DI BALIK DUKUNGAN UNI EROPA TERHADAP KEMERDEKAAN PALESTINA

Tiar Anwar Bachtiar*)

Menengok berita-berita mengenai Palestina beberapa minggu belakangan ini, salah satu yang menarik adalah mengenai dukungan Uni Eropa atas berdirinya Negara Palestina merdeka. Bermula dari pertemuan para Menteri Luar Negeri Uni Eropa di Brussel (8/12/2009) yang mengusulkan Yarussalem dibagi dua, menjadi ibu kota negara Israel dan Palestina.

Menyusul hasil pertemuan itu, Portugal dan Spanyol menyatakan agar Uni Eropa segera mendesak Israel untuk menghentikan perampasan lahan dan pembangunan di Tepi Barat. Bahkan Spanyol, yang akan menjadi pemimpin Uni Eropa berjanji akan mengupayakan berdirinya Negara Palestina pada tahun 2010. Menteri Luar Negeri Spanyol Miguel Angel Moratinos menegaskan kepada wartawan di Brussel, Jumat (18/12/09), “Gagasan saya, dan impian saya, dan janji saya, adalah untuk bekerja untuk mewujudkan negara Palestina pada 2010, yang dapat hidup dalam damai dan aman dengan Israel.”

Memperhatikan perkembangan ini, secara opini publik, kelihatannya Uni Eropa ingin tampil sebagai pahlawan baru dalam konflik Timur Tengah, terutama di Palestina, setelah popularitas Amerika semakin melorot di sana. Janji-janji Obama tentang perdamaian Timur Tengah dan hubungan Islam-Barat yang semakin baik di awal pemerintahannya, sama sekali tidak terbukti. Dalam situasi seperti ini, tiba-tiba Uni Eropa muncul. Namun, benarkah Uni Eropa sungguh-sungguh semata ingin mewujudkan perdamaian di Palestina? Mengapa tiba-tiba Uni Eropa begitu penduli?

 

Persaingan Uni-Eropa vs Amerika

Sekalipun dalam pengetahuan awam Eropa dan Amerika (plus Australia) sama-sama sering disebut “Barat”, namun sesungguhnya di antara kedua blok ini bukan tanpa persaingan sengit, terutama dalam perebutan supremasi ekonomi dunia. Persaingan ini muncul ke permukaan sejak WTO (World Trade Organization) didirikan tahun 1995.

Keinginan negara-negara yang tergabung dalam WTO melakukan perdagangan bebas, ternyata kalah oleh kepentingan negara masing-masing. Dalam konteks ini, Amerika dan negera-negara Uni Eropa yang sama-sama menjadi pendiri WTO, ternyata masing-masing tidak konsisten menjalankan semua aturan WTO. Akhirnya, agenda globalisasi perdagangan dikalahkan oleh kepentingan negara masing-masing. Yang tersisa hanyalah persaingan perebutan kepentingan.

Di Timur Tengah, Amerika dan Uni Eropa sama-sama memiliki agenda melakukan kontrol atas minyak. Penguasaan atas minyak Timur Tengah dianggap aspek paling strategis untuk menguasai dunia yang sangat bergantung pada minyak. Selain itu, menguasai sumber-sumber daya di wilayah ini juga sangat penting untuk mengontrol akses bagi masuknya Cina yang miskin energi. Dengan begitu, China tetap tidak akan menjadi pesaing serius bagi mereka.

Dalam konteks ini, Amerika sangat berhati-hati terhadap peran Uni Eropa yang bisa saja menggantikan posisi Amerika saat ini. Persaingannya dengan Uni Eropa dalam soal minyak menjadi aspek utama hubungan trans-Atlantik. Untuk itulah, Amerika dan Uni Eropa saling bersaing untuk dapat menguasai wilayah-wilayah di Timur Tengah.

Melihat kenyataan persaingan ekonomi-politik yang sudah cukup lama antara Uni Eropa dengan Amerika Serikat, rasanya tidak berlebihan menganggap wajar keseriusan Uni Eropa mendukung berdirinya Palestina, sekalipun pada saat yang sama desakan Uni Eropa ini merugikan kepentingan Israel yang di-back up sepenuhnya oleh Amerika.

