Pesan dari Nadwah ke Bayongbong

Sejak pagi, Ahad (03/04) lalu kami, beberapa tasykil PD. Pemuda Persis Garut telah berada di sebuah ruangan tunggu di Pesantren Bentar, tempat kami nyantri dulu. Tidak seorang pun tasykil yang ada di ruangan tunggu itu jebolan dari pesantren atau sekolah lain. Kami semua alumnus Pesantren 19, yang hingga saat ini berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk kehidupan metropolitan, Kota Dodol. Sekalipun demikian, perkumpulan kami bukan untuk reuni-an, apalagi pertemuan ‘lintas generasi’. Akan tetapi, kami berencana untuk bersilaturahmi ke Pimpinan Cabang (PC) Bayongbong, dengan menjadikan Pesantren Bentar sebagai star keberangkatannya.

Sekitar dua jam lamanya kami berada di Pesantren itu, dengan harapan masih ada tasykil yang akan datang ke sana. Namun, sejak pukul 07.00 sampai 08.00 tidak ada yang juga. Amir safar pun mencoba memberikan perpanjangan waktu selama satu jam. Dengan asumsi, apabila dalam perpanjangan waktu tersebut tetap tidak ada tasykil yang datang, maka kita putuskan untuk berangkat seadanya. Lima bela menit, sampai setengah jam tidak ada juga yang datang, sementara penggagas kunjungan ini, dari pihak Cabang Bayongbong telah mengingatkan kami melalui pesan  singkatnya,”Bilih hilap. Ayeuna tabuh 8. Hatur nuhun”. Perasaan pun sedikit tidak enak. Pasalnya, seorang lagi tasykil yang pasti akan datang, belum kelihatan batang hidungnya. Bukan apa-apa, satu orang lagi yang kami tunggu-tunggu sangat dibutuhkan jasanya. Selain untuk amunisi kekompakannya, juga mobilitas yang ia miliki. Ia memiliki kendaraan jihad beroda dua—motor–yang bisa mengantarkan kami ke tempat tujuan, tanpa harus mengocek saku dalam-dalam. Mungkin kami berharap kepada Allah, agar kebaikannya dibalas dengan kebaikan yang setimpal.

Baru pada menit ke-50 waktu tambahan orang yang ditunggu datang juga. Belum sampai batang hidungnya terlihat kami sudah dapat bahwa orang yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kami mengenalnya dari suara khas motornya. Sambil tersenyum, perlahan ia membuka helm yang menutupi wajahnya, hendak melayangkan permohohan maaf atas keterlambatannya. Kami tidak mempersoalkan hal itu. Yang jelas, waktu itu kami tidak menunggu lama lagi. Kami langsung ‘go to’ tempat Bayongbong. Mesin motor mulai menyala, gas langsung ditancap. Seketika motor yang kami tumpangi membawa kami jauh dari komplek Pesantren Bentar.

Di sepanjang jalan raya, kami harus berjibaku dengan kendaraan lain memburu waktu. Dengan sangat lincahnya kendaraan kami meliuk-liuk diantara sesama pengguna jalan, bak Gonzales mengocek bola, menghindari hadangan lawan yang ada di depannya. Akhirnya, atas izin Allah sampailah kami di jalan menuju lokasi. Kami pun menempuh jalan tersebut. Jalan menuju ke sana membuat kami berumpak-umpak, karena pengasapalan yang kurang sempurna. Atau kurang mendapatkan perhatian dan pemeliharaan dari pemerintah. Maklum saja, nasib jalan-jalan diperkampungan tidak sebaik dan sebagus pelayanan terhadap jalan raya—itu pun tidak semua jalan raya kondisinya baik, ada juga yang bolong-bolong. Tapi tidak separah jalan yang kami lalui ini–.

