TENTANG KAMI

MUQADDIMAH MUSYKER I

PIMPINAN DAERAH PEMUDA PERSIS KABUPATEN GARUT

 

MEMUSYAWARAHKAN PEKERJAAN

Ahlan Wa Sahlan… para mujahid!

Ahlan Wa Sahlan… Ya Al-Syabaab…!

Barat memiliki prinsip “Perencanaan yang gagal, sama dengan merencanakan kegagalan”. Ungkapan tajam itu menyiratkan betapa pentingnya sebuah perencanaan, hingga jelaslah jika kita tidak matang merencanakan sesuatu, artinya kita sedang menanamkan ‘bom waktu’ kegagalan. Benarkah? Ungkapan itu benar ketika mengatakan pentingnya sebuah perencanaan, namun menjadi salah jika kegagalan hanya ditanggungjawabkan pada perencanaan. Sebab, selain mengajarkan kerangkan perencanaan seperti dalam surat QS. Al-Hasyr (18)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18)

Islam mengajarkan pula bahwa keberhasilan berbanding lurus antara perencanaan, kesungguhan, dan pertolongan Allah. Allah berfirman pada ayat berikut ini:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159) إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (160)

Musyawarah, Azam, dan Tawakkal! Itulah kunci yang mendatangakan Al-Nashr Minallah (pertolongan). Sebaliknya kegagalan jama’i akan menanti jika kita bermusyawarah kemudian tidak bertekad untuk merealisasikannya, meski kita bertawakkal kepada Allah. Kegagalan pula jika kita bermusyawarah, bertawakkal pada Allah, namun tidak pernah berazam untuk merealisasikannya. Dan pula kegagalan pula yang menanti kita, jika berazam dan bertawakkal, namun kita tidak pernah memusyawarahkan pekerjaan-pekerjaan itu.

Ayyuha Al-Mujaahid wa Al-Mujtahid!

Pada hari ini, kita akan bermusyawarah seperti yang sering dilakukan oleh Rasulullah. Hadits dari Abu Hurairah r.a menegaskan, “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih banyak bermusyawarah dengan sahabatnya daripada Rasulullah SAW” (HR Abdurrozzaq bin Mushhannaf, Imam Ahmad, dan Ibnu Hibban). Namun musyawarah adalah 1/3 dari keberhasilan, sebab 2/3 unsur lainnya ada dalam azam dan tawakkal.

Musyawarah pada hari ini jelas bukan merupakan pertemuan ringan. Sayyid Quthb dalam Tafsir Dhilal-nya ketika mengomentari ayat ini mengatakan,

والقرآن كان يعالج الجماعة المسلمة ، على إثر معركة لم تكن – كما قلنا – معركة في ميدان القتال وحده . إنما كانت معركة في الميدان الأكبر . ميدان النفس البشرية ، وميدان الحياة الواقعية . . ومن ثم عرج على الربا فنهى عنه؛ وعرج على الإنفاق في السراء والضراء فحض عليه؛ وعرج على طاعة الله ورسوله فجعلها مناط الرحمة؛ وعرج على كظم الغيظ والعفو عن الناس ، وعلى الإحسان والتطهر من الخطيئة بالاستغفار ، والتوبة وعدم الإصرار؛ فجعلها كلها مناط الرضوان . كما عرج على رحمة الله المتمثلة في رحمة الرسول – صلى الله عليه وسلم – ولين قلبه للناس . وعلى مبدأ الشورى وتقريره في أحرج الأوقات . وعلى الأمانة التي تمنع الغلول …

 

“Al-Quran sedang mengobati Jama’ah Al-Muslim yang bukan hanya di atas pertempuran fisik saja, namun juga pada medan yang lebih besar, yaitu aspek kemanusiaan serta realitas kehidupan. Dari sanalah Al-Quran melihat riba, kemudian dilarangnya. Al-Quran pun melihat pentingnya berinfaq dalam keadaan luas atau sempit, kemudian ia menganjurkannya. Al-Quran pun melihat ta’at kepada Allah dan Rasulnya, kemudian ia menjadikannya sebagai pengikat rahmat. Al-Quran pun melihat menahan amarah, memafkan kesalahan orang, berbuat kebaikan, mensucikan diri dari dosa kecil dengan istighfar, taubat tanpa kembali berdosa, sebagai pengikat ridha Allah. Sebagaimana juga Al-Quran melihat rahmat Allah yang tererpresentasikan dalam kasih sayang dan lunaknya hati Rasulullah terhadap manusia dan terhadap pokok-pokok musyawarah (padahal sebagai Rasul, ia berwenang melakukan syari’at meski tanpa harus bermusyawarah, penerj) dan ketetapannya yang harus meluangkan banyak waktu. Serta representasi kasih sayangnya dalam melaksanakan amanah yang bertugas untuk meluruskan penyelewengan-penyelewengan” (Quthb, fi Dhilal Al-Quran, 159: 71).