Selama ini, kontrol atas minyak Timur Tengah dimainkan secara strategis oleh Amerika. Investasi besar Amerika mendukung kepentingan-kepentingan Israel di Palestina, dibayar setimpal dengan akses terhadap minyak yang kaya dan melimpah. Melalui pintu Israel pula Amerika berhasil memainkan peran politiknya di Timur Tengah hingga berhasil menggaet beberapa negara penting untuk menjadi sekutunya seperti Mesir, Saudi Arabia, Kuwait, dan lainnya.

Selama bertahun-tahun, posisi Amerika begitu kuat. Negara-negara lain seperti Uni Eropa kelihatannya belum menemukan celah masuk menyaingi Amerika secara signifikan. Semenjak Bush berkuasa, politik ekspansi Amerika menjadi salah satu bumerang terhadap ketahanan ekonominya sendiri. Dana perang yang harus dikucurkan telah menguras pundi-pundi dolar Amerika. Melemahnya ekonomi, mengakibatkan Amerika mulai kewalahan mengelola investasi dan kontrol minyaknya di Timur Tengah.

Uni Eropa jeli membaca peluang ini. Sejak Hamas memenangi Pemilu, sebetulnya berkali-kali Uni Eropa mencoba masuk melalui pemerintahan Ismail Haniya. Di antara negara-negara Eropa, Rusia yang paling agresif. Namun, rupanya bekerja sama dengan Hamas tidak memberikan prospek cerah bagi Uni Eropa. Selain itu, ambisi Bush masih terlihat begitu powerfull. Kali ini, saat Amerika semakin melemah, kesempatan masuk ke Timur Tengah mulai terbuka lebar. Uni Eropa terlihat percaya diri sekalipun harus berhadapan dengan kepentingan pesaing ekonomi utamanya, Amerika Serikat.

 

Pintu Konflik Hamas-Fatah

Selain celah kelemahan Amerika, di Palestina Uni Eropa akan menemukan partner yang prospektif, yakni Perdana Menteri Salam Fayyad dan kelompok Fatah yang berdiri di belakangnya. Sejak konflik Hamas-Fatah tahun 2007, praktis Palestina terbelah dua. Tepi Barat dikuasai Fatah di bawah Salam Fayyad. Jalur Gaza dikontrol sepenuhnya oleh Hamas di bawah Islamil Haniya.

Posisi Hamas hingga saat ini begitu terjepit. Selain terus-menerus mendapat serangan dari Israel sejak Desember 2008 lalu, di kancah internasional pun posisinya tidak diakui. Dunia internasional (baca: PBB) hanya mengakui Mahmud Abbas dan Salam Fayyad. Hubungan-hubungan internasional resmi Hamas terhambat. Hamas harus kembali memainkan hubungan internasional bawah tanah seperti yang sudah dilakukannya sejak lama. Selain itu, boikot ekonomi terhadap Gaza semakin mempersulit posisi Hamas. Satu-satunya kekuatan resmi Hamas hanya tersisa di Parlemen yang sejak Pemilu 2006 memang dikuasasi kelompok ini.

Pemerintahan yang kembali dikuasai Fatah membukakan celah lebih lebar kepada Uni Eropa untuk masuk secara signifikan ke Timur Tengah melalui Palestina. Karakter Fatah yang pragmatis akan dapat memuluskan berbagai misi dan target Uni Eropa. Oleh sebab itu, dengan sangat optimis Uni Eropa ingin menaruh saham terbesar bagi berdirinya Negara Palestina.

Kalau ini berhasil, Uni Eropa akan dapat memainkan Palestina baru untuk kepentingan ekonomi-politik Uni Eropa. Sekalipun kelihatannya akan mendapat tentangan dari Israel, namun sesungguhnya tidak akan serius. Pada saatnya Amerika semakin melemah, tidak akan ada lagi yang akan dijadikan pelindung Israel yang paling kuat dan memungkinkan selain Uni Eropa. Ini hanya masalah waktu. Selain tidak ada konflik ideologis signifikan antara Israel-Uni Eropa, bukankah yang menyiapkan dan membidani lahirnya Israel adalah negara-negara Eropa? Jadi amat logis kalau di kemudian hari, Eropa kembali menjadi teman-strategis bagi Israel.

*) (Ketua PP Pemuda Persatuan Islam; Penulis Buku HAMAS; Kenapa Dibenci Israel?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s