Untuk Apa Belajar Islamic Worldview?

Oleh: Dr. Adian Husaini dan Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum

Islamic worldview (Pandangan Hidup/Pandangan Alam Islam) adalah pemahaman seorang Muslim terhadap konsep-konsep pokok dalam Islam. Pemahaman setiap manusia akan mempengaruhi perilakunya. Cara pandang, sikap, dan perilaku seorang manusia ditentukan oleh bagaimana ia memahami suatu objek yang diinderanya. Seorang Muslim yang memiliki Pandangan Hidup Islam (Islamic Worldview) akan berbeda dengan seseorang yang tidak memilikinya, ketika kedua-duanya sama-sama melihat babi.

Betapapun indah dan lezatnya masakan yang berasal dari babi, seorang Muslim akan memahaminya sebagai barang haram yang harus dijauhi. Seorang Muslimah yang memiliki pandangan hidup Islam akan merasa tenang dan bahagia ketika melakukan pekerjaan rumah tangga, karena ia merasa yakin apa yang dikerjakannya adalah ibadah. Berbeda halnya dengan seorang wanita yang berpaham “kesetaraan gender”. Ketika menyiapkan minuman bagi suami dan anak-anaknya, dia akan merasa terhina. Dia akan bertanya, “Kenapa bukan suaminya yang menyiapkan minuman bagi dirinya, padahal dia memiliki penghasilan yang lebih besar disbanding suaminya?”

Berangkat dari paham “kesetaraan gender” itulah, maka setiap wanita dapat memandang dirinya setara dengan laki-laki dalam segala hal. Tidak boleh ada diskriminasi dalam peran sosial dan budaya. Tidak boleh ada konsep bahwa “laki-laki harus berada di shaf depan ketika shalat”. Tidah boleh ada konsep bahwa laki-laki adalah kepala rumah tangga. Tidak boleh ada konsep bahwa saat menikah wanita harus diwakili oleh walinya, sedangkan laki-laki dapat menikahkan dirinya sendiri. Tidak boleh ada konsep bahwa wanita tidak boleh menjadi khatib shalat Jum‘at. Tidak boleh ada pandangan bahwa hanya wanita yang memiliki masa ‘iddah setelah perkawinannya berakhior sementara laki-laki bebas dari ‘iddah. Itulah jika wanita terkena paham “kesetaraan gender” yang berasal pandangan hidup Barat (Wstern worldview).

Seorang Muslim yang memiliki perspektif akhirat, dia tidak mungkin akan berlaku semena-mena terhadap istri dan keluarganya, karena dia yakin akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat. Meskipun diberi kekuasaan oleh Allah dalam rumah tangga sebagai pemimpin, dia tidak boleh berlaku semena-mena, karena semua amanah akan dipertanggungjawabkan. Bagi seorang Muslim yang memiliki Islamic worldview, akan memandang hidup ini sebagai tempat untuk menjalankan amanah Allah. Semua akan dipertanggungjawabkan. Semakin besar amanah dan kenikmatan yang diterimanya, semakin besar pula tanggung jawabnya di akhirat.

Seorang Muslim yang memiliki Islamic Worldview akan yakin bahwa hanya Islam-lah agama yang diterima Allah (QS. 3: 83). Sebab, hanya Islam-lah agama yang mengajarkan kalimat tauhid (kalimatun sawâ’), dan merupakan kelanjutan dari semua agama yang dibawa oleh para Nabi. Islam adalah nama satu agama dan penjelasan tentang cara beribadah yang benar kepada Allah. Dalam pandangan hidup Islam, manusia tidak mungkin akan mengenal Allah-Tuhan yang sebenarnya-kecuali melalui keimanan kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad Saw. hanya melalui utusan-Nya itulah, Allah menjelaskan, siapa diri-Nya, dan bagaimanaa manusia harus beribadah kepada-Nya, dan bagaimana manusia harus menjalani hidup di dunia. Maka, untuk masuk Islam, seorang harus meyakini dan mau mengikrarkan pertnyataan “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Karena itu, dalam perspektif Islamic Worldview tidak dapat diterima pandangan kaum pluralis agama yang menyatakan bahwa semua agama pada dasarnya memiliki intisari yang sama, yaitu sama-sama sebagai jalan yang sah untuk menuju Tuhan yang satu, meskipun masing-masing memiliki cara ibadah dan penyebutan nama Tuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itulah, Tauhid tidaklah mungkin dicapai melalui jalan pengalaman keagamaan (spiritualitas) semata, tanpa merujuk kepada wahyu yang diturunkan Allah Swt. Inilah cara pandang Islam. Setiap orang yang mengaku Muslim tentu saja harus memandang sesuatu—termasuk agama-agama—dari “kacamata” Islam, bukan dari “kacamata” yang lain.