Jelaslah bahwa musyawarah merupakan bagian dari metodologi Al-Quran untuk menyelesaikan persoalan-persoalan umat yang berat dan beragam. Jelaslah bahwa musyawarah kali ini merupakan bagian dari anjuran Islam, pengikat rahmat dan ridha Allah. Serta jelaslah kita wajib menempuh itu, meski harus banyak mengorbankan pikiran, waktu dan tenaga!

Musyawirin yang berbahagia!

Apa yang hendak kita bicarakan pada kali ini tidak terlepas dari cita-cita luhur di atas. Persoalannya adalah bagaimana cita-cita luhur di atas dapat mewujud sebagai al-‘illâj al-ummah (solusi bagi persoalan umat)?

Sebagai orang mukmin kita dituntut untuk tidak melanggar prinsip-prinsip musyawarah, yaitu bicarakanlah dengan matang apa yang hendak kita bicarakan, bertekadlah setelahnya serta bertawakallah kepada Allah sepanjang hayat. Sebab banyak contoh buruk yang terjadi berkaitan dengan mentalitas masyarakat kita saat ini, yaitu dingin dalam musyawarah, namun panas setelah musyawarah. Sedikit persoalan dalam musyawarah, namun berjibun persoalan di luar musyawarah tentang hasil-hasil musyawarah itu sendiri. Kita –entah apa yang membentuknya, lebih asyik berbicara di belakang daripada berbicara lantang di hadapan. Bukankah mentalitas hipokrit itu yang sedang kita upayakan agar menghilang dalam tubuh jam’iyyah kita? Bagaimana kita dapat menggunakan Al-Quran sebagai obat ummat, jika kita pun masih menyimpan mentalitas-mentalitas buruk yang dibenci oleh Al-Quran sendiri?

Musyawirin yang berbahagia!

Kita memiliki bidang-bidang pekerjaan yang sudah lengkap. Jam’iyyah, kaderisasi, pendidikan, dakwah, hubungan antar lembaga, hubungan masyarakat, publikasi, olehraga, seni, sosial, ekonomi, serta dua lembaga khusus: Litbang dan Syubbaanul Yaum.

Jika boleh saya ilustrasikan untuk memudahkan fokus pikiran kita saat ini, saya akan mencoba memilah fokus kerja bidang masing-masing berikut ini.

Bidang Kaderisasi dan jam’iyyah adalah mesin dan kerangkanya. Jika bidang kaderisasi bertugas untuk melahirkan kader-kader dan menjaga agar tetap terlahir kader-kader baru, maka bidang jam’iyyah bertugas memberdayakan kader dalam kerangka jam’iyyah, me-manage kader yang terlahir agar tetap berada dalam cita-cita jam’iyyah. Dengan mesin dan kerangka ini, diharapkan jangan ada lagi ungkapan klise tentang kemandulan kader, kekurangan SDM, dan kader-kader yang ‘tergaet’ gerakan ‘lawan’.

Sedangkan Bidang Dakwah dan Pendidikan merupakan ruh gerakan. Jika bidang pendidikan lebih concern pada internalisasi, maka dakwah sudah melibatkan proses ekternalisasi. Jika internalisasi lebih menekankan penguatan, maka eksternalisasi lebih menekankan pelebaran. Semakin jam’iyyah kuat, maka semakin mungkin ia melebarkan sayapnya. Semakin lemah jam’iyyah, maka pelebaran yang terjadi lebih bersifat pemaksaan dan hasilnya merupakan pelebaran yang semu. Oleh sebab itu, pelebaran tanpa penguatan sudah mengabaikan prinsip mendidik, sedangkan penguatan tanpa pelebaran bukanlah karakter gerakan dakwah.

Oleh sebab itu, jika bidang jam’iyyah, kaderisasi, dakwah, dan pendidikan merupakan Al-Ashlu, HAL-Humas-Publikasi-Sosek-Olahraga merupakan al-far’u. Tetap saja, sehebat apapun sepak terjang yang hendak dirancang, al-far’u tetap harus tertancap pada al-ashlu. Al-Far’u itu dirancang untuk memperindah dan mengeksistensikan al-ashlu, jangan sampai menjadi ‘tumbuhan parasit’ yang tidak selaras atau bahkan kontraproduktif dengan al-ashlu.

Penutup

Pada saat ini, saya ingin kembali mengulang ungkapan Allahu Yarham Mohammad Natsir dalam petikan nasihatnya,

Kita tidak sedang melakukan hal yang mudah

Sebab yang mudah banyak dikerjakan orang

 

Kita sedang mengerjakan yang susah dan berat

Sebab yang tidak mungkin, kita dapat lakukan esok hari

(Natsir, Nasihat-nasihat, 23:1987)

Musyawirin yang berbahagia!

Kerahkanlah tenaga, pikiran, dan waktu…. dan setelah itu bertekadlah serta bertawakkal!

Garut, 16 Nopember 2009

Pimpinan Daerah Pemuda Persis

Kabupaten Garut

Ketua,

Yudi Wahyudin

NPA.  99.0078