Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer

Oleh: Dr. Adian Husaini

“I venture to maintain that the greatest challenge that has surreptitiously arisen in our age is the challenge of knowledge, indeed, not as against ignorance; but knowledge as conceived and disseminated throughout the world by Western civilization.”

(Prof. Syed Muhammad Naqub al-Attas).

Tantangan Peradaban Barat

Mengapa kaum Katolik, pada 19 April 2005,  memilih Kardinal Joseph Razinger sebagai Paus baru yang menggantikan Paus Yohanes Paulus II?  Menurut Kardinal Francis George dari Chicago, terpilihnya   Kardinal Ratzinger sebagai Paus di awal abad ke-21 sangatlah tepat, sebab, setelah Komunis runtuh, saat ini tantangan terbesar dan tersulit justru datang dari peradaban Barat. Ratzinger yang memilih nama Benediktus XVI adalah orang yang datang dari Barat dan memahami sejarah dan kebudayaan Barat. (Today the most difficult challenge comes from the West, and Benedict XVI is a man who comes from the West, who understands the history and the culture of the West). Tahun 1978, saat terpilihnya Paus Yohannes Paulus II, tantangan terberat yang dihadapi Katolik adalah Komunisme. Dan tahun 2005, para Kardinal telah memilih seorang Paus yang tepat untuk menghadapi apa yang disebut oleh Paus Benediktus XVI sebagai “dictatorship of relativism in the West”. 1

Jauh sebelum Paus Benediktus menyebutkan bahwa paham relativisme iman produk peradaban Barat sebagai tantangan terbesar kaum Katolik, banyak cendekiawan Muslim sudah mengkaji secara serius tentang hakekat peradaban Barat. Ulama besar India Syekh Abul Hasan  Ali an-Nadwi, berpendapat, bahwa peradaban Barat adalah kelanjutan peradaban Yunani dan Romawi yang telah mewariskan kebudayaan politik, pemikiran, dan kebudayaan. Kebudayaan Yunani, yang menjadi inti kebudayaan Barat,  memiliki sejumlah “keistimewaan”, yaitu: (1) kepercayaan yang berlebihan terhadap kemampuan panca indera dengan meremehkan hal-hal yang di luar panca sindera, (2) kelangkaan rasa keagamaan dan kerohanian, (3) sangat menjunjung tinggi kehidupan duniawi dan menaruh perhatian yang berlebihan terhadap manfaat dan kenikmatan hidup, dan (4) memiliki rasa patriotisme. Semua itu dapat diringkas dalam satu kata: “materialisme”. Peradaban Romawi yang menggantikan peradaban Yunani memiliki keunggulan dalam hal kekuatan, tata pemerintahan, luasnya wilayah, dan sifat-sifat kemiliteran. Romawi kemudian mewarisi peradaban Yunani sampai ke akar-akarnya, sehingga Bangsa Romawi tidak lagi berbeda dengan Yunani dalam karakteristik dasar. Keduanya memiliki persamaan besar: mengagungkan hal duniawi, skeptis terhadap agama, lemah iman, meremehkan ajaran dan praktik keagamaan, fanatik kebangsaan, serta patriotisme yang berlebihan. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Romawi tidak memiliki kepercayaan keagamaan yang mantap. Sejak semula mereka telah mengembangkan paham sekularisme yang menganggap Tuhan tidak berhak memasuki urusan politik maupun urusan keduniaan lainnya. 2

Karena itulah, menurut an-Nadwi, gelombang modernisme peradaban Barat ke dunia Islam, merupakan ancaman terbesar dalam bidang pemikiran dan keimanan. Dia mengungkapkan:

“… di saat sekarang ini selama beberapa waktu dunia Islam telah dihadapkan pada ancaman kemurtadan yang menyelimuti bayang-bayang di atasnya dari ujung ke ujung…Inilah kemurtadan yang telah melanda muslim Timur pada masa dominasi politik Barat, dan telah menimbulkan tantangan yang paling serius terhadap Islam sejak masa Rasulullah saw…Filsafat materialistis Barat ini tak diragukan lagi adalah “agama” terbesar yang diajarkan di dunia setelah Islam. Ia adalah agama terbesar dipandang dari sudut keluasan bidangnya; agama yang paling mendalam dipandang dari sudut kedalaman tancapan akarnya… bahwa kemurtadan-kemurtadan macam inilah yang pada masa sekarang melanda dunia Islam dari ujung satu ke ujung yang lain. Ia telah melancarkan serangan gencarnya dari rumah ke rumah dan dari keluarga ke keluarga. Sekolah-sekolah dan universitas semua telah dibanjiri dengannya. Hampir tak ada keluarga yang masih beruntung tak memiliki anggota yang menganut kepercayaan ini. 3

 

Secara hakiki, peradaban Barat memiliki perbedaan yang fundamental dengan Islam.  Barat adalah sebuah peradaban yang berdasarkan nilai-nilai sekular-liberal, yang kini dipaksakan untuk dianut oleh seluruh umat manusia, melalui berbagai cara. Sejak awal, peradaban yang tumbuh dari tradisi Yunani-kuno dan Romawi ini sebenarnya memiliki tradisi yang berakar pada nilai-nilai materialistik, hedonistik, dan juga mistik. Banyak sarjana Muslim yang sudah mengkaji dengan cermat hakekat peradaban Barat ini, dan menjelaskan apa karakteristik negatif dan positif yang ada pada peradaban yang sedang menang ini. 4

               Muhammad Asad (Leopold Weiss) mencatat, bahwa Peradaban Barat modern hanya mengakui penyerahan manusia kepada tuntutan-tuntutan ekonomi, sosial, dan kebangsaan. Tuhannya yang sebenarnya bukanlah kebahagiaan spiritual melainkan keenakan, kenikmatan duniawi. Mereka mewarisi watak nafsu untuk berkuasa dari peradaban Romawi Kuno.  Konsep “keadilan” bagi Romawi, adalah ”keadilan” bagi orang-orang Romawi saja.  Sikap semacam itu hanya mungkin terjadi dalam peradaban yang berdasarkan pada konsepsi hidup yang sama sekali materialistik. Asad menilai, sumbangan agama Kristen terhadap peradaban Barat sangatlah kecil. Bahkan, saripati peradaban Barat itu sendiri sebenarnya ‘irreligious’. (… so characteristic of modern Western Civilization, is as unacceptable to Christianity as it is to Islam or any other religion, because it is irreligious in its very essence). 5

Sarjana dan penyair Muslim terkenal, Dr. Muhammad Iqbal pun dikenal sangat tajam dalam menyorot peradaban Barat dan banyak menulis puisi tentang kebobrokannya. Iqbal sendiri merupakan ‘produk pendidikan Barat’. Ia meraih PhD di Eropa dengan tesis berjudul “The Development of Metaphisics in Persia”. Dalam kumpulan puisinya, Jawid Namah, Iqbal nengungkap ketamakan peradaban Barat modern yang kurang mempedulikan aspek kemanusiaan: “Her eyes lack of the tears of humanity, because of the love of gold and silver.” Dalam puisinya Bal-e-Jibril,  Iqbal juga mengingatkan bahaya pendidikan Barat modern yang berdampak terhadap hilangnya keyakinan kaum muda Muslim terhadap agamanya. Padahal, menurut Iqbal, keyakinan adalah aset yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia. Jika keyakinan hilang dari diri seorang manusia, maka itu lebih buruk ketimbang perbudakan. Dikatakan Iqbal dalam puisinya: “Conviction enabled Abraham to wade into the fire; conviction is an intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you, oh victims of modern civilization! Lack of  conviction is worse than slavery.” 6

Dalam bukunya Islam versus the West, Maryam Jemeela – seorang keturunan Yahudi Amerika yang sebelum memeluk Islam bernama Margareth Marcus – memaparkan bahwa antara Islam dan Barat terdapat perbedaan yang fundamental. Sehingga, menurutnya,  tindakan imitatif atau penjiplakan terhadap pandangan hidup Barat yang berbasiskan materialisme, pragmatisme, dan filsafat sekular, akan berujung pada pemusnahan Islam. (The imitation of Western ways of life based on their materialistic, pragmatic, and secular philosophies can only lead to the abandonment of Islam). 7

Cendekiawan Muslim dari Malaysia, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendiri International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), juga banyak menulis tentang hakekat peradaban Barat. Pada tahun 1970-an, dia sudah menulis buku Risalah Untuk Kaum Muslimin dan juga buku terkenalnya Islam and Secularism, yang sudah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Secara sederhana, hakikat peradaban Barat dijelaskan al-Attas dalam buku Risalah untuk Kaum Muslimin:

“Biasanya yang disebutkan orang sebagai Kebudayaan Barat itu adalah hasil warisan yang telah dipupuk oleh bangsa-bangsa Eropah dari Kebudayaan Yunani Kuno yang kemudian diadun pula dengan campuran Kebudayaan Rumawi  dan unsur-unsur lain dari hasil cita-rasa dan gerak-daya bangsa-bangsa Eropah sendiri, khususnya dari suku-suku bangsa Jerman, Inggris dan Perancis. Dari Kebudayaan Yunani Kuno mereka telah meletakkan dasar-dasar falsafah kenegaraan serta pendidikan dan ilmu pengatahuan dan kesenian; dari Kebudayaan Rumawi Purbakala mereka telah merumuskan dasar-dasar undang-undang dan hukum serta ketatanegaraan. Agama Kristian, sungguhpun berjaya  memasuki benua Eropah, namun tiada juga meresap ke dalam kalbu Eropah. Justru sesungguhnya agama yang berasal dari Asia Barat dan merupakan, pada tafsiran aslinya, bukan agama baharu tetapi suatu terusan dari agama Yahudi itu, telah diambil- alih dan dirobah-ganti oleh Kebudayaan Barat demi melayani ajaran-ajaran dan kepercayaan yang telah lama dianutnya sebelum kedatangan ‘agama Kristian’. Mereka telah mencampuradukkan ajaran-ajaran yang kemudian menjelma sebagai agama Kristian dengan kepercayaan-kepercayaan kuno Yunani dan Rumawi, dan Mesir dan Farsi dan juga anutan-anutan golongan Kaum Biadab.” 8

 

Dengan memahami hakikat peradaban Barat yang tidak berdasarkan agama dan hanya berdasarkan spekulasi semacam itu,   Al-Attas sampai pada kesimpulan bahwa problem terberat yang dihadapi manusia dewasa ini adalah hegemoni dan dominasi keilmuan Barat yang mengarah pada kehancuran umat manusia. Satu fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Al-Attas memulai tulisannya dalam ‘Dewesternization of Knowledge’ dengan ungkapan, bahwa sepanjang sejarahnya, manusia telah menghadapi banyak tantangan dan kekacauan. Tetapi, belum pernah, mereka menghadapi tantangan yang lebih serius daripada yang ditimbulkan oleh peradaban Barat saat ini. (Many challenges have arisen in the midst of man’s confusion throughout the ages, but none perhaps more serious and destructive to man than today’s challenge posed by Western Civilization). Kekacauan itu, menurut al-Attas,  bersumber dari sistem keilmuan Barat itu sendiri. Al-Attas mencatat:

“I venture to maintain that the greatest challenge that has surreptitiously arisen in our age is the challenge of knowledge, indeed, not as against ignorance; but knowledge as conceived and disseminated throughout the world by Western civilization.”

Knowledge yang disebarkan Barat itu, menurut al-Attas, pada hakekatnya telah menjadi problematik, karena kehilangan tujuan yang benar; dan lebih menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia, ketimbang membawa perdamaian dan keadilan; knowledge yang seolah-olah benar, padahal memproduksi kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism); bahkan knowledge yang untuk pertama kali dalam sejarah telah membawa kepada kekacauan dalam ‘the Three Kingdom of Nature’ yaitu dunia binatang, tumbuhan, dan mineral.   Menurut al-Attas, bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama, dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. (Man is deified and Deity humanised). 9

Sejak zaman kolonial klasik, misi kolonialisme di dunia Islam telah dijalankan dengan mengambil bentuk “trologi imperialisme” (gold, gospel, and glory), yang mengambil bentuk aksi ‘misi Kristen’, ‘kolonialisme/imperialisme’ dan ‘orientalisme’. Hingga kini, dengan segala bentuk perubahan modus dan teknisnya, ketiga misi itu tetap berjalan. Dalam tulisan ini, akan dibahas dua tantangan bagi umat Islam, masalah Kristenisasi dan Orientalisme.