Cara pandang kaum pluralis agama terhadap agama-agama yang ada tidak didasarkan pada ajaran suatu agama tertentu. Tapi, dia berdiri pada posisi netral agama. Dia tidak berdiri pada posisi Islam, Kristen, Hindu, Budha, ataupun Konghucu. Dia berposisi netral, memandang semua agama benar dan sebagai jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Karena tidak didasarkan pada Wahyu, maka pandangan kaum pluralis ini lebih merupakan angan-angan, yang seringkali kemudian dicarikan justifikasinya dari ayat-ayat tertentu dalam Kitab Suci.

Islamic worldview bukanlah ajaran baru dalam Islam. Sebab, Islam aalah agama yag sudah sempurna sejak awal. Islam tidak berkembang dalam sejarah. Konsep tajdid (pembaharuan) dalam Islam, bukanlah membuat-buat hal yang baru dalam Islam, melainkan upaya untuk mengembalikan kemurnian Islam. Ibarat cat mobil, warna Islam adalah abadi. Jika sudah mulai tertutup debu, maka tugas tajdid adalah mengkilapkan cat itu kembali, sehingga bersinar cerah seperti asal-mulanya. Bukan mengganti dengan warna baru yang berbeda dengan warna sebelumnya.

Islamic worldview adalah upaya perumusan ajaran-ajaran pokok dalam Islam, yang formulasinya disesuaikan dengan tantangan zaman yang sedang dihadapi oleh kaum Muslimin. Karena saat ini yang sedang menghegemoni umat manusia—termasuk umat Islam—adalah pemikiran Barat yang sekular-liberal, maka konsep Islamic Worldview inipun dirumuskan agar kaum Muslim tidak terjebak atau terperosok ke dalam pemikiran-pemikiran yang dapat merusak keimanannya.

Setiap Muslim pasti akan diuji keimanannya. Iman tidak akan dibiarkan begitu saja, tanpa ada ujian (QS 29:2-3). Maka, setiap zaman dan setiap waktu akan selalu ada ujian iman. Ada yang lulus, ada yang gagal dalam ujian iman. Oleh karena itulah, setiap Muslim diwajibkan agar selalu menuntut ilmu setiap waktu agar dapat mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, mana yang Tauhid dan mana yang syirik.

Dalam kitab Sullamut-Tawfîq karya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hisyam—yang biasa dikaji di madrasah-madrasah diniyah dan pondok-pondok pesantren—disebutkan bahwa merupakan kewajiban setiap Muslim untuk menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (riddah). Dijelaskan juga dalam kitab ini bahwa riddah ada tiga jenis, yaitu murtad dengan keyakinan (i‘tiqâd), murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi i‘tiqâd, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, atau ragu terhadap kenabian Muhammad Saw., atau ragu terhadap Al-Quran, atau ragu terhadap Hari Akhir, surga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya.

Ulama India Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi pernah menyebutkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam saat ini, sepeninggal rasulullah saw. adalah tantangan yang diakibatkan oleh serangan-serangan pemikiran yang datang dari peradaban Barat. Sebab, tantangan ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman dan kemurtadan. Menurut An-Nadwi, serangan modernisme peradaban Barat ke dunia Islam merupakan ancaman terbesar dalam bidang pemikiran dan keimanan. Dia mengungkapkan:

“….Di saat sekarang ini selama beberapa waktu dunia Islam telah dihadapkan pada ancaman kemurtadan yang menyelimuti baying-bayang di atasnya dari ujung ke ujung….Inilah kemurtadan yang telah melanda Muslim Timur pada masa dominasi politik Barat, dan telah menimbulkan tantangan yang paling serius terhaddap Islam sejak masa Rasulullah Saw.” (Lihat, Abul Hassan Ali An-Nadwi, “Ancaman Baru dan Pemecahannya” dalam Benturan Barat dengan Islam, [1993: 13-19]).

