Re-FLEKSI

BELAJAR DARI NINOMIYA

Yudi Wahyudin

Pada awal pagi, dia mendaki gunung mencari kayu api, sehingga larut malam, dia menganyam selipar dari jerami padi, sambil berjalan, dia tidak pernah berhenti membaca

Puisi itu mengisahkan seorang pemuda Jepang bernama Kinjiro Ninomiya yang hidup pada awal abad ke-20. Kegigihannya dalam memburu ilmu menjadi inspirasi masyarakat Jepang. Oleh pemerintah Jepang, semangat Kinjiro itu kemudian disebarkan dalam bentuk buku teks moral, tugu peringatan, dan lagu-lagu. Semangat inilah yang banyak memberi inspirasi masyarakat Jepang untuk mengejar ilmu pengetahuan dan kemudian tampil sebagai salah satu peradaban besar. Pada abad-abad ke-19, masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat “haus ilmu”. Budaya itu telah membangkitkan Jepang menjadi kekuatan dunia dalam bidang sains, teknologi, dan ekonomi yang mengagumkan pada masa-masa berikutnya. Banyak ilmuwan Barat heran, bagaimana bangsa yang dikalahkan dan dihancurkan dalam Perang Dunia II itu kini mampu mengalahkan Barat dalam berbagai bidang. Profesor Ezra Vogel dari Harvard University, merumuskan, bahwa  kejayaan Jepang ialah berkat kepekaan pemimpin, institusi, dan rakyat Jepang terhadap ilmu dan informasi dan kesungguhan mereka menghimpun dan menggunakan ilmu untuk faedah mereka.

Syahdan, tradisi keilmuan adalah basis peradaban. Sebuah tradisi disebut sebagai tradisi, karena memang terbangun bukan dengan waktu yang sebentar. Butuh proses panjang, butuh pelopor, butuh pelanjut, butuh kritisisme, butuh perbaikan, dan seterusnya.  Salah jika kita memiliki pandangan bahwa kemilau Islam yang hampir genap 13 Abad ini diakibatkan oleh kesuksesan-kesuksesan politik. Sebab jikapun demikian, maka Islam sudah harus hancur ketika Ottoman (Ustmani) pada abad ke 19 runtuh. Gemilau Islam justru terletak pada basisnya, yaitu ilmu. Allah berfirman, “Fa’lam (dengan ilmu kalian dapat mendalami) bahwa sesungguhnya Allah itu, tiada tuhan selain Allah” (QS. Muhammad, 19). Tradisi ilmu sebenarnya sudah ditandai oleh mu’jizat Rasulullah, Al-Quran. Oleh sebab itu, mu’jizat akhir zaman ini tidak kuat terbakar api seperti Ibrahim. Tidak juga menciptakan ular dari tongkat seperti Musa. Apalagi mu’jizat tidak mati dimakan paus seperti Yunus. Kenapa Al-Quran? Yang justru mu’jizatnya adalah deretan simbol yang terdiri dari huruf-huruf hijâiyyah? Mengapa berupa bahasa? Mengapa juga bahasa yang dipilihnya adalah bahasa arab? Dan mengapa mu’jizat Nabi ummat terakhir ini dimulai dengan iqra’ (Bacalah!)?

Santri sendiri merupakan kata asli Indonesia yang menyiratkan nilai-nilai keislaman. Santri berarti melek-baca. Orang yang bisa membaca,  sekumpulan orang yang memiliki tradisi keilmuan karena seperti ilustrasi Kinjiro Ninomiya, tidak pernah berhenti membaca, sekalipun sedang mencari kayu api dan menganyam selipar. Jika diperluas maknanya, maka arti Iqra’ dalam surat Al-‘Alaq, ayat satu  itu bisa kita maknai dengan membaca secara literer (Al-Quran, buku, dll), membaca lingkungan sosial, membaca sejarah, dan menetapkan visi di masa depan. Dan yang lebih penting adalah membaca diri sendiri dan mengevaluasinya (muhâsabah).  Wallahu ‘Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s