 

Masalah Kristenisasi

Masalah Kristenisasi adalah persoalan laten bagi kaum Muslim dan pemeluk agama-agama lain, termasuk di Indonesia. Tokoh-tokoh Kristen Indonesia — seperti Dr. W.B. Sidjabat dan TB Simatupang —  biasanya berusaha mengelak bahwa kekuasaan kolonial Belanda ikut membantu penyebaran agama Kristen di Indonesia. Menurut mereka, kaum misionaris sama sekali tidak ada kaitannya dengan ambisi duniawi kaum kolonialis. Penyebaran agama Kristen, lebih disebabkan oleh kuasa Alkitab dan bukan terutama disebabkan oleh orang-orang Kristen. Tetapi, bukti-bukti sejarah sangat sulit menerima argumentasi tokoh-tokoh Kristen semacam itu. Bantuan dan campur tangan kaum kolonialis dalam Kristenisasi sulit dipungkiri dalam sejarah.10

Mengutip tulisan sejarawan KM Panikkar dalam bukunya Asia and Western Dominance, Prof. Dr. Bilveer Singh mencatat, “Yang mendorong bangsa Portugal (untuk menjajah di Asia adalah) strategi besar melawan kekuatan politik Islam, melakukan Kristenisasi, dan keinginan untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah.” Sebagaimana ditunjukkan oleh Panikkar, sementara bagi negara-negara Eropa Barat lainnya Islam hanyalah ancaman yang jauh, bagi orang-orang yang tinggal di kepulauan Iberia, castile, Aragon, dan Portugal, Islam mewakili sesuatu yang mengancam, perkasa, dan selalu siap siaga di depan beranda rumah mereka. Dari sudut pandang ini, kata Panikkar,  “Islam adalah musuh dan harus diperangi dimana-mana. Banyak tindakan Portugal di Asia tidak akan dapat dipahami kecuali fakta ini selalu diperhatikan. Jadi, disamping untuk Kristenisasi atas ‘wilayah kafir’, Islam harus dilawan di jantungnya, dengan menyerangnya dari belakang. Hal ini juga diharapkan akan menguntungkan secara ekonomis.

Dalam kaitan ini, Pangeran Henry Sang Pelaut (1394-1460) melancarkan “strategi besar” dengan tujuan untuk mengepung kekuatan Muslim dan membawa agama Kristen langsung ke wilayah Samudera Hindia. Ketika berhasil menduduki Malaka, D’albuquerqe berpidato, “tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor (Muslim) dari negara ini dan memadamkan api Sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini… Saya yakin, jika kita berhasil merebut jalur perdagangan Malaka ini dari tangan mereka (orang-orang Moor), Kairo dan Mekkah akan hancur total dan Venice tidak akan menerima rempah-rempah kecuali para pedagangnya pergi dan membelinya di Portugal.” 11

Karena itu, bukan hal aneh, jika penjajahan (kolonialisme) Barat di dunia Islam, selalu bekerjasama dengan misionaris Kristen untuk melanggengkan kekuasaannya. Mengutip pengakuan Alb C. Kruyt (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum, Dr. Aqib Suminto mencatat:

“Bagaimanapun juga Islam harus dihadapi, karena semua yang menguntungkan Islam di Kepulauan ini akan merugikan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Dalam hal ini diakui bahwa kristenisasi merupakan faktor penting dalam proses penjajahan dan zending Kristen merupakan rekan sepersekutuan bagi pemerintah kolonial, sehingga pemerintah akan membantu menghadapi setiap rintangan yang menghambat perluasan zending.” 12

Keterkaitan erat antara gerakan Kristenisasi dengan pemerintah kolonial banyak diungkap oleh para ilmuwan Indonesia, seperti Aqib Suminto (Politik Islam Hindia Belanda), Deliar Noer (Gerakan Islam Modern) dan juga Alwi Shihab (Membendung Arus Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia). Politik netral agama yang dikumandangkan oleh pemerintah Belanda terbukti tidak benar, sebab dalam kenyataannya, mereka sangat mendukung gerakan misi Kristen di Indonesia.

Sejumlah dekrit kerajaan Belanda dikeluarkan untuk mendukung misionaris Kristen di Indonesia. Pada tahun 1810, Raja William I dari Belanda mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa para misionaris akan diutus ke Indonesia oleh dan atas biaya pemerintah. Pada 1835 dan 1840, ada dekrit lain yang dikeluarkan, yang menyatakan bahwa administrasi gereja di Hindia Belanda ditempatkan di bawah naungan Gubernur Jenderal pemerintah kolonial. Pada 1854, sebuah dekrit lain dikeluarkan, yang mencerminkan bahwa kedua badan di atas saling berkaitan. Dekrit itu menyebutkan bahwa administrasi gereja antara lain berfungsi mempertahankan doktrin agama Kristen. Karena itu, sejumlah fasilitas diberikan kepada para misionaris, termasuk subsidi pembangunan gereja, biaya pulang pergi misionaris Indonesia-Belanda, dan pembayaran gaji para pendeta, disamping subsidi untuk sekolah, rumah sakit, dan rumah yatim-piatu, serta berbagai keringanan pajak. Pada tahun 1888, Menteri Urusan Kolonial, Keuchenis, menyatakan dukungannya terhadap semua organisasi misionaris dan menyerukan agar mereka menggalang kerjasama dengan pemerintah Belanda untuk memperluas pengaruh Kristen dan membatasi pengaruh Islam. J.T. Cremer, Menteri untuk Urusan Kolonial lain, dengan semangat yang sama, juga menganjurkan agar kegiatan-kegiatan misionaris dibantu, karena hal itu — dalam pandangannya — akan melahirkan “peradaban, kesejahteraan, keamanan, dan keteraturan. 13

Pada 1901, Abraham Kuyper, pemimpin Partai Kristen, ditunjuk sebagai Perdana Menteri, menyusul kekalahan Partai Liberal oleh koalisi partai-partai kanan dan agama. Alexander Idenburg, yang di masa mudanya pernah bercita-cita sebagai misionaris, mengambil alih kantor pemerintah kolonial. Kebijakan selama 50 tahun yang kurang lebih bersifat “netral agama” diubah menjadi kebijakan yang secara terang-terangan mendukung misi Kristen. Berbagai subsidi terhadap sekolah Kristen dan lembaga misi yang semua ditolakkarena dikhawatirkan memancing reaksi keras kaum Muslim, mulai diberikan secara besar-besaran. Kebijakan ini menunjukkan bahwa netralitas dalam agama adalah ilusi belaka. Idenburg yang menjabat Gubernur Jenderal dari 1906-1916, terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap kegiatan misi di Indonesia. Dalam salah satu laporannya kepada pemerintah pusat, ia mengatakan, “Saya cukup sibuk dengan Kristenisasi atas daerah-daerah pedalaman.” Bagi pemerintah kolonial, ancaman dari mereka yang sudah masuk Kristen akan lebih kecil dibandingkan dari kaum Muslim, karena kaum Kristen lebih dapat diajak kerjasama. Tujuan pemerintah kolonial dan misionaris dapat dikerjasamakan. Di satu pihak, pemeritah kolonial memandang koloni mereka sebagai tempat mengeruk keuntungan finansial. Di sisi lain, misionaris memandang koloni mereka sebagai tempat yang diberikan Tuhan untuk memperluas “Kerajaan Tuhan”. 14

Kaum Kristen biasanya merujuk kepada sejumlah ayat dalam Bibel sebagai legitimasi kewajiban menjalankan misi Kristen kepada bangsa-bangsa non-Kristen.  Kitab Markus, 16 :15, misalnya,   menyerukan: ‘’Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah  Injil kepada segala makhluk.’’ Maka, baik Kristen Protestan maupun Katolik di Indonesia, sama-sama menegaskan, bahwa misi Kristen harus tetap dijalankan. Dari kalangan Protestan,  Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Dr. AA Yewangoe, menegaskan: “Setiap agama mengklaim diri sebagai yang mempunyai misi dari Tuhan, yang mesti diteruskan kepada manusia. Klaim ini adalah klaim imaniah yang tidak dapat diganggu gugat. Memang, tidak dapat dibayangkan sebuah agama tanpa misi, sebab dengan demikian, tidak mungkin agama itu eksis. Agama tanpa misi bukanlah agama… Tanpa misi, gereja bukan lagi gereja.” Meskipun begitu, Yewangoe mengimbau agar misi Kristen dilakukan cara-cara yang santun, dan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Ia, misalnya, tidak setuju dengan penggunaan cara mendatangi rumah orang Islam dan mengajak orang Islam masuk Kristen. (Suara Pembaruan, 26/12/2005).

Tahun 1962, H. Berkhof dan I.H. Enklaar, menulis buku berjudul Sedjarah Geredja, (Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1962), yang menggariskan urgensi dan strategi menjelankan misi Kristen di Indonesia. Berikut ini ungkapan mereka:

“Boleh kita simpulkan, bahwa Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Indjil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Djumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa…. di tengah-tengah 150 juta penduduk! Djadi tugas Sending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan sadja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan2 Indjil. Apalagi bukan saja rakyat djelata, lapisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi djuga dan terutama para pemimpin masjarakat, kaum cendikiawan, golongan atas dan tengah”. Pelaksanaan tugas raksasa itu selajaknya djangan hanya didjalankan dengan perkataan sadja tetapi djuga dengan perbuatan. Segala usaha Pekabaran Indjil jang sudah dimulai pada masa lalu, hendaknya dilandjutkan, bahkan harus ditambah. Penerbitan dan penjiaran kitab2 kini mendapat perhatian istimewa. Penterdjemahan Alkitab kedalam bahasa daerah oleh ahli2 bahasa Lembaga Alkitab, yang sudah mendjadi suatu berkat rohani jang tak terkatakan besarnya, harus terus diusahakan dengan radjin. Perawatan orang sakit tetap mendjadi suatu djalan jang indah untuk menjatakan belas-kasihan dan pertolongan Tuhan Jesus terhadap segala jang tjatjat tubuhnya. Pengadjaran dan pendidikan Kristen pun sekali2 tak boleh diabaikan oleh Geredja… Dengan segala djalan dan daja upaja ini Geredja Jesus Kristus hendak bergumul untuk merebut djiwa-raga bangsa Indonesia dari tjengkeraman kegelapan rohani dan djasmani, supaja djalan keselamatan jang satu2nya dapat dikenal dan ditempuh oleh segenap rakjat.”  15

 

Dalam buku “Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini” (1964), tokoh Kristen Dr. W.B. Sidjabat menulis bab khusus tentang tantangan Islam bagi misi Kristen di Indonesia:

“Saudara2, kenjataan2 jang saja telah paparkan ini telah menundjukkan adanya suatu tantangan jang hebat sekali untuk ummat Kristen… Dalam hubungan ini saja hendak menundjukkan kepada ummat Kristen bahwa sekarang ini djumlah jang menunggu2 Indjil Kristus Jesus djauh lebih banyak daripada djumlah jang dihadapi oleh Rasul2 pada abad pertama tarich Masehi…Pekabaran Indjil di Indonesia, kalau demikian, masih akan terus menghadapi “challenge” Islam dinegara gugusan ini… Seluruhnya ini menundjukkan bahwa pertemuan Indjil dengan Islam dalam bidang-tjakup jang lebih luas sudah “dimulai”. Saja bilang “dimulai”, bukan dengan melupakan Pekabaran Indjil kepada ummat Islam sedjak abad jang ketudjuh, melainkan karena kalau kita perhatikan dengan seksama maka “konfrontasi” Indjil dan Agama2 didunia ini dalam bidang-tjakup jang seluas2nya, dan dalam hal ini dengan Islam, barulah “dimulai” dewasa ini setjara mendalam. Dan bagi orang2 jang berkejakinan atas kuasa Allah Bapa, jesus Kristus dan Roch Kudus, setiap konfrontasi seperti ini akan selalu dipandangnja sebagai undangan untuk turut mengerahkan djiwa dan raga memenuhi tugas demi kemuliaan Allah.” 16

 

Di kalangan Katolik, misi Kristen juga sangat ditekankan, meskipun pasca Konsili Vatikan II, Gereja Katolik mengubah doktrin eksklusifnya menjadi doktrin (teologi) inklusif. Semula, Gereja menganut doktrin “extra ecclesiam nulla salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan). Kemudian Konsili Vatikan II (1962-1965), menetapkan satu dokumen Nostra Aetate yang bersifat cukup simpatik terhadap Islam:

“Dengan penghargaan, Gereja memandang juga kepada umat Islam, yang menyembah Allah yang Mahaesa, Yang hidup dan ada, Yang Mahapengasih dan Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi… Mengingat bahwa dalam peredaran jaman, telah timbul pertikaian dan permusuhan yang tidak sedikit antara orang Kristen dan Islam, maka Konsili Suci mengajak semua pihak untuk melupakan yang sudah-sudah, dan mengusahakan dengan jujur saling pengertian dan melindungi lagi memajukan bersama-sama keadilan sosial, nilai-nilai moral serta perdamaian dan kebebasan untuk semua orang.” 17

 