 

Dalam pandangan Islam, soal murtad (batalnya keimanan) seseorang, bukanah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat Al-Quran yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni nereka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah [2]: 217).

Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun, dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalau Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS Al-Nûr [24]: 39).

 

Saat ini, di era globalisasi, harusnya kaum Muslim sadar, bahwa setiap saat keimanan mereka sedang dalam kondisi diperangi habis-habisan oleh nilai-nilai sekular-liberal yang dapat mengikis dan menghancurkan pemikiran Islam dan keimanan mereka. Globalisasi, misalnya, bukan hanya melahirkan penjajahan ekonomi tetapi juga penjajahan pemikiran dan budaya. Dalam bukunya, Globalization and the Islamic Challenge (Kedah: Teras, 2001), S.M. Idris, Presiden Consumer Association of penang (CAP), mencatat bahwa globalisasi merupakan ancaman yang sangat serius terhadap kaum Muslim. (Globalization poses a serious threat to Muslims. It not only brings about economic exploitation and impoverishment, but also serious erosion of Islamic beliefs, values, culture, and tradition). Jadi, kata S.M. Idris, globalisasi bukan hanya mempraktikkan eksploitasi ekonomi dan pemiskinan, tetapi juga mengikis keyakinan, nilai-nilai, budaya, dan tradisi Islam. Kapitalisme global mempromosikan nilai-nilai individualisme, materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Paham-paham itu jelas langsung menusuk jantung ajaran Islam. Pasca-Perang Dingin, menurut S.M. Idris, satu-satunya kekuatan yang tersisa yang mampu memberikan tantangan terhadap proyek globalisasi adalah dunia Islam. Ekonomi China dan India tampaknya cenderung mengintegrasikan diri ke dalam ekonomi global, walaupun hal itu akhirnya akan menghancurkan identitas peradaban mereka.

Karena pemikiran-pemikiran ini sudah merasuk ke jantung-jantung kehidupan kaum Muslim (baik rumah tangga maupun institusi pendidikan), maka di tengah zaman seperti ini, mau tidak mau, setiap Muslim wajib membentengi dirinya dengan keilmuan Islam yang benar dan memahami pemikiran batil yang dapat merusak keimanannya. Untuk itulah, setiap Muslim wajib memiliki pandangan hidup Islam. Dengan itu, Insya Allah, dia akan mampu menghadapi tantangan pemikiran modern yang dapat merusak keimanannya, dan sekaligus dia dapat hidup dalam keimanan, dalam keyakinan tentang Islam, dan ujung-ujungnya dia dapat menikmati hidup yang penuh dengan kebahagiaan, karena dia hidup dalam keyakinan.

 

Islamic Wordlview dalam Pendidikan

Membicarakan pandangan hidup tentu sangat erat kaitannya dengan pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu pranata sosial yang paling kuat dalam hal pewarisan nilai di samping keluarga dan masyarakat. Nilai adalah produk pandangan hidup seperti yang sudah dijelaskan di atas. Oleh sebab demikian, dalam sejarah Islam pendidikan merupakan salah satu hal yang mendapat perhatian sangat serius hingga kemudian model-model lembaga pendidikan yang dikembangkan dalam Islam menjadi rujukan pokok pengembangan kelembagaan pendidikan di Barat setalah zaman Renaissans.

Di Indonesia, Islam dan pendidikan juga memiliki sejarah yang begitu berwarna. Sejarah negeri ini mencatat lembaga pendidikan lama yang sampai hari ini masih bertahan dan merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia, yaitu “pesantren”. Pesantren ini adalah lembaga pendidikan yang dikreasi sedemikian rupa oleh para ulama agar mencerminkan misi dan pandangan hidup Islam yang jelas. Tidak mengherankan bila kemudian di tubuh pesantren siapa saja dapat menyaksikan Islamic worldview secara terang.

