Sunah dan Bidah Seputar Muharam (2)

Baca Bagian Pertama di sini

Yudi Wahyudin

Bagian Terakhir Dari Dua Tulisan

Riwayat Mengenai Sholat ‘Asyura

عن أبي هريرةرضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:”من صلى يوم عاشوراء ما بين الظهر والعصر أربع ركعات يقرأ في كل ركعة بفاتحة الكتاب مرة، وآية الكرسي عشر مرات، و قل هو الله أحد إحدى عشرة مرة، والمعوذتين خمس مرات، فإذا سلم استغفر الله سبعين مرة أعطاه الله في الفردوس قبة بيضاء فيها بيت من زمردة خضراء ، سعة ذلك البيت مثل الدنيا ثلاث مرات، وفى ذلك البيت سرير من نور ، قوائم السرير من العنبر الاشهب، على ذلك السرير ألفا فراش  من الزعفران ألخ

Hadits dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad Saw., beliau bersabda, “Siapa yang sholat pada hari ‘Asyura antara sholat dzhuhur dan ‘ashar empat rakaat, kemudian ia membaca di setiap rakaat surat Al-Fatihah satu kali, ayat kursi sepuluh kali, dan surat al-ikhlas sebelas kali, surat al-falaq dan an-nas lima kali. Apabila ia salam, ia beristighfar kepada Allah 70 kali, maka niscaya Allah akan memberinya di surga Firdaus sebuah menara putih yang di dalamnya terdapat rumah dari zamrud hijau. Luasnya rumah itu seperti tiga kali lipat bumi. Dalam rumah itu ada kasur dari cahaya yang tiangnya minyak ambar (yang harum) berwarna kelabu. Di atas kasur itu ada seribu tilam dari za’faran….”

Keterangan: Hadits ini maudhu’ (palsu), hadits ini diriwayatkan oleh Al-Jauzaqoni dari Abu Hurairah, dia adalah pemalsu hadits dan seluruh perwainya majhul (tidak dikenal oleh kalangan ahli hadits) (Al-Fawaid al-Majmu’ah, hal. 103). Ibnu Al-Jauzi berkata dalam Al-Maudhu’aat, “Ini adalah hadits palsu. Ucapan Rasulullah suci dari ungkapan yang kacau ini, perawinya majhul”.

عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من أحيى ليلة عاشوراء فكأنما عبدالله تعالى بمثل عبادة أهل السموات، ومن صلى أربع ركعات، يقرأ في كل ركعة الحمد مرة، وخمسة مرة قل هو الله أحد، غفر الله له ذنوب خمسين عاما ماض، وخمسين عاما مستقبل، وبنى له في المثل الأعلى ألف ألف منبر من نور”.

Hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda, “Siapa yang menghidupkan malam ‘asyura maka seolah-olah ia beribadah kepada Allah SWT seperti ibadahnya ahli langit, dan barang siapa yang sholat empat rakaat, membaca dalam setiap rakaatnya Al-fatihah satu kali, al-ikhlas lima kali, niscaya Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa lima tahun silamnya dan dosa lima tahun yang akan datang, dan Allah akan membangunkannya di Al-Matsalul ‘ala (sebuah tempat di surga) satu juta mimbar dari cahaya”

Keterangan: Hadits ini dha’ief. Ibnu Jauzi dalam Al-Maudhu’at berkata, “Hadis ini tidak shahih dari Nabi, ulama mutakkhirin saja menganggap ini bagian dari melalaikan hadits. Di dalamnya ada Abdurrahman bin Abi Zinad yang tercela”. Imam Ahmad berkata, “Dia (Abdurrahman bin Abi Zinad) adalah mudhtarib al-hadits (inkonsisten dalam menyampaikan hadits)”. Yahya berkata, “Tidak sah berhujah dengannya”.

Hadits Mengenai Shaumnya Para Binatang

عن أبي غليط، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “إن الصرد أول طير صام عاشوراء

Hadits dari Abi Ghalith, sesungguhnya Rasulullah Saw., bersabda, “Sesungguhnya buruh Al-Shard adalah burung pertama yang shaum ‘Asyura”

Keterangan: Hadits ini termasuk munkar seluruh perawinya munkarul hadist, lihat al-Fawaid Al-Majmu’ah, 35

وروى أبو نعيم في الحلية عن قيس بن عباد قال: “كانت الوحوش تصوم يوم عاشوراء”.