Dalam buku Kuliah Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum juga dinyatakan bahwa hal yang mempersatukan orang Katolik dengan orang Islam adalah bahwa di dalam Islam, Kristus tidak dilawan sedangkan Kristus mengatakan: “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” (Markus 9:40). Dalam dokumen Terang Bangsa-bangsa disebutkan:

“Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang

Pencipta, diantara mereka terdapat terutama kaum Muslimin, yang menyatakan, bahwa mereka berpegang kepada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat. Pun juga dari umat lain yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran tidak jauhlah Allah karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (Lihat Kisah 17:25-28) dan sebagai Penyelamat menghendaki keselamatan semua orang (Lihat 1 Tim 2:4). Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata dapat memperoleh keselamatan kekal. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka yang tanpa bersama belum sampai pada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil dan sebagai karunia Dia, yang menerangi setiap orang supaya akhirnya memperoleh kehidupan.” (Terang Bangsa-bangsa, no. 16). 18

 

Tetapi, pada saat yang sama, dalam Konsili Vatikan II juga ditetapkan satu Dekrit ‘ad gentes’ yang mewajibkan aktivitas misi Katolik ke seluruh umat manusia. Pada dokumen ad gentes, Konsili tetap menekankan kewajiban melakukan pembaptisan pada seluruh umat manusia. Jadi, pada satu sisi, Gereja Katolik mendeklarasikan bahwa kebenaran dan keselamatan dapat diraih bukan hanya pada dan dengan Gereja Katolik, bahwa penyelamatan Jesus adalah untuk semua manusia, bukan hanya untuk kaum Kristen saja. Bahkan, Paus Yohannes Paulus II, dalam Redemptor Hominis (1979), mendeklarasikan: “man – every man without exception  whatever – has been redeemed by Christ, … because with man – with each man without any exception whatever – Christ is in a way united, even when man is unaware of it. 19 Tetapi, pada saat yang sama, Konsili juga menekankan kewajiban aksi misi Kristen. Dalam dokumen ‘The Decree on the Missionary Activity of the Church (ad gentes), disebutkan: “the Church has been divinely sent to all nations that she might be ‘the universal sacrament of salvation’, dan  “to proclaim the gospel to all men”. 20 Dokumen Ad Gentes juga mendesak:

This missionary activity derives its reason from the will of God, who wishes all men to be saved and to come to the knowledge of the truth. For there is one God, and one mediator between God and men, Himself a man, Jesus Christ, who gave Himself as a ransom for all” (1 Tim. 2:4-6), “neither is there salvation in any other” (Acts 4:12). Therefore, all must be converted to Him, made known by the Church’s preaching, and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body… And hence missionary activity today as always retains its power and necessity.”(Landasan karya misioner ini diambil dari kehendak Allah, Yang “menginginkan bahwa semua manusia diselamatkan dan mengakui kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Perantara antara Allah dengan menusia yaitu Manusia Kristus Yesus, Yang menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang (1 Tim 2:4-6), “dan tidak ada keselamatan selain Dia” (Kisah 4:12). Maka haruslah semua orang berbalik kepada Dia, Yang dikenal lewat pewartaan Injil, lalu menjadi anggota Dia dan Anggota Gereja, yang adalah Tubuhnya, melalui pemandian… Oleh sebab itu, karya misioner  dewasa ini seperti juga selalu, tetap mempunyai keampuhannya dan tetap diperlukan seutuhnya) 21

 

Tahun 1990, induk Gereja Katolik di Indonesia, yaitu KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) menerjemahkan dan menerbitkan naskah imbauan apostolik Paus Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern (Evangelii Nuntiandi), yang disampaikan 8 Desember 1975.  Di katakan dalam dokumen ini:

“Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan Kristen….Agama-agama bukan kristen semuanya penuh dengan “benih-benih Sabda” yang tak terbilang jumlahnya dan dapat merupakan suatu “persiapan bagi Injil” yang benar… Kami mau menunjukkan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini, bahwa baik penghormatan maupun penghargaan terhadap agama-agama tadi, demikian pula kompleksnya masalah-masalah yang muncul, bukan sebagai suatu alasan bagi Gereja untuk tidak mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. Sebaliknya Gereja berpendapat bahwa orang-orang  tadi berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus.”

 

Dalam pidatonya pada 7 Desember 1990, yang bertajuk Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus), yang diterbitan KWI tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II mengatakan:

“Tugas perutusan Kristus Sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian. Tatkala Masa Seribu Tahun Kedua sesudah kedatangan Kristus hampir berakhir, satu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja di tahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati…Kegiatan misioner yang secara khusus ditujukan “kepada para bangsa” (ad gentes) tampak sedang menyurut, dan kecenderungan ini tentu saja tidak sejalan dengan petunjuk-petunjuk Konsili dan dengan pernyataan-pernyataan Magisterium sesudahnya. Kesulitan-kesulitan baik yang datang dari dalam maupun yang datang dari luar, telah memperlemah daya dorong karya misioner Gereja kepada orang-orang non-Kristen, suatu kenyataan yang mestinya membangkitkan kepedulian di antara semua orang yang percaya kepada Kristus. Sebab dalam sejarah Gereja, gerakan misioner selalu sudah merupakan tanda kehidupan, persis sebagaimana juga kemerosotannya merupakan tanda krisis iman.”

 

Jadi, misi Kristen untuk mewartakan Kristus kepada umat Islam dan agama-agama lain, adalah ajaran pokok dalam Gereja. Karena itu, kaum Kristen merasa wajib menjalankan perintah itu, dengan cara apa pun, sesuai situasi dan kondisi; ada yang secara terang-terangan membagi-bagikan Bibel kepada umat Islam, melakukan manipulasi dengan penerbitan buku-buku Kristen berkedok Islam, melalui cara pelayanan sosial, dengan cara menujukkan keteladanan, dan sebagainya.22 Masalah Kristenisasi adalah problem riil yang ada di Indonesia. Tidak perlu ditutup-tutupi dan ‘disembunyikan di bawah karpet’. Semuanya jelas, sebagaimana kewajiban dakwah bagi kaum Muslim. Masalah ini perlu dikaji secara akademis, secara ilmiah, agar diperoleh gambaran yang komprehensif dan proporsional. Apalagi, sejak dulu, kaum misionaris Kristen sudah menyadari dan merasakan, bagaimana beratnya melaksanakan tugas misinya ke dunia Islam. Jurnal Misi Kristen The Moslem World edisi Oktober 1946 mengutip ungkapan J. Christy Wilson, seorang Misionaris Kristen: “Evangelism for Mohammedans is probably the most difficult of all missionary tasks.”

Indonesia, yang dikenal sebagai sebuah negeri muslim terbesar di dunia, tentu saja menjadi target dari misi Kristen. Penduduk Indonesia kini sekitar 210 juta jiwa. Data Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) tahun 1990 yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan prosentase umat beragama di Indonesia sebagai berikut: Islam (87,2%), Kristen Protestan (6,0%), Katolik (3,6%), Hindu (1,8%), Budha (1,0%), lain-lain (0,3%). Merujuk pada prosentase itu, maka jumlah umat Islam Indonesia kini mencapai 183,12 juta jiwa.

Namun, kaum Kristen menolak jumlah tersebut. Menurut Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Dr. Yewangoe, jumlah orang Protestan sudah mencapai lebih dari 20 persen (40 juta jiwa lebih). Data ini juga diperkuat oleh Global Evangelization Movement Database, yang menyatakan, jumlah orang Kristen di Indonesia sudah mencapai angka spektakuler, yaitu lebih dari 40 juta jiwa. 23

Jadi, meskipun agama Kristen sendiri menghadapi masalah yang sangat serius dari hegemoni peradaban Barat, tetapi mereka tetap menjadikan kaum non-Kristen sebagai target dan sasaran gerakan misi Kristen.

 

Masalah kolonialisme/imperialisme modern

Masalah ini tidak akan dibahas lebih jauh dalam makalah ini. Kekuatan hegemonik kapitalisme global telah banyak dilakukan. Sebuah buku yang membeberkan tentang masalah ini, misalnya, adalah Confession of  an Economic Hit Man, yang ditulis oleh John Perkin. 24 Di era globalisasi, ketidakadilan global juga masih terus bercokol. Ketimpangan antara negara-negara kaya dan miskin pun tidak kunjung menyempit. Hingga kini, sebagian besar umat manusia masih hidup dalam kesulitan dan kesengsaraan. 25

 

Masalah Orientalisme

Sebenarnya, telah beratus tahun lalu, kaum Yahudi dan Nasrani di Barat telah melakukan pengkajian terhadap Islam, dengan tujuan untuk memahami seluk beluk Islam dan kaum Muslim. Sejak lama mereka telah mengumpulkan kitab-kitab dan manuskrib karya ulama Islam, mendirikan pusat-pusat studi Islam di Barat. Tujuan mereka pada umumnya sangat jelas, yaitu untuk memahami Islam, sehingga mereka lebih mudah dapat menaklukkan kaum Muslim.

Dalam bukunya, Al-Mustasyriquna wa al-Tarikhul Islam, Prof. Dr. Ali Husny al-Kharbuthly, Guru Besar di Universitas ‘Ain Syams, Mesir, mencatat, ada tiga tujuan kaum Orientalis dalam melakukan studi Islam, yaitu: (1) Untuk penyebaran agama Kristen ke negeri-negeri Islam, (2) Untuk kepentingan penjajahan, (3) Untuk kepentingan ilmu pengetahuan semata. 26

Sejak Perang Salib berlangsung mulai tahun 1095, ada sebagian tokoh Kristen yang menilai Perang Salib merupakan cara yang tidak tepat untuk menaklukkan kaum Muslim. Salah satu tokoh terkenal adalah Peter The Venerable atau Petrus Venerabilis (1094-1156M). Peter adalah tokoh misionaris Kristen pertama di dunia Islam, yang merancang bagaimana menaklukkan umat Islam dengan pemikiran, bukan dengan senjata. Ketika itu, ia seorang kepala Biara Cluny, Perancis – sebuah biara yang sangat berpengaruh di Eropa Abad Pertengahan.

Sekitar tahun 1141-1142, Peter mengunjungi Toledo, Spanyol. Di situ ia menghimpun sejumlah cendekiawan untuk menerjemahkan karya-karya kaum Muslim ke dalam bahasa Latin. Terjemahan itu akan digunakan sebagai bahan untuk misionaris Kristen terhadap dunia Islam. Salah satu sukses usaha Peter adalah terjemahan al-Quran dalam bahasa Latin oleh Robert of Ketton (selesai tahun 1143), yang diberi judul “Liber Legis Saracenorum quem Alcorant Vocant” (Kitab Hukum Islam yang disebut al-Quran). Inilah terjemahan pertama al-Quran dalam bahasa Latin, yang selama beratus-ratus tahun menjadi rujukan kaum Kristen di Eropa dalam melihat Islam. Barulah pada tahun 1698, Ludovico Maracci, melakukan kritik terhadap terjemahan Robert of Ketton dan menerjemahkan al-Quran sekali lagi ke dalam bahasa Latin dengan judul “Alcorani Textus Receptus”.

Menurut Peter Venerabilis, pengkajian Islam (Islamic Studies) perlu dilakukan oleh kaum Kristen, agar mereka dapat “membaptis pemikiran kaum Muslimin”. Jadi, kaum Muslim bukan saja perlu dikalahkan dengan ekspedisi militer, melainkan juga harus dikalahkan dalam pemikiran mereka. Di tengah berkecamuknya Perang Salib, Peter membuat pernyataan: “… aku menyerangmu, bukan sebagaimana sebagian dari kami [orang-orang Kristen] sering melakukan, dengan senjata, tetapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan, namun dengan pikiran; bukan dengan kebencian, namun dengan cinta…” (But I attack you not, as some of us [Christians] often do, by arms, but by words; not by force, but by reason; not in hatred, but in love…).

Petrus Venerabilis mengajak orang Islam ke jalan keselamatan Kristen dengan cara mengalahkan pemikiran Islam. Ia berangkat dari kepercayaan Kristen bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan (extra ecclesiam nulla salus). Islam, menurutnya, adalah sekte kafir terkutuk sekaligus berbahaya (execrable and noxious heresy), doktrin berbahaya (pestilential doctrine), ingkar (impious) dan sekte terlaknat (a damnable sect); dan Muhammad adalah orang jahat (an evil man).