Akan tetapi, sekalipun jalan yang kami lalui kurang baik, kami merasa terpuaskan dengan suguhan pemandangan alamnya. Sepanjang perjalanan kami disuguhi deretan pesawahan yang menghijau dan udaranya sangat sejuk. Inilah yang membuat kami merasa nyaman dan betah selama menempuh jalanan itu.

Akhirnya kami pun sampai ke lokasi tujuan, tepatnya di sebuah madrasah berlatarkan pesawahan dan Gunung Guntur. Sesampainya di sana, kami disambut lima orang pemuda yang sedang berkumpul di teras madrasah sambil menikmati segelas cangkir kopi hitam. Mereka telah menunggu kedatangan kami sejak pagi hari. Itu bisa kami perkirakan dari kondisi kopi yang ada dalam beberapa gelas yang sudah mendingin. Bahkan beberapa gelas sudah tinggal dedaknya. Keterlambatan kami dari waktu yang seharusnya, tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap berada di tempat itu. Begitu pun dengan kami, jumlah anggota atau calon anggota yang hadir pada kunjungan itu tidak sampai membuat kami mengelus dada dan patah harapan akan keberlangsungan dakwah Islamiyah yang menjadi tanggujawab kami, khususnya di wilayah Bayongbong melalui Jam’iyah yang bernama (Pemuda) Persatuan Islam.

Bagi kami jumlah bukan lah ukuran kekuatan dan keberhasilan dalam pengembangan dakwah Islamiyah. Komitmen/Istiqomahlah yang kami butuhkan. Kehadiran mereka pada kunjungan yang kami lakukan ini, menunjukkan dan menegasakan akan komitmen mereka untuk berjuang dan berdakwah melalui Jam’iyah ini. Dikatakan seperti itu, sebab kami menyadari bahwa keberadaan di Jam’iyah ini tidak menjanjikan keuntungan materi. Malah sebaliknya. Namun karena kejaran kami bukan materi, tapi ridho Ilahi, maka kami terus berada di Jam’iyah ini. Kami sangat bersyukur kepada Allah, karena masih ada pemuda yang mau mewakafkan dirinya demi kepentingan Agama Allah. Masih terngiang di telinga kami, wejangan orang tua kami—baca:Persis—bahwa kita hendaklah tidak menjadikan jam’iyah Persis sebagian tempat menitipkan perut, tapi menitipkan akidah, ibadah dan akhlak.  Dengan demikian, kami tidak perlu risih dan mengelus dada dengan sedikitnya pemuda yang mau mengemban tugas dakwah. Sebab di balik itu semua itu, kami yakin ada kekuatan maha dahsyat dari Pemilik Kekuatan yang tak terbatas, Allah. Selama kami berjuang dalam koridor yang benar, Dia pun akan mengulurkan bantuan-Nya.

$pkš‰r’¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) (#rçŽÝÇZs? ©!$# öNä.÷ŽÝÇZtƒ ôMÎm6s[ãƒur ö/ä3tB#y‰ø%r& ÇÐÈ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad [47]:7)

4 tA$s% šúïÏ%©!$# šcq‘ZÝàtƒ Nßg¯Rr& (#qà)»n=•B «!$# NŸ2 `ÏiB 7pt¤Ïù A’s#ŠÎ=s% ôMt7n=xî Zpt¤Ïù OouŽÏWŸ2 ÈbøŒÎ*Î/ «!$# 3 ª!$#ur yìtB tûïΎÉ9»¢Á9$# ÇËÍÒÈ

….Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah [2]: 249)

Memang dalam berjuangan itu tidak perlu SDM yang banyak. Yang paling penting adalah komitmen, semangat jihad, serta kualitas keimanan dan keilmuannya. Percuma saja personel berlimpah, jika tidak menampilakan kekuatan. Sebagaimana yang dikatakan al-Ust. Tiar dengan mengutip ungkapan Sayyid Naquib al-Attas, lebih baik sedikit, tapi menjadi singa, daripada banyak, tapi menjadi anak ayam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s