Cara pandang Islam yang benar di tubuh pesantren terlihat sejak dari pendirian pesantren itu sendiri, keuangan, kelembagaan, sampai muatan pendidikan. Berikut penjelasan masing-masing. Pertama, pendirian pesantren. Pada umumnya pesantren-pesantren di Indonesia didirikan sebagai perluasan dari mesjid-mesjid yang digunakan sebagai pusat dakwah dan pengajaran Islam. Di mesjid yang nantinya akan menjadi cikal-bakal pesantren biasanya tinggal seorang ulama yang dalam dirinya tertanam misi yang kuat menyebarkan ajaran dan petunjuk Allah Swt. kepada masyararakat. Untuk itu, ia kemudian mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat sekitar. Mula-mula muridnya hanya beberapa orang. Lama-kelamaan setelah banyak masyarakat yang tertarik, murid-murid mulai berdatangan dari berbagai tempat sehingga terpaksa mesjid harus diperluas dan dilengkapi dengan pondok-pondok untuk menginap santri yang datang dari jauh.

Kedua, motif dakwah dan ingin menyebarkan agama Allah Swt. tercermin semakin kuat bila melihat bagaiama keuangan dikelola. Sejak awal pesantren tidak didirikan sebagai lembaga usaha komersil sehingga pada umumnya tidak ada pesantren yang membebankan kewajiban membayar kepada santrinya alias gratis. Semua keperluan santri ditanggung oleh pesantren. Pesantren sendiri mendapatkan dana dari wakaf umat Islam. Umat Islam secara sukarela mewakafkan sebagian kekayaan mereka karena mereka sangat sadar bahwa pesantren bukanlah lembaga komersil, melainkan lembaga yang tengah mengemban misi mulia menyebarkan agama Allah Swt. dan ajaran Nabi Muhammad Saw. Dengan cara seperti itu, selain pesantren dapat tetap hidup tanpa harus bergantung pada siapapun, aspek pemerataan pendidikan pun dapat tercapai secara optimal. Semua anak, dari kelas manapun datangnya, kaya ataupun miskin, dapat sama-sama menikmati pendidikan sampai ke jenjang apapun yang diinginkannya. Dengan demikian, mnuntut ilmu sebagai kewajiban setiap Muslim dapat terwujud tanpa terhalangi oleh kemiskinan.

Ketiga, kelembagaan pesantren pada umumnya terpusat pada kiai. Kiai adalah simbol keilmuan, bukan simbol birokrasi. Seorang kiai mendapat pengakuan masyarakat karena kedalaman ilmunya dan keteladanannya bagi masyarakat. Kiai adalah sosok ulama waratsatul-anbiya’ yang keberadaannya sangat dibutuhkan dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila seringkali kiai tidak hanya menjadi pemimpin di pesantren, tapi juga di masyarakat dalam skala yang paling kecil hingga yang paling luas.

Dalam konteks pendidikan, simbol kiai di pesantren memperlihatkan cara pandang yang benar dalam relasi pendidikan. Pendidikan yang benar akan menempatkan guru sebagai pusat pendidikan, bukan bangunan dan serangkaian administrasi yang rigid. Kiai mencerminkan sosok guru sejati: luas ilmu dan patut diteladani. Kiai pula yang menentukan hitam-putihnya proses pendidikan di pesantren. Kiai pula yang menentukan kurikulum pendidikan, juga menentukan penerimaan dan kelulusan murid.

Keempat, kurikulum yang dirancang di pesantren merepresentasikan dengan baik konsep ilmu dalam Islam. Di seluruh pesantren, kurikulum dirancang berdasarkan konsep hirarki ilmu yang mendahulukan ilmu fardhu ‘ain sebelum fardhu kifâyah. Setelah itu baru diajarkan ilmu-ilmu yang mustahab. Selain itu, adab menuntut (adabul-ilmi) menjadi soko guru kurikulum yang dirancang. Adab-abad dalam Islam dalam menuntut ilmu, baik adab guru maupun murid, dipegang secara konsisten di pesantren. Palanggaran pendidikan terjadi ketika adab-adab ini dilanggar.