Selain menugaskan para sarjana Kristen menerjemahkan naskah-naskah bahasa Arab ke dalam bahasa Latin, Peter juga menulis dua buku yang menyerang pemikiran Islam. Tentang al-Quran, Peter menyatakan, bahwa Al-Quran tidak terlepas dari para setan. Setan telah mempersiapkan Muhammad, orang yang paling nista, menjadi anti-Kristus. Setan telah mengirim informan kepada Muhammad, yang memiliki kitab setan (diabolical scripture). 27

Strategi Peter Venerabilis ini kemudian menjadi rujukan kaum misionaris Kristen terhadap kaum Muslimin. Henry Martyn, tokoh misionaris berikutnya, juga membuat pernyataan, “Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta.” Hal senada dikatakan tokoh misionaris lain, Raymond Lull, “Saya melihat banyak ksatria pergi ke Tanah Suci, dan berpikir bahwa mereka dapat menguasainya dengan kekuatan senjata, tetapi pada akhirnya semua hancur sebelum mereka mencapai apa yang mereka pikir bisa diperoleh.”     Lull mengeluarkan resep: Islam tidak dapat ditaklukkan dengan darah dan air mata, tetapi dengan cinta kasih dan doa.
Ungkapan Lull dan Martyn itu ditulis oleh Samuel M Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur Tengah, dalam buku Islam: A Challenge to Faith (edisi pertama tahun 1907). Buku yang berisi resep untuk “menaklukkan” dunia Islam itu disebut Zwemmer sebagai “beberapa kajian tentang kebutuhan dan kesempatan di dunia para pengikut Muhammad dari sudut pandang missi Kristen”. Zwemmer menyebut bukunya sebagai “studies on the Mohammedan religion and the needs and opportunities of the Mohammedan World From the standpoint of Christian Missions”. Di akhir penjelasannya tentang al-Quran, Zwemmer mencatat: “In this respect the Koran is inferior to the sacred books of ancient Egypt, India, and China, though, unlike them, it is monotheistic. It can not be compared with the Old or the New Testament.” (Dalam masalah ini, al-Quran adalah inferior dibandingkan dengan buku-buku suci Mesir Kuno, India, Cina. Meskipun, tidak seperti mereka, al-Quran adalah monoteistik. Ini tidak bisa dibandingkan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). 28

Strategi penaklukan Islam melalui pemikiran ini kemudian dikembangkan oleh para orientalis Barat. Sebagian dari mereka memang membawa semangat lama kaum misionaris, sebagian lagi melakukannya untuk kepentingan penjajahan (kolonialisme) dan sebagian lagi bermotifkan semata-mata untuk kajian ilmiah.             Kini, setelah beratus-ratus tahun, kaum Orientalis telah berhasil meraih sukses besar dalam bidang studi Islam. Bukan saja mereka berhasil mendirikan pusat-pusat studi Islam di Barat dan menerbitkan ribuan buku tentang Islam, tetapi mereka juga berhasil menghimpun literatur-literatur Islam dalam jumlah yang sangat besar. Usaha-usaha mereka selama berabad-abad ini bisa dipahami, sebab Islam adalah satu-satunya agama yang secara tegas memberikan kritik-kritik yang mendasar terhadap basis kepercayaan Yahudi dan Nasrani. Hanya al-Quran-lah, satu-satunya Kitab Suci yang memberikan kritik-kritik tajam dan mendasar terhadap dasar-dasar kepercayaan agama Yahudi dan Kristen. 29

 

Kajian al-Quran dan Tafsir al-Quran

Kini, kajian Islam ala orientalis sudah sangat berkembang di dunia Islam, dan setiap tahun, ribuan sarjana Muslim belajar tentang Islam kepada kaum Yahudi-Kristen. Bukan hanya itu, studi Islam ala orientalis, juga sudah diadopsi di kampus-kampus berlabel Islam. Sebagai contoh, dalam studi al-Quran, kini dikembangkan kajian kritis terhadap al-Quran yang mengadopsi tradisi Bibel. Berbagai buku, tesis, skripsi,  dan jurnal diterbitkan untuk mengkritik otentisitas dan kesucian al-Quran. Bahkan, sudah ada dosen IAIN Surabaya yang secara terang-terangan menginjak lafaz Allah yang ditulisnya sendiri di hadapan para mahasiswanya, karena menganggap al-Quran adalah produk budaya dan posisinya sama dengan rumput.

Seperti dilaporkan Majalah GATRA edisi 7 Juni 2006, pada 5 Mei 2006, Sulhawi Ruba, 51 tahun, dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, di hadapan 20 mahasiswa Fakultas Dakwah, menerangkan posisi Al-Quran sebagai hasil budaya manusia. “Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak berbeda dengan rumput,” ujarnya. Ia lalu menuliskan lafaz Allah pada secarik kertas sebesar telapak tangan dan menginjaknya dengan sepatu. “Al-Quran dipandang sakral secara substansi, tapi tulisannya tidak sakral,” katanya setengah berteriak, dengan mata yang sedikit membelalak.

Wacana dekonstruksi konsep wahyu dan tafsir al-Quran merupakan wacana yang berkembang pesat di Indonesia saat ini. Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini sudah berkembang pesat. Kajian “Biblical Criticism” atau studi tentang kritik Bible dan kritik teks Bible telah berkembang pesat di Barat. Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya, selama 30 tahun menekuni studi ini, dan menulis satu buku berjudul “Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testatement”.  Buku-buku karya Prof. Bruze M. Metzger, guru besar The New Testament di  Princeton Theological Seminary, menunjukkan, bagaimana kuatnya tradisi kajian kritis terhadapTeks Bible. Begitu juga karya Werner Georg Kume, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problem, (Nashville: Abingdon Press, 1972).

Pesatnya studi kritis Bible itu telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk “melirik” al-Quran dan mengarahkan hal yang sama terhadap al-Quran. Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan bahwa “sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani (The time has surely come to subject the text of the Kur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures).” 30

Hampir satu setengah abad lalu, para orientalis dalam bidang studi al-Quran bekerja keras untuk menunjukkan bahwa al-Quran adalah kitab bermasalah sebagaimana Bible. Mereka tidak pernah berhasil. Tapi, anehnya, kini, imbauan itu sudah diikuti begitu banyak manusia dari kalangan Muslim sendiri, termasuk yang ada di Indonesia. Sesuai paham pluralisme agama, maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar, sederajat, tidak boleh ada yang mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling benar sendiri. Begitu juga dengan pemahaman tentang Kitab Suci. Tidak boleh ada kelompok agama yang mengklaim hanya kitab sucinya saja yang suci.

Maka, proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Quran. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran adalah Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, bebas dari kesalahan. Mereka mengabaikan bukti-bukti al-Quran yang menjelaskan tentang otentisitas al-Quran, dan kekeliruan dari kitab-kitab agama lain.         Taufik Adnan Amal, dosen Ulumul Quran di IAIN Makasar, menulis satu makalah berjudul “Edisi Kritis al-Quran”, yang isinya menyatakan:

“Uraian dalam paragraf-paragraf berikut mencoba mengungkapkan secara ringkas proses pemantapan teks dan bacaan Alquran, sembari menegaskan bahwa proses tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Karena itu, tulisan ini juga akan menggagas bagaimana menyelesaikan itu lewat suatu upaya penyuntingan Edisi Kritis Alquran.” 31

Taufik berusaha meyakinkan, bahwa al-Quran saat ini masih bermasalah, tidak kritis, sehingga perlu diedit lagi. Dosen itu pun menulis sebuah buku serius berjudul “Rekonstruksi Sejarah al-Quran” yang juga meragukan keabsahan dan kesempurnaan Mushaf Utsmani. 32 Penulis buku ini mencoba meyakinkan bahwa mushaf Utsmani masih bermasalah, dan tidak layak disucikan. Dalam kata pengantar buku ini, Prof. Dr. Quraish Shihab menulis, “Kasarnya, ada sejarah yang hilang untuk menjelaskan beberapa ayat atau susunan ayat al-Quran dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nas.”

Ada lagi sebuah tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), ditulis oleh Aksin Wijaya, yang secara terang-terangan juga menghujat Kitab Suci al-Quran. Tesis itu sudah diterbitkan dalam sebuah buku berjudul: “Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan”, dan diberi kata pengantar dua orang doktor dalam bidang studi Islam, dosen di pasca sarjana UIN Yogyakarta. Di dalam buku ini, misalnya, kita bisa menikmati hujatan terhadap al-Quran seperti kata-kata berikut ini:

“Setelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegasikan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sakral dan absolue, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkekenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.” 33

 

Dosen di Universitas Paramadina, Dr. Luthfi Assyaukanie juga berusaha membongkar konsep dasar Islam tentang al-Quran:

“Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa AlQuran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan AlQuran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa.” 34

 

Jadi, di berbagai penerbitan, wacana yang menyerang al-Quran telah dilakukan  dan secara terang-terangan menyebarkan pemikiran yang destruktif terhadap al-Quran. Itu bisa dilihat dalam buku-buku, artikel, dan jurnal yang mereka terbitkan. Sebagai contoh, Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, Edisi 23 Th XI, 2003, memuat tulisan yang secara terang-terangan menyerang al-Quran dan sahabat Nabi Muhammad saw:

“Dalam studi kritik Qur’an, pertama kali yang perlu dilakukan adalah kritik historisitas Qur’an. Bahwa Qur’an kini sudah berupa teks yang ketika hadir bukan bebas nilai dan tanpa konteks. Justru konteks Arab 14 abad silam telah mengkonstruk Qur’an. Adalah Muhammad saw, seorang figur yang saleh dan berhasil mentransformasikan nalar kritisnya dalam berdialektika dengan realitas Arab. Namun, setelah Muhammad wafat, generasi pasca Muhammad terlihat tidak kreatif. Jangankan meniru kritisisme dan kreativitas Muhammad dalam memperjuangkan perubahan realitas zamannya, generasi pasca-Muhammad tampak kerdil dan hanya mem-bebek pada apa saja yang asalkan itu dikonstruk Muhammad. Dari sekian banyak daftar ketidakkreatifan generasi pasca-Muhammad, yang paling mencelakakan adalah pembukuan Qur’an dengan dialek Quraisy, oleh Khalifah Usman Ibn Affan yang diikuti dengan klaim otoritas mushafnya sebagai mushaf terabsah dan membakar (menghilangkan pengaruh) mushaf-mushaf milik sahabat lain. Imbas dari sikap Usman yang tidak kreatif ini adalah terjadinya militerisme nalar Islam untuk tunduk/mensakralkan Qur’an produk Quraisy. Karenanya, wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, melalui Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab [dan Islam]. Hegemoni itu tampak jelas terpusat pada ranah kekuasaan, agama dan budaya. Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”  35

 

Di dalam Jurnal Justisia edisi ini, Sumanto juga menulis sebuah artikel berjudul: “Kesucian Palsu Sebuah Kitab”. Maksudnya, al-Quran bukan kitab suci, tetapi kitab suci yang palsu.

 

Penyerangan terhadap al-Quran di lingkungan perguruan tinggi Islam merupakan hal yang baru dalam masyarakat Muslim Indonesia. Dulu, beratus-ratus tahun, wacana itu hanya berkembang di lingkungan orientalis Yahudi dan Kristen. Tetapi, saat ini, suara-suara yang menghujat al-Quran justru lahir dari lingkungan perguruan tinggi Islam, yang kebanyakannya hanya menjiplak dan mengulang-ulang pendapat-pendapat lama yang beratus-ratus tahun disuarakan para orientalis. Tentu, masalah ini tidak bisa dianggap sepele dan perlu dijawab secara akademis dan ilmiah.