Diriwayatkan oleh Abu Na’iem dari Hilyah dari Qais bin ‘Ibad, ia berkata, “Binatang liar shaum pada hari ‘Asyura”

Keterangan :hadits munkar, demikian disebutkan dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah (1/97) dan Tadzkirah Al-Maudhu’at (1/819). Dalam lisan al-mizan (222) Ibnu Hajar berkata, “Ini adalah hadis munkar”. Begitu pula Ibnu Rojab, “Sanadnya gharib (asing)”. Lihat juga ‘Umdatul Qari (11/118).

Mengenai Rintihan Terhadap Husen Pada Hari ‘Asyura

Husein bin ‘Ali Radiyallahu ‘Ahhuma terbunuh pada hari ‘Asyura di bulan Muharam berdasarkan pendapat yang masyhur (Bidayah Wa Al-Nihayah, 8:137).

Maka orang-orang terbagi dua mengenai hal ini:

  1. Segolongan yang menjadikan Hari ‘Asyura sebagai hari pemakaman, kesedihan, dan rintihan. Digelar upacara-upacara jahiliyyah, yaitu menganiaya diri dengan lempengan besi, merobek-robek baju, berbelasungkawa dengan gaya jahiliyyah, bersenandung dengan qasidah rintihan, orasi provokatif dengan riwayat-riwayat palsu, membakar emosi, ta’ashub, dan fanatisme, menebar permusuhan dan kebencian, melempar fitnah di antara umat Islam, mencela para sahabat yang temasuk Al-Sabiqun Al-Awwalun (generasi pertama). Kejahatan dan kemadharatan yang mereka lakukan tidak dapat dimengerti oleh seorang manusia yang berkesadaran (Majmu’ Al-Fatawa, 25:165-166).
  2. Golongan lainnya yaitu orang-orang bodoh yang mengaku bermadzhab ahlu sunnah, mereka bermaksud memerangi kelompok pertama, melawan kerusakan dengan kerusakan, kebohongan dengan kebohongan, dan bidah dengan bidah. Mereka menganggap palsu hadis-hadis shahih mengenai keutamaan ‘asyura, hadis-hadis mengenai menebarkan kebahagiaan pada hari ‘asyura. Mereka memalsukan hadis-hadis yang jelas-jelas shahih (Majmu’ Al-fatawa, 2:567).

Ibnu Taimiyyah berkata, “Kedua golongan itu adalah ahli bidah yang keluar dari Sunnah, ini adalah sejelek-jeleknya maksud, kebodohan yang mendalam, dan kedzaliman yang nyata” (Majmu’ Al-Fatawa, 25:310-311).

Riwayat Palsu Mengenai ‘Asyura

ما من عبد يبكي يوم قتل الحسين، يعني يوم عاشوراء، إلا كان يوم القيامة مع أولي العزم من الرسل

“Tidak ada seorang hamba pun yang menangis pada hari terbunuhnya Husein, yakni Hari ‘Asyura, kecuali ia digabungkan dengan para ulul ‘azmi dari para Rasul di hari kiamat”

Keterangan: hadis palsu yang sengaja dibikin oleh Ahlu Rafidah, lihat Manhaj Al-Sunnah Al-nabawiyyah, 4:554.

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “من اكتحل بالإثمد يوم عاشوراء لم يرمد أبدا”.

Hadist dari Nabi Muhammad Saw., ia berkata, “Siapa yang mencelak matanya pada hari ‘Asyura dengan Utsmud (salah satu nama celak mata), maka matanya tidak akan sakit selamanya”

Keterangan: hadits maudhu’ (palsu). Di dalam sanadnya ada Juwaibir. Imam al-Hakim berkata, “Aku berlepas dari mengikatkan diri pada Juwaibir. Dalam sanad lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, dijelaskan ada perawi yang bernama Ismail ibnu Ma’mar, dia tidak tsiqat (kuat). Ibnu Ma’ien berkata, “Juwaibir bukan perawi hadits”. Imam Ahmad berkata, “Juwaibir adalah Matruk (yang ditinggalkan)”. Lihat Nashb Al-Rayat, 2:313.

Penutup

Masih banyak riwayat senada dengan redaksi yang lebih panjang mengenai ‘keutamaan’ ‘asyurâ yang ganjil dalam pandangan akal dan lemah berdasarkan riwayat. Maha suci Allah dari segala kedzaliman ini dan tidaklah Nabi mengucapkan sebuah ungkapan yang muncul dari hawa nafsu, namun beliau bertutur berdasarkan wahyu yang memiliki makna mendalam. Subhanallah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s