Salah satu adab, misalnya, murid harus membersihkan jiwa (tazkiyatun-nafs) selaa proses belajar dilakukan; dan guru pun harus mengawali pekerjaannya dengan niat semata mengharap ridha Allah Swt. Prinsip ini tidak pernah dikenal dalam sistem pendidikan sekuler. Namun, dalam sistem pendidikan Islam seperti yang dipraktikan di pesantren prinsip ini menjadi prinsip sentral. Siapapun yang melanggar dianggap telah melakukan pelanggaran serius dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu, sepanjang sejarahnya, pesantren tidak hanya dikenal sebagai pusat keilmuan, tetapi juga benteng moral dan spiritual. Sebab, di dalam Islam tidak pernah ada pemisahan antara ilmu, moralitas, dan spiritualitas. Ketiganya berada dalam kontinum yang beriringan untuk melahirkan manusia sempurna (insan kâmil).

Kelima, seiring dengan misi dan konsep pendidikan Islam, pesantren secara esensial telah memprkatikkan tujuan pendidikan yang benar, yaitu untuk menyiapkan manusia-manusia yang benar. Pesantren tidak pernah mencanangkan pendidikannya untuk menyiapkan tukang-tukang untuk menjadi skrup pembangunan negara. Pesantren hanya berkonsentrasi untuk menyiapkan “manusia-manusia baik”. Manusia yang baik ini pada gilirannya dapat menjadi bagian dari warga negara baik yang akan memberikan kontribusi penting bagi pembangunan.

Walaupun tidak pernah menyiapkan alumni-alumninya untuk menjadi pekerja-pekerja, namun sangat jarang pesantren meluluskan pengangguran-pengangguran. Pada umumnya, alumni-alumni pesantren memiliki jiwa mandiri dan semangat enterpreuneurship yang tinggi sehingga saat lulus dari pesantren tidak pernah terpikir untuk hidup menganggur. Sekadar untuk hidup, mereka tidak akan menjadi beban orang lain. Semangat ini merupakan buah dari adab Islam yang diajarkan dan ditanamkan di pesantren.

Amat disayangkan ketika gelombang sekularisme menyerang sendi-sendi kehidupan umat Islam di Indonesia, prinsip-prinsip yang benar yang dipraktikkan oleh pesantren tidak pernah menjadi referensi serius dalam pengembangan dan perancangan pendidikan di negeri ini. Pendidikan pesantren dianggap sebagai pendidikan kolot yang sudah harus ditinggalkan. Kesan pesantren yang kumuh, ndeso,  terbelakang, uninformed, anti-kemajuan, dan semisalnya sering dikampanyekan agar umat Islam di negeri ini tidak pernah mau lagi dekat dengan pesantren. Yang paling menyedihkan, penguasa negeri ini bahkan tidak pernah mengakui pesantren sebagai lembaga pendidikan yang sah dan memiliki civil effect seperti halnya sekolah-sekolah sekuler yang disponsori pemerintah. Pemerintah malah sagat bernafsu untuk mengubah pesantren agar mengikuti pola pendidikan yang dirancang pemerintah sekalipun sama sekali tidak mencerminkan konsep pendidikan yang benar menurut Islam.

Kesan yang sengaja diciptakan itu mengakibatkan persepsi masyarakat terhadap pesantren menjadi begitu negatif. Kepercayaan diri pesantren yang tidak mengerti dasar-dasar pemikiran yang kuat dan hanya menjalankan ritual sebuah pesantren semakin lama semakin terkikis. Banyak pesantren yang terpaksa harus ‘takluk’ pada keinginan pasar dengan mengikuti keinginan pemerintah. Tidak sedikit pesantren yang akhirnya gulung tikar dan lebih memilih mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dengan model sekuler. Adab-adab ilmu yang selama ini dipraktikkan di pesantren serta merta ikut terkikis dengan ditutupnya sistem pendidikan pesantren lama.

