Nilai Barat: Kebebasan Tirani dan Tirani Kebebasan

Yudi Wahyudin

"Imigran, Tendang Saja!"

Dalam beberapa bulan terakhir, Eropa telah menjadi saksi deportasi massal terhadap pelbagai minoritas agama dan etnis. Dengan larangan burka di Prancis dan sebagian Italia, gerakan anti Islam di Roma serta di Perancis dan Hungaria, berikut kamera pengawasan polisi yang didirikan di lingkungan mayoritas Muslim di Inggris, tampaknya menggambarkan bahwa Eropa tengah mengalami pergeseran makna dari kebebasan-inklusif kepada proteksionisme-tiranik.

Orang luar menganggap bahwa nilai-nilai yang dianut Eropa bersumber pada filosofi hak asasi manusia dan bukan doktrin agama sebagai pedoman atau nilai-nilai kristiani. Meski demikian, filosofi itu ‘dipaksa’ untuk berdamai dengan nilai-nilai kristiani dan bahkan untuk beberapa kasus kekerasan yang dilakukan atas nilai kristen, Eropa menganggapnya sebagai kesalahan oknum tertentu yang tentu saja tidak perlu ada tindakan politik apa-apa.

Bukankah demikian faktanya jika pelecehan seks oleh gereja merebak di mana-mana di negara Eropa? Belum lama ini, ‘whistle blowing site’ Wikileaks mengungkap rahasia kegeraman Benecditus terhadap sistem informasi dan media massa Eropa yang begitu mudah mengakses kejahatan gereja. Padahal apa yang nampak ke publik, Benecditus benar-benar menyayangkan tindak kejahatan oknum-oknum gereja.

 

Kebebasan Tirani

Tapi apa yang dilakukan ketika Uni Eropa merasa bahwa ideologi non-Kristen bertentangan dengan nilai-nilai Eropa?”

Itulah yang Herman van Rompuy katakan sebelum menjadi presiden Uni Eropa, ketika ia berpendapat bahwa Turki tidak bisa dianggap sebagai anggota Uni Eropa, karena sebuah negara sekuler yang tidak adil –di mana jilbab dilarang di universitas dan bangunan umum di lingkungan mayoritas Muslim.

Turki bukan bagian dari Eropa dan tidak akan pernah menjadi bagian dari Eropa. Nilai-nilai universal yang berlaku di Eropa, dan yang nilai-nilai dasar dari Kekristenan, akan kehilangan kekuatan dengan masuknya negara besar seperti Turki”, katanya

Willy Fautré, direktur Human Rights Without Frontiers, berpendapat, “Nilai-nilai Eropa itu tidak ada…yang ada hanya nilai-nilai kemanusiaan universal yang tercantum dalam dokumen hak asasi manusia. Hak-hak yang bersifat fragmentatif ini hanya berfungsi untuk melemahkan manusia lemah”, katanya.

 

Demo Menggugat 'Hak Asasi' Semu ala Eropa

“Sarkozy mengklaim bahwa burka tidak kompatibel dengan nilai-nilai republik Prancis, tapi dia tidak diberi contoh bagaimana hal itu tidak sesuai,” kata Fautré, yang merasa bahwa jika seorang wanita, pada kenyataannya, harus mengenakan burka menurut nilai-nilai agamanya, maka larangan itu hanya akan “memperburuk keadaan dia” dengan lebih mengasingkan dirinya dari masyarakat dan membatasi akses ke pelayanan sosial dan pendidikan.

Fautré mengatakan bahwa ungkapan ‘Islam tidak kompatibel’ dengan nilai-nilai Eropa adalah narasi politik yang diperkuat oleh media dan intelejen.

Bukan hanya tabloid yang telah memberi kontribusi histeris pada narasi ini, media sosial pun telah memainkan peran ini dalam kampanye anti-imigrasi, kampanye anti-Islam, juga klip-klip film yang menampilkan prediksi jika berbagai negara-negara Barat dikuasai Muslim maka diwarnai oleh berbagai chaos dan konflik.

“Inilah sebabnya mengapa Anda memiliki reaksi seperti di Swiss, misalnya, di mana orang berdemonstrasi menentang pembangunan tempat Muslim ibadah – dengan atau tanpa menara, bahkan di lingkungan muslim sendiri,” kata Fautré

Pandangan kaum muda Eropa saat ini lebih parah dari para pendahulunya. Hal ini disitir langsung oleh pakar politik sekaligus pemerhati ekstrimis dan Islamo-Phobia, Matius Goodwin. “Mengatakan bahwa orang-orang muslim memiliki kehidupan berbeda dan harus diperlakukan berbeda [oleh aturan-aturan] jelas memiliki perbedaan dengan mengatakan bahwa orang-orang muslim lebih rendah dari orang-orang Eropa”, kata Goodwin. “Dan kaum muda Eropa, lebih cenderung pada persepsi kedua,” lanjutnya.

Tirani Kebebasan

Di beberapa negara Eropa dan Amerika, tentu saja kita dapat menyaksikan kebebasa atas nama hak-hak asasi. Wikileaks mempreteli bagaimana kebebasan negara adidaya untuk melakukan intervensi ke berbagai negara –seperti kasus buruh dan Timor Timur di Indonesia, kebebasan Israel untuk menghantam rakyat sipil –anak kecil, perempuan, serta manula di setiap saat, hingga kebebasan berperikehidupan ala hewan yang setiap saat kita saksikan –juga melalui media massa.

Belum lama ini kita dipersaksikan peristiwa pada pagi hari 12 Juli 2007, yaitu dua helikopter apache menggunakan tembakan meriam 30mm menewaskan sekitar selusin orang di pinggiran Irak Baghdad Baru. Dua anak juga terluka meskipun beberapa dari mereka tampaknya telah bersenjata, perilaku hampir semua orang santai [tidak mencurigakan]. Militer AS pada awalnya mengklaim bahwa semua yang tewas adalah pasukan anti-Irak atau pemberontak.

Di tempat-tempat lain di Eropa, kebebasan itu seolah memuncak dan telah melahirkan generasi dengan ‘spesies’ seks yang tidak jelas. Bukan saja sesama jenis, bahkan mereka sanggup melakukan aktifitas seksual pada binatang sekalipun.

Amerika dan Eropa seolah tidak peduli jika para pemimpinnya –Bush yang mabuk atau Clinton yang selingkuh, telah jelas-jelas melanggar nilai kemanusiaan universal. Bahkan belum lama ini, Pangeran William akan segera melepas masa lajangnya dengan mempersunting Kate Middleton pada 29 April 2011 dengan menggelar pesta bujang. Masyarakat dunia tahu, bahwa tradisi pesta bujang di Eropa adalah dengan mengundang para penari bugil (striptease).

 

Renungan Akhir

Pada akhirnya, kampanye hak-hak asasi manusia lebih menggambarkan perlindungan hak-hak hegemonis dunia Eropa. Kenyataannya, hak-hak komunitas pinggiran, imigran, dan negara-negara aliansi non-hegemonik, pada akhirnya harus ditendang dan dilenyapkan.

Kebebasan yang dikampanyekan sangat jelas dan tidak bisa ditutupi, adalah untuk menggelorakan syahwat binatang!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s