahih.

  • Hadis Shahih Mengenai Shaum Muharam

قال رسول الله ص أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلاةُ اللَّيْلِ”.صحيح مسلم

Rasulullah Saw. bersabda, “Shaum yang paling utama setelah Ramadhan adalah di Bulannya Allah, yaitu Muharam. Dan sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah tajahud (qiyam al-lail)” (HR. Muslim)

  • Hadis Dha’ief Mengenai Shaum Muharam

من صام تسعة أيام من أول المحرم بنى الله له قبة في الهواء ميلا في ميل لها أربعة أبواب

‘Barang siapa yang shaum sembilan hari di awal bulan Muharam, Allah akan membangunkannya kubah sepanjang satu mil. Di sepanjang satu mil itu ada empat pintu’

Keterangan: Hadis ini maudhu (palsu) menurut Ibnu Al-Jauzi, Imam Al-Syaukani, dan Ibnu Hibban. Di dalam sanadnya ada Musa Al-Thawil, seorang pendusta.

من صام آخر يوم من ذي الحجة، وأول يوم من المحرم، فقد ختم السنة الماضية، وافتتح السنة المستقبلة بصوم، جعله الله كفارة خمسين سنة

‘Barang siapa yang shaum di akhir hari bulan Dzul Hijjah dan hari pertama di awal bulan Muharam, maka sungguh dia telah menutup (kebolongan) tahun sebelumnya dan telah membuka (dengan amal) pada tahun mendatang dengan shaum. kemudian Allah menjadikannya kifarat (untuk dosa) selama lima tahun’

Keterangan: Hadis ini Maudhu (palsu) dalam sanadnya ada Al-Harwi dan Wahab. Imam Al-Syaukani berkata dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah bahwa keduanya pendusta. Begitupula Ibnu Jauzi dalam Al-Maudhu’at mengatakan bahwa, “Keduanya pendusta dan pembuat hadits palsu”.

  • Hadis Shahih Mengenai Shaum ‘Asyura

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلا هَذَا الْيَوْمَ، يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَهَذَا الشَّهْرَ، يَعْنِي: شَهْرَ رَمَضَانَ صحيح البخاري

Hadits dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, “Aku tidak melihat Rasulullah Saw., YATAHARRA pada shaumnya yang keutamaannya melebihi keutamaan lain, kecuali hari ini, yaitu Hari ‘Asyura serta di bulan ini, yaitu Bulan Ramadhan” (HR. Bukhari)

Keterangan: Makna YATAHARRA adalah bahwa beliau memaksudakan dengan shaumnya itu untuk menghasilkan ganjaran dan bersungguh-sungguh dalam menjalaninya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Rasulullah Saw., bersabda, “Shaum ‘pada hari Asyura akan dihitung oleh Allah sebagai kifarat dosa setahun pada tahun sebelumnya” (HR. Muslim)

أَمَرَ رَسُوبِلُ اللَّهِ صَوْمِ عَاشُورَاءَ: يَوْمُ الْعَاشِرِ

Hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah telah memerintahkanku untuk shaum pada Hari ‘Asyura, yaitu hari ke sepuluh (di bulan Muharam) (HR. Tirmidzi)

قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء فقال ما هذا؟ قالوا هذا يوم صالح هذا يوم نجى الله بني إسرائيل من عدوهم فصامه موسى عليه السلام قال فأنا أحق بموسى منكم فصامه  وأمر بصيامه

Ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi shaum pada Hari ‘Asyura, maka Rasulullah bertanya, “Apakah (yang kalian) lakukan ini?”, mereka menjawab, “Ini adalah hari yang penuh kebaikan, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Musa shaum pada hari itu”. Rasulullah bersabda, “Maka aku lebih berhak shaum seperti Musa daripada kalian”. Rasulullah pun shaum dan memerintahkan (umatnya) untuk shaum pada hari itu. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, dan Ibnu Majah).

وعَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنهما قال كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَعُدُّهُ الْيَهُودُ عِيدًا فقال النبي فَصُومُوهُ أَنْتُمْ متفق عليه

Hadits dari Abu Musa r.a., ia berkata, “Pada Hari ‘Asyura ini, orang-orang Yahudi menganggapnya sebagai Hari Raya”. Kemudian Rasulullah bersabda, “Kalian harus shaum pada hari itu” (Muttafaq ‘Alaihi)

Keterangan: Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata hadits ini secara jelas mendorong kita untuk shaum pada hari itu, berbeda dengan orang-orang Yahudi yang terkemudian. Hingga kita shaum pada hari ketika mereka berbuka. Sebab pada hari raya, kita dilarang melakukan shaum (Fathul Bari, 4:292).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لئن عشت إلى قابل لأصومن التاسع