Cara yang lebih halus dan tampak akademis dalam menyerang al-Quran juga dilakukan dengan mengembangkan studi kritik al-Quran dan studi hermeneutika di Perguruan Tinggi Islam. Diantara tokoh-tokoh terkenal dalam studi ini adalah Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd dan Mohammed Arkoun. Buku-buku kedua tokoh ini sudah banyak diterjemahkan di Indonesia. Bahkan, Nasr Hamid yang terkenal dengan teorinya “al-Quran merupakan produk budaya Arab (muntaj tsaqafi) sudah memiliki sejumlah murid yang kini mengajar di sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia. Buku Arkoun, Rethinking Islam, bahkan dijadikan buku rujukan utama dalam mata kuliah “Kajian Orientalisme terhadap al-Quran dan Hadits” di Program Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Tujuan mata kuliah ini adalah agar  “Mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan kajian orientalis terhadap al-Quran dan hadis.” Dalam bukunya tersebut, Arkoun secara terang-terangan menyesalkan, mengapa para cendekiawan Muslim tidak mau mengikuti para orientalis Yahudi dan Kristen yang telah melakukan kritik terhadap Bibel. Ia menulis dalam bukunya : ‘’Sayang sekali bahwa kritik filosofis terhadap teks suci – yang telah diterapkan pada Bible berbahasa Hebrew dan Perjanjian Baru tetapi tidak menimbulkan konsekuensi-konsekuensi negatif bagi konsep wahyu – terus ditolak oleh pendapat ilmiah umat Islam. Karya-karya aliran Jerman terus diabaikan, dan ilmuwan-ilmuwan Muslim tidak berani melakukan penelitian semacam itu walaupun penelitian ini akan memperkuat fondasi ilmiah sejarah mushaf dan teologi wahyu. Alasan yang melatarbelakangi perlawanan ini bersifat politik dan psikologis.’’ Kajian hermeneutika sebagai metode tafsir pengganti ilmu tafsir klasik pun sudah menjadi mata kuliah wajib di Program Studi Tafsir Hadits UIN Jakarta dan sejumlah perguruan tinggi Islam lainnya. Padahal, metode ini jelas-jelas berbeda dengan ilmu tafsir dan bersifat dekonstruktif terhadap al-Quran dan syariat Islam. 36

 

Sebagai contoh, kini dikembangkan satu metode historis kontekstual dalam penafsiran al-Quran yang berdampak serius pada syariat Islam. Prof. Siti Musdah Mulia, seorang tokoh feminis, misalnya, melakukan perombakan terhadap hukum perkawinan dengan metode kontekstualisasi. Ia menulis:

“Jika kita memahami konteks waktu turunnya ayat itu (QS 60:10. pen.), larangan ini sangat wajar mengingat kaum kafir Quraisy sangat memusuhi Nabi dan pengikutnya. Waktu itu konteksnya adalah peperangan antara kaum Mukmin dan kaum kafir. Larangan melanggengkan hubungan dimaksudkan agar dapat diidentifikasi secara jelas mana musuh dan mana kawan. Karena itu, ayat ini harus dipahami secara kontekstual. Jika kondisi peperangan itu tidak ada lagi, maka larangan dimaksud tercabut dengan sendirinya.” 37

 

Sementara itu, juga dengan menggunakan pendekatan kontekstualisasi, buku Fiqih Lintas Agama menulis:

“Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.”  38

Jadi, meskipun sama-sama menggunakan dasar al-Quran dan Sunnah, tetapi dengan menggunakan metode tafsir yang berbeda, maka akan berbeda pula produk hukumnya. Penggunaan metode kontekstual yang terlepas dari metode tekstual adalah berangkat dari tradisi penafsiran Bibel Yahudi-Kristen yang memiliki masalah dalam teks-nya. Karena itu, jargon “kembali kepada al-Quran dan Sunnah” perlu dilengkapi dengan frase “dengan menggunakan metodologi yang benar”. Prof. Asymuni Abdurrahman, pakar ushul fiqih dari UIN Yogyakarta, dalam bukunya, Memahami Makna Tekstual, Kontekstual, dan Liberal (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, tanpa tahun), telah memberi penjelasan yang cukup jelas tentang masalah ini. 39

Berbagai problema dalam studi al-Quran dan Tafsir al-Quran di lingkungan perguruan tinggi Islam ini perlu dijawab secara akademis dan komprehensif. Karena itulah dalam mata kuliah ‘Islamic Worldview’ ini, masalah konsep wahyu dan metodologi tafsir akan diberikan prosi pembahasan yang cukup besar. Diharapkan, dengan itu, mahasiswa akan dapat memahami konsep-konsep wahyu dalam Islam secara mendasar dan memahami persoalan yang sedang berkembang serta mampu menganalisis dan memberikan solusi terhadap persoalan yang berkembang.

 

Studi agama-agama

Tantangan besar yang diakibatkan oleh kaum orientalis diantaranya juga dalam bidang studi agama-agama, dengan mengembangkan epistemologi relativisme dalam memandang kebenaran agama-agama. Selama ratusan tahun, para ulama Islam telah mengembangkan studi perbandingan agama, yang berangkat dari keimanan Islam, bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar dan yang diterima Allah SWT. (QS 3:19, 85). Metodologi studi semacam itu kini digugat, dipandang subjektif, menerapkan standar ganda, dan tidak objektif. Sarjana Muslim kini banyak yang mengambil metodologi para orientalis dalam studi agama-agama dengan menempatkan Islam sebagai objek kajian dan penelitian yang sejajar dengan semua agama yang ada.

Prof. Jacques Waardenburg menyatakan: “Saya ingin menunjuk dua problem mendasar bagi berkembangnya studi agama-agama di dunia Islam. Problem yang pertama adalah sebuah adagium bahwa Islam adalah agama yang final dan benar.” Prof. Wilfred Cantwell Smith, pendiri Islamic Studies di McGill University menyatakan:  “Pernyataan tentang suatu agama tidaklah valid kecuali benar-benar diakui oleh pemeluk agama tersebut.” 40

Perubahan metodologi studi agama-agama di Perguruan Tinggi dengan memasukkan metode orientalis sudah dilakukan sejak tahun 1973. Berdasarkan hasil rapat rektor IAIN se-Indonesia pada Agustus 1973 di Ciumbuluit Bandung, Departemen Agama RI memutuskan: buku “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” (IDBA) karya Prof. Dr. Harun Nasution direkomendasikan sebagai buku wajib rujukan mata kuliah Pengantar Agama Islam – mata kuliah komponen Institut yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa IAIN. Tokoh utama dalam hal ini adalah Prof. Dr. Harun Nasution. Karena ada instruksi dari pemerintah (Depag) yang menjadi panaung dan penanggung jawab IAIN-IAIN, maka materi dalam buku Harun Nasution itu pun dijadikan bahan kuliah dan bahan ujian untuk perguruan swasta yang menginduk kepada Departemen Agama.

Pada tanggal 3 Desember 1975, mantan guru besar di McGill University Prof. HM Rasjidi, yang juga Menteri Agama pertama,  sudah menulis laporan rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Depag. Dalam bukunya, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Prof. Rasjidi menceritakan isi suratnya:

“Laporan Rahasia tersebut berisi kritik terhadap buku Sdr. Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementerian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementerian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan sebagai buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.” 41

 

Selama satu tahun lebih surat Prof. Rasjidi tidak diperhatikan. Rasjidi akhirnya mengambil jalan lain untuk mengingatkan Depag, IAIN, dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Setelah nasehatnya tidak diperhatikan, ia menerbitkan kritiknya terhadap buku Harun. Maka, tahun 1977, lahirlah buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tersebut.

Nasehat Prof. Rasjidi sangat penting untuk direnungkan saat ini, mengingat buku IDBA karya Harun Nasution itu memang penuh dengan berbagai kesalahan fatal, baik secara  ilmiah maupun kebenaran Islam. Misalnya, tentang hadis Nabi Muhammad saw, Harun menulis : “Berlainan halnya dengan Al-Quran, hadis tidak dikenal dicatat tidak dihafal di zaman Nabi… Karena hadis tidak dihafal dan tidak dicatat dari sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadits yang betul-betul berasal dari Nabi dan mana hadits yang dibuat-buat… tidak ada kesepakatan kata antara umat Islam tentang keorisinilan semua hadis dari Nabi.” 42

Sekilas saja mencermati kata-kata tersebut,  jelas sangat keliru, sebab banyak sahabat yang sejak awal sudah mencatat dan menghafal hadis Nabi saw. Juga, tidak benar, bahwa umat Islam tidak pernah bersepakat tentang otentisitas hadits Nabi. Kata-kata Harun itu jelas hanya upaya meragu-ragukan hadis Nabi sebagai pedoman kaum Muslim setelah al-Quran. Sebenarnya, tidaklah benar, hadis Nabi sejak awal tidak dicatat oleh para sahabat. Prof. Musthafa Azhami, dalam disertasinya di Cambridge, berjudul “Studies in Early Hadith Literature” membuktikan proses pencatatan hadis sejak zaman Nabi, disamping proses hafalannya.

Kesalahan yang sangat fatal dari buku IDBA karya Harun adalah dalam menjelaskan tentang agama-agama. Di sini, Harun menempatkan Islam sebagai agama yang posisinya sama dengan agama-agama lain, sebagai evolving religion (agama yang berevolusi). Padahal, Islam adalah satu-satunya agama wahyu, yang berbeda dengan agama-agama lain, yang merupakan agama sejarah dan agama budaya (historical dan cultural religion). Harun menyebut agama-agama monoteis – yang dia istilahkan juga sebagai ‘agama tauhid’ — ada empat, yaitu Islam, Yahudi, Kristen, dan Hindu. Ketiga agama pertama, kata Harun,  merupakan satu rumpun. Agama Hindu tidak termasuk dalam rumpun ini. Tetapi, Harun menambahkan, bahwa kemurnian tauhid hanya dipelihara oleh Islam dan Yahudi. Kemurnian tauhid agama Kristen dengan adanya faham Trinitas, sudah tidak terpelihara lagi. 43

Apakah benar agama Yahudi merupakan agama dengan tauhid murni sebagaimana Islam? Jelas pendapat Harun itu sangat tidak benar. Kalau agama Yahudi merupakan agama tauhid murni, mengapa dalam al-Quran dia dimasukkan kategori kafir Ahlul Kitab? Kesimpulan Harun itu jelas sangat mengada-ada. Sejak lama Prof. HM Rasjidi sudah memberikan kritik keras, bahwa: “Uraian Dr. Harun Nasution yang terselubung uraian ilmiyah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi muda Islam yang ingin dipudarkan keimanannya.” 44

Tetapi, kritik-kritik tajam Prof. Rasjidi seperti itu tidak digubris oleh petinggi Depag dan IAIN, sehingga selama 32 tahun, buku IDBA dijadikan buku wajib dalam mata kuliah pengantar Studi Islam di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Padahal, kesalahannya begitu jelas dan fatal. Malah, bukannya bersikap kritis, banyak ilmuwan yang memuji-muji Harun Nasution secara tidak proporsional. 45

Kini, metode kajian agama yang berbasis pada epistemologi relativisme kebenaran dikembangkan di berbagai kampus Islam. Sadar atau tidak. Sebagai contoh, sebuah buku berjudul “Ilmu Studi Agama” untuk mahasiswa Fakultas Ushuluddin di UIN Bandung, ditulis: “

“Setiap agama sudah pasti memiliki dan mengajarkan kebenaran. Keyakinan tentang yang benar itu didasarkan kepada Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebenaran.” (hal. 17)…“Keyakinan bahwa agama sendiri yang paling benar karena berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain hanyalah konstruksi manusia, merupakan contoh penggunaan standar ganda itu. Dalam sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain, dalam derajat keabsahan teologis di bawah agamanya sendiri. Melalui standar ganda inilah, terjadi perang dan klaim-klaim kebenaran dari satu agama atas agama lain.” (hal. 24) … Agama adalah seperangkat doktrin, kepercayaan, atau sekumpulan norma dan ajaran Tuhan yang bersifat universal dan mutlak kebenarannya. Adapun keberagamaan, adalah penyikapan atau pemahaman para penganut agama terhadap doktrin, kepercayaan, atau ajaran-ajaran Tuhan itu, yang tentu saja menjadi bersifat relatif, dan sudah pasti kebenarannya menjadi bernilai relatif. (hal. 20).46

 

Dampak penggunaan epistemologi relativisme dalam pendekatan studi agama – dengan menghilangkan aspek keyakinan pada kebenaran agamanya sendiri – sangatlah besar dalam cara pikir dan cara pandang terhadap kebenaran. Epistemologi relatif ini telah cukup luas menyebar, sehingga banyak yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, semuanya jalan menuju kebenaran, dan jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama.  Padahal, sebagaimana telah dikutip pernyataan penyair terkenal Pakistan, Moh. Iqbal, bahwa jika manusia kehilangan keyakinan, maka itu lebih buruk dari perbudakan (Lack of  conviction is worse than slavery).