Memang model pendidikan dapat saja dimodifikasi mengikuti kebutuhan dan tuntutan zaman, baik dari sisi kelembagaan maupun administrasi. Namun, esensi dan adab ilmu yang merupakan landasan penyelenggaraan pendidikan dalam Islam tetap harus menjadi acuan utama. Inilah yang menjadi cermin berlakunya pandangan hidup Islam (Islamic worldview) dalam pendidikan. Seiring dengan semakin mengguritanya pemikiran, konsep, dan praktik pendidikan sekular, pandangan hidup Islam dalam dunia pendidikan pun semakin tidak popular, bahkan di kalangan umat Islam sendiri.

Penyebab utamanya adalah ketidakmengertian para praktisi dan pemikir pendidikan terhadap prinsip-prinsip pendidikan Islam yang benar. Oleh sebab itu, sudah seharusnya calon-calon praktisi an pemikir pendidikan dipahamkan mengenai pemikiran Islam yang benar. Idealnya, seorang praktisi pendidikan Muslim harus menguasai secara komprehensif dasar-dasar ajaran Islam yang merupakan ilmu fardhu ‘ain sehingga pemahamannya tentang Islam komprehensif dan mendasar. Untuk itu, mereka harus memiliki basis studi Islam yang kuat. Apalagi, saat ini, tantangan dunia pemikiran Islam sangat dinamis. Sebab, untuk memuluskan misinya di bidang pendidikan, negara-negara Barat saat ini  tidak segan-segan melakukan berbagai usaha besar-besaran dalam mempercepat liberalisasi dalam studi dan pemikiran Islam di Indonesia, terutama di bidang pendidikan.

Mengingat kebutuhan mendesak dan keterbatasan waktu, wawasan tentang studi dan pemikiran Islam diberikan secara mendasar dan komprehensif dalam mata kuliah Islamic Worldview ini, sehingga diharapkan, ke depan, sarjana-sarjana pendidikan dapat mengembangkan keilmuan Islamnya lebih jauh. Wawasan ini bukan hanya bermanfaat untuk membentengi dirinya dari pemikiran-pemikiran destruktif yang dapat merusak akidahnya, tapi juga bermanfaat untuk membuka wawasannya lebih jauh tentang keilmuan Islam. Jika suatu ketika dia berminat melanjutkan studi Islam ke jenjang yang lebih tinggi, dia sudah mendapatkan wawasan mendasar dalam hal ini. Ibaratnya, dia sudah berada dir el yang benar, meskipun baru dalam taraf awal pemberangkatan.

Secara umum, materi kuliah ini memang dirancang untuk memberikan wawasan yang mendasar tentang Islam. Diharapkan para mahasiswa akan memiliki kerangka (framework) pemikiran Islam yang kokoh, sehingga mampu menilai dan menyaring berbagai bentuk pemikiran yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Dengan kata lain, diharapkan, setelah menerima materi kuliah ini, seseorang tidak lagi terombang-ambing dalam pemikiran keagamaan, elainkan makin bersemangat dalam mendalami keilmuwan Islam lebih jauh lagi, dan lebih penting lagi ia semakin terdorong untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dengan dasar pemikiran semacam ini, diharapkan, sarjana pendidikan Islam bukan hanya menjadi ‘zombi’ dalam dunia pendidikan yang tunduk dalam kepentingan pasar. Ia hanya menjalankan aktivitasnya semata karena uang, tanpa ruh dan semangat beribadah pada Allah Swt. Diharapkan dia sadar sesadar-sadarnya bahwa yang dilakukannya adalah bagian dari tugasnya menjalankan perintah Allah Swt. dan menegakkan kalimah-Nya di muka bumi ini.

Dengan mengikuti materi-materi dalam perkuliahan ini, diharapkan dia menjadi Muslim yang kaffah, yang memiliki pemahaman Islam yang mendasar, kokoh, mencintai keilmuan Islam yang memadai, dan tentu saja professional di bidang pendidikan dan di berbagai bidang profesi lain sesuai dengan bakat dan kemampuan yang diberikan Allah Swt. kepadanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s