Rasulullah Saw., bersabda, “Seandainya aku masih hidup tahun depan, aku akan shaum pada hari ke sembilan (pada bulan Muharam)” (HR. Muslim)

Keterangan hadits: hadits ini berkenaan dengan kegelisahan paa sahabat karena takut tsyabuh (menyerupai) Yahudi ketika shaum pada Hari ‘Asyura. Mengenai hadits ini, para fuqaha berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa maksud Nabi adalah memindahkan shaum ‘ayura pada tanggal ke sembilannya (menjadi tasu’a). Namun ada juga yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad bermaksud menambahkan shaum di bulan Muharam menjadi Tasu’a (tanggal 9) dan ‘asyura (tanggal 10) di bulan Muharam. Namun karena Rasulullah meninggal sebelum menjelaskan tentang kepastiannya, maka lebih ikhtiyat (hati-hati) jika kita memilih shaum dua hari, yaitu tasu’a dan ‘asyura (Fathul Bari, 4:289).

  • Hadits Dhai’ief Seputar Shaum ‘Asyura

روي عن هنيدة، عن امرأة عن بعض أزواج النبي صلى الله عليه وسلم قالت: “كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم تسع ذي الحجة، ويوم عاشوراء، وثلاثة أيام من كل شهر ، وأول اثنين من الشهر والخميس

Diriwayatkan dari Hanidah, dari Imroah, dari sebagian istri Nabi Muhammad Saw., mereka berkata, “Nabi Muhammad Saw., shaum pada tanggal 9 Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura, dan tiga hari di setiap bulan, serta pada setiap senin dan kamis pertama di setiap bulan” (HR. Imam Nasai)

Keterangan: Hadits ini dhaif sebagaimana disebutkan oleh Al-Zila’i dalam kitab Nashb Al-Ruwat, bahwa Hanidah adalah dhaif. Begitu juga dengan Al-Bani telah mendha’ifkannya

وروي عن حفصة رضي الله عنها قالت: “أربع لم يكن يدعهن رسول الله صلى الله عليه وسلم: صيام عاشوراء، والعشر ، وثلاثة أيام من كل شهر ، والركعتين قبل الغداة

Diriwayatkan dari Hafshoh r.a., ia berkata, “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah: 1) Shaum ‘Asyura, 2) Shaum pada hari ke sepuluh, 3) Shaum tiga hari pada setiap bulan, 4) dan sholat dua rakaat sebelum fajar” (HR. Ahmad dan Nasai)

Keterangan: Hadis ini didaifkan oleh Albani dalam Al-Irwa (4:111), di dalamnya ada Abi Ishak Al-Asyja’i, termasuk majhul dan bertolak belakang dengan riwayat lain oleh Al-Hur Ibn Shobah (perawi tsiqat) baik secara matan maupun sanadnya.

من صام يوم عاشوراء كتب له عبادة سبعين سنة بصيامها وقيامها

Siapa yang shaum ‘Asyura, maka Allah akan mencatatnya sebagai ibadah selama 70 tahun, termasuk shaum dan shalatnya.

Keterangan: hadits maudhu’ (palsu). Riwayat ini panjang, diriwayatkan dengan lafadz berbeda-beda dari jalan Ibnu Abbas, dan seluruhnya membicarakan tentang fadhilah shaum ‘Asyura secara berlebihan. Ibnu Hajar memberikan komentar terhadap sanad hadits ini, beliau berkata, “Habib bin Abi Habbi Al-Khurthati Al-Marwazi, Ibrahim Al-Shaigh serta perowi lainnya dalam hadis ini adalah pembuat hadis palsu”. (Fathul Bari, 4:752). Begitu pula pendapat Ibnu Hibban dan yang lainnya.

من صام يوم عاشوراء أعطى ثواب عشرة آلاف ملك

Siapa yang shaum ‘Asyura, maka akan diganjar dengan ganjaran seribu malaikat

Keterangan: hadis ini maudhu’ (palsu). Demikian dikatakan oleh Imam Al-Syaukani dalam kitab Fawaid Al-majmu’ah (33).

إن نوحاً عليه الصلاة والسلام هبط من السفينة على الجودي في يوم عاشوراء فصام يوماً وأمر من معه بصيامه شكراً

Sesungguhnya Nabi Nuh a.s. turun dari perahu ke sebuah bukit  pada hari ‘Asyura, kemudia ia shaum satu hari dan memerintahkan orang-orang yang bersamanya untuk shaum karena syukur

Keterangan: hadis ini maudhu’. Berkata Imam Al-Manawi dalam Faidh Al-Qodir, dalam sanadnya ada Utsman bin Mathor, munkar al-hadits (pembuat hadis palsu).

Bersambung….

One thought on “Sunah dan Bidah Seputar Muharam

  1. Pingback: Sunah dan Bidah Seputar Muharam (2) « PEMUDA PERSIS GARUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s