Karena itu, di tengah tantangan dan arus besar studi agama-agama yang berbasiskan pada relativisme epistemologis ini, para sarjana Muslim perlu mengkaji masalah ini dengan serius. Apalagi, kini berbagai negara-negara Barat – baik secara langsung maupun melalui LSM-LSM-nya seperti The Asia Foundation dan Ford Foundation – sangat bersemangat untuk melakukan ‘reformasi Islam’, mengubah Islam, membentuk ‘Islam baru’, dengan memberikan dukungan kepada usaha-usaha liberalisasi Islam, penyebaran paham Pluralisme Agama, dekontsruksi Islam, dekontsruksi syariah, dan sebagainya. 47


Pluralisme Agama

Pluralisme Agama didasarkan pada pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga – karena kerelativannya – maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya sendiri yang lebih benar atau  lebih baik dari agama lain; atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar. Bahkan, menurut Charles Kimball, salah satu ciri agama jahat (evil) adalah agama yang memiliki klaim kebenaran mutlak (absolute truth claim) atas agamanya sendiri. 48

Salah satu teolog Kristen yang terkenal sebagai pengusung paham ini, Ernst Troeltsch, mengemukakan tiga sikap populer terhadap agama-agama, yaitu (1) semua agama adalah relatif. (2) Semua agama, secara esensial adalah sama. (3) Semua agama memiliki asal-usul psikologis yang umum. Yang dimaksud dengan “relatif”, ialah bahwa semua agama adalah relatif, terbatas, tidak sempurna, dan merupakan satu proses pencarian. Karena itu, kekristenan adalah agama terbaik untuk orang Kristen, Hindu adalah terbaik untuk orang Hindu. Motto kaum Pluralis ialah: “pada intinya, semua agama adalah sama, jalan-jalan yang berbeda yang membawa ke tujuan yang sama. (Deep down, all religions are the same – different paths leading to the same goal).” 49

Pemikiran ini kemudian berkembang pesat di Barat dan menjadi komoditas pemikiran global. Di Indonesia, penyebaran paham ini sudah sangat meluas, baik dalam tataran wacana publik maupun buku-buku di perguruan tinggi. 50 Ketika semua agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah untuk menuju Tuhan – siapa pun Dia, apa pun nama dan sifat-Nya – maka muncullah pemikiran bahwa untuk menuju Tuhan bisa dilakukan dengan cara apa saja. Karena itulah, cara ibadah kepada Tuhan dianggap sebagai masalah ‘teknis’, soal ‘cara’, yang secara eksoterik memang berbeda-beda, tetapi substansinya dianggap sama. 51

Yang perlu diperhatikan oleh umat Islam, khususnya kalangan lembaga pendidikan Islam, adalah bahwa hampir seluruh LSM dan proyek yang dibiayai oleh LSM-LSM Barat, seperti The Asia Foundation, Ford Foundation, adalah mereka-mereka yang bergerak dalam penyebaran paham Pluralisme Agama. Itu misalnya bisa dilihat dalam artikel-artikel yang diterbitkan oleh Jurnal Tashwirul Afkar (Diterbitkan oleh Lakpesdam NU dan The Asia Foundation), dan Jurnal Tanwir (diterbitkan oleh Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah dan The Asia Foundation). Mereka bukan saja menyebarkan paham ini secara asongan, tetapi memiliki program yang sistematis untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang saat ini masih mereka anggap belum inklusif-pluralis.

Sebagai contoh, Jurnal Tashwirul Afkar edisi No 11 tahun 2001, menampilkan laporan utama berjudul “Menuju Pendidikan Islam Pluralis”. Di tulis dalam Jurnal ini:

“Filosofi pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri, tanpa mau menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep iman-kafir, muslim-nonmuslim, dan baik-benar (truth claim), yang sangat berpengaruh terhadap cara pandang Islam terhadap agama lain, mesti dibongkar agar umat Islam tidak lagi menganggap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan. Jika cara pandangnya bersifat eksklusif dan intoleran, maka teologi yang diterima adalah teologi eksklusif dan intoleran, yang pada gilirannya akan merusak harmonisasi agama-agama, dan sikap tidak menghargai kebenaran agama lain. Kegagalan dalam mengembangkan semangat toleransi dan pluralisme agama dalam pendidikan Islam akan membangkitkan sayap radikal Islam.” 52

 

Menghadapi serbuan paham Pluralisme Agama ini, maka para tokoh agama-agama tidak tinggal diam. Paus Yohannes Paulus II, tahun 2001, mengeluarkan Dekrit ‘Dominus Jesus’. Berikut ini kita kutipkan pendapat Frans Magnis Suseno tentang Pluralisme Agama, sebagaimana ditulis dalam bukunya, Menjadi Saksi Kristus Di Tengah Masyarakat Majemuk. 53

Pluralisme agama, kata Magnis, sebagaimana diperjuangkan di kalangan Kristen oleh teolog-teolog seperti John Hick, Paul F. Knitter (Protestan) dan Raimundo Panikkar (Katolik), adalah paham yang menolak eksklusivisme kebenaran. Bagi mereka, anggapan bahwa hanya agamanya sendiri yang benar merupakan kesombongan. Agama-agama hendaknya pertama-pertama memperlihatkan kerendahan hati, tidak menganggap lebih benar daripada yang lain-lain. Teologi yang mendasari anggapan itu adalah, kurang lebih, dan dengan rincian berbeda, anggapan bahwa agama-agama merupakan ekspresi religiositas umat manusia. Para pendiri agama, seperti Buddha, Yesus, dan Muhammad merupakan genius-genius religius, mereka menghayati dimensi religius secara mendalam. Mereka, mirip dengan orang yang bisa menemukan air di tanah, berakar dalam sungai keilahian mendalam yang mengalir di bawah permukaan dan dari padanya segala ungkapan religiositas manusia hidup. Posisi ini bisa sekaligus berarti melepaskan adanya Allah personal. Jadi, yang sebenarnya diakui adalah dimensi transenden dan metafisik alam semesta manusia. Namun, bisa juga dengan mempertahankan paham Allah personal.

Masih menurut penjelasan Frans Magnis Suseno,  pluralisme agama itu sesuai dengan “semangat zaman”. Ia merupakan warisan filsafat Pencerahan 300 tahun lalu dan pada hakikatnya kembali ke pandangan Kant tentang agama sebagai lembaga moral, hanya dalam bahasa diperkaya oleh aliran-aliran New Age yang, berlainan dengan Pencerahan, sangat terbuka terhadap segala macam dimensi “metafisik”, “kosmis”, “holistik”, “mistik”, dsb. Pluralisme sangat sesuai dengan anggapan yang sudah sangat meluas dalam masyarakat sekuler bahwa agama adalah masalah selera, yang termasuk  “budaya hati” individual, mirip misalnya dengan dimensi estetik, dan bukan masalah kebenaran. Mengkliam kebenaran hanya bagi diri sendiri dianggap tidak toleran. Kata “dogma” menjadi kata negatif. Masih berpegang pada dogma-dogma dianggap ketinggalan zaman.

Paham Pluralisme agama, menurut Frans Magnis, jelas-jelas ditolak oleh Gereja Katolik. Pada tahun 2001, Vatikan menerbitkan penjelasan ‘Dominus Jesus’. Penjelasan ini, selain menolak paham Pluralisme Agama, juga menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus. Di kalangan Katolik sendiri, ‘Dominus Jesus’ menimbulkan reaksi keras. Frans Magnis sendiri mendukung ‘Dominus Jesus’ itu, dan menyatakan, bahwa ‘Dominus Jesus’ itu sudah perlu dan tepat waktu. Menurutnya, Pluralisme Agama hanya di permukaan saja kelihatan lebih rendah hati dan toleran dariupada sikap inklusif yang tetap meyakini imannya. Bukan namanya toleransi apabila untuk mau saling menerima dituntut agar masing-masing melepaskan apa yang mereka yakini. Ambil saja sebagai contoh Islam dan kristianitas. Pluralisme mengusulkan agar masing-masing saling menerima karena masing-masing tidak lebih dari ungkapan religiositas manusia, dan kalau begitu, tentu saja mengklaim kepenuhan kebenaran tidak masuk akal. Namun yang nyata-nyata dituntut kaum pluralis adalah agar Islam melepaskan klaimnya bahwa Allah dalam al-Quran memberi petunjuk definitif, akhir dan benar tentang bagaimana manusia harus hidup agar ia selamat, dengan sekaligus membatalkan petunjuk-petunjuk sebelumnya. Dari kaum Kristiani, kaum pluralis menuntut untuk mengesampingkan bahwa Yesus itu ‘Sang Jalan’, ‘Sang Kehidupan’ dan ‘Sang Kebenaran’, menjadi salah satu jalan, salah satu sumber kehidupan dan salah satu kebenaran, jadi melepaskan keyakinan lama yang mengatakan bahwa hanya melalui Putera manusia bisa sampai ke Bapa.

Terhadap paham semacam itu, Frans Magnis menegaskan: “Menurut saya ini tidak lucu dan tidak serius. Ini sikap menghina kalau pun bermaksud baik. Toleransi tidak menuntut agar kita semua menjadi sama, bari kita bersedia saling menerima. Toleransi yang sebenarnya berarti menerima orang lain, kelompok lain, keberadaan agama lain, dengan baik, mengakui dan menghormati keberadaan mereka dalam keberlainan mereka! Toleransi justru bukan asimilasi, melainkan hormat penuh identitas masing-masing yang tidak sama.”

Dari kalangan Protestan, Dr. Stevri I. Lumintang menulis buku yang sangat serius berjudul Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004). Dalam buku setebal 700 halaman lebih ini, Stevri menulis :

‘’…Theologia abu-abu (Pluralisme) yang kehadirannya seperti serigala berbulu domba, seolah-olah menawarkan teologi yang sempurna, karena itu teologi tersebut mempersalahkan semua rumusan Teologi Tradisional yang selama ini dianut dan sudah berakar dalam gereja. Namun sesungguhnya Pluralisme sedang menawarkan agama baru…’’ 54

 

Dari kalangan Hindu juga muncul penolakan keras terhadap paham Pluralisme Agama. Pada tahun 2006, penerbit Media Hindu menerbitkan sebuah buku berjudul Semua Agama Tidak Sama. Buku ini diberi kata pengantar oleh Parisada Hindu Dharma. Editor buku ini, Ngakan Made Madrasuta menulis kata pengantarnya dengan judul “Mengapa Takut Perbedaan?”  Ngakan mengkritik pandangan yang menyamakan semua agama, termasuk yang dipromosikan oleh sebagian orang Hindu yang mengutip Bagawad Gita IV:11: ““Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.”  Menurut Ngakan:

“Yang disebut “Jalan” dalam Gita adalah empat yoga yaitu Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga, dan Raja Yoga. Semua yoga ini ada dalam agama Hindu, dan tidak ada dalam agama lain. Agama Hindu menyediakan banyak jalan, bukan hanya satu – bagi pemeluknya, sesuai dengan kemampuan dan kecenderungannya.” 55

 

Dr. Frank Gaetano Morales, seorang cendekiawan Hindu, mengecam keras orang-orang Hindu yang menyama-nyamakan agamanya dengan agama lain:

“Ketika kita membuat klaim yang secara sentimental menenangkan, namun tanpa pemikiran bahwa “semua agama adalah sama”, kita sedang tanpa sadar mengkhianati kemuliaan dan integritas dari warisan kuno ini, dan membantu memperlemah matrix filosofis/kultural agama Hindu sampai pada intinya yang paling dalam. Setiap kali orang Hindu mendukung Universalisme Radikal, dan secara bombastik memproklamasikan bahwa “semua agama adalah sama”, dia melakukan itu atas kerugian besar dari agama Hindu yang dia katakan dia cintai.” 56

 

Majelis Ulama Indonesia, melalui fatwanya tanggal 29 Juli 2005 juga telah menyatakan bahwa paham Pluralisme Agama bertentangan dengan Islam dan haram umat Islam memeluk paham ini. MUI mendefinisikan Pluralisme Agama sebagai suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Dr. Anis Malik Thoha, pakar Pluralisme Agama, yang juga Rois Syuriah NU Cabang Istimewa Malaysia, mendukung fatwa MUI tersebut dan menyimpulkan bahwa Pluralisme Agama memang sebuah agama baru yang sangat destruktif terhadap Islam dan agama-agama lain. 57

Jadi, meskipun sejumlah agama dan tokoh agama telah membuat pernyataan dan sikap resmi tentang paham Pluralisme Agama, tetapi masalah ini perlu dikaji secara komprehensif. Kalangan akademisi Muslim perlu mencermati benar apa dan bagaimana sebenarnya paham Pluralisme Agama dengan mengambil studi komparatif dengan kasus serupa pada agama-agama lain. Sebab, sebagai salah satu isu global yang mendapat sokongan kekuatan-kekuatan global, isu Pluralisme Agama akan terus menjadi isu penting dalam berbagai wacana sosial dan politik pada level nasional maupun global.

 

 

Respon Intelektual

Islam adalah nama sebuah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Makna “Islam” itu sendiri digambarkan oleh Nabi Muhammad saw dalam berbagai sabda beliau. Imam al-Nawawi dalam Kitab hadits-nya yang terkenal, al-Arba’in al-Nawawiyah, menyebutkan definisi Islam pada hadits kedua:

“Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah — jika engkau berkemampuan melaksanakannya.” (HR Muslim).

 

Pada hadits ketiga juga disebutkan, bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda:

“Islam ditegakkan di atas lima hal: persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, penegakan shalat, penunaian zakat, pelaksanaan haji ke Baitullah, dan shaum Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Dalam Kitab Sullamut Tawfiq – yang biasa dikaji di madrasah Ibtidaiyah dan Pondok-pondok pesantren, disebutkan, bahwa adalah kewajiban setiap Muslim untuk menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (riddah). Dijelaskan juga dalam Kitab ini, bahwa ada tiga jenis riddah, yaitu murtad dengan I’tiqad, murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi I’tiqad, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, atau ragu terhadap Nabi Muhammad saw, atau ragu terhadap al-Quran, atau ragu terhadap Hari Akhir, sorga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya. 58

Seperti disebutkan sebelumnya, Ulama India Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi menyebutkan, bahwa tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat Islam saat ini, sepeninggal Rasulullah saw, adalah tantangan yang diakibatkan oleh peradaban Barat. Sebab, tantangan ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman dan kemurtadan. Dalam pandangan Islam, murtad (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat al-Quran yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.

”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah:217).

 

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (an-Nur:39).

 

Disamping itu, sebagai satu agama dan peradaban yang masih eksis—yang memiliki worldview yang khusus—maka Islam juga sedang menghadapi tantangan yang serius yang diakibatkan oleh hegemoni peradaban Barat dalam berbagai bidang kehidupan. Membanjirnya istilah-istilah yang berasal dari tradisi pemikiran Barat ke dalam khazanah pemikiran Islam kontemporer – seperti Islam fundamentalis, Islam radikal, Islam militan, Islam moderat, Islam inklusif, Islam eksklusif, Islam pluralis, dan sebagainya – merupakan satu contoh yang nyata.

Tantangan pemikiran kontemporer itu tidak mungkin dihindarkan. Para sarjana dan cendekiawan Muslim kini ditantang untuk  memberikan respon intelektual berkualitas. Mereka harus merumuskan’anatomi tantangan’ yang dihadapi kaum Muslim dengan tepat dengan melakukan kajian serius terhadap hakekat peradaban Barat dan peradaban-peradaban lain, dan sekaligus mereformulasi — bukan reformasi — konsep-konsep Islam dengan tepat, sesuai dengan tantangan pemikiran yang dihadapi umat Islam saat ini.

Apalagi, saat ini westernisasi (pembaratan) studi Islam di Perguruan Tinggi telah dilakukan semakin intensif dan diresmikan dengan cara mengadopsi metode studi agama ala Barat dalam studi Islam. Sebuah buku berjudul Paradigma Baru Pendidikan Islam, yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI  (2008) menulis:

”Melalui pengiriman para dosen IAIN ke McGill dalam jumlah yang sangat masif dari seluruh Indonesia, berarti juga perubahan yang luar biasa dari titik pandang tradisional studi Islam ke arah pemikiran modern ala Barat. Perubahan yang paling menyolok terjadi pada tingkat elit. Tingkat elit inilah yang selalu menggerakkan tingkat grass  root.”

 

Pemikiran modern ala Barat—yang memiliki metode tersendiri dalam memandang agama—justru diadopsi dan diresmikan. Hal ini telah dan akan terus membawa dampak serius dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Untuk itulah, umat Islam harus mampu menjawab tantangan ini secara akademis dan intelektual. Problem keilmuan inilah yang sejatinya menjadi problema mendasar umat Islam, yang harus dipecahkan dan dicarikan solusinya, jika umat Islam ingin bangkit menjadi umat yang besar dan disegani, sebagaimana dinyatakan oleh Prof. Syed Muhammad Naqub al-Attas: “I venture to maintain that the greatest challenge that has surreptitiously arisen in our age is the challenge of knowledge, indeed, not as against ignorance; but knowledge as conceived and disseminated throughout the world by Western civilization.” (***)


1 John L. Allen, The Rise of Benedict XVI, (New York: Doubleday, 2005), hal. 155-166. Dalam buku Paus Benediktus XVI: Palang Pintu Iman Katolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), disebutkan, “Paus melihat di Eropa kini sedang terjadi bahaya besar yakni relativisme iman secara mendalam.” (hal. 32)…  “Relativisme iman dapat membawa orang tidak lagi komit pada imannya. Ia mengatakan bahwa relativisme iman merupakan musuh terbesar  yang bisa menghambat terciptanya toleransi dalam kehidupan bersama. Sebab, menurutnya dialog antar-agama semestinya berangkat dari sebuah keyakinan akan apa yang ada di dalam kekayaan iman tersebut… Yang dihindarinya adalah orang terjerumus pada suatu pandangan bahwa semua iman itu sama.” (hal. 34-35).

Hasil pertemuan misionaris Kristen se-dunia di Jerusalem tahun 1928, menetapkan sekulerisme sebagai musuh besar Geraja dan misi Kristen. Dalam usaha untuk mengkristenkan dunia, Gereja Kristen  bukan hanya menghadapi tantangan agama lain, tetapi juga tantangan sekularisme. (It was made clear that in its efforts to evangelize the world, the Christian Church has to confront not only the rival claims of non-Christian religious system, but also the challenge of secularism). Pertemuan Jerusalem itu secara khusus menyorot sekularisme yang dipandang sebagai musuh besar Geraja dan misinya, serta musuh bagi misi Kristen internasional. (Lihat Tomas Shivute, The Theology of Mission and Evangelism, (Helsinki: Finnish Missionary Society, 1980), hal. 42-50).

2 Abul Hasan Ali an Nadwi, Islam Membangun Peradaban Dunia, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1988), hal. 227-235.

3 Abul Hasan Ali An-Nadwi, ‘Ancaman Baru dan Pemecahannya’ dalam Haidar Bagir (ed), Benturan Barat dengan Islam, (Bandung: Mizan, cetakan ke-4,1993), hal. 13-19.

4 Lebih jauh tentang peradaban Barat, lihat Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta:GIP, 2005).

5 Muhammad Asad, Islam at The Crossroads,  (Kuala Lumpur: The Other Press), hal. 26-29. Edisi pertama buku ini dicetak tahun 1934 oleh Arafat Publications Delhi and Lahore.

6 Mazheruddin Siddiqi, The Image of the West in Iqbal, (Lahore: Baz-i-Iqbal, 1964), hal. 51,71-72. Peringatan Iqbal yang banyak mengkaji filsafat Barat modern ini penting untuk dicermati, sebab dalam aliran relativisme yang kini banyak dikembangkan dalam studi agama-agama, pemeluk agama diminta untuk meninggalkan keyakinan tentang kebenaran agama dan kitab sucinya. Mereka beralasan, bahwa akal manusia adalah relatif dan sebab itu, tidak pernah sampai kepada kebenaran yang hakiki. Padahal, dengan statusnya sebagai manusia, Allah memberi anugerah kepada manusia untuk sampai pada keyakinan tertentu. Manusia meyakini sesuatu dalam kapasitasnya sebagai manusia, dan bukan sebagai Tuhan, karena ia memang bukan Tuhan.

7 Maryam Jameela, Islam versus The West, (Saudi Arabia: Abul Qasim Publishing House, 1994), hal. 57.

8 Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), hal. 18.

9 Jennifer  M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society, (Victoria, The Cranlana Program, 2002), vol 2, hal. 231-240.

10 Alwi Shihab, Membendung Arus: Repons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, Mizan, Bandung, 1998, hal. 202.

 

11 Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan, (Jakarta: IPS, 1998), hal. 299-300.

12 Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta, 1985, hal. 26.

13 Alwi Shihab, op.cit., hal. 147.

14 Alwi Shihab, op.cit., hal. 37-42; Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES, Jakarta, 1990, hal. 184-188.

15 H. Berkhof dan I.H. Enklaar, Sedjarah Geredja, (Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1962), hal. 276-277.

16 W.B. Sidjabat, Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, (Badan Penerbit Kristen, 1964), hal. 133-135.

17 Tonggak Sejarah Pedoman Arah: Dokumen Konsili Vatikan II (Oleh Dr. J. Riberu), Jakarta, Dokpen MAWI, 1983, hal. 289. Naskah dalam bahasa Inggris bisa dilihat: Abbot, Walter M. (gen.ed.), The Documents of Vatican II, (America Press, 1966).

18 Ismartono SJ, Kuliah Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum, (Jakarta: Obor, 1999), hal. 133-135.

19 John Hick, “The Non-Absoluteness of Christianity”, dalam  John Hick dan Paul F. Knitter, (ed.,  The Myth of Christian Uniqueness: Toward a Pluralistic Theology of Religions, (New York: Orbis Book, 1987), hal.  21.

20 Walter M. Abbott (gen.ed.), The Documents of Vatican II, hal. 585.

21 Walter M. Abbott (gen.ed.), The Documents of Vatican II, hal.  593. Naskah terjemah di kutip dari Tonggak Sejarah Pedoman Arah: Dokumen Konsili Vatikan II, hal. 377-478.

22 Sebuah metode menjalankan misi Kristen yang ‘agak berbeda’ dari yang lain, dijelaskan oleh Prof. Frans Magnis Suseno, dengan menyatakan: “Tidak perlu kita sembunyikan bahwa agama Kristen adalah agama misionaris, sama seperti agama Islam. Kita tahu diri diutus oleh Yesus untuk menjadi saksi-Nya sampai ke batas dunia. Itu yang dimaksud dengan istilah “agama universal”. Akan tetapi, sifat “misionaris” tidak berarti bahwa kita menganggu orang yang beragama lain. Kadang-kadang saudara-saudara kita dari umat-umat beragama lain mengkhawatirkan apa yang mereka sebut sebagai “kristenisasi”. Namun memberikan kesaksian itu lain sama sekali daripada “mengkristenkan”. Kata “kristenisasi”  memberikan kesan bahwa ada orang yang diperlakukan sebagai objek. Akan tetapi kita tidak mengkristenkan siapa-siapa. Yesus sendiri tidak pernah mendesakkan diri pada orang lain, ia selalu menghormati suara hati setiap orang.’’ (Lihat, Frans Magnis Suseno, Menjadi Saksi Kristus Di Tengah Masyarakat Majemuk, (Jakarta : Obor, 2004), hal. 65).

23 Victor Silaen dkk., Gereja dan Reformasi, (Jakarta: Yakoma PGI, 1999), dan majalah Kristen BAHANA, September 2002). Dalam tulisannya, Yewangoe mengatakan: “Saya sendiri tidak percaya statistik itu. Masa dalam sekian tahun tidak pernah jumlah orang Kristen bertambah, padahal kita tahu betul bahwa di banyak tempat terjadi baptisan-baptisan masal. Kalau sungguh-sungguh jujur, sebaiknya diadakan sensus dengan cara yang terbuka  pula. Saya menaksir jumlah orang Kristen di Indonesia sekarang ini antara 16-17%, kalau lebih optimis 20%. Malah bisa lebih. Agar kita mempunyai “counter data”, sebaiknya gereja-gereja mengadakan sensus sendiri, lalu data-data itu dikirim kepada Balitbang PGI. Kalau kita punya data-data yang akurat,  maka kita dapat menolak penyajian data yang tidak tepat yang dilakukan oleh lembaga apa saja. Tetapi memang persentase yang kecil itu dengan sengaja dikemukakan berulang-ulang agar kita dirasuki “sikap mental minoritas”.

24 Dalam buku ini, Perkins menulis: “Economic hit men (EHMs) are highly paid professionals who cheat countries around the globe out of trillion of dollars. They funnels money from the World Bank, the U.S. Agency for international Development (USAID), and other foreign “aid” organizations into the coffers of huge corporations and the pockets of a few wealthy families who control the planet’s natural resources. Their tools include fraudulent  financial reports, rigged elections, payoffs, extortion, sex, and murder. They play a game as old as empire, but one that has taken on new and terrifying dimensions during this time of globalization. I should know; I was an EHM. (John Perkins, Confessions of an Economic Hit Man (San Francisco: Berret-Koehler  Publisher, 2004. pp. ix.)

25 Peradaban Barat memang terbukti tidak membawa nyaman bagi sebagian besar umat manusia. Ketidakdilan (kezaliman) menyatu dalam sistem yang dikembangkannya. Ketimpangan,  kesenjangan, menjadi bagian yang tak terpisahkan. Ketidakdilan itu terus dipertahankan melalui sebuah proses yang dikenal dengan nama ‘Globalisasi’. Sejak 1980-an, globalisasi telah dikembangkan dengan berbasis pada kebijakan neo-liberal yang mempromosikan liberalisasi dan deregulasi. Mitos yang ingin dicapai adalah pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, kebebasan, dan perdamaian. Tetapi, dua puluh tahun kemudian, kebijakan neo-liberal justru telah menciptakan krisis politik dan ekonomi di banyak negara, meningkatkan kemiskinan dan menimpakan penderitaan kepada ratusan juta umat manusia.  Kesenjangan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin semakin melebar. Data UNDP (United Nation Development Program), menunjukkan, saat ini, lebih dari 80 negara memiliki pendapatan per kapita lebh rendah dibandingkan satu dekade sebelumnya. Tahun 1960, perbandingan pendapatan per kapita antara seperlima penduduk bumi di negara-negara terkaya dengan seperlima penduduk bumi di negara-negara termiskin adalah 30:1. Tahun 1990, kesenjangan itu meningkat menjadi 60:1; dan tahun 1997 menjadi 74:1. Seperlima penduduk bumi di negara-negara kaya kini menikmati 86 persen GDP (Gross Domestic Product) dunia, 82 persen nilai ekspor dunia, dan 68 persen investasi asing secara langsung (foreign direct investment/FDI). Sementara seperlima penduduk bumi di negara-negara termiskin hanya menikmati 1 persen GDP dunia, 1 persen dari nilai ekspor dunia, dan 1 persen FDI.  Keadaan kemiskinan negara-negara di bagian Selatan dunia pada dekade 1990-an digambarkan oleh James Gustave Speth, presiden World Resources Institute, bahwa di negara-negara berkembang, sekitar 13-18 juta manusia, hampir seluruhnya anak-anak, mati akibat kelaparan dan kemiskinan. Ini berarti, di negara-negara tersebut, yang mati adalah sekitar 40.000 per hari, atau 1700 orang per jam. Sekitar 85-90 persen dari kelaparan itu bersumber dari kemiskinan. Jurang kesenjangan antara Utara dna Selatan memang semakin menganga. Negra-negara kaya di Utara, rata-rata memiliki pendapatan perkapita 12.510 USD, sedangkan pendapatan rata-rata per kapita di Selatan adalah 710 USD. Menurut UNDP, 77 persen penduduk bumi hanya menikmati 15 persen dari pendapatan total dunia. Globalisasi terbukti semakin menguntungkan negara-negara kaya. Karena itu, tokoh aktivis LSM di Malaysia, yang juga presiden Consumer Association of Penang (CAP), S.M. Idris, dalam bukunya, Globalization and the Islamic Challenge, menyimpulkan, bahwa Globalisasi merupakan ancaman yang sangat serius terhadap kaum Muslim. (Globalization poses a serious threat to Muslims. It not only brings about economic exploitation and impoverishment, but also serious erosion of Islamic beliefs, values, culture, and tradition). Globalisasi bukan hanya mempraktikkan eksploitasi ekonomi dan pemiskinan, tetapi juga mengikis keyakinan, nilai-nilai, budaya, dan tradisi Islam. Kapitalisme global mempromosikan nilai-nilai individualisme, materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Paham-paham itu jelas langsung menusuk jantung ajaran Islam. Pasca Perang Dingin, menurut Idris, satu-satunya kekuatan yang tersisa yang mampu memberikan tantangan terhadap proyek Globalisasi adalah dunia Islam. Ekonomi Cina dan Hindu, tampaknya cenderung mengintegrasikan diri ke dalam ekonomi global, walaupun hal itu akhirnya akan menghancurkan identitas peradaban mereka. (Lihat, S.M. Idris, Globalization and the Islamic Challenge, (Kedah: Teras, 2001), hal. 3-9. Lihat juga, Walden Bello, Dark Victory: The United States, Structural Adjustment and Global Poverty, (London: Pluto Press, 1994), hal. 51.

26 Dikutip dari Hamka, Studi Islam, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985), hal. 12.

27 Riset yang serius tentang Peter Venerabilis ini bisa dibaca dalam buku Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Quran, (Jakarta: GIP, 2005).

28 Samuel M. Zwemmer, Islam:  A Challenge to Faith (London: Darf Publisher Limited, 1985), hal. 91.

29 Prof. SMN al-Attas mencatat dalam buku terkenalnya, Islam and Secularism: “The confrontation between Western culture and civilization and Islam, from the historical religious and military levels, has now moved on to the intellectual level; and we must realize, then, that this confrontation is by nature a historically permanent one. Islam  is seen by the West as posing a challenge to its very way of life; a challenge not only to Western Christianity, but also to Aristotelianism and the epistemological and philosophical principles deriving from Graeco-Roman thought which forms the dominant component integrating the key elements in dimensions of the Western worldview.” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur, ISTAC, 1993), hal. 105.

30 Lihat artikelnya dalam Bulletin of the John Rylands Library (Manchester, 1927) XI: 77. Dikutip dari artikel Dr. Syamsuddin Arif, Al-Quran, Orientalisme dan Luxenburg, di Jurnal Al-Insan, No 1/Januari 2005.

31 Lihat, makalah Taufik Adnan Amal berjudul  “Edisi Kritis al-Quran”, dalam buku  Wajah Liberal Islam di Indonesia” (Jakarta: JIL, 2002), hal. 78).

32 Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran (Yogyakarta: FKBA, 2001).

33 Aksi Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan” (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), hal. 123.

34 Luthfi Assyaukanie, “Merenungkan Sejarah Alquran”, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal, (Jakarta: Jaringan Islam Liberal, 2005), hal. 1.

35 Dalam Jurnal Justisia, Edisi 23 Th XI/2003 ini bisa dibaca berbagai artikel dengan judul-judul yang melecehkan al-Quran dan menghina para sahabat Nabi Muhammad saw, seperti “Qur’an ‘Perangkap’ Bangsa Quraisy”  oleh M. Khalidul Adib Ach, “Pembukuan Qur’an oleh Usman: Sebuah Fakta Kecelakaan Sejarah” oleh Tedi Kholiludin, “Kritik Ortodoksisme: Mempertanyakan Ketidakkreativan Generasi Pasca Muhammad”, oleh Iman Fadhilah el-Barbazzy ErHa, dan sebagainya.

36 Paparan lebih jauh tentang masalah liberalisasi al-Quran di PerguruanTinggi Islam, lihat, Adian Husaini, Hegemoni Kristen dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: GIP, 2006).

37 Musdah Mulia, Muslimah Reformis, (Bandung: Mizan, 2005), hal. 63.

38 Mun’im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama, (Jakarta: Paramadina&The Asia Foundation), 2004), hal. 164.

39 Dalam bab berjudul ‘Hebrew Scriptures’ dari buku Path Through Catholicism karya Mark Link SJ (Texas:Tabor Publishing, 1991), dijelaskan metode penafsiran Bibel Yahudi yang memisahkan antara metode tekstual dan metode kontekstual. Orang yang menafsirkan secara tekstual/literal dijuluki sebagai kaum literalis atau fundamentalis. Paus sendiri menolak penafsiran Bibel secara tekstualis atau literalis. Menurut buku karya Mark Link itu, penafsir Bibel dibagi menjadi dua model, yakni model literalis dan kontekstualis. Dia menulis: “Literalists interpret the Bible rigidly, saying, “It means exactly what it says”. In other words, literalists (also called fundamentalists) concern themselves with only the text of the Bible. Contextualists interpret the Bible more broadly, saying “We must consider not only the text but also the context of the Bible. In other words, we must also consider such a things as historical and cultural situation in which the Bible was written.” (hal. 22)

Model tafsir Bibel Kristen-Yahudi seperti ini, yang menajamkan aspek tekstual dan kontekstual dan menekankan aspek historisitas teks, saat ini banyak mencengkeram sebagian akademisi Muslim. Itu bisa kita lihat dalam buku-buku tentang studi Islam yang bermunculan dewasa ini. Seorang dosen UIN Yogya yang menerbitkan disertasinya dengan judul  “Muslim-Christian Relations in The New Order Indonesia:The Exclusivist and Inclusivist Muslims’ Perspectives, (Bandung: Mizan, 2005)” membagi kaum Muslim Indonesia ke dalam dua golongan, yakni kaum ‘Inclusivist Muslims’ dan exclusivist Muslim’. Kaum Muslim Inklusif, kata dia, adalah mereka yang mempersepsikan Islam sebagai agama evolutif dan menerapkan metode tafsir kontekstual terhadap al-Quran dan Sunnah. (… they perceive Islam as an evolving religion they apply a contextual reading to the Quran and sunna). Sedangkan Muslim eksklusif adalah yang menerapkan metode penafsiran al-Quran dan Sunnah secara literal. (They apply a literal approach in understanding the foundation texts of Islam, namely the Quran and the sunna of the Prophet).

40 Dikutip dari artikel Dr. Anis Malik Thoha, “Religionswisenschaft, antara Obyektivitas dan Subyektivitas Praktisinya”, Majalah Islamia edisi 8/2006)

41  HM Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’,  (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hal 13.

42 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, cet. ke-6, 1986), Jld 1, hal. 29.

43 Ibid, hal. 15-22.

44 HM Rasjidi, op.cit, hal. 24.

45 Lihat, Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rasional, (Ciputat Press, 2005), hal. xvi-xvii.

46 Adeng Muchtar Ghazali, Ilmu Studi Agama, (Bandung: Pustaka Setia, 2005)

47 David E. Kaplan menulis, bahwa sekarang AS menggelontorkan dana puluhan juta dollar dalam rangka kampenye untuk – bukan hanya mengubah masyarakat Muslim – tetapi juga untuk mengubah Islam itu sendiri. Menurut Kaplan, Gedung Putih telah menyetujui strategi rahasia, yang untuk pertama kalinya AS memiliki kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam. Sekurangnya di 24 negara Muslim, AS secara diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan Islam moderat (versi AS). (Washington is plowing tens of millions of dollars into a campaign to influence not only Muslim societies but Islam itself…The white house has approved a classified strategy, dubbed Muslim world Outreach, that for the first time states that the US has a national security interest in influencing what happens within Islam… In at least two dozen countries, Washington has quietly funded Islamic radio, tv shows, coursework in Muslim schools, Muslim think tanks, political workshops, or other programs that promote moderate Islam). (David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005).

48 Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, (New York:  HarperSanFrancisco, 2002.

49 Paul F. Knitter, No Other Name?, dikutip dari Stevri I. Lumintang, Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004), hal. 67.

50 Sebagai contoh, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, menyatakan, bahwa ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil. Yaitu, pertama, sikap eksklusif dalam melihat Agama lain (Agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya). Kedua, sikap inklusif (Agama-Agama lain adalah bentuk implisit agama kita). Ketiga, sikap pluralis – yang bisa terekspresi dalam macam-macam rumusan, misalnya: “Agama-Agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai Kebenaran yang Sama”, “Agama-Agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan Kebenaran-kebenaran yang sama sah”,  atau “Setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah Kebenaran”. Lalu, tulis Nurcholish lagi, “Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antar agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama. Filsafat perenial juga membagi agama pada level esoterik (batin) dan eksoterik (lahir). Satu Agama berbeda dengan agama lain dalam level eksoterik, tetapi relatif sama dalam level esoteriknya. Oleh karena itu ada istilah “Satu Tuhan Banyak Jalan”.”                  Nurcholish Madjid juga menulis: “Jadi Pluralisme sesungguhnya adalah sebuah Aturan Tuhan (Sunnat Allah, “Sunnatullah”)  yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.” (Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan, (Bandung: Mizan, 1999), hal. xix.,  dan Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1995), hal. lxxvii.)

51 Dr. Luthfi Assyaukanie, dosen Universitas Paramadina, menulis di Harian Kompas: “Seorang fideis Muslim, misalnya, bisa merasa dekat kepada Allah tanpa melewati jalur shalat karena ia bisa melakukannya lewat meditasi atau ritus-ritus lain yang biasa dilakukan dalam persemedian spiritual. Dengan demikian, pengalaman keagamaan hampir sepenuhnya independen dari aturan-aturan formal agama. Pada gilirannya, perangkat dan konsep-konsep agama seperti kitab suci, nabi, malaikat, dan lain-lain tak terlalu penting lagi karena yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bisa menikmati spiritualitas dan mentransendenkan dirinya dalam lompatan iman yang tanpa batas itu.” (Kompas, 3/9/2005)

52 Khamami Zada, Membebaskan Pendidikan Islam:Dari Eksklusivisme menuju Inklusivisme dan Pluralisme, Jurnal Tashwirul Afkar, edisi No 11 tahun 2001.

53 Frans Magnis Suseno, op.cit., hal. 138-141.

54 Stevri I. Lumintang, op.cit, hal. 18-19.

55 Ngakan Made Madrasuta (ed), Semua Agama Tidak Sama, (Media Hindu, 2006) hal. xxx.

56 Ibid, hal. 106.

57 Lihat, pengantar Dr. Anis Malik Thoha pada buku Adian Husaini, Pluralisme Agama: Haram (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2005). Disertasi Dr. Anis Malik Thoha tentang Pluralisme Agama di Universitas Islam Internasional Islamabad juga telah diterbitkan oleh GIP dengan judul ‘Tren Pluralisme Agama’. Edisi bahasa Arab buku ini mendapatkan penghargaan Faruqi Award oleh Internastional Islamic University Malaysia. Diskusi lebih jauh tentang Pluralisme Agama dalam Islam bisa dilihat di Majalah ISLAMIA edisi 3 dan 4.

58 Lihat Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim, Sullamut Tawfiq, (cetakan Toha Putra, Semarang, tanpa tahun), hal. 5